Oleh: kristenberea | Desember 13, 2008

4 Serangan Dr. Suhento Liauw terhadap Jhon Calvin bag 2

Serangan II

Serventus, bukan ana-baptis, melainkan seorang penentang baptisan bayi, dibakar oleh pemerintah kota Genewa yang dikendalikan oleh John Calvin. Sementara api menyiksanya ia berseru, “Jesus, thou Son of the enternal God, have mercy upon me. Hal ini sangat memilukan hati orang-orang yang menyaksikannya. Namun Calvin menyetujui dan berusaha membela tindakan pembunuhan atas Serventus. (Buletin Pedang Roh No. 57 hal 11 kolom 1)

Mari kita lihat bukti sejarah yang sebenarnya:

Servetus dilahirkan pada tahun 1509, yang juga merupakan tahun kelahiran Calvin.

Pada tahun 1531, ia menerbitkan buku yang berjudul ‘Errors on the Trinity’ [= kesalahan-kesalahan pada (doktrin) Tritunggal], dimana ia menyerang baik doktrin Allah Tritunggal, yang ia sebut sebagai monster berkepala tiga, maupun keilahian kekal dari Kristus. Ini menunjukkan bahwa Servetus bukanlah sekedar merupakan seorang kristen yang berbeda pendapat dengan Calvin. Sama sekali tidak! Sebaliknya, ia betul-betul adalah seorang bidat / sesat atau seorang nabi palsu!

Philip Schaff jelas menganggap bahwa Servetus adalah seorang bidat. Ini terlihat dari kata-kata Philip Schaff sebagai berikut:

“Servetus – theologian, philosopher, geographer, physician, scientist, and astrologer – was one of the most remarkable men in the history of heresy (= Servetus – ahli theolgia, ahli filsafat, ahli ilmu bumi, dokter, ilmuwan, dan ahli nujum – adalah salah seorang yang paling hebat dalam sejarah bidat)‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 786.

Buku ‘Errors on the Trinity’ ini menyebabkan Servetus dikecam oleh semua golongan, baik Protestan maupun Katolik.

Pada tahun 1534, pada waktu ia ada di Paris, ia menantang Calvin untuk berdebat. Tetapi pada waktu Calvin datang ke tempat yang dijanjikan, dengan resiko kehilangan nyawanya (ingat itu adalah saat terjadinya penganiayaan orang kristen di Paris), ternyata Servetus tidak datang ke tempat yang dijanjikan – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 324,688,720.

20 tahun setelah itu, Calvin mengingatkan Servetus akan peristiwa ini:

“You know that at that time I was ready to do everything for you, and did not even count my life too dear that I might convert you from your errors” (= Kamu tahu bahwa pada waktu itu aku bersedia melakukan segala sesuatu untuk kamu, dan bahkan tidak menyayangkan nyawaku supaya aku bisa mempertobatkan kamu dari kesalahan-kesalahanmu) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 324.

Setelah membatalkan pertemuan dengan Calvin itu, Servetus memulai perdebatan dengan Calvin melalui surat-surat, yang dilayani oleh Calvin, tetapi tanpa hasil. Selain menulis surat beberapa kali, Calvin juga me-ngirimkan bukunya ‘Institutes of the Christian Religion’, tetapi Servetus mengembalikannya dengan banyak serangan / keberatan terhadap ajaran-ajaran Calvin dalam buku itu.

“‘There is hardly a page,’ says Calvin, ‘that is not defiled by his vomit’” (= ‘Hampir tidak ada satu halamanpun,’ kata Calvin, ‘yang tidak ia kotori dengan muntahnya’) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 324.

Pada sekitar pertengahan Juli 1553, Servetus secara nekad, tiba di Geneva. Padahal ia baru saja lolos dari hukuman mati di Wina. Pada tanggal 13 Agustus 1553, ia ditangkap polisi atas nama sidang gereja, dan Calvin bertanggung jawab atas penangkapan ini – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 764-765.

Pada tanggal 26 Oktober 1553, sidang memutuskan hukuman mati untuk Servetus dengan jalan dibakar bersama dengan buku sesatnya. Sebetul-nya Calvin ingin memperingan hukuman itu dengan menggunakan pe-menggalan, bukan pembakaran, tetapi usul itu ditolak oleh Sidang.

“… the wish of Calvin to substitute the sword for the fire was overruled” (= … keinginan Calvin untuk menggantikan api dengan pedang ditolak) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 781-782.

Pada pukul 7 pagi, tanggal 27 Oktober 1553, Farel dan Calvin masih mengunjungi Servetus dan berusaha mempertobatkannya, tetapi tidak ada hasilnya. Dan akhirnya, pada tengah hari tanggal 27 Oktober 1553, pada usia 44 tahun, Servetus dijatuhi hukuman mati dengan dibakar bersama bukunya, di Geneva.

Philip Schaff berkata:

“In the last moment he is heard to pray, in smoke and agony, with a loud voice: ‘Jesus Christ, thou Son of the eternal God, have mercy upon me!’. This was at once a confession of his faith and of his error. He could not be induced, says Farel, to confess that Christ was the eternal Son of God (= Pada saat terakhir terdengar ia berdoa, dalam asap dan penderitaan yang hebat, dengan suara keras: ‘Yesus Kristus, engkau Anak dari Allah yang kekal, kasihanilah aku!’. Ini sekaligus merupakan pengakuan imannya dan kesalahannya. Ia tidak bisa dibujuk, kata Farel, untuk mengaku bahwa Kristus adalah Anak yang kekal dari Allah) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 785.

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang penghukuman mati Servetus oleh Calvin:

o Banyak orang menganggap hal ini sebagai suatu noda dalam kehi-dupan Calvin. Termasuk di dalamnya Philip Schaff yang berkata:

“… the dark chapter in the history of Calvin which has cast a gloom over his fair name, and exposed him, not unjustly, to the charge of intolerance and persecution, which he shares with his whole age” (= pasal yang gelap dalam sejarah Calvin yang melemparkan kesuraman terhadap nama baiknya, dan membuka dia, secara benar, terhadap tuduhan tidak bertoleransi dan penganiayaan, yang ia tanggung bersama-sama dengan seluruh jamannya)‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 687.

o Philip Schaff berkata bahwa sekalipun Perjanjian Lama memerintah-kan hukuman mati terhadap penyesat / nabi palsu (Kel 22:20 Im 24:16 Ul 13:5-15 Ul 17:2-5), tetapi Perjanjian Baru memerintahkan pengucilan, bukan penghukuman mati – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 694-695.

o Calvin memang sangat pemarah terhadap pengajar-pengajar sesat. Dan hal ini diakui sendiri oleh Calvin. Tetapi semua itu ditimbulkan oleh semangatnya yang berkobar-kobar untuk kebenaran dan kemur-nian Gereja.

o “Calvin was, as he himself confessed, not free from impatience, passion, and anger, which were increased by his physical infirmities; but he was influenced by an honest zeal for the purity of the Church, and not by personal malice” (= Calvin, seperti yang diakuinya sendiri, tidaklah bebas dari ketidaksabaran, nafsu dan kemarahan, yang diperhebat oleh kelemahan fisiknya; tetapi ia dipengaruhi oleh semangat yang jujur untuk kemurnian Gereja, dan bukan oleh kebencian / kedeng-kian pribadi) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 493.

o “His intolerance sprang from the intensity of his convictions and his zeal for the truth” (= Tidak adanya toleransi timbul dari intensitas keyakinannya dan semangatnya untuk kebenaran) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 839.

o Satu hal terpenting yang tidak diceritakan oleh Dr. Suhento adalah bah-wa pada jaman itu, penghukuman mati seperti itu adalah sesuatu yang wajar! Dengan tidak menceritakan hal ini, Dr. Suhento sudah memfitnah Calvin dengan cara menceritakan setengah / sebagian kebenaran (half truth)!

Philip Schaff berkata:

“He must be judged by the standard of his own, and not of our, age. The most cruel of those laws – against witchcraft, heresy, and blasphemy – were inherited from the Catholic Middle Ages, and continued in force in all countries of Europe, Protestant as well as Roman Catholic, down to the end of the seventeenth century. Tolerance is a modern virtue” (= Ia harus dinilai oleh standard jamannya sendiri, bukan standard jaman kita. Hukum-hukum yang paling kejam, yang menentang sihir, ajaran sesat dan penghujatan, diwarisi dari Katolik abad pertengahan, dan tetap berlaku di semua negara-negara Eropa, baik yang Protestan maupun yang Katolik, terus sampai akhir abad ke 17. Toleransi adalah kebajikan / sifat baik modern)‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 493-494.

Bandingkan dengan kata-kata Yesus, Yohanes Pembaptis, Paulus, Petrus dan Yohanes dalam Mark 7:19 Mat 3:7 Mat 15:26 Mat 23:33 Fil 3:2 Wah 22:15 2Pet 2:22, yang kalau diucapkan pada jaman ini tentu juga dianggap tidak etis / tidak benar!

Philip Schaff berkata lagi:

“The judgment of historians on these remarkable men has undergone a great change. Calvin’s course in the tragedy of Servetus was fully approved by the best men in the sixteenth and seventeenth centuries. It is as fully condemned in the nineteenth century” (= Penghakiman dari ahli-ahli sejarah terhadap orang-orang hebat ini mengalami perubahan yang besar. Jalan Calvin dalam tragedi Servetus disetujui sepenuhnya oleh orang-orang yang terbaik dalam abad ke 16 dan ke 17. Tetapi hal itu dikecam sepenuhnya dalam abad ke 19)‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 689.

“… if we consider Calvin’s course in the light of the sixteenth century, we must come to the conclusion that he acted his part from a strict sense of duty and in harmony with the public law and dominant sentiment of his age, which justified the death penalty for heresy and blasphemy, and abhorred toleration as involving indifference to truth. Even Servetus admitted the principle under which he suffered; for he said, that incorrigible obstinacy and malice deserved death before God and men” (= … jika kita merenungkan jalan Calvin dalam terang dari abad ke 16, kita pasti sampai pada kesimpulan bahwa ia bertindak dari rasa kewajiban / tanggung jawab yang ketat dan sesuai dengan hukum rakyat / umum dan perasaan yang dominan pada jamannya, yang membenarkan hukuman mati untuk orang sesat dan penghujat, dan tidak menyukai toleransi dan menganggapnya sebagai ketidakpedulian pada kebenaran. Bahkan Servetus sendiri mengakui prinsip dibawah mana ia menderita; karena ia berkata bahwa sikap keras kepala dan kejahatan yang tidak dapat di-perbaiki, layak mendapatkan kematian di hadapan Allah dan manusia)‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 690.

Jadi, jelaslah bahwa Dr. Suhento telah melakukan beberapa kesalahan fatal :

1) Menganggap Serventus dihukum mati karena menentang baptisan bayi, padahal yang sebenarnya dia dihukum mati karena ajaran sesatnya yaitu tidak mengakui ajaran Tritunggal dan menganggap Yesus bukan Allah / Tuhan.

2) Tidak memberitahukan kepada pembaca bahwa pada abad 16 dan 17 hukuman mati terhadap para penyebar ajaran sesat /bidat dan penyihir adalah hal yang sudah biasa, dan semua orang terbaik pada waktu itu menyetujui hukuman mati ini.

Saya sendiri percaya bahwa hal ini adalah “kehendak” Tuhan untuk “menjaga” jalannya reformasi sebab tanpa hukuman mati kepada penyesat maka ajaran gereja akan semakin ambruradul, tidak karuan.

Tuhan Yesus pernah bersabda:

“Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. ( Matius 18: 6 – 9)

Sekarang mari kita lihat ajaran gereja di jaman toleransi terhadap para penyesat atas nama HAM pada abad 18 – 20 ini, apakah banyak yang semakin Alkitabiah atau semakin banyak yang menyesatkan?

3) Tidak melihat upaya Calvin agar Serventus tidak jadi dihukum mati dengan menyadarkan Serventus bahwa ajarannya salah.

4) Menganggap bahwa pengakuan Serventus pada saat dibakar sebagai ungkapan iman semata, padahal hal itu juga merupakan pengakuan penyesalan dan pertobatannya karena ia dihukum mati justru karena mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: