Oleh: kristenberea | Agustus 30, 2008

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 8

Fitnah IX

Sekali selamat, walupun berubah iman akan tetap selamat!

Benarkah ini ajaran dari Jhon Calvin dan Calvinisme?

Sekali selamat tetap selamat! Ya, ini adalah ajaran dari John Calvin dan Calvinis, tetapi kalau sekali selamat, walaupun berubah iman tetap selamat, jelas inilah adalah fitnah dan membuktikan bahwa Dr. Suhento tidak tahu sama sekali tentang ajaran dari Jhon Calvin dan Calvinisme!

Untuk itu akan kami tunjukkan ajaran Calvinisme yang sebenarnya tentang keselamatan!

Roma 8: 29,30

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Keselamatan adalah suatu proses yang dimulai oleh Allah dan diakhiri oleh Allah juga dan Allah berjanji bahwa proses itu pasti berakhir dan tidak berhenti di tengah jalan (Filipi 1:6)

Jadi, kalau seseorang itu telah memasuki suatu proses keselamatan, maka tidak akan mungkin keluar dari proses tersebut. Jadi, orang yang benar-benar diselamatkan TIDAK MUNGKIN BERUBAH IMAN / KELUAR DARI PROSES KESELAMATAN.

Itulah sebabnya, TUHAN YESUS MEMBERI JAMINAN:

Yohanes 10: 28 Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Hidup yang Tuhan berikan pada kita adalah hidup yang kekal, bukan hidup sementara / temporer. Kekal artinya dari saat lahir baru sampai selama-lamanya. Kalau setelah lahir baru kemudian mati lagi karena murtad, maka itu bukan hidup kekal namanya, kecuali ia memang belum benar-benar lahir baru.

Tuhan melalui Rasul Paulus juga memberi jaminan sekali selamat tetap selamat!

Roma 8: 38,39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Firman Tuhan di atas sudah sangat jelas, bahwa hidup kita setelah bertobat, kematian, serta apapun juga yang ada di dalam kehidupan kita TIDAK DAPAT MEMISAHKAN KITA DARI KASIH KRISTUS. “GAYA TARIK” KASIH KRISTUS JAUH LEBIH BESAR DARI “GAYA TARIK” APAPUN DI DUNIA INI SEHINGA KITA TETAP AMAN BERADA DI DALAM “GAYA TARIK” KASIH KRISTUS.

Jadi keselamatan yang kita miliki sepenuhnya adalah anugerah Allah

Keberatan dan tanggapannya:

1. Kalau begitu Allah adalah seorang penculik karena memilih seseorang tanpa persetujuan atau keingininaanya!

Ini adalah pemikiran yang bodoh dan dangkal walaupun muncul dari seorang doktor teologi (maaf kalau saya sampai kasar, ya karena Allah telah dihujat sedemikian hebat!)

Hei, Bapak Doktor Suhento, apakah ketika Anda mau lahir ke muka bumi ini, Allah harus terlebih dahulu meminta persetujuan Anda; Anda ingin jenis kelamin apa? Anda ingin dilahirkan dimana? Siapa orangtua yang Anda ingini? dan sebagainya? TIDAK BUKAN?

Mengapa tidak? KARENA ANDA HANYALAH SEORANG CIPTAAN YANG TIDAK PUNYA OTORITAS SENDIRI. ANDA BERADA DALAM OTORITAS ALLAH PENCIPTA ANDA.

Kesalahatan fatal dari Dr. Suhento adalah ia menganggap bahwa manusia punya otoritas sendiri untuk melakukan apapun sesuai dengan kehendak bebasnya. Ia lupa bahwa kehendak bebas yang ia miliki adalah kehendak yang bukan bebas secara mutlak, dan kehendak bebasnya sudah dipengaruhi bahkan dikuasi oleh dosa. Selain itu kalau manusia punya otoritas sendiri, maka ia statusnya sama dengan Allah, karena hanya Allah-lah satu-satunya yang punya otoritas dari diri-Nya Sendiri.

Ingat, sama seperti proses kelahirannya, dalam hidup selanjutnya pun manusia tidak bisa menentukan sendiri, mau membantah?

Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

Yeremia 10:23 Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya

Jadi, mengapa Allah harus meminta persetujuan manusia atas apa yang akan Dia lakukan pada manusia ciptaan-Nya sendiri?

Sekali lagi, Pikiran di atas muncul karena Dr. Suhento menganggap manusia punya otoritas sendiri atau menganggap manusia sejajar dengan Allah dan inilah inti dari Humanisme dimana kehendak dan keinginan manusia dijunjung tinggi melebihi porsi yang sebenarnya!

2. Kalau begitu, Allah adalah sebagai penjajah atas kehendak manusia!

Ini adalah pikiran yang sama bodohnya (sekali lagi maaf)

Ingat! Orang yang masuk dalam proses keselamatan adalah orang yang telah dipilih dan dilahirkan kembali. Sebelum dilahirkan kembali ia berada di bawah kuasa dosa. Keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Kondisi seperti ini TIDAK SESUAI dengan keinginan dan kehendak manusia yang sebenarnya. Orang yang memang dipilih oleh Allah pasti tidak suka keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Ia akan bergumul sama seperti Rasul Paulus:

Roma 7: 18-24

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Pertanyaannya adalah , apakah orang yang dilepaskan dari kondisi ini dan masuk ke dalam kondisi yang baru dimana keadaannya sesuai dengan kehendak dan keinginannya akan merasa sedih atau senang? Akan merasa dibelenggu atau dibebaskan? Inilah reaksi orang yang telah dilahirkan kembali: Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Jadi orang yang sudah dilahirkan kembali SAMA SEKALI TIDAK MERASA BAHWA KEHENDAKNYA DIJAJAH OLEH ALLAH, SEBALIKNYA, JUSTRU PENUH UCAPAN SYUKUR KARENA TELAH DIBEBASKAN DARI PENJAJAHAN DOSA, karena hatinya beserta dengan kehendak dan keinginanya yang tidak suka dan tidak taat pada perintah Tuhan DIUBAH dengan hati yang baru, hati yang suka dan taat pada perintah Tuhan.

Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

Bagi orang yang sudah lahir baru, menaati Tuhan adalah kesukaannya karena memang sesuai dengan keinginan dan kehendaknya yang telah diperbaharui sehingga ia sama sekali tidak akan merasakan nuansa penjajahan dan pemaksaan dari Allah.

Sebaliknya, bagi orang yang belum lahir baru, menaati Tuhan adalah suatu beban atau keharusan, sehingga nuansa penjajahan / kerja paksa sangat terasa.

Dengan timbulnya pemikiran bahwa seolah-olah Allah menjajah kehendak manusia yang sudah diselamatkan, maka saya ragu-ragu apakah Dr. Suhento dan orang-orang yang sepaham dengannya sudah benar-benar dilahirkan kembali rohnya (walaupun secara akal budi mereka sudah tahu banyak tentang Kristus dan ajarannya). Karena kalau mereka sudah lahir baru, pasti tidak akan mengeluarkan pendapat yang demikian. Ya, semoga saja mereka sudah lahir baru, cuma masih bayi …. he…he jangan marah ya?

3. Kalau begitu, orang yang telah diselamatkan bisa berbuat semau gue, termasuk berbuat dosa, toh Allah telah menjamin bahwa ia pasti selamat!

Sekali lagi, pikiran seperti ini muncul dari orang yang kemungkinan belum memahami dan mengalami kelahiran kembali.

Ingat bung, orang yang dalam proses keselamatan adalah orang yang sudah lahir baru. Hatinya sudah diperbaharui, Walaupun keinginan dan kehendaknya belum benar-benar steril dari dosa, tetapi sekarang lebih cenderung untuk menaati Tuhan daripada memberotak kepada Tuhan. Dia mengalami “gaya tarik” yang lebih besar kepada Allah, dari pada kepada dosa. Memang dalam proses keselamatannya ia dapat berbuat dosa lagi, tetapi hatinya tetap berada pada “gaya tarik kasih Allah” sehingga ia tetap akan bangun dan taat pada Allah lagi.

Amsal 24:16 Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.

Mazmur 37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Perlu diingat lagi, bahwa Allah sudah menjamin bahwa tidak akan ada oknum, kuasa, dan peristiwa apapun dimana “gaya tariknya” lebih besar dari “gaya tarik” kasih Allah pada orang-orang yang telah dipilih sesuai dengan Rencana-Nya.

a) Allah memproteksi kita dari pencobaan yang melebihi kekuatan kita.

I Kor. 10:13

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

b) Allah turut bekerja dalam segala segi kehidupan kita sehingga rencana Allah atas hidup kita benar-benar terwujud.

Roma 8:28-30

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Jadi, orang yang masuk dalam proses keselamatan Allah, hatinya sudah diubah, dari mengasihi dunia / membenci Allah, menjadi orang yang mengasihi Allah dan membenci dunia, dari yang cenderung memberontak Allah, menjadi cenderung menaati Allah (saya katakan “cenderung” karena kehendaknya masih belum steril dari dosa, nanti kalau sudah sampai di surga maka orang pilihan Allah akan benar-benar mutlak akan mengasihi dan taat pada Allah).

Dengan demikian, fitnahan di atas tidak cocok ditujukan untuk orang kristen yang benar-benar telah lahir baru dan pasti selamat, tetapi akan sesuai bila ditujukan untuk orang kristen yang belum lahir baru sehingga juga belum tentu selamat!

4. Bagaimana dengan orang yang “sudah selamat” kemudian murtad? Bagaimana pula dengan adanya peringatan “jangan murtad”?

Sebelum menjawab perntanyaan ini, perlu ada pemahaman bahwa di dalam Alkitab, ada dua macam orang Kristen, yaitu Kristen sejati atau yang oleh Rasul Yohanes disebut sebagai orang “sungguh-sungguh termasuk pada kita” dan orang Kristen palsu atau “tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita”. Orang Kristen sejati tidak mungkin murtad dan kehilangan keselamatannya, tetapi orang Kristen Palsu (KTP) inilah yang mungkin sekali “murtad”. Saya beri tanda kutip karena sebenarnya orang Kristen Palsu ini belum selamat. orang Kristen sejati pasti telah lahir baru, orang Kristen palsu belum lahir baru sehingga juga belum selamat”

I Yoh. 2:19

Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

Untuk membedakan Kristen sejati dengan Kristen palsu memang sangat sulit, sama seperti membedakan antara gandum dan ilalang. Mereka sama-sama ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, berkhotbah, sekolah teologia (bahkan jadi doktor) mengusir setan, dan lain-lainnya.

Jadi kalau ada orang Kristen yang murtad, itu hanya membuktikan bahwa dia bukan orang Kristen sejati, dan pada dasarnya belum diselamatkan.

Mari kita lihat beberapa kasus di Alkitab:

a) Yudas Iskariot

Apakah Yudas Iskariot sudah diselamatkan?

Saya yakin bahwa ia belum diselamatkan, dengan alasan:

1) Yudas Iskariot memanggil Tuhan Yesus hanya sekedar “rabi” atau guru, sedangkan murid yang lainnya selalu memanggil Tuhan Yesus dengan “Tuhan”. Jadi hubungan antara Yudas Iskariot dengan Tuhan Yesus hanya sekedar murid dan guru. Saat ini banyak sekali orang yang kagum dengan ajaran Tuhan Yesus dan mengakui bahwa Yesus adalah guru mereka, walaupun mereka tidak percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat (Mis. Mahatma Gandhi).

2) Yudas Iskariot bukan dipilih untuk diselamatkan, tetapi untuk menggenapi rencana Allah yang sudah dinyatakan sejak semula:

Yohanes 13:18

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.

3) Yuda Iskariot adalah satu-satunya murid yang tidak dijamin keselamatannya oleh Tuhan Yesus. Hal ini dapat dilihat dalam doa Tuhan Yesus:

Yohanes 17: 12

Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

Itulah sebabnya mengapa setelah menyesal, Yudas Iskariot lantas bunuh diri. Hal ini berbeda dengan Petrus, setelah bertobat ia tetap terus percaya pada Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus memang menjaga dia (Lukas 22:31,32)

b) Orang-orang dalam Matius 7:15-23

Banyak orang (termasuk Dr. Suhento) menafsirkan bahwa orang-orang yang berseru Tuhan, Tuhan! ……. (ayat 22) adalah orang-orang Kristen yang akhirnya ditolak Tuhan dan masuk neraka! (Pedang Roh 56 hal 2).

Benarkah mereka pernah jadi orang Kristen (sejati)? TIDAK PERNAH!!!

1) Ayat 15 menyatakan bahwa mereka adalah serigala yang menyamar sebagai domba. Jadi mereka sebenarnya bukan domba, bukan orang Kristen.

2) Ayat 23, Tuhan TIDAK PERNAH MENGENAL mereka!

Ingat, Tuhan Yesus mengenal setiap domba-Nya / umat-Nya (Yohanes 10:14). Karena mereka tidak pernah dikenal Tuhan, maka kesimpulannya sudah sangat jelas, MEREKA TIDAK PERNAH MENJADI UMAT-NYA (ORANG KRISTEN). Kalau mereka pernah jadi orang Kristen maka Tuhan Yesus akan berkata: Aku tidak lagi mengenal kamu …….

c) Orang-orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu (Matius 13:20,21 dan yang paralel).

Orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu juga bukan orang Kristen sejati. Buktinya benih (firman Tuhan) tidak sempat berakar dalam hati. Orang ini adalah orang yang percaya pada Tuhan Yesus hanya pada taraf otak/pikiran doang, hatinya belum tersentuh oleh kasih Tuhan. Jadi, jangan heran kalau banyak para ahli teologia yang akhirnya “murtad”, karena mereka menerima Tuhan Yesus hanya di akal / pikiran mereka, tetapi hatinya masih dikuasi oleh dosa. Pada dasarnya orang ini belum selamat sehingga juga tidak mungkin murtad!

d) Orang-orang dalam Matius 24:10

Orang-orang yang dimaksud disini jelas bukan orang Kristen sejati (yang telah dipilih dan dilahirkan kembali). Mengapa? Karena pada ayat 22, 24 orang-orang pilihan Allah tetap selamat dan tidak akan mungkin disesatkan oleh nabi-nabi palsu!

Matius 24:22-24

Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

Adanya peringatan “jangan murtad” belum tentu karena yang diperingatkan tersebut mempunyai kemungkinan untuk murtad. Harus dilihat terlebih dahulu siapa yang diperingatkan dan apa tujuannya memperingatkan jangan murtad.

Ilustrasi:

Kalau peringatan “jangan merokok karena merokok akan bla – bla- bla …” ditujukan pada seorang perokok, memang benar ada kemungkinan orang tadi akan merokok lagi. Tetapi kalau peringatan tersebut ditujukan pada saya, jelas saya tidak akan mungkin merokok karena saya bukan perokok dan tidak pernah merokok, sertya tidak ada niat sedekitpun untuk merokok. Lalu apa gunanya peringatan jangan merokok untuk saya? Jelas ada gunanya dan bahkan sangat berguna! Karena dengan tahu bahaya dari merokok maka hal itu akan meyakinkan saya bahwa tindakan saya yang tidak merokok adalah tepat dan akan menguatkan komitmen saya untuk tidak pernah merokok, bahkan akan mendorong saya untuk mengkampanyekan anti merokok kepada para perokok!

Demikian juga peringatan “Jangan murtad” kalau ditujukan pada orang Kristen palsu, maka ada kemungkinan orang kristen palsu tersebut akan “murtad”! Tetapi kalau ditujukan pada orang Kristen sejati, maka peringatan tersebut justru akan menyakinkan dia bahwa dia telah berada pada jalan yang benar dan akan menguatkan komitmenya untuk tetap berjalan pada jalan tersebut, bahkan akan mendorong dia untuk menunjukkan jalan itu pada orang lain yang belum melewati jalan itu karena ia sudah tahu bahayanya kalau ada orang yang berjalan pada jalan yang tidak ia sedang jalani!

Contoh:

a) Dalam 2 Tes 2: 3 Rasul Paulus memperingatkan kepada jemaat di Tesalonika supaya jangan disesatkan, karena akan banyak pemurtadan (penolakan terhadap agama) ..

Tetapi, dalam ayat 13,14 Rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah karena sebagai umat pilihan Allah mereka akan tetap selamat dan memperoleh kemuliaan Kristus, sehingga pada ayat 15, Rasul Paulus meminta mereka untuk tetap berdiri teguh dan berpegang pada ajaran yang benar.

Jadi, jelas bahwa adanya peringatan “jangan disesatkan” dan “banyak pemurtadan” tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa jemaat di Tesalonika akan dapat tersesat dan murtad, tetapi sebaliknya mereka tetap aman dalam proses keselamatannya.

b) Dalam Ibrani 3:12 Penulis kitab ini memperingatkan supaya orang Ibrani jangan ada yang murtad. Pada ayat-ayat berikutnya dinyatakan bahaya-bahaya dari murtad yang sampai puncaknya pada Ibrani 6: 4-7.

Penulis kitab Ibrani memperingatkan “jangan murtad” kepada orang Ibrani bukan karena mereka bisa murtad, tetapi UNTUK MENEGUHKAN PENGHARAPAN MEREKA AKAN KESELAMATAN YANG SUDAH PASTI, DAN SUPAYA IMAN MEREKA TERUS BERTUMBUH.

Ibrani 4: 9-12

Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.

c) Ibrani 10: 26,35,38

Dr. Suhento begitu yakin dengan adanya ayat-ayat di atas, orang Kristen benar-benar dapat murtad, melepaskan kepercayaanya, dan membatalkan penanggungan dosanya, sehingga ia wanti-wanti agar jemaatnya tidak melakukan hal seperti itu.

Sekali lagi, kalau Dr. Suhento dan jemaatnya memang ada potensi seperti itu, berarti mereka bukan orang Kristen sejati. Mereka bukan seperti orang Ibrani yang menerima surat itu ( dan juga bukan seperti kami he….he… sombong ni ye karena kami juga menyamakan diri seperti orang Ibrani) yang oleh penulis surat Ibrani dinyatakan ..

Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

(Ibrani 10: 39)

Lihat baik-baik ayat yang saya tebalkan dan besarkan di atas! Firman Tuhan ini menegaskan bahwa adanya peringatan jangan murtad, mengundurkan diri, tidak percaya dan sebagainya, bukan dimaksudkan karena kita ada potensi melakukan seperti itu, tetapi untuk meneguhkan kita bahwa kita sudah ada pada posisi yang benar. Dengan mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak berada pada posisi seperti kita akan binasa, maka penulis Ibrani bermaksud supaya kita lebih banyak mengucapsyukur pada Tuhan, semakin mengasihi Tuhan, dan semakin memperkuat iman kita.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: