Oleh: kristenberea | Desember 13, 2008

4 Serangan Dr. Suhento Liauw terhadap Jhon Calvin bag 1

Pendahuluan

Kalau pada Buletin Pedang Roh No. 55 Dr. Suhento Liauw banyak menfitnah dan menyerang ajaran Jhon Calvin ( yang sudah saya jawab ), maka pada Buletin Pedang Roh N. 57 beliau banyak menyerang pribadi Jhon Calvin. Tidak tanggung-tanggung, bagi orang yang membaca buletin itu dan percaya begitu saja maka mereka akan beranggapan bahwa Jhon Calvin adalah seorang yang kejam, sewenang-wenang, dan pembunuh berdarah dingin.

Nah, untuk itulah saya tergerak untuk menulis jawaban dari serangan itu agar para pembaca buletin Pedang Roh sadar bahwa semua yang ditulis tentang Jhon Calvin pada buletin itu adalah FITNAH SEMATA. Saya tidak tahu mengapa Dr. Suhento Liauw melakukan semuanya itu, tetapi yang jelas adalah tugas kita semua untuk meluruskan yang bengkok dan membetulkan yang salah.

Sekali lagi saya sama sekali tidak “mendewakan” Jhon Calvin, tetapi saya menghormati dia sebagai seseorang yang telah dipakai Allah dengan luar biasa untuk mengembalikan ajaran-ajaran gereja ke relnya, sehingg saya tidak rela orang yang sesaleh itu dihujat begitu luar biasanya.

Serangan I

Calvin dan Zwingli mengawinkan gereja Presbiterian/Reform mereka dengan pemerintah Swiss, dan membunuh setiap orang tidak setuju dengan mereka. ( Buletin Pedang Roh No. 57 hal 11 kolom 1 )

Dr. Suhento yang terhormat! Tolong, dari sumber pustaka mana Anda dapat menyimpulkan fitnah seperti ini? Pernahkah Anda membaca buku-buku sejarah yang independent tentang sejarah kekristenan? Pernahkah Anda membaca buku sejarah Genewa pada saat Calvin masih hidup?

Saya yakin Anda belum membacanya, kalau toh sudah pernah, Anda membacanya dengan kacamata “dendam” pada Calvin dan Calvinisme sehingga apa yang ada dalam buku tersebut serba negatif!

Sekarang buka kacamata Anda dan perhatikan bukti sejarah berikut:

Jenewa yang diperbarui

Pada saat perang Ottoman, Yohanes Calvin sedang melakukan perjalanan ke Strasbourg dan melalui kanton-kanton di Swiss. Ketika singgah di Jeneva, William Farel meminta Calvin agar menolongnya dengan urusan gereja. Tentang permohonan Farel ini, Calvin menulis, “Saya merasa seolah-olah Allah sendiri dari surga telah menyuruh saya untuk menghentikan perjalanan saya.” Bersama-sama Farel, Calvin berusaha melembagakan sejumlah perubahan dalam pemerintahan kota dan kehidupan keagamaan. Mereka menyusun sebuah buku katekismus dan pengakuan iman; seluruh warga kota itu mereka wajibkan untuk mengakuinya. Dewan kota menolak pengakuan iman Calvin dan Farel, dan pada Januari 1538 mereka mencabut kekuasaan kedua orang ini untuk melakukan ekskomunikasi, sebuah kekuasaan yang mereka anggap penting untuk pekerjaan mereka. Calvin dan Farel menjawabnya dengan memberlakukan larangan umum kepada semua penduduk Jenewa untuk mengikuti Perjamuan Kudus pada kebaktian Paskah. Karena itu, dewan kota pun mengusir mereka dari kota tersebut. Farel pergi ke Neuchâtel, dan Calvin ke Strasbourg.

Selama tiga tahun Calvin melayani sebagai seorang dosen dan pendeta sebuah gereja dari orang-orang Huguenot Prancis di Strasbourg. Pada masa pembuangannya itulah Calvin menikahi Idelette de Bure. Ia juga dipengaruhi oleh Martin Bucer, yang menganjurkan sebuah sistem politik dan struktur gerejawi yang mengikuti pola Perjanjian Baru. Calvin tetap mengikuti perkembangan-perkembangan di Jenewa, dan ketika Jacopo Sadoleto, seorang kardinal Katolik, menulis sebuah surat terbuka kepada dewan kota yang isinya mengajak Jenewa untuk kembali ke Gereja induk (Gereja Katolik Roma), jawaban Calvin atas nama kaum Protestan Jenewa yang sedang mengalami berbagai serangan, menolongnya mendapatkan kembali respek yang telah hilang sebelumnya. Setelah sejumlah pendukung Calvin memenangkan jabatan di Dewan Kota Jenewa, ia diundang kembali ke kota itu pada 1541.

Sekembalinya ke sana, berbekal wewenang untuk menyusun bentuk kelembagaan gereja, Calvin memulai program pembaharuannya. Ia menetapkan empat kategori dalam pelayanan gereja, dengan peranan dan kekuasaan yang berbeda-beda:

  • Doktor memegang jabatan dalam ilmu teologi dan pengajaran untuk membangun umat dan melatih orang-orang dalam jabatan-jabatan lain di gereja.
  • Pendeta yang bertugas berkhotbah, melayankan sakramen, dan menjalankan disiplin gereja, mengajar, dan memperingatkan umat.
  • Diaken mengawasi pekerjaan amal, termasuk pelayanan di rumah sakit dan program-program untuk melawan kemiskinan.
  • Penatua yaitu 12 orang awam yang tugasnya adalah melayani sebagai suatu polisi moral. Mereka umumnya mengeluarkan surat-surat peringatan, serta bila perlu menyerahkan para pelanggar ke Konsistori.

Para pengkritik seringkali menganggap Konsistori sebagai lambang pemerintahan teokratis Calvin. Konsistori adalah sebuah peradilan gerejawi yang terdiri atas sejumlah penatua dan pendeat, yang diberikan kuasa untuk mempertahankan ketertiban di dalam gereja dan di antara para anggotanya. Pelanggaran merentang dari menyebarkan doktrin yang salah hingga pelanggaran moral, misalnya berdansa dengan liar dan menyanyi dengan dengan buruk. Bentuk-bentuk penghukuman biasanya lunak — pelanggar dapat disuruh menghadiri khotbah-khotbah yang disampaikan secara terbuka atau kelas-kelas katekisasi. Perlu diingat konteks geopolitik yang lebih luas dari lembaga ini sebelum kita menilainya. Kaum Protestan pada abad ke-16 seringkali dikenai tuduhan oleh pihak Katolik bahwa mereka menciptakan doktrin-doktrin baru dan bahwa inovasi seperti itu mau tidak mau menyebabkan kemerosotan akhlak dan, pada akhirnya, kehancuran masyarakat itu sendiri. Calvin mengklaim bahwa ia ingin menegakkan legitimasi moral dari gereja yang diperbarui sesuai dengan programnya, namun juga meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, dan masyarakat. Dokumentasi yang baru-baru ini ditemukan mengenai jalannya Konsistori memperlihatkan setidak-tidaknya perhatian terhadap kehidupan rumah tangga dan kaum perempuan pada khususnya. Untuk pertama kalinya kaum laki-laki yang serong dihukum sama kerasnya dengan kaum perempuan, dan Konsistori sama sekali tidak memperlihatkan toleransi terhadap pemukulan atau penyiksaan terhadap pasangan (khususnya istri). Peranan Konsistori ini kompleks. Badan ini membantu mentransformasikan Jenewa menjadi kota yang digambarkan oleh reformator Skotlandia John Knox sebagai “sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada di muka bumi sejak zaman para Rasul.

Namun demikian, tampaknya Calvin tidak bermaksud menggunakan Konsistori untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya dan untuk mempertahankan kontrolnya terhadap kehidupan sipil dan keagamaan di Jenewa. Calvin bergerak dengan cepat untuk menjawab pertanyaan apapun yang diajukan tentang tindakan-tindakannya. Kejadian yang paling menonjol adalah kasus Pierre Ameaux dan Jacques Gruet. Calvin enggan menahbiskan orang-orang Jenewa, karena ia lebih suka memilih pendeta dari arus para imigran Prancis yang masuk ke kota itu dengan maksud semata-mata mendukung program pembaruan Calvin. Ketika Pierre Ameaux mengeluh tentang praktik ini, Calvin menganggapnya sebagai serangan terhadap kewibawaannya sebagai seorang pendeta, dan ia membujuk dewan kota untuk memaksa Ameaux untuk berjalan mengelilingi kota dengan berpakaian rambut dan memohon belas kasihan di lapangan-lapangan terbuka. Jacques Gruet memihak dengan sejumlah keluarga Jenewa lama, yang menentang kekuasaan dan metode-metode Konsistori. Ia dipersalahkan dalam suatu insiden di mana seseorang menempatkan sebuah plakat di salah satu gereja di kota itu, yang berbunyi: “Bila orang telah terlalu banyak menderita, balas dendam pun akan dilakukan.” Calvin menyetujui bahwa Gruet disiksa sampai mati, dengan tuduhan bahwa ia telah bersekongkol dengan sebuah komplotan Prancis untuk menyerang kota itu.

Sumber : Wikipedia

Calvin juga dipercaya menjadi peletak dasar kehidupan kota Jenewa sehingga sampai pada saat ini kota Jenewa menjadi salah satu kota terbaik dan ternyaman di dunia.

Kesimpulan:

Walaupun Yohanes Calvin membuat Tata Gereja Jenewa sebagai “suruhan” dari pemerintah kota Jenewa, namun ia tidak mau membuat tata gereja yang menempatkan pemerintah kota pada tempat yang tidak semestinya. Calvin justru mau menempatkan pemerintah pada porsi yang semestinya seperti dalam Alkitab. Tata gereja yang dibuat Calvin telah dapat mengubah kota Jenewa menjadi kota yang religius, nyaman, dan intelektual.

Kalimat Dr. Suhento Liauw yang menyatakan dan membunuh setiap orang tidak setuju dengan mereka “ sungguh amat dilebih-lebihkan. Karena faktanya hanya ada satu kasus (Jacques Gruet ) yang dihukum mati dengan tuduhan dan bukti yang jelas yaitu penghasutan dan makar. Dan lagi, kalau hukuman mati dikategorikan sebagai tindakan kejahatan (sama dengan membunuh ) maka pemerintah Indonesia, Amerika Serikat dan lain-lain juga harus dikecam habis-habisan karena telah menghukum mati para teroris (yang telah membunuh ribuan orang), dan bandar narkoba ( yang telah menghancurkan masa depan jutaan generasi muda) .

Tolong dong Pak Suhento, jangan sok alim membela “hak asasi” seseorang yang nyata-nyata telah menginjak-nginjak jutaan hak asasi manusia lainnya. Jangan hanya kasihan pada pelaku kejahatan, tetapi lihatlah para korban mereka.

Kalau Calvin dikecam karena “menghukum mati” seseorang yang akan mengacaukan kebenaran dan kebaikan, apakah Dr. Suhento juga berani mengecam Allah yang “membunuh” seluruh penduduk Sodom, Gomora, dan para penghasut orang-orang Israel untuk menyembah berhala. Saya tidak menyamakan Calvin dengan Allah, tetapi saya percaya bahwa Calvin memakai prinsip Allah ketika ia menyetujuan hukuman mati terhadap Gruet dan Serventus (lihat fitnah selanjutnya).

Sangat disayangkan bahwa Dr. Suhento Liauw hanya berfokus pada satu kasus ini, dan tidak mau melihat dan mengakui perubahan yang luar biasa pada keadaan kota Jenewa yang dinikmati oleh ratusan ribu orang bahkan jutaan orang sampai saat ini. Dari buku dan situs yang ditulis oleh orang-orang non-Kristen justru memberi pujian kepada Calvin yang dapat mengubah kota yang penuh kenajisan menjadi kota yang religius dan intelektual. Saat inipun Jenewa terkenal sebagai kota terbaik dan ternyaman di dunia.

Lihat buku: Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Michael H. Hart, 1978 atau situs Bulletin DWP PTRI Jenewa » Sejarah Kota Jenewa.htm

Disini juga terlihat bahwa Dr. Suhento tidak bisa membedakan antara Swiss dan Jenewa. Padahal Jenewa baru bergabung dengan federasi Swiss pada tahun 1815. Sungguh aneh apabila seorang Doktor menulis tanpa melihat data-data yang valid terlebih dahulu.

Nah, saya juga ingin bertanya kepada Dr. Suhento, apakah yang pernah Anda perbuat untuk Jakarta sehingga Anda begitu mengecam Calvin yang telah membawa Jenewa menjadi kota terbaik di dunia?

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: