Oleh: kristenberea | Oktober 10, 2012

HUMANISME DARI ARMINIANISME

HUMANISME DARI ARMINIANISME

Oscar B. Mink

www.pbministries.org

 

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani..” (1 Kor. 2:14)

Aku tahu bahwa mendefinisikan suatu istilah pada umumnya sangat membosankan. Tetapi demi kejelasan dan pemahaman, kita perlu mendifinisikan istilah Arminianisme dan Humanisme  pada awal wacana ini. Perbedaan antara dua istilah ini sangat tipis jika dipertimbangkan dalam cahaya agama yang benar. Istilah Humanisme didefinisikan oleh Webster sebagai: ” sebuah doktrin, sikap, atau cara hidup yang berpusat pada kepentingan manusia atau nilai-nilai kemanusiaan, terutama filsafat yang menjamin martabat dan nilai manusia serta kapasitasnya untuk menyatakan diri   yang sering  menolak supernaturalisme.” Definisi ini, seperti yang akan ditunjukkan dalam pertimbangan berikut merupakan suatu istilah  diametral atau kebalikan dari antropologi Alkitab.

Arminianisme didefinisikan sebagai sebuah sistem keagamaan yang berpusat pada manusia. Menurut Arminianisme, manusialah yang membuat keputusan sehingga kehendak Allah bisa terjadi.  Armenianisme terdiri dari lima (5) point, yaitu, 1. Pemilihan bersyarat 2. Penebusan Universal (Artinya, Kristus dalam kematian-Nya membuat pengorbanan pendamaian bagi seluruh umat manusia). 3. Regenerasi yang membawa perbuatan baik. 4. Kasih karunia Tuhan dapat ditolak. 5. Orang beriman pada akhirnya mungkin jatuh dari kasih karunia dan kehilangan keselamatan selamanya.

Definisi-definisi yang singkat ini tidak menembus sangat dalam ke dalam kegelapan yang kuat dari “isme” manusia dan yang memalukan dalam rangka untuk meninggikan Allah. Fitur atau pusat utama dari Arminianisme dan Humanisme adalah gagasan bahwa manusia lebih unggul daripada Allah, dan manusia itu dapat dengan kekuatan dari dirinya sendiri, menyelesaikan semua masalah tanpa bantuan supranatural. Seorang pelaku awal dari Arminianisme dan Humanisme adalah  Pelagianisme abad ketiga yang meninggikan kehendak manusia di atas Allah yang diberitakan di Alkitab.

Mengetahui firman Allah yang diilhami Roh Kudus (II Tim. 3:16) sudah cukup untuk menegur dan mengoreksi setiap sofisme / kebijaksanaan manusia, dan ia akan menjadi kriteria eksklusif  yang akan digunakan dalam rangka  menyangkal penipuan  yang ada di dalam pesan yang masuk akal ini  .

Pertama, mari kita mempertimbangkan humanisme dari Arminianisme dalam terang penyataan Alkitab tentang kedaulatan Allah  yang mutlak. Mengatakan  Allah berdaulat berarti memproklamirkan bahwa Dia adalah Maha Kuasa, Raja segala raja, Tuhan atas segala tuan, dan bahwa ” Dia  melakukan apa yang dikehendaki-Nya .” (Mzm. 115:3). Ini adalah kewajiban tak terhindarkan dari keturunan Adam untuk mengakui kedaulatan Allah, dan mengakui bahwa hanya Dia yang pantas di tinggikan di atas segala yang ada . (Mzm. 46:10;  I Pet 2:9). Allah di dalam Alkitab  dengan tegas menyatakan: ” Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. ” (Yes. 44:6). Humanisme dan Arminianisme adalah lahan yang subur untuk  memunculkan allah lain yang disulap oleh imajinasi sia-sia dan  isapan jempol manusia. Aspek fatal dari kedua “isme”  yang keji tadi bukanlah bahwa mereka tidak memiliki Allah, tetapi “Allah” mereka adalah hasil dari  penemuan mereka sendiri. (Mzm. 50:21).

Humanisme dan Arminianisme memiliki tujuan tunggal yaitu takhta Allah, dan mau menobatkan manusia di atasnya. Kedua sistem kedaulatan dan otoritas Allah atas manusia direndahkan; manusia menjadi berdaulat dan Allah menjadi peminta / pemohon bahkan pengemis. Manusia adalah penentu eksklusif dari  tujuan kekal-nya. Doktrin kedaulatan Allah begitu dibenci oleh Humanisme dan Arminianisme. Mereka telah mengerahkan semua sumber daya kebijaksanaan duniawi dalam upaya untuk menemukan kekurangan yang ada dalam Allah Alkitab. Para Rasul Tuhan telah memperingatkan gereja-Nya, dengan mengatakan: “… Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka… yang hidup tanpa Roh Kudus. ” (Yudas 18, 19). Pengertian dari para pengejek begitu tertutup dari kebenaran, dan terikat oleh intelek  mereka sendiri sehingga tidak dapat membayangkan Tuhan sebagai Yang Lebih Besar dari diri mereka sendiri, dan berkata di dalam hati mereka: “Kami tidak mau Orang ini menjadi raja atas kami” (Lukas 19 : 14). Istilah “Orang ini,” adalah menunjuk pada Kristus.

“Humanisme berpendapat bahwa manusia-lah yang menentukan nasib mereka sendiri” (Humanisme Sekuler, oleh Homer Duncan). Hanya Allah yang dapat menentukan nasib dan jalan hidup manusia ( Yesaya 45:7) . Jadi, Humanisme bukanlah agama tanpa allah, tetapi setiap orang menurut premis adalah allah di dalam dan dari diri mereka sendiri. Hal ini tak terelakkan merupakan konsep dari setan, dan bentuk terburuk dari penyembahan berhala, yang adalah autolatry atau penuh dengan pengagungan diri. Ideologi inilah yang membuat Lucifer tersandung (Yes. 14:13).

Arminianisme, seperti Humanisme adalah agama tanpa Allah Alkitab, tetapi tidak tanpa tuhan.

“Tuhan” Armenianisme adalah manusia itu sendiri karena sistem teologi ini mengagungkan manusia dengan berpendapat bahwa manusia adalah penentu eksklusif nasibnya sendiri. Oleh karena itu, seperti Humanisme, setiap orang dalam dan dirinya adalah allah. B. Oliver Green, yang baru-baru ini meninggal,  selama hidupnya adalah salah satu pendukung paling kuat dari Arminianisme. Berbicara tentang kedaulatan Allah, predestinasi, pemilihan, dan kasih karunia yang tak dapat ditolak, ia berkata: “Mereka adalah beberapa doktrin yang tergolong paling busuk yang pernah saya dengar.” (Predestinasi, Pascasarjana 1). Doktrin-doktrin itu menurut Mr Green menjengkelkan bagi supremasi intelek manusia. Tentu saja itu adalah intelek/pikiran yang duniawi yang adalah permusuhan terhadap Allah (Rm. 8:07).

Antara Arminianisme dan Humanisme bukan hanya ada hubungan, tetapi ketika kedua sistem tersebut diteliti, maka akan mudah dilihat bahwa mereka memiliki koreografer yang sama, dan menari untuk menyenangkan keinginan daging untuk menjadi makhluk tak terkalahkan. Arminianisme dan Humanisme berpendapat bahwa manusia adalah makhluk otonom, dan itulah ketetapan Tuhan yang dapat dibanggakan oleh manusia. Mereka memiliki suatu bentuk kesalehan, tetapi menyangkal kuasa daripadanya. (2 Tim 3:5)..

Ini yang harus diketahui, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar” (2 Tim. 3:1). Puncak dari dunia yang jahat ini sudah dekat, sudah datang masa yang sukar, fondasi gereja oikumenis telah diletakkan, dan superstruktur akan naik semakin cepat. Nabi palsu dan Anti-Kristus sedang menunggu untuk tampil di panggung utama dunia.  Gereja Kristen akan diserbu oleh Armenianisme sehingga akan diserap ke dalamnya. Pendidikan dan dunia politik akan dibanjiri oleh Humanisme sekuler. Humanisme dan Kristen (yang sudah dikuasai oleh Armenianisme) akan segera bergabung, karena tidak sulit bagi dua sistem untuk menggabungkan diri ketika mereka sangat mirip dan mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu  pemuliaan manusia.

Orang kudus tidak boleh berputus asa dalam berjuang melawan arus dari kedua isme tersebut. Anti Kristus tidak akan dapat merebut orang-orang pilihan yang berada di dalam tangan Tuhan yang berdaulat (Yohanes 10:27-29). Ajaran  dari Arminianisme dan Humanisme tidak lebih seperti gemerincing rantai yang mengikat diri mereka sendiri. Arminianisme mengatakan: “Orang yang berdosa masuk neraka karena Allah sendiri tidak bisa menyelamatkan mereka! Dia melakukannya semua yang bisa untuk menyelamatkan orang berdosa tetapi  Dia bisa saja gagal.” (Noel Smith, Defender Magazine). Tetapi Alkitab tidak setuju dengan Noel Smith, untuk itu Alkitab tidak salah kata, ketika berbicara tentang Allah:  “Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga ” (Ayub. 23:13). Humanisme mengatakan: “Allah tidak akan menyelamatkan kita, kita harus menyelamatkan diri kita sendiri” (Manifesto Humanis). Alkitab mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah menyatakan diri-Nya dalam wujud  daging (I Tim 3:16), dan bahwa ” Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Paulus  berbicara tentang Kristus: Dia telah menyelamatkan kita … karena rahmat-Nya ” (Titus 3:5). Jika nasib manusia dibiarkan menurut Arminianisme atau Humanisme, Allah akan dikalahkan dan surga sepi. Tapi itu adalah pikiran yang  binasa. Penguasa dan Arsitek sempurna alam semesta mengatakan: ” Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana …… kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah ” (Yesaya 14:24; Efesus 1:11)

Humanisme tidak mengakui Allah Alkitab sebagai yang berotoritas dalam hal apapun, dan Arminianisme mengingkari otoritas Allah dalam segala hal. Jika Allah tidak berdaulat dalam segala hal, maka Dia tidak berdaulat dalam hal apapun,  Untuk itu  Dia yang tidak berdaulat atas segala sesuatu, adalah bukan penguasa segala sesuatu, dan Dia bukan  Allah. Namun, Allah mencela mereka yang  menjadi pencela-Nya, dengan bertanya:” Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”  (Rm. 9:20).  Manusia  tidak  memiliki hak membantah Pencipta-Nya. Allah bekerja untuk kebaikan manusia sesuai dengan rencana-Nya yang mulia sehingga tidak ada manusia yang bisa bermegah atas apa yang ada dalam dirinya (Rm. 8:28; 1 Kor. 1:31).

Arminianisme tidak lebih dari Humanisme  yang dilapisi agama, dibalik dari kombinasi ini adalah setan. Kedua sistem merupakan pelanggaran yang kekal kepada Allah, dan itu akan jauh lebih baik jika tidak pernah dilahirkan,  karena mempercayai “Allah” yang tidak sanggup menyelamatkan manusia. Jadi, mari kita tidak membatasi Allah Israel Yang Mahakudus,. (Maz. 78:41), yang kemahakuasaan-Nya adalah mutlak, dan tidak ada tipu muslihat setan yang dapat menghambat atau mengganggu-Nya.

Kedua, marilah kita mempertimbangkan humanisme dari Arminianisme dalam terang doktrin Alkitab tentang kebejatan total manusia.. Pemazmur mengatakan: “..  setiap manusia hanyalah kesia-siaan! ” (Mazmur 39:5). Teks ini merujuk kepada manusia sebagai dia yang ada di alam Adam, dan dengan jelas mengatakan bahwa Adam dan seluruh keturunannya mempunyai sifat yang benar-benar bejat. Teks ini  tidak memungkinkan untuk pengecualian, dan memungkinkan untuk tidak adanya kebejatan parsial (sebagian). Setiap orang di dalam Adam benar-benar hancur secara rohani, karena  Adam telah memberontak terhadap Allah (Kej 3:6). Tindakannya tidak hanya berdampak terhadap dirinya, karena pada saat itu ia adalah  kepala keluarga manusia. Karena ia menentang Allah maka keturunannya menjadi sangat kotor, karena mereka bertindak sama di dalam  Adam (1 Kor. 15:21,22).

Arminianisme mengambil pengecualian dari doktrin kebobrokan total akibat nature manusia yang telah jatuh dalam dosa, dan berkata: “Manusia adalah bukan orang berdosa saat lahir, tetapi manusia yang lahir mempunyai potensi menjadi orang berdosa” (John R. Rice, seperti dikutip oleh John Zens, dari Sword).  Agama Humanisme menyebut laporan Alkitab tentang kejatuhan Adam hanya sebuah dongeng, dan Arminianisme telah memberikan sedikit gula pada posisi mereka, sehingga untuk memenuhi rasa ingin tahu agama manusia duniawi. Namun, jika seseorang mengambil racun yang dilapisi dengan gula, itu akan membunuh dia lebih mudah dari pada kalau tidak dilapisi karena ia pasti tidak akan mengambilnya. Namun, Doktrin terkutuk itu jelas bertentangan dengan berita Alkitab:  ” Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. ” (Rm. 5 : 12).

Humanisme mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk besar yang bermoral dan tak terbatas. Arminianisme mengajarkan hal yang sama, dengan mengatakan: “Tuhan menilai manusia begitu tinggi sehingga Dia mengutus AnakNya untuk menebus seluruh keluarga manusia.” Sebaliknya, Alkitab mengatakan: ” Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. “ (Roma 3:12). Kata, ” tidak berguna,” sebagaimana digunakan dalam Alkitab ini tidak hanya berarti, tidak ada gunanya, tetapi orang itu berada dalam pelanggaran di Taman Eden dan mengalami kejatuhan yang tidak dapat diperbaiki, dan kejatuhan ini telah meninggalkan manusia tanpa Allah atau harapan.

Kristus, secara eksplisit dan tegas mengatakan: ” daging sama sekali tidak berguna ” (Yohanes 6:63). Tapi tidak peduli seberapa baik kata-kata yang didefinisikan oleh Kristus, hal itu  tidak pernah membuat kesan yang baik pada Arminianisme, dan sistem itu pura-pura mengatakan: “Tuhan membutuhkan kita, karena kita adalah hanya kaki, tangan, dan mulut Allah.” “Tuhan” yang miskin dan cacat!. Tapi tuhan mereka bukan Allah Alkitab, karena Dia ”  tidak senang kepada kaki laki-laki… “seperti yang Dia rancang, demikianlah akan terlaksana… karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya “(Mzm. 147:10; Yesaya. 14:24; Fil. 2:13.)

Para pendukung Arminianisme dan Humanisme akan menegur semua orang yang memberitakan kedaulatan kekal Allah atas alam semesta-Nya, dan segala isinya. Mereka akan menyuarakan keberatan mereka, dengan berkata: “posisi Anda pada kebobrokan manusia yang tidak memanusiakan manusia, dan membuat manusia sebagai seburuk  binatang.”  Posisi kami tepat didasarkan pada Kitab Suci, sehingga kita tidak merendahkan manusia, namun menekankan fakta bahwa manusia tidak lagi mempunyai gambar Allah seperti waktu diciptakan dulu. Manusia yang telah jatuh dan belum ditebus adalah penentang Allah. Karena ia adalah fasik maka tanpa henti merupakan seteru dari Allah (Rm. 4:5; 5:10).

Tuduhan yang keliru bahwa kita menjadikan manusia seburuk binatang merupakan  sasaran yang tepat yang ditembakkan dari  jarak yang tak terbatas. Dengan mengatakan bahwa manusia yang telah jatuh adalah seperti binatang sama halnya menghina kerajaan hewan yang lebih rendah, dan memuji manusia secara berlebihan. Mari kita bertanya, apakah ada binatang  yang pernah memiliki pikiran jahat tentang Tuhan? Sebaliknya, di mana ada manusia yang berdosa yang pernah memiliki pemikiran yang baik tentang Tuhan? ” Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata “(Kejadian 6:5). Untuk manusia duniawi, demikianlah firman Tuhan. ” engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau ” (Mazmur 50:21). Orang yang menyangka bahwa manusia itu sederajat dengan Allah merupakan hasil dari pikiran manusia yang benar-benar sudah bobrok yang sudah tidak lagi menghormati kekudusan Allah. Hal ini justru membuktikan bahwa orang itu sudah seperti binatang yang tidak berakal.

” Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka.” (Yudas 10; Lihat juga Pengkhotbah 3:18).. Alkitab menyatakan bahwa orang yang seharusnya secara nature menjadi makhluk rasional telah merusak prinsip-prinsip moral kemanusiaan, dan telah membungkuk lebih rendah dari binatang irasional. Cukup, dosa telah merusak setiap serat dan bagian sifat manusia sehingga ia tidak dapat mengetahui atau mematuhi Allah.

Aku bertanya dengan serius, bukankah kita hidup dengan didikkan nilai-nilai manusia yang beradab dan bukan dengan pendidikan seperti di hutan rimba?  Namun, mengapa berita-berita di koran dan televisi penuh dengan hal-hal yang sebaliknya? Humanisme dan Arminianisme berpendapat bahwa satu-satunya hal yang salah dengan manusia adalah: ia membutuhkan lebih sedikit pendidikan. Hal-hal yang tidak menguntungkan adalah: di mana kita mendapatkan semua-pendidikan yang menyembuhkan ini? Jika kita mengirim anak-anak kita ke sekolah umum, mereka dibanjiri dengan humanisme. Jika keluarga menghadiri sebuah gereja Arminian, di sana dibanjiri dengan doktrin merusak keselamatan diri.  Pada abad pertama Kristus menegur ahli-ahli Taurat dan orang Farisi: ” kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. ” (Matius 23:15). Dan sekarang, hal yang sama telah dilakukan oleh humanisme dan Arminianisme. Namun masih ada harapan karena ada cahaya yang dapat menyinari kegelapan dari humanisme dan Armenianisme.

Oleh karena itu, kami pergi ke firman yang diilhami Roh Kudus Allah, dan ketika kita melakukan, kita menemukan pelbagai ragam  hikmat Allah yang dapat diketahui melalui gereja-Nya, dan ” bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-laman. Amin “(Efesus 3:10, 21). Jika seseorang mendapatkan gereja yang mengajarkan hal-hal duniawi dan setiap saat memuji dirinya sendiri bukannya  Allah yang menyelamatkan, ia berada dalam gereja palsu tidak peduli apa nama gerejanya . Alkitab berbicara tentang kelahiran baru: orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah ” (Yohanes 1:13). Kristus berkata kepada murid-murid-Nya: ” Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu… “ (Yohanes 15:16). Rasul Paulus juga menegaskan bahwa orang percaya dipilih sebelum dunia dijadikan berdasarkan kerelaan kehendak-Nya (Ef. 1:4-9). Jadi, Allah dalam kasih-Nya yang besar kepada orang-orang pilihan-Nya yang terjebak dalam jerat setan dari Arminianisme dan / atau Humanisme, memberikan nasehat kepada mereka, Firman-Nya: ”  Keluarlah kamu dari antara mereka,  dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,  dan janganlah menjamah apa yang najis,  maka Aku akan menerima kamu. “(2 Kor 6:17 ).

Ketiga, kami akan mempertimbangkan Humanisme dari Arminianisme tentang teori-nya  bahwa manusia yang sudah jatuh adalah faktor yang menentukan kesejahteraan di masa depan.

Humanisme dan Arminianisme mengajarkan bahwa salah satu kelemahan yang paling merusak manusia adalah ketidakpercayaan dirinya. Dalam melawan peninggian yang keliru terhadap hikmat manusia ini, Paulus berkata: “Kami bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.” (Filipi 3:3). Kristus, berbicara tentang kelahiran baru, menyatakan: ” yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yohanes 1:13). Keselamatan jiwa bukanlah hasil dari usaha kerjasama antara Allah dan manusia, tetapi Allah Yang Mahakuasa yang merencanakan dan melaksanakan karya penyelamatan umat-Nya (Ibr. 12:2). Esau, putra pertama Ishak, mempercai dirinya sendiri, dan sementara berjalan dengan kekuatan  jasmaninya, ia kehilangan berkat (Kejadian 27). Untuk menjelaskan bagaimana usaha manusia dengan kekuatan dirinya untuk mendapatkan keselamatan yang dijanjikan Tuhan, Paulus berkata: ” Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah “(Roma 9:16).

Kaum Humanis mengklaim bahwa pendidikan akademik adalah obat mujarab untuk semua penyakit dan kesulitan manusia. Pikiran semacam ini sudah muncul dalam benak  Paulus ketika ia mengatakan tentang  mereka sebagai:” yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran ” (2Tim 3: 7.) Semakin mereka belajar lebih banyak semakin menjadi akut dalam ketidaktahuan mereka tentang Allah dan firman-Nya. Para humanis berpendapat bahwa Alkitab adalah mitos, sebuah buatan orang bodoh dan tidak terpelajar. Karena itu, tidak ada tempat bagi Alkitab di dalam pikirannya yang dianggap lebih cerdas dari para penulis Alkitab. Hal ini akan membuat mereka menyangkal isi Alkitab dan lebih buruk lagi menyangkal Allah (Rm. 2:5). “Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya” (1 Korintus 3:19 ).

Pada puncak pencapaian akademis mereka, Humanis yang sombong telah menyimpulkan bahwa dalil-dalil dan kebijaksanaan mereka begitu absolut sehingga tidak  memungkinkan adanya kata “jika” atau “mungkin”. Dogmatisme mereka justru membuktikan bahwa mereka orang bodoh, karena mereka telah berkata di dalam hati mereka, “Tidak ada Allah” (Mazmur 14:1), dan mereka belum tahu apa-apa karena mereka harus tahu itu (1 Korintus 8:2). Orang yang telah lahir kembali tidak menyangkal pendapat dari Humanis bahwa pendidikan dalam seni dan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh lembaga-lembaga khusus dapat meningkatkan kesuksesan seseorang.  Gereja  Tuhan ini menjunjung tinggi dan menghormati keberhasilan, tetapi apa yang mereka ketahui dan nyatakan adalah: setiap kesuksesan  yang bukan hasil karya Allah sendiri adalah bersifat  daging dan daging sama sekali tidak berguna. Jadi, selain dari Allah tidak ada sukses yang sejati .

Arminianisme mengatakan: “Manusia memiliki kekuatan intelektual untuk memilih hidup kekal atau binasa, dan bahwa setiap orang diberi ruang yang cukup untuk mengambil keputusan dalam hal penting ini”. Tetapi Kristus berbicara tentang manusia duniawi: ” namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” (Yohanes 5:40). Berbicara tentang kemampuan nature manusia, Kristus mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku…”(Yohanes 6:44). Paulus, dalam mendukung tentang kebenaran ini, mengatakan: ” Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah ” (Rom 8:7,8).. Manusia duniawi adalah ” selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.” (2 Tim 3:7 ).

Deklarasi kemerdekaan absolut manusia dari Arminianisme itu akan sama saja dengan mengatakan bahwa buah dari pohon memiliki sifat sendiri yang sama sekali bebas dari akar pohon. Buah dari pohon  selalu ditentukan oleh karakter dari  akar dan genealoginya. Adam adalah akar dari manusia, dan ketika Adam bunuh diri rohani (Kej 3:6), keturunannya meninggal di dalam dia. ” Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12). ” Tidak mungkin  pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” (Matius 7:18). Semua buah moral  yang dihasilkan oleh manusia duniawi bisa saja  jadi pujian atau dipuji oleh standar manusia, tetapi ketika ditimbang dengan standar  kemahatahuan Allah akan terlihat penuh dengan belatung.  Hukum menabur dan menuai tidak hanya berlaku untuk ilmu agraria saja , tetapi juga  untuk semua organisme duniawi. Kata Kristus: “Pohon dikenal dari buahnya” (Matius 12:33 ).  Daging, entah itu pernah menjadi religius, tidak ada gunanya (Yohanes 6:63). Ayub, berbicara tentang reproduksi manusia, bertanya: ” Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? “Dan Ayub, dengan finalitas yang mengagumkan, menjawab pertanyaan sendiri: ” Seorang pun tidak! ” (Ayub 14:4).

Humanisme dan Arminianisme berpendapat bahwa kehendak manusia itu bebas dan independen dari Tuhan, dan itu adalah kekuasaan sedemikian rupa sehingga dapat melemahkan dan meniadakan kehendak Allah. Oleh karena itu, premis ini mengajarkan bahwa semua hal diserahkan kepada kekuatan penalaran dan kehendak manusia. Jadi, mau atau tidak mau mengakui, iman mereka adalah iman dalam manusia, dan bahwa analisis akhir manusia adalah ukuran dari segalanya.  Terhadap pertikaian  kejam dari Arminianisme dan Humanisme ini, Tuhan yang bijaksana dan penuh belas kasihan mengeluarkan peringatan berikut: ” Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri… Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal “(Amsal. 3:5, 28: 26).

Tidak ditemukan dalam Alkitab bahwa orang yang telah kehilangan mentalitas alami adalah orang bodoh. Namun, orang yang dianggap bijaksana secara duniawi justru menganggap kebiksanaan Kristen sebagai kebijksanaan orang gila (Kis 26:24).  Sebaliknya sering kali Alkitab mengacu bahwa  orang yang  bijaksana secara  yang duniawi  sebagai orang bodoh, dan menyamakan dialog mereka sebagai lebih rendah daripada obrolan (ocehan) anak-anak (Amsal. 10:8). Petani kaya (Lukas 12) cerdik dalam hal merancang skema dimana dia akan punya banyak  kesenangan selama bertahun-tahun yang akan datang, tetapi tidak sekalipun dalam semua perencanaan memikirkan apa yang menjadi kehendak Allah.  Kurangnya memperhatikan kehendak Sang Pencipta untuk kehidupan yang kekal membuktikan bahwa dia menjadi bodoh. Seorang “kaya” yang bodoh tidak lebih baik daripada orang miskin yang bodoh, ketika mereka sama-sama mengatakan dalam hati mereka, “Tidak ada Tuhan” (Mazmur 14:1).  “Kehidupan yang baik” yang dimaksud oleh Humanisme adalah temporal, dangkal, dan jalan yang terbaik menuju  pintu gerbang ke jalan  “yang menujui kepada kebinasaan” (Matius 7:13). Rasul Paulus tidak meninggalkan ruang untuk ambiguitas, ketika bertanya: ” Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? (1 Kor 1:20.)

Arminianisme adalah permata pilihan dari kebodohan agama, dan Humanisme adalah gagasan mengidolakan intelektualisme. Dua “isme” dalam kekuatan gabungan mereka, tidak lebih dari bunyi canang kuningan yang  terdengar gemerincing. Allah Alkitab adalah Sumber dari semua ilmu sejati, dan tidak pernah ada konflik antara Alkitab dan ilmu sejati. Tapi ketika “ilmu pengetahuan yang omong kosong itu ” (1 Tim. 6:20) ditimbang dengan standar Allah akan ditolak dan diberi label “kayu, jerami, dan rumput kering” (1 Kor. 03:12 ). Tapi lebih buruk dari ilmu pengetahuan palsu adalah pendewaan terhadap ilmu sejati oleh Humanis, untuk itu adalah dengan kecerdasan ini setan telah membuat sekutu sejumlah besar akademisi dengan  semua pembelajaran mereka. Pada akhirnya semua pikiran-pikiran mereka akan kedapatan tidak sehat / benar ketika dipertanggungjawabkan ke hadapan Allah Yang Maha Tahu.

Para Humanis tanpa penyesalan sedikitpun mengatakan: ” Hanya ilmu pengetahuan yang dapat menyelesaikan masalah abadi manusia  yang keberadaannya sangat mendesak serta menuntut adanya sebuah solusi” (Wilhelm Dilthey, The Nineteenth Century, halaman 16). Sumpah Hipokrates tidak membuat seorang dokter menjadi baik; janji perkawinan tidak membuat pernikahan menjadi baik, sebuah pengakuan iman tidak membuat seorang Kristen menjadi Kristen yang sejati; atau ilmu humanistik baik, yang begitu sempurna dapat menebus atau membantu untuk menebus satu jiwa pun. Penyelamat Israel yang Kudus berkata: ” Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku ” (Yesaya 43:11).

Keempat, Arminianisme dan Humanisme adalah penemuan manusia. ” Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih ” (Pkh. 7:29). Kata, “penemuan” dalam teks ini bukan merujuk pada penemuan-penemuan ilmiah manusia atau perangkat yang telah diciptakan untuk membantu meringankan penderitaan dalam perjalanannya kembali ke debu dari mana ia berasal, tetapi merupakan acuan untuk penemuan agama. Penemuan yang dimaksud dalam teks bertentangan dengan keadilan asli dari manusia. Setiap ajaran sesat agama adalah berasal dari iblis, karena ia adalah pendusta dan bapa dari pendusta (Yohanes 8:44), dan Arminianisme dan Humanisme adalah hasil dari penipuannya. Kata “dan” digunakan dalam kalimat di atas tidak digunakan hanya sebagai kata sambung, tetapi untuk menunjukkan kesamaan dari kejahatan yang  kembar.

Pendapat yang sakit bahwa kehendak manusia itu benar-benar bebas, dan independen dari Tuhan adalah doktrin dasar yang di atasnya berdiri Arminianisme dan Humanisme. Sistem yang mau menggeser Allah ini sudah  kuno yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh  Lucifer dengan kata-kata “Aku akan” (Yes. 14:13, 14), dan tidak akan berhenti eksis sampai Iblis, pencetus penipuan yang fatal ini dilemparkan ke dalam lautan api yang kekal (Wahyu 20:10). Fondasi dimana Arminianisme dan Humanisme berdiri bukan hanya cacat, tetapi benar-benar rusak, dan semua orang yang tertipu oleh mereka bukanlah orang yang bijaksana, tetapi bodoh (Rm. 1:21,22). Tapi calon pencela mengatakan: “Anda menempatkan manusia dalam sebuah selubung intelektual; merampok gambar Allah, dan meniadakan kehendaknya”. Itu bukan pendapat kami. Manusia pada dasarnya  tidak berdaya dan dibatasi oleh sifatnya. Adalah mustahil  apabila manusia mengkalim dapat mempunyai suatu kehendak  atau suatu keinginan yang bertentangan dengan sifatnya sendiri. Berdasarkan nature-nya manusia berada dalam perbudakan dosa, dan tidak pernah bervariasi dalam perbudakan (Rm. 6:20). Manusia dengan naturenya bebas memilih apa pun yang menyenangkan  dagingnya.

Keinginan badaniah adalah terbatas pada apa yang menyenangkan daging, dan mereka yang di dalam daging tidak dapat menyenangkan Allah (Rm. 8:08). Kebebasan alami manusia memang besar, tetapi pelaksanaan dari kebebasan itu hanya untuk memuaskan hawa nafsunya dan bertentangan dengan sifat kesucian Allah Tritunggal (Yes. 6:3). Jadi, secara alami, kehendak manusia itu  tidak hanya miskin dari semua nilai rohani, namun di setiap ucapan dan tindakannya  memperparah kutukan di mana semua manusia dilahirkan (Yohanes 3:18). Semua orang yang ada di dalam sifat Adam, mereka setiap saat secara alami adalah  pembenci Allah (Mzm. 81:15, Yohanes 15:18,25; Rm. 1:30, dll.) Allah tidak memaksa umat-Nya datang kepada-Nya dan bertentangan dengan kehendak alami mereka, tetapi Allah dalam kasih dan rahmat-Nya yang berdaulat memberikan orang itu sifat baru, dan semua  yang Bapa berikan kepada Anak dalam perjanjian pemilihan yang tak bersyarat dengan sukacita akan datang kepada Anak ( Tuhan Yesus)  dengan kekuatan Allah (Mzm. 110:3; Yer. 31:3, Yohanes 6:37, 44).

Manusia duniawi bebas untuk mengasihi Allah, tetapi ia tidak memiliki kekuatan, atau bahkan keinginan untuk berada dekat dengan Allah, apalagi mencintai-Nya, karena  nature-nya adalah  seorang pembenci Allah. Paulus, berbicara tentang manusia duniawi, mengatakan: ” penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki… , pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan..” (Rm. 1:29,30). Orang Ethiopia bebas untuk mengubah model  garis-garis macan, tetapi karena ketidakmampuan makhluk, perubahan ini mustahil. Demikian pula halnya dengan manusia duniawi. Dia bebas untuk menunda kebiasaannya melakukan kejahatan, tetapi ia tidak pernah memiliki sedikit keinginan untuk melakukannya (Yer. 13:23), karena  tanpa keraguan ia telah menyimpulkan bahwa Alkitab tidak lebih dari kumpulan mitos, dan bahwa Kekristenan adalah candu masyarakat. Kesimpulan yang  memberatkan jiwa ini terkait dengan sifat manusia yang telag jatuh, dan hanya dapat diputus oleh pedang Roh, yaitu firman Allah (Ef. 6:17).

Manusia yang sudah jatuh dalam dosa, baik kaya atau miskin, kuat atau lemah, terpelajar atau tidak terpelajar, adalah seorang egois. Webster telah mendefinisikan egoisme sebagai: ” doktrin etika di mana  semua tindakan dari individu akan sah jika untuk kebaikan individu itu sendiri.” Jadi, kosa kata manusia yang telah jatuh sebagian besar terdiri dari kata-kata, “Aku, milikku, saya, dan saya”. Tetapi Alkitab mengatakan: ” Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.” (Gal. 6:3). Rasul Paulus untuk sebagian besar hidupnya adalah egois dan keras kepala. Dia menganiaya para murid Kristus, baik laki-laki dan perempuan, dan dia mengatakan  “sangat marah terhadap mereka” (Kis 22:04; 26:11). Paulus, yang dibutakan oleh kebanggaan, tidak tahu bahwa Allah telah menyisihkan agama yang dicintainya, dan dengan semangat tinggi pergi menghancurkan setiap orang yang namanya bersangkut paut dengan nama Kristus. Sementara berada dalm  perjalanan untuk misi penganiayaannya, ia dihadapkan dengan suatu terang yang besar dari surga, dan  suara dari surga itu menggempaskan egonya. Suara dari surga itu membuat ia jatuh ke tanah di mana ia akan muncul sebagai salah satu  manusia yang paling tanpa pamrih dan terbesar  yang pernah hidup (Kisah 22:6-10). Namun, ia tahu bahwa di dalam dan dari dirinya sendiri, ia adalah orang yang celaka di hadapan Allah (Roma 7:24), dan ia juga mengakui sebagai” yang paling hina di antara segala orang kudus.” (Ef. 3:8).

KESIMPULAN

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Mari kita tidak bingung dengan kemanusiaan, Arminianisme dan Humanisme.  Setiap orang harus mempunyai kemanusiaan dalam arti membantu yang tertindas, dan dalam setiap kesempatan  harus berebut untuk menjadi orang Samaria yang baik. Kristus adalah yang terbesar dalam hal  kemanusiaan, tetapi Ia bukan humanis, Ia juga tidak mengajarkan bahwa keselamatan jiwa itu merupakan hak prerogatif dari kehendak manusia yang sudah jatuh. Mari kita ikuti Tuhan Yesus sebagai Teladan yang Agung, dan dalam hal berbuat baik, tetapi pada saat yang sama  menyoroti kepalsuan dan hal yang memalukan dari Humanisme, serta  kemunafikan dari Arminianisme. Kekristenan yang sejati sedang dihadapan dengan tipuan yang jahat dari pikiran yang dapat merusak jiwa. Kita dihadapkan dengan markas sosial-agama, yang merupakan penggabungan dari Arminianisme dan Humanisme, dan dalam hal  gereja Tuhan  dihadapkan dengan dosis ganda dari doktrin terkutuk. Keadaan nampaknya semakin suram, tidak ada ruang untuk berpuas diri di gereja-gereja Tuhan. Sebaliknya, mereka berkewajiban untuk meniup sangkakala kebenaran, dan melakukan segala yang mereka bisa untuk menghalangi laju gerakan dan perambahan anti-Kristus dalam  gereja-gereja yang sudah dibeli dengan darah Anak Domba. Pada zaman ini ambisi utama dari membanjirnya Humanisme dan Arminianisme adalah untuk menguasai dan menghancurkan gereja-gereja Tuhan. Tetapi seperti pada jaman pra-reformasi di mana para leluhur kita  berdiri  dan tidak gentar terhadap kebakaran,  pedang, kematian, dan siksaan lainnya dari sistem pelacur  Roma, gereja-gereja Tuhan pada masa ini juga akan melawan wabah  kanker spiritual ini sampai Tuhan Yang Maka Kuasa dan berbelas kasihan berbicara kepada mereka dari langit, mengatakan: “Naiklah ke mari.”

Ketika Kristus mengutus  jemaat-Nya ke segala bangsa, Ia telah menugaskan  untuk memberitakan Injil kasih karunia. Dia tahu bahwa para muri-Nya akan segera menghadapi tindakan yang brutal dari para Humanis Romawi dan  kemunafikan Yudaisme yang juga telah memakukan-Nya pada salib.  Begitu juga sekarang, Humanisme dan Arminianisme adalah musuh bebuyutan Injil Kristus, dan kita harus mempunyai sikap mental yang sama dengan para murid yang pertama. Jadi, untuk menghapus semua keraguan tentang kekekalan dan keabadian dari gereja yang telah dibeli dengan darah-Nya, Kristus menantang neraka ketika Dia berkata: “… Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. ( Matius 16:18). Setiap gereja yang tidak memiliki otoritas mutlak Allah atas manusia yang humanistik, tidak peduli apa nama denominasinya,  berada di bawah kutukan Allah (Why. 18:4-6). Jadi setiap orang yang sudah dimiliki oleh Kristus harus menemukan gereja yang memberitakan seluruh nasihat Allah, dimana  TIDAK ADA  ruang bagi Arminianisme atau Humanisme.

Ada banyak kesamaan antara Arminianisme dan Humanisme, untuk itu tidak masalah bagi kegelapan untuk berhubungan dengan kegelapan, tetapi tidak ada persekutuan antara terang dan kegelapan; tidak ada persekutuan antara kebenaran dan kelaliman, dan tidak ada kerukunan antara Kristus dan Iblis (2 Korintus 6:14-16).  Arminianisme menyangkal bahwa keselamatan adalah pekerjaan eksklusif dan berdaulat dari Allah, dan Humanisme telah menggantikan tempat Allah dengan cinta-diri dan kehendak diri. “KELUARLAH DARI ANTARA MEREKA,” demikianlah firman TUHAN.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: