Oleh: kristenberea | Februari 13, 2009

Bahasa Roh : di Alkitab dan Saat ini

1. Sebagai salah satu tanda dari gereja yang am

Mar 16:17, 18 :

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: 1) mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, 2) mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 3) mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; 4) mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sekalipun banyak ahli teologia meragukan keaslian dari ayat ini (karena ayat ini tidak ada pada manuskrip Injil Markus yang paling awal) baiklah kita lihat apa maksud dari ayat ini.

a. Jelas bahwa keempat tanda di atas diperuntukkan untuk orang-orang percaya (gereja secara keseluruhan) bukan untuk setiap orang percaya. Kalau tanda-tanda itu ditujukan untuk setiap orang percaya maka konsekuensinya setiap orang percaya harus memiliki semua tanda-tanda di atas.

b. Tanda-tanda di atas ( kecuali minum racun maut) sudah digenapi oleh gereja mula-mula :

– Mengusir setan ( Kis 5: 16, Kis 8:7 dll)

– Berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru  ( Kis 2: 4 – 11)

– Di gigit ular tidak mati ( Kis 28: 3,4,5 )

– Penyembuhan orang sakit ( Kis 5: 16 dll )

c. “bahasa-bahasa yang baru” ( Yunani : glossa, Inggris : tongues ) adalah bahasa-bahasa dari suku / bangsa lain yang mempunyai struktur kalimat dan pengertian yang jelas dan dapat dimengerti oleh manusia.

Contoh di Kis 2: 4 -11. Ketika para murid ber”bahasa roh” maka orang Yahudi mendengar mereka berbicara dalam bahasa Yahudi, orang Kreta mendengar mereka berbahasa Kreta, orang Arab mendengar mereka berbahasa Arab”, dan sebagainya.

Fakta sekarang:

1). Ada beberapa “hamba Tuhan” yang menggunakan ayat ini untuk mengklaim bahwa setiap orang percaya harus ber”bahasa roh” sebagai tanda orang Kristen sejati, sehingga membuat orang Kristen yang tidak ber”bahasa roh” ragu-ragu apakah mereka orang Kristen sejati atau tidak! Ada pertanyaan yang harus dijawab oleh para “hamba Tuhan” tersebut: Mengapa hanya tanda ber”bahasa roh” yang ditekankan, bagaimana dengan ketiga tanda yang lainnya?

2). “Bahasa roh” saat ini berbeda dengan “bahasa roh” pada Kisah Para Rasul. Jelas bahwa di Kisah Para Rasul, “bahasa roh” adalah bahasa yang mempunyai struktur kalimat dan kata yang jelas dan dapat dimengerti oleh suku/bangsa lain. Tetapi “bahasa roh” saat ini adalah “bahasa” yang struktur kalimat dan kata-katanya tidak jelas. Biasanya hanya terdiri dari 2 sampai 5 suku kata yang tidak jelas dan diulang-ulang.

Contoh : tra – la – l a, tra – la – la dst , shikara-kara- kara – mande …. dst

Apakah ada bahasa dari suatu suku/bangsa yang mempunyai hanya 3 sampai 5 suku kata?

2. Sebagai manifestasi Roh Kudus ketika Injil memasuki daerah/wilayah baru.

Bahasa Roh di Kisah Para Rasul:

1. Di Yerusalem (Kis 2: 5-11)

2. Di Kaisarea untuk orang non Yahudi (Kis 10: 46)

3. Di Efesus (kota internasional pada saat itu) (Kis 19: 6)

Bandingkan dengan amanat agung Tuhan Yesus : Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Jadi, bahasa roh yang terjadi di tiga tempat di atas menunjukkan bahwa Injil telah memasuki wilayah yang telah diamanatkan oleh Tuhan Yesus kepada para rasul, dan hanya terjadi satu kali di setiap tempat dan tidak terulang lagi.

Perlu diingat juga, bahwa peristiwa terjadinya bahasa roh di atas bersifat dipkrispsi (menggambarkan) yang tidak bisa dijadikan sebagai suatu ajaran yang harus diikuti oleh setiap orang Kristen.

Contoh:

– Peristiwa pertobatan Saulus yang mengalami kebutaan dan tidak makan selama tiga hari tidak bisa dijadikan sebagai dasar ajaran bahwa setiap orang Kristen yang bertobat akan mengalami kebutaan dan harus puasa selama tiga hari.

– Peristiwa Tuhan Yesus dibabptis di sungai Yordan tidak dapat dijadikan sebagai dasar ajaran bahwa setiap orang Kristen harus dibaptis di sungai Yordan.

Demikian juga, peristiwa terjadi bahasa roh di tiga tempat di Kisah Para Rasul tidak bisa dijadikan sebagai dasar ajaran bahwa setiap gereja harus ada yang berbahasa roh. Tidak ada bukti di Alkitab bahwa setiap gereja dan orang percaya harus berbahasa roh.

Fakta Sekarang:

Terdapat indikasi adanya pemaksaan bahasa roh di gereja-gereja yang sudah lama berdiri.

3. Sebagai salah satu karunia dari banyak karunia

Dari sekian banyak surat penggembalaan para rasul kepada jemaat, hanya satu surat yang membahas tentang bahasa roh, itupun bukan berupa pujian tetapi teguran yang keras.

Fakta Alkitab:

I Kor 12:6 – 11, 27-30

6. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. 7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. 9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. 10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. 11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 28 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. 29 Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, 30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

So:

Bahasa roh merupakan salah satu karunia Roh Kudus yang diberikan kepada beberapa orang percaya secara khusus dan sesuai dengan kehendak Roh Kudus.

Jadi, kalau kita memang tidak dikehendaki oleh Roh Kudus untuk menerima karunia bahasa roh, ya jangan memaksakan diri untuk bisa berbahasa roh, sampai kursus bahasa roh segala! Ya ampun…..

Demikian juga dengan para “hamba Tuhan” jangalah Anda memaksakan setiap orang Kristen untuk berbahasa roh, apalagi menghakimi orang yang tidak berbahasa roh sebagai tidak ada Roh Kudusnya, padahal sangat jelas bahwa tidak semua orang percaya mendapat karunia bahasa roh!

1Kor 14:1,5, 18,19

Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.

Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

Bagi Anda pemburu bahasa roh :

1). Kejarlah kasih terlebih dahulu. Tanpa adanya kasih semua karunia tidak ada gunanya / sia-sia.

2). Mengapa Anda tidak memburu karunia bernubuat? Bukankah karunia nubuat lebih berharga dan lebih bermanfaat bagi jemaat?

3). Lima kata dengan bahasa biasa (mis bhs Indonesia) lebih baik dan bermanfaat bagi jemaat bila dibanding dengan ribuan kata dalam bahasa roh ( padahal dalam prakteknya banyak orang Kristen cuma bisa lima kata bahasa roh)

4. Aturan ber”bahasa roh”

I Kor 14: 27,28,37,38

27 Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. 28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. 37 Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. 38 Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia.

Aturan berbahasa roh di dalam persekutuan:

1). Paling banyak tiga orang secara bergiliran dan harus ada yang menafsirkan/menterjemahkan bahasa roh tersebut;

2). Jika tidak ada yang menafsirkan/menerjemahkannya, mereka harus berdiam diri / tidak mengucapkan bahasa roh.

Aturan ini adalah perintah Tuhan dan kalau ada “hamba Tuhan”/ jemaat yang tidak mengindahkannya, maka kita juga tidak perlu mengindahkan “hamba Tuhan” / jemaat tersebut!

Fakta / praktek berbahasa roh jemaat saat ini:

– Hampir semua anggota persekutuan / gereja yang berbahasa roh, baik song leader maupun jemaat yang hadir berlomba-lomba untuk “berbahasa roh” dan tidak ada satupun yang menafsirkannya.

– Jadi, persekutuan / gereja seperti ini sudah tidak mengindahkan aturan di atas, sehingga kitapun tidak perlu mengindahkan persekutuan / gereja tersebut!

So: Jangan hadiri persekutuan / gereja yang dalam pertemuan ibadatnya banyak yang berlomba berbahasa roh tanpa satupun orang yang menafsirkannya! Ini perintah Tuhan lho! (ayat 37-38)

5. Buah “berbahasa roh”

Fakta di Alkitab

Apakah karunia bahasa roh di jemaat Korintus dapat membuat jemaat tersebut dewasa? Ternyata jawabannya TIDAK! Jemaat Korintus yang merupakan satu-satunya jemaat pada PB yang mempraktekkan bahasa roh dalam kebaktiannya, ternyata merupakan manusia duniawi, jemaat yang belum dewasa di dalam Kristus, yang dibuktikan dengan adanya perselisihan, yang seorang merasa lebih hebat dari yang lainnya.( I Korintus 3: 1 – 5)

Fakta sekarang:

Saat ini, persekutuan / gereja yang mempraktekkan bahasa roh ternyata sama seperti jemaat di Korintus, suka berselisih yang berujung pada perpecahan gereja. Bukankah gereja yang paling banyak perpecahannya adalah gereja yang berbahasa roh? Belum genap 20 tahun usia gereja, sudah banyak pendetanya yang memisahkan diri membuat denominasi / gereja baru yang terpisah secara organisasi!

Bandingkan dengan gereja-geraja yang usianya lebih dari 75 tahun seperti GMIT, GKJ, HKBP dan sebagainya yang oleh gereja berbahasa roh dianggap sebagai gereja tanpa Roh Kudus; Walaupun di dalam gereja tersebut kadang kala ada “keributan” antar pendeta dan jemaat tetapi dapat diselesaikan dengan baik dan sampai sekarang gereja tetap utuh tidak terpecah. Dan walaupun gereja tersebut mempunyai warga jemaat lebih dari 250.000 orang dan sampai sekarang terus berkembang, tidak pernah menyombongkan diri sebagai gereja yang besar. Coba bandingkan dengan gereja berbahasa roh, walaupun anggotanya baru 20.000 orang sudah berkoar-koar sebagai gereja terbesar dan tercepat pertumbuhannya, apalagi sudah terbukti bahwa sebagian jemaatnya nyrobot dari gereja yang dikatakan tidak punya Roh Kudus tadi. ( di Solo dan Jogja ada gereja yang menawarkan antar-jemput secara gratis bagi orang yang mau beribadah di gerejanya).

6. Bahasa roh sudah berhenti?

1 Kor 13:8-10

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Ketika Rasul Paulus menulis ayat-ayat tersebut, kanon Alkitab belum ditutup sehingga Allah masih menggunakan karunia-karunia Roh Kudus untuk membimbing dan membangun kehidupan gereja-Nya. Tetapi setelah kanon Alkitab sudah selesai dan sempurna maka wahyu khusus sudah berhenti dan ditutup (Wahyu 22: 18,19).

Alkitab sudah cukup dan mampu memberi petunjuk dan bimbingan bagi setiap warga gereja. (II Tim 3: 16,17).

Bagi Anda pemburu bahasa roh, apakah Alkitab belum cukup untuk membangun iman Anda?

7. Bahasa roh dan perdukukan & agama primitif

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa para dukun juga menggunakan “bahasa roh” ketika mereka membaca mantra, demikian juga suku-suku primitif juga berbahasa roh ketika mereka memanggil-manggil dewa mereka.

Tidak ada jaminan bahwa Iblis tidak bekerja di dalam persekutuan / ibadah. Di dalam perumpaan gandum dan lalang ( Mat 13: 24 – 30; 36 – 43) dinyatakan bahwa Iblis juga menaburkan benih di tengah-tengah gereja dan hal ini sengaja dibiarkan oleh Allah. Bahasa roh dan mujizat adalah dua hal yang paling gampang dipalsu oleh Iblis.

Nah, bagi Anda pemburu bahasa roh, hati-hatilah terhadap setiap bahasa roh. Bedakan apakah itu benar dari Roh Kudus (harus ada penafsirannya) ataukah dari Iblis. Kalau Anda tidak dapat membedakan (memang sulit, sama sulitnya membedakan gandum dan lalang) lebih baik urungkan niat Anda, dari pada Anda menyesal di kemudian hari karena tertipu oleh Iblis.

Kalau Anda berbahasa roh hanya untuk membangun iman Anda, lebih baik Anda banyak membaca Alkitab sambil memohon hikmat pada Tuhan, dan Tuhan pasti akan memberikannya dengan tidak menangguhkannya.

8. Bagi Anda yang tidak berbahasa roh:

1). Tetap berbahagialah, jangan ragu-ragu terhadap iman Anda, karena Tuhan pasti memberi Anda karunia lain yang lebih  berguna baik bagi Anda pribadi maupun bagi gereja.

2). Jangan merasa minder terhadap saudara-saudara yang berbahasa roh, karena orang-orang besar yang telah Tuhan pakai untuk membangun gereja-Nya juga tidak berbahasa roh, seperti Augustinus, Martin Luther, Jhon Calvin, Billy Graham, dan lain-lainya juga tidak berbahasa roh!

Artikel berikut adalah tanggapan saya terhadap topik Bahasa Roh di Sabdaspace

1. Bahasa roh di Kisah Para Rasul berbeda dengan bahasa roh di I Korintus.

Bahasa roh di Kisah Para Rasul merupakan mujizat bahasa yang terjadi satu kali di satu tempat. Sebagai mujizat bahasa roh ini berfungsi meneguhkan Injil yang diberitakan oleh para rasul.

Sedangkan bahasa roh di Korintus merupakan fenomena yang biasa terjadi pada hampir di semua agama, dan Tuhan berkenan menggunakan fenomena ini untuk melengkapi pelayanan di gereja-Nya. Dengan lengkapnya kanon kitab suci, peranan bahasa roh sudah semakin berkurang dan bahkan mungkin tidak perlu digunakan lagi.

2. Setiap bahasa roh belum tentu berasal dari Roh Kudus.

Jangan gegabah meyakini bahwa kalau kita minta bahasa roh, dan bila kita benar-benar berbahasa roh, maka bahasa roh itu berasal dari Tuhan. Sekali lagi, fenomena bahasa roh ini bukan hanya ada di kekristenan saja, tetapi juga ada di hampir semua agama. Walaupun kita sudah minta dalam nama Tuhan Yesus, nggak ada jaminan bahwa Iblis terhalangi untuk memberikan bahasa roh yang palsu. Kalau Iblis bisa berada di Firdaus dan di hadapan Allah, masak ia nggak bisa bebas di gereja?

Jangan juga mengira bahwa perasaan damai, tenang, seperti di surga dan sejenisnya itu pasti buah Roh Kudus akibat berbahasa roh. Para ahli psikologi sudah mengadakan penelitian bahwa orang yang berbahasa roh (entah itu orang Kristen atau bukan) akan mengalami perasaan yang sama, yaitu seperti “trance” atau sama dengan orang yang pesta shabu-shabu, melayang-melayang ……. Juga ditemukan bahwa orang yang paling mudah berbahasa roh adalah orang yang dalam keadaan stress dan mencari sesuatu untuk melepaskan beban beratnya. Ya, persis,  bahasa roh perananannya persis seperti candu, sarana pelampiasan stress dan menikmati “kebebasan” semu.

Itulah sebabnya, biasanya sebelum “upacara” pengucapan bahasa roh dimulai, jemaat diajak untuk menyanyi jingkrak-jingkrak sampai lelah, dan ketika sudah capai, song leader / pengkhotbah minta agar jemaat mengosongkan pikirannya dan siap untuk menerima “roh”, dan pada saat pikirannya kosong itulah bahasa roh mulai bermunculan…..tanpa dapat dikendalikan, saling berlomba…. Padahal Rasul Paulus sudah melarang pengucapan bahasa roh yang tidak disertai penafsirannya di di depan umum. Kalau bahasa roh itu memang dari Roh Kudus, masak sih Roh Kudus berani berlawanan dengan firman yang diilhamkan Sendiri?

3. Orang yang berbahasa roh punya kecendurungan untuk bersikap anti sosial dan anti logika.

Maaf, saya dapat menyimpulkan demikian karena semua teman saya yang berbahasa roh memang demikian, nggak beda dengan orang-orang di Korintus pada waktu itu.

Saya ada dua kasus:

a. Di suatu daerah ada persekutuan dari gereja A, sering mengadakan acara doa pada jam 12 malam. Ya kalau doa biasa sih nggak apa-apa dan bagus, tapi ini…. ya ampun.. sudah jam 12 malam mereka berteriak-teriak dan berbahasa yang aneh – aneh… ya terang saja mereka dilempari dan diusir oleh warga di sekitarnya.

Melihat hal ini saya jadi ragu kalau penghancuran gereja dan penganiayaan yang terjadi di gereja karena semata-mata Nama Tuhan Yesus. Mengapa? Karena banyak gereja yang ditutup dan dilempari oleh warga non-Kristen karena memang sikap jemaatnya yang anti sosial, dan tidak punya kepeduliaan terhadap lingkungan sekitar.

Buktinya, sudah 8 tahun ini saya mengadakan kebaktian di rumah salah satu warga dimana kepala keluarganya muslim. Kamipun telah mendapatkan jaminan keamanan dari semua RT, Kadus, LPMD yang ada di wilayah kami. Kalau mereka kami undang untuk natalan, pasti datang dan memberi bantuan, padahal di satu kecamatan kami yang beragama Kristen hanya 30 orang.

b. Pada saat gempa bumi Mei 2006 ada seorang yang terkenal dengan pelayanan dunia roh (dan tentu saja fasih berbahasa roh) begitu yakin akan nubuat dari sohibnya bahwa akan ada stunami yang dahsyat sampai daerahnya (padahal jarak dari pantai masih 20 Km dan dengan ketinggian permukaan tanah puluhan meter dari permukaan laut). Maka setelah gempa berhenti, bukanya menolong orangtuanya yang tertimpa tembok, dan tetangga-tetangganya yang membongkar batu-bata untuk mencari sanak saudaranya yang tertimbun, eh ia dan keluargannya malah ngungsi ditempat yang aman dengan membawa jemaatnya yang juga sama-sama meninggalkan anggota keluarganya yang tergeletak tak berdaya … edan! … inikah orang yang dipenuhi Roh Kudus?

Kalau orang-orang seperti ini ndak percaya nubuatan palsu dari nabi palsu …. pasti banyak jiwa akan tertolong … dan udah pasti nama Tuhan akan dimuliakan …

Makanya, Rasul Paulus menyindir orang-orang yang keranjingan “dunia roh” ini untuk menggunakan otak / akal budinya, karena itu juga pemberian Tuhan! (I Kor 14:15)

4. Berdoa dalam bahasa roh bukan berarti Roh Kudus yang berdoa!

Ini salah kaprah dan sayangnya banyak yang percaya ini.

1 Korintus 14:14

Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.

Ketika Paulus berdoa dengan bahasa roh, siapa yang berdoa? Roh Kudus? Jelas tidak! Tetapi roh Rasul Paulus-lah yang berdoa. Nah, karena Rasul Paulus tahu bahwa “dunia roh” itu nyrimpet-nyrimpet bahaya dan Iblis suka main disana (ini tafsiran saya aja lho) maka Rasul Paulus JUGA MENGGUNAKAN AKAL BUDInya.

1 Korintus 14:15

Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

Kalau memang doa dengan bahasa roh itu berarti Roh Kudus yang berdoa untuk Rasul Paulus, mengapa ia juga berdoa dengan akal budinya? Apakah doa Roh Kudus nggak manjur gitu?

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: