Oleh: kristenberea | Februari 10, 2009

Mengkritisi PPA-GKJ – Pendahuluan

Untuk melihat PPA-GKJ dapat didownload disini

Ajaran gereja dapat dikoreksi atau bahkan diubah atas dasar pertimbangan:

1. Ajaran gereja dibuat oleh manusia melalui sebuah proses penafsiran Alkitab. Dalam proses tersebut ada kemungkinan manusia keliru menafsir. Apabila hal itu terjadi, maka ajaran gereja perlu dikoreksi.

2. Gereja hidup dalam zaman yang terus berubah. Oleh karena itu, apabila ajaran gereja dipandang sudah tidak memadai lagi untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman bagi gereja dan warganya dalam menjawab tantangan zaman, maka ajaran gereja tersebut perlu ditinjau kembali dan dilakukan perubahan.

3. Apabila hendak dilakukan koreksi atau perubahan terhadap ajaran gereja, maka hal itu haruslah dilakukan sesuai ketentuan dan prosedur yang benar.

PPA GKJ No. 9

Merunut sejarah perkembangannya maka dapat dikatakan bahwa GKJ “bersumber” dari gereja beraliran Calvinis (Reformed). GKJ sebagai gereja beraliran Calvinis semakin diperkuat dengan fakta-fakta sebagai berikut:

1. Pernah menggunakan nama “Gereformeed” (1931 – 1949)

2. Menggunakan Katekhismus Heidelberg sebagai buku pedoman kepercayaan dan pedoman hidup di lingkungan GKJ sampai tahun 1996.

3. Sampai saat ini masih mengikuti persidangan raya WARC dan REC.

Akan tetapi kalau melihat lebih lanjut di dalam Pokok-Pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ) terbitan tahun 2005, maka terdapat ketidaksesuaian antara pokok-pokok ajaran GKJ dengan “aliran” yang dianutnya. Di dalam PPA GKJ justru ditemui ajaran-ajaran yang ditentang dan dianggap sesat oleh orang-orang Calvinis yaitu Sabelianisme dan Armenianisme. Oleh karena itulah maka penulis menggugat kedua ajaran tersebut; mengapa keduanya dimasukkan di dalam PPA GKJ? Apakah ini disengaja oleh penyusun PPA GKJ ataukah karena ketidaktahuan para penyusun PPA GKJ tentang Calvinisme?

Adanya ajaran Sabelianisme dan Armenianisme di dalam PPA GKJ menimbulkan pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah para penyusun PPA menafsirkan bagian-bagian Alkitab sehingga bertentangan dengan tafsiran Bapa-Bapa gereja dan para Reformator seperti Augustinus, Martin Luther, dan John Calvin?

2. Apakah tafsiran ketiga orang yang sudah dipakai Tuhan secara luar biasa itu salah sehingga para penyusun PPA GKJ mengabaikannya?

3. Apakah tafsiran penyusun PPA GKJ telah diuji kebenarannya melalui kajian yang mendalam dan perdebatan yang sengit dari para teolog yang berkompeten di dalamnya? Bandingkan dengan ujian yang dihadapi oleh ajaran Augustinus, Martin Luther dan John Calvin. Walaupun ajaran mereka telah ditentang, didebat, dan dihambat, toh banyak sekali umat Tuhan dan para teolog besar yang tetap memegang dan mengakuinya sebagai kebenaran dari Tuhan. Bahkan sampai saat ini buku-buku mereka masih dibaca dan dijadikan referensi.

4. Nah, apakah kredibilitas ketiga tokoh tersebut kurang sehingga para penyusun PPA GKJ harus memakai ajaran Sabelianisme dan Armenianisme yang justru telah terbukti tidak tahan uji dalam berbagai kajian dan perbebatan?

Memang setiap umat Tuhan / gereja boleh menafsirankan Alkitab sendiri-sendiri, tetapi penafsiran tersebut harus bertanggungjawab, harus memenuhi kaidah-kaidah yang benar sehingga tafsiran tersebut sama seperti apa yang Tuhan kehendaki. Di dalam menafsir bagian-bagian Alkitab, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Semua Alkitab harus ditafsirkan dalam terang teologi dari seluruh Alkitab.

Firman Allah tidak pernah berkontradiksi dengan dirinya. Tidak ada bagian dari Alkitab yang berkontradiksi atau konflik dengan bagian yang lain. Dengan demikian jika ada dua tafsiran yang berbeda untuk bagian Alkitab yang sama, maka salah satu diantaranya pasti salah. Kebenaran Alkitab bukan relatif dan subyektif, tetapi kebenaran yang mutlak.

2. Bagian-bagian Alkitab yang sulit ditafsirkan dengan bagian-bagian yang lebih jelas. Yang implisit (tersirat) harus ditafsiran oleh yang eksplisit (tersurat).

Adanya Sabelianisme dan Armenianisme di dalam PPA GKJ membuat kita harus menguji kembali tafsiran-tafsiran bagian Alkitab yang dilakukan oleh para penyusun PPA, apakah tafsiran tersebut bertanggung jawab atau tidak. Kami telah melakukannya dan buku ini merupakah laporan dari hasil pengujian tersebut.

Nah, dengan “ditemukannya” dua ajaran yang bertolak belakang dengan Calvinisme, maka ada beberapa kemungkinan bagi GKJ:

1. Jika ingin tetap dikatakan sebagai gereja Calvinis / Reformasi, maka GKJ harus menghilangkan ajaran Sabelianisme dan Armenianisme. Dengan demikian GKJ harus mengoreksi Pokok-Pokok Ajaran-nya,

2. Jika tidak mau mengoreksi PPA-nya, maka pengakuan GKJ sebagai gereja Calvinis-Reformasi harus dicabut dan perlu dipertimbangkan keanggotaannya dalam WARC dan REC.

3. Kalau kedua hal tersebut tidak dilakukan atau tetap seperti saat ini, maka GKJ akan menipu warganya, dan siap untuk ditertawakan oleh orang yang tahu Calvinisme dan Armenianisme.


Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: