Oleh: kristenberea | Februari 10, 2009

Mengkritisi PPA-GKJ – Ajaran Allah Tritunggal

Ajaran Tritunggal :

Mengikuti Bapa-Bapa Gereja atau Sabelianisme

A. Pentingnya Doktrin Tritunggal

Doktrin Tritunggal adalah doktrin yang sangat penting dalam teologia Kristen. Jatuh bangunnya iman Kristen sungguh-sungguh bergantung pada benar-tidaknya doktrin ini. Semua doktrin kekristenan secara otomatis akan runtuh, jika doktrin Tritunggal runtuh. Sebab, hampir semua pokok penting dalam agama Kristen, bergantung pada ajaran bahwa Allah adalah tiga dalam satu. (Bruce Milne : Mengenal Kebenaran ; 1993, hal.90). Henry B. Smith berkata , “Ketika doktrin tentang Trinitas ditinggalkan, bagian-bagian lain dari iman, seperti pendamaian dan regenerasi selalu juga ditinggalkan.” (Henry B. Smith dalam buku A.H. Strong: Systematic Theology, Vol. I: The Doctrine of God); 1907: 351). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa doktrin Tritunggal adalah fondasi teologia Kristen.

Jadi, jangan sepelekan doktrin Tritunggal ini. Jika doktrin Tritunggal yang dianut GKJ ternyata salah dan tidak Alkitabiah maka ajaran-ajaran lainnya dimungkinkan ( bahkan dipastikan) salah juga. Kalau pemahaman tentang Allah salah, maka pemahaman tentang karya-karya Allah juga salah, misalnya tentang penulisan Alkitab, keselamatan, dan sebagainya.

B. Doktrin Tritunggal dalam Sejarah.

a. Sejak jaman Perjanjian Lama bangsa Yahudi selalu menekankan tentang Ke Esa-an Allah dan konsep ini dibawa sampai abad-abad pertama masehi.

b. Pada abad 2, Tertulianus memformulasikan doktrin ini; tapi masih banyak kekurangannya. (belum sempurna).Tertulianus (165M-220M) adalah orang pertama yang menemukan istilah “Trinity” (Tritunggal). Tertulianus berusaha untuk memberikan penjelasan yang alkitabiah tentang ajaran Tritunggal, karena pada saat itu di gereja banyak tersebar pengajaran Monarkianisme. Ajaran sesat Monarkianisme digolongkan menjadi 2:

1. Monarkianisme Dinamis (adoptionisme) Ajarannya: Yesus adalah manusia biasa yang diadopsi oleh Allah dan diberikan kekuatan khusus pada saat Ia dibaptis.

2. Monarkianisme Modalistis Ajarannya: Allah adalah satu, tetapi muncul (tampil) kepada manusia dalam 3 mode (bentuk), yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.

c. Arius (250M-336M) dari Aleksandria menentang ajaran Tritunggal. Ia tidak setuju akan keAllahan Anak dan Roh Kudus, berdasarkan Kol 1:15; Yoh 1:14; Yoh 3:16. Di Konsili Nicea (325M) ajaran Arian ini ditentang habis-habisan oleh Athanasius, demikian juga di Konsili Konstantinopel (381M). Perdebatan yang paling utama adalah mengenai dua istilah yang dipakai untuk menjelaskan tentang keAllahan Yesus dan Roh Kudus.

Pendapat Athanasius Vs Pendapat Arius: homoousios (sifat yang sama) vs homoiousios (sifat yang mirip)

d. Subordinationisme adalah ajaran yang juga menyimpang dari Alkitab. Mereka mengakui keAllahan Anak dan Roh Kudus, tetapi tetap lebih rendah keAllahan Bapa.

Athanasius berjuang hampir 17 tahun untuk mengembalikan doktrin ini kepada kebenaran Alkitab. Akhirnya dalam Konsili Konstantinopel (381M) Kaisar Konstantin memihak kepada Athanasius. Athanasius memberikan pandangan yang sehat. Kristus dilahirkan dari Bapa dan mempunyai kesetaraan dengan Bapa, tidak bersubordinasi. Namun demikian, Athanasius belum cukup puas karena kemenangannya hanyalah karena kekuatan kekuasaan Konstantin. Setelah kaisar Konstantin digantikan oleh penggantinya, ternyata penggantinya lebih memihak kepada kaum Arian.

e. Pada pertengahan abad 4, seorang teolog dari Kapadokia (Asia Kecil Timur) memberikan doktrin Tritunggal yang definitif dan mengalahkan ajaran aliran Arianisme dan mempertahankan istilah homoousios.

f. Doktrin Tritunggal yang paling tuntas diformulasikan pada masa Agustinus (354M-430M). Ia menulis dalam bukunya “De Trinitate“. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus tidak memiliki subordinasi, tetapi kesetaraan. Satu esensi Allah dengan 3 pribadi seperti apa yang diajarkan dalam Akitab.

g. Konsili Toledo (589M) menyelesaikan perdebatan tentang “filioque” (Latin), yang artinya “dan Anak” berdasarkan Yoh 14:26; Yoh 16:7; Yoh 15:26. Istilah “filioque” ini tidak dicantumkan baik dalam Konsili 325M ataupun Konsili 381M. Baru ditambahkan dalam Sinode Toledo (589M).

h. Sesudah masa Reformasi, Tokoh-tokoh Reformator, seperti Martin Luther dan John Calvin tidak menolak doktrin Tritunggal versi Athanasius. Martin Luther berkata bahwa doktrin Tritunggal harus diterima dengan iman, walaupun tidak bisa dijelaskan dengan tuntas, karena ada dalam Alkitab. Sedangkan Calvin menulis penjelasan tentang Tritunggal dalam bukunya Institutio.

i. Pandangan modern tentang Tritunggal bervariasi. Tetapi tidak ada hal yang baru lagi. Semua kesalahan yang dilakukan oleh teolog-teolog modern sudah pernah terjadi sebelumnya.

C. Pembahasan Sabelianisme di dalam PPA GKJ

Sebelum membahas Sabelianisme yang ada di PPA GKJ, perlu dijelaskan terlebih dahulu bagaimana ajaran Sabelianisme atau yang juga dikenal sebagai Modalistic Monarchianism itu.

Albert H. Freundt Jr.: “Modalistic Monarchianism endangered the true humanity of Christ and obliterated the distinctions within the Godhead. The aim was to make sure that in Christ we meet with no secondary or derived being, but with God himself. It was believed that in Christ the Father himself became incarnate as the Son and suffered. Hence the name ‘Patripassianism’ was given to this view. There are no eternal distinctions within the Godhead. God revealed himself in creation as the Faith, in redemption and the Son, and in sanctification as the Spirit. There is a trinity of manifestation rather than of persons. … The best known exponent of this view was Sabellius, and Sabellianism is another name for Modalistic Monarchianism. It is essentially the view that God is one person who successively reveals himself as Father, Son, and Spirit. When he became Son, he ceased being Father; and so forth. Each was a temporary mode or manifestation of the one true God” [= Modalistic Monarchianisme membahayakan kemanusiaan yang sejati dari Kristus dan menghapuskan perbedaan-perbedaan dalam diri Allah. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa dalam Kristus kita bertemu bukan dengan makhluk yang sekunder atau yang diturunkan / mempunyai asal usul, tetapi dengan Allah sendiri. Dipercaya bahwa Kristus adalah Bapa sendiri yang berinkarnasi sebagai Anak dan menderita. Karena itu nama ‘Patripassianisme’ (= Bapa yang menderita) diberikan kepada pandangan ini. Tidak ada perbedaan-perbedaan kekal dalam diri Allah. Allah menyatakan diriNya sendiri dalam penciptaan sebagai Bapa, dalam penebusan sebagai Anak, dan dalam pengudusan sebagai Roh. Ada ketritunggalan manifestasi / perwujudan dan bukannya pribadi. … Tokoh yang paling terkenal dari pandangan ini adalah Sabellius, dan Sabellianisme adalah nama lain untuk Modalistic Monarchianisme. Pada hakekatnya ini adalah pandangan bahwa Allah adalah satu pribadi yang secara berturut-turut menyatakan diriNya sendiri sebagai Bapa, Anak, dan Roh. Pada waktu Ia menjadi Anak, Ia berhenti menjadi Bapa, dan seterusnya. Masing-masing adalah perwujudan sementara dari satu Allah yang benar] ‘Early Christianity’, hal 47-48

Sekarang, bandingkan ajaran Sabelianisme di atas dengan Pemahaman Ketritunggalan Allah pada PPA GKJ berikut:

Pemahaman Ketritunggalan Allah

PPA GKJ Edisi 2005 (Uraian) Hal. 24 – 26 sbb:

Rumusan Bapa, Anak dan Roh Kudus itu dapat dijelaskan demikian:

1. Dalam hubungan dengan peristiwa bangsa Israel sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, Allah dikenal sebagai Bapa.
2. Dalam hubungan dengan peristiwa manusiawi Yesus sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Baru, Allah dikenal juga sebagai Anak Allah.
3. Dalam hubungan dengan peristiwa Roh Kudus, sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Baru dan di dalam sejarah gereja hingga kini, Allah dikenal juga sebagai Roh Kudus.

Sebutan Bapa dan Anak tidak menyatakan hubungan biologis, melainkan menyatakan hubungan langkah-langkah Allah di dalam karya penyelamatan-Nya [Mat.3:17 ( baca ayat 13-17); Yoh.1:1-3].
Bapa, Anak dan Roh Kudus itu Allah yang satu dan sama. Jadi, pribadinya hanya satu, yaitu Allah [Yoh.10:30; 14:9; 1Yoh.5:7].

Penjelasan tentang Yesus yang berdoa kepada Bapa dan tentang Bapa memberikan Roh Kudus kepada murid-murid Yesus adalah sebagai berikut:

  • Tentang Yesus yang berdoa kepada Bapa dapat kita pahami atas dasar penalaran bahwa Yesus adalah Allah yang masuk melibatkan diri di dalam kehidupan manusia dengan cara yang begitu manusiawi dan menjalani kehidupan-Nya dengan cara yang manusiawi pula. Dalam hal Yesus yang berdoa kepada Bapa, Ia menempatkan diri dalam posisi menggantikan manusia.
  • Tentang Bapa yang memberikan Roh Kudus kepada murid-murid Yesus dan orang-orang percaya, hal itu dapat dimengerti dari penalaran bahwa Allah sendiri yang datang dan bekerja sebagai Kuasa di dalam hati mereka, untuk menolong mereka sehingga mampu mempertahankan keselamatannya [Flp.2:7,8; Ibr.2:14-18; 4:14,15;Yoh.20:22]

Sekarang bandingkan antara kalimat yang digarisbawai pada ajaran Sabelianisme dan pada kotak (PPA GKJ)! Sama bukan? Dengan demikian, disengaja atau tidak, GKJ telah menganut ajaran Sabelianisme yang telah dinyatakan sesat / sebagai bidat oleh Bapa-Bapa Gereja dan para tokoh Reformasi seperti Augustinus, Martin Luther, dan Johanes Calvin. Calvinis juga menentang ajaran Sabelianisme ini.

Ajaran Tritunggal menurut Bapa-Bapa Gereja dan Reformator serta Calvinis.

Bapa-Bapa Gereja dan para tokoh Reformator dan Calvinisme tetap memegang ajaran Tritunggal yang sudah ada sejak gereja mula-mula dan diteguhkan pada Pengakuan Nicea-Kontantinopel yang menyatakan bahwa Allah itu satu esensi dan tiga pribadi.

John Calvin:
Tiga yang dibicarakan, masing-masing adalah Allah sepenuhnya, tetapi tidak ada lebih dari satu Allah
“Saya tidak dapat memikirkan yang satu tanpa dengan cepat dilingkupi oleh kemegahan dari yang tiga; juga saya tidak bisa melihat yang tiga tanpa segera dibawa kembali kepada yang satu

Louis Berkhof:
Keberadaan yang bersifat tiga pribadi ini adalah suatu keharusan dalam diri Allah, dan sama sekali bukanlah hasil dari pilihan Allah. Ia tidak bisa berada dalam sesuatu yang lain dari pada bentuk tiga pribadi

RC Sproul:
Formulasi bahwa Allah itu satu esensi dan tiga Pribadi memang merupakan suatu misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keberagaman-Nya diekspresikan dalam tiga Pribadi.
Istilah pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam substansi dari Allah. Substansi-subtansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain. Setiap pribadi berada “di bawah” esensi Allah yang murni. Perbedaan substansi ini berada dalam wilayah keberadaan, bukan merupakakan suatu keberadaan atau esensi yang terpisah. Semua pribadi pada diri Allah memiliki atribut ilahi.
Setiap pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa memprakasai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.
Doktrin Tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran-peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang bapa, seorang anak dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah.

Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam suatu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia adalah tiga.

    ( R.C Sproul – Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen – Hal 43,44)

    Bagaimana kata Alkitab?

    • Alkitab menyatakan ketunggalan Allah

      Contoh:

      Ulangan 6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

      Maleakhi 2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh?

      Markus 12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

      Yohanes 5:44 Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?

      1 Timotius 1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.

      • Alkitab menyatakan “kejamakan dalam diri Allah”.

      Kejamakan dalam diri Allah tidak sama dengan Allah itu lebih dari satu.

      a. Dalam Perjanjian Lama

      1) Digunakannya bentuk jamak untuk kata Allah.

      Kej 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

      Dalam bahasa Ibrani kata yang dipakai untuk Allah adalah Elohim. Kata Elohim adalah bentuk jamak dari Eloah.

      Dalam bahasa Ibrani ada tiga macam bentuk kata: tunggal, dual, dan jamak. Dual hanya digunakan untuk dua (biasanya untuk hal-hal yang berpasangan seperti mata, telinga, kaki, dsb) sedangkan jamak untuk sesuatu yang lebih dari dua. Jelas bahwa kata “Elohim” menunjukkan ada lebih dari dua pribadi Allah.

      Dalam seluruh Alkitab kata “Elohim” (2.346X) jauh lebih banyak daripada “Eloah” (277 X). Kalau Allah itu hanya satu pribadi mengapa tidak selalu menggunakan Eloah?

      2) Adanya kata ganti jamak untuk Allah.

      Kejadian 1: 26a Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,

      Kejadian 3: 22a Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita,

      Kejadian 11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”

      Yesaya 6: 8b (ASV) Whom am I to send, and who will go for Us?

      Adanya kata “Kita” menunjukkan adanya komunikasi antar Pribadi Allah. Kata: “Kita” tidak bisa diartikan sebagai “Allah dan Malaikat” karena Malaikat tidak punya kemampuan untuk mencipta dan kita juga tidak diciptakan menurut gambar Allah dan malaikat.

      3) Adanya pembedaan pribadi Allah satu dengan pribadi Allah lainnya.

      Psalm 110: 1 The LORD said unto my Lord, Sit thou at my right hand, until I make thine enemies thy footstool.

      Bandingkan dengan penjelasan Tuhan Yesus tentang ayat ini di Matius 22: 42-45

      b. Dalam Perjanjian Baru

      Di dalam Perjanjian Baru Tiga Pribadi Allah sangat jelas dibedakan satu dengan yang lainnya dalam satu ayat / bagian Alkitab.

      Yoh 1: 1-3 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

      Kata “bersama-sama” pada ayat 2 berasal dari bahasa Yunani “pros” yang menyatakan suatu hubungan muka dengan muka, suatu hubungan yang akrab dan pribadi. Jadi jelas bahwa Firman (Logos) adalah Pribadi yang berbeda dengan Bapa, tetapi esensinya sama yaitu Allah.

      Mat 3:16,17 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

      Disini Ketiga Pribadi Allah ada dalam waktu yang sama dan pada “posisi” yang berbeda.

      Yohanes 5: 30 Aku (Yesus) tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.

      Disini Yesus punya kehendak sendiri, Bapa juga punya kehendak sendiri. Jelas masing-masing adalah pribadi yang berbeda. Ini diperjelas dengan adanya pengutusan, Pribadi Bapa mengutus Pribadi Yesus. Kalau Allah itu satu Pribadi dan punya tiga manefestasi bagaimana sesama manefestasi Allah bisa mengutus. Sebagai analogi, bagaimana saya sebagai suami mengutus saya sebagai ayah?

      Yohanes 5: 31,32,37 Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar.

      Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang  Aku.

      Kata yang lain pada ayat di atas dalam bahasa Yunani dipakai adalah “allos”. Kata “allos” disini menunjukkan bahwa “yang lain” tersebut sejenis, satu nature. Sedangkan bila “yang lain” itu tidak sejenis maka digunakan kata “heteros”.

      Jadi jelaslah, dari ayat-ayat di atas bahwa Pribadi Yesus seesensi dengan Pribadi Bapa.

      Yohanes 14:16,17 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

      Kata Penolong berasal dari bahasa Yunani “parakletos” yang juga dapat diterjemahkan dengan “Penghibur”, “Penasehat” dan kata “yang lain” berasal dari kata “allos”.

      Kalau dikatakan “Penolong yang lain”, lalu siapa “Penolong sebelumnya” yang sejenis ?

      1Joh 2:1 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.

      1Jo 2:1 (ASV)My little children, these things write I unto you that ye may not sin. And if any man sin, we have an Advocate with the Father, Jesus Christ the righteous:

      Kata “pengantara” atau dalam terjemahan lainnya “pembela” dalam bahasa Yunaninya juga “parakletos”.

      Jadi, menurut konteks kedua perikop di atas, ada dua”Parakletos” yaitu Tuhan Yesus dan Roh Kudus. Keduanya satu esensi (sejenis).

      Dengan demikian dari pembahasan Yohanes 5, 31,32,37, Yohanes 14,16,17, dan I Yoh 2: 1, dapat disimpulkan bahwa Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang satu esensi. Satu esensi tiga pribadi.

      Kis 7: 55,56 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

      Di sini juga jelas bahwa Allah dibedakan dalam tiga Pribadi bukan tiga manifestasi. Kalau Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus merupakan manifestasi Allah yang hanya satu Pribadi, maka tidaklah mungkin menyatakan diri dalam waktu yang sama. Sebagai analogi tidaklah mungkin saya sebagai suami berbicara kepada saya sebagai ayah secara berhadapan muka, di sisi lain saya sebagai pegawai menyaksikan percakapan saya sebagai suami dengan saya sebagai ayah.

      2 Kor 13:14 (13-13) Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

      Kalau Allah satu Pribadi saja, maka ucapan berkat seharusnya cukup menggunakan satu nama Allah saja. Penggunaan kata hubung “dan” menunjukkan bahwa Tuhan Yesus, Allah (Bapa), dan Roh Kudus merupakan Pribadi yang terpisah / berbeda.

      A.Menguji Tafsiran PPA GKJ tentang Ketritunggalan Allah

      Alkitab tidak berisikan hal-hal yang kontradiksi. Hal-hal yang nampaknya saling bertentangan sebenarnya dapat diharmoniskan melalui penyelidikan Alkitab yang lebih seksama dan tentu saja dengan iluminasi Roh Kudus. Nah, kalau ada penafsiran yang berbeda tentang Tritunggal, maka tugas kita untuk mencari mana yang salah, dan mengapa penafsirann tersebut salah.

      Di depan saya sudah menyampaikan sedikit penafsiran tentang Tritunggal berdasarkan ajaran Calvinis yang juga mengikuti ajaran dari Bapa-Bapa Gereja, yang tentu saja saya yakini itulah penafsiran yang benar. Maka saat ini saya ingin menunjukkan kesalahan penafsiran para penyusun PPA – GKJ yang menghasilkan ajaran Tritunggal yang sudah dinyatakan salah / sesat oleh Bapa-Bapa Gereja, para reformator dan Calvinisme.

      1. Bapa – Anak Allah : menyatakan hubungan langkah-langkah Allah di dalam karya penyelamatan-Nya?

      Dasar Alkitab yang dipakai: Yoh 1: 1-3

      Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

      Di ayat ini tidak tersurat maupun tersirat bahwa Allah Bapa bermanifestasi menjadi Anak Allah. Yang tersurat justru Tuhan Yesus / Sang Firman ( yang juga Allah) adalah Pribadi yang ada sejak kekal bersama-sama Pribadi Allah Bapa. Kata “bersama-sama” pada ayat 2 berasal dari bahasa Yunani “pros” yang menyatakan suatu hubungan muka dengan muka, suatu hubungan yang akrab dan pribadi. Jadi, ayat ini justru mendukung doktrin Tritunggal bahwa Allah itu satu esensi tiga pribadi.

      2. Bapa – Anak – Roh Kudus satu pribadi?

      Dasar ayat:

      a. Yoh 10: 30 : Aku dan Bapa adalah satu.

      Benarkah kata “satu” menunjukan satu pribadi?

      Jika kita membaca terus sampai ayat 33-36, maka jelas bahwa yang dimaksud dengan satu adalah satu “esensi” yaitu Allah. Jadi maksud perkataan Tuhan Yesus adalah bahwa sama seperti Bapa adalah Allah, maka Ia juga Allah.

      Ayat ini justru mendukung doktrin Tritunggal Calvinis. Allah itu satu esensi tiga pribadi.

      b. Yoh 14: 9 Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

      Perkataan Tuhan Yesus ini sama dengan perkataan Tuhan Yesus pada Yoh 10: 30 – 38, yang menunjukkan bahwa kesatuan diantara Bapa dan Tuhan Yesus adalah pada esensi-Nya bukan pada pribadi-Nya.

      c. I Yoh 5: 17 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

      Saya lanjutkan sampai ayat 18: Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

      Sama seperti Roh, air, dan darah adalah “benda” yang berbeda, demikian juga Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah Pribadi yang berbeda. Jadi kata “satu” yang dimaksud adalah satu esensinya (Allah), bukan satu pribadi.

      3. Dua manifestasi bisa saling berkomunikasi?

      Doktrin Tritunggal Sabelianisme sebenarnya akan kesulitan (bahkan tidak mungkin dapat ) menjelaskan tentang adanya komunikasi antara dua peran Allah yang berpribadi satu. Saya sebagai suami tidak mungkin berkomunikasi dengan saya sebagai seorang ayah, kecuali saya gila.

      Di dalam hal Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, para penyusun PPA GKJ menjelaskan bahwa pada saat itu Yesus menempatkan posisi sebagai manusia dan bukan sebagai Allah. Dengan demikian sewaktu-waktu Yesus berperan sebagai Allah 100% dan sewaktu-waktu berperan sebagai manusia100 %. Jadi Yesus bukan Allah dan manusia pada saat yang sama. Jelas ini bertentangan dengan Doktrin Kristlogi yang dianut oleh Bapa-Bapa Gereja dan para Reformator.

      Ayat-ayat yang dijadikan dukungan terhadap ajaran PPA GKJ tentang Sabelianisme ini (Flp 2: 7,8, Ibr. 2: 14-18) justru menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Ketika menjadi manusia Ia tetap Allah. Jadi Yesus mempunyai dua hakikat (ilahi dan manusiawi) yang menyatu dalam satu pribadi.

      Demikian juga ketika penyusun PPA GKJ menjelaskan bagaimana Bapa memberikan Roh Kudus kepada para murid, maka mau tidak mau harus menyatakan Roh Kudus hanyalah Kuasa. Sebab kalau Roh Kudus dinyatakan sebagai Pribadi jelas tidak mungkin ada satu pribadi yang terpisah. Tidak mungkin saya sebagai suami duduk diam di depan komputer sedangkan saya sebagai ayah berjalan mengambil minuman. Agar saya tetap di depan komputer dan dapat minum, maka saya harus menggunakan otoritas saya sebagai ayah untuk memerintahkan anak saya mengambil minuman. Nah, para penyusun PPA GKJ menyamakan “Roh Kudus” dengan semacam “otoritas memerintah” sehingga kehendak pribadi Bapa dapat terlaksana. Pertanyaannya, betulkan Roh Kudus hanya sekedar Kuasa yang diberikan kepada para murid agar kehendak Bapa dalam karya penyelamatan terpenuhi?

      Roh Kudus bukan sekedar “Kuasa” tetapi Pribadi.

      Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

      Tuhan Yesus menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal untuk Roh Kudus, jadi Roh Kudus adalah Pribadi (person), bukan sesuatu (something)

      Bukti Roh Kudus merupakan Pribadi:

      Bukti melalui keberadaan-Nya: Ia memiliki pikiran (Roma 8:27), Ia memiliki perasaan (Efesus 4:30), Ia memiliki kehendak (1 Korintus 12:11)

      Bukti melalui karya-karya-Nya : Ia mengajar (Yohanes 14:26), Ia memimpin (Roma 8:14), Ia memerintah (Kisah Para Rasul 8:29), Ia berkata-kata (Yohanes 15:26; 2 Petrus 1:21).

      Bukti melalui pengakuan yang dikenakan kepada-Nya : Ia bisa ditipu (Kisah Para Rasul 5:3), Ia bisa ditentang (Kisah Para Rasul 7 :51), Ia bisa dihujat (Matius 12 :31), Ia bisa didukakan (Efesus 4:30), Ia bisa dihina (Ibrani 10:29).

      Ada bagian Firman Tuhan yang jelas secara tersurat menggambarkan bahwa Roh Kudus dan Bapa adalah pribadi yang berbeda:

      Roma 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

      Jelas sudah, bahwa Allah itu esa/satu dalam esensinya tetapi tiga Pribadi. Bagaimana mungkin Tiga Pribadi tetapi sama-sama merupakan Allah yang esa adalah merupakan misteri bagi kita manusia. Dan hal ini wajar dan masuk akal karena bagaimana mungkin pikiran manusia yang TERBATAS dapat memahami Allah yang TIDAK TERBATAS?

      Yangg TIDAK MASUK akal justru ajaran Sabelianus yang mampu menjelaskan keberadaan Allah yang begitu mudah dipahami. Tidak masuk akal karena Allah yang tidak terbatas dapat dipahami oleh pikiran manusia yang terbatas.

      Apakah semua air laut dapat dimasukkan ke dalam sebuah botol? Tidak mungkin bukan? Tetapi itulah yang terjadi pada PPA GKJ di dalam menjelaskan Allah Tritunggal!

      B. Kesimpulan dan Saran

      Dengan sedikit dukungan dari Firman Tuhan (dari sekian banyak bagian Firman Tuhan yang mengisyaratkan bahwa Allah itu satu esensi tiga peribadi) sudah dapat ditunjukkan bahwa doktrin Tritunggal Sabelianisme adalah tidak Alkitabiah / sesat. Sesatnya Sabelisanisme juga dinyatakan oleh Bapa-Bapa Gereja sehingga tidak dianut oleh para reformator dan juga Calvinis. Oleh karena itu, jika ajaran GKJ ingin tetap mengacu pada Alkitab, ajaran para Bapa Gereja dan para Reformator, serta Calvininisme, maka doktrin Sabelianisme ini harus diganti dengan doktrin Tritunggal yang Alkitabiah.

      Iklan

      Kategori

      %d blogger menyukai ini: