Oleh: kristenberea | Agustus 30, 2008

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 7

Fitnah VII

Jhon Calvin dan kaum Reformed membuat Allah Sangat Tidak Adil.

Ketika orang pertama kali mendengar Doktrin Predestinasi dimana Allah menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya, pada umumnya langsung menentangnya dengan ungkapan :

Kalau begitu mengapa manusia harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya padahal itu telah dikendaki oleh Allah? Toh tidak ada manusia yang bisa melawan kehendak Allah?

Kalau begitu Allah tidak adil dong!

Tahukah Anda, bahwa reaksi seperti ini sama persis dengan reaksi orang-orang yang mendengar ajaran predentinasi dari Rasul Paulus? Nah untuk menanggapi kedua pernyataan di atas yang juga dinyatakan oleh Dr. Suhento, maka sayapun akan menggunakan tanggapan dari Rasul Paulus:

Apakah Allah tidak adil? Mustahil!

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan– justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan. (Roma 9: 14, 20-23)

Jadi, jangan menilai keadilan Allah dengan standar keadilan manusia. Kalau Keadilan Allah kita nilai berdasarkan keadilan manusia maka seolah-olah “Allah memang tidak adil” karena memang banyak ketidakadilan alami yang kita lihat dimuka bumi ini. Mengapa sebagian anak dilahirkan dari keluarga miskin, sedangkan yang lainnya dari keluarga kaya? Mengapa sebagian dilahirkan di daerah gersang, tandus dan sangat kesulitan air, sedangkan sebagian yang lainnya dilahirkan di daerah subur dengan air melimpah?

Ingatlah sekali lagi bahwa manusia itu tetap sebagai ciptaan. Sekalipun kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah, tetap saja status kita adalah ciptaan. Nilailah Allah sesuai dengan stadar Pecipta bukan dengan standar ciptaan.

Jadi, adanya tuduhan bahwa doktrin predestinasi membuat Allah tidak adil justru membuktikan bahwa doktrin ini adalah Alkitabiah karena Rasul Paulus juga mendapatkan reaksi yang sama!

Fitnah VIII

John Calvin dan kaum Reformed menempatkan Allah sebagai penjahat besar!

Benarkah demikian?

Sebenarnya fitnahan ini sama dengan fitnah I yaitu Allah sebagai pencipta dosa, karena semua kejahatan bersumber dari hati orang yang berdosa, untuk itu saya akan menanggapi fitnahan ini dengan Artikel dari Pdt. Budi Asali tentang benarkah Allah pencipta dosa?

Mungkin ada yang bertanya: “Bukankah dengan adanya dosa di dalam Rencana Allah berarti Dia adalah pencipta dosa?” Harus diakui bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sukar sekali dijelaskan. Untuk dijawab memang tidak sukar karena Allah memang bukan pencipta dosa. Tetapi bagaimana penjelasannya itulah yang sulit, bukankah sebelum malaikat dan alam semesta ini diciptakan, yaitu pada saat Allah masih belum menciptakan apapun, dosa tidak ada? Bukankah sekarang dosa ada? Darimana datangnya dosa? Bukankah pencipta segala sesuatu adalah Allah yang maha suci? Siapakah pencipta dosa apabila bukan Allah?

1Yohanes 2:16

Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Perlu diingat bahwa sebenarnya pertanyaan ini tidak bisa diajukan hanya kepada pihak Calvinisme, aliran lainpun harus menjawab pertanyaan yang sama, bahkan agama lainpun juga dihadapkan pada masalah pelik ini.

Kita sudah melihat bahwa manusia tidak dipaksa untuk melakukan dosa, mereka melakukannya dengan kehendak bebasnya sendiri. Meskipun Kitab Suci dengan jelas melarang dosa, tetapi Allah mengijinkan terjadinya dosa jika memang manusia tersebut memilih untuk melakukannya. Motivasi Allah di dalam mengijinkan terjadinya dosa dan motivasi manusia di dalam melakukan dosa adalah dua hal yang sangat berbeda. Allah mengijinkan dosa terjadi untuk menghargai kebebasan manusia, dan karena hal itu sesuai dengan rencana kekalNya. Di lain pihak setiap manusia yang melakukan dosa, ia melakukannya karena ia memang ingin melakukannya. Orang itu sadar sepenuhnya bahwa tidak ada yang memaksa dia untuk berbuat dosa, dan dia menyadari bahwa sebenarnya dirinya tidak perlu melakukan dosa itu jika dia sendiri tidak menghendakinya.

Kita boleh yakin bahwa Allah tidak akan mengijinkan terjadinya dosa seandainya Ia tidak bisa mengatasi dosa itu dan mengubahnya menjadi kebaikan. Dengan providenceNya Ia dapat mempengaruhi (bukan memaksa) jalan pikiran orang-orang fasik sehingga kebaikan bisa ditimbulkan dari rencana jahat mereka. Contoh yang paling klasik adalah peristiwa pengiriman/penjualan Yusuf oleh saudara-saudaranya ke Mesir (Kej 45:8). Saudara-saudara Yusuf melakukan pengiriman itu karena mereka benci dan iri hati kepada Yusuf, tetapi Tuhan telah mengubah tragedi itu menjadi kebaikan (Yusufpun mengakui hal itu di dalam 50:2). Jika bukan karena campur tangan Tuhan maka pada saat bala kelaparan terjadi, bisa saja Yakub dan anak-anaknya mati semua. Tanpa Yakub tidak akan ada Israel, tanpa Israel tidak akan ada Daud, tanpa Daud tidak akan ada Kristus, dan tanpa Kristus semua orang akan masuk neraka. Tetapi puji Tuhan, Yusuf yang dijual ke Mesir itu akhirnya malah dapat menolong keluarganya dari bala kelaparan.

Di dalam Perjanjian Barupun terlihat adanya kejadian-kejadian yang apabila dipandang dari sudut manusia tidak menyenangkan, tetapi Allah membiarkan terjadi agar Dia dapat lebih dipermuliakan. Misalnya kesengajaan Yesus yang menyebabkan Lazarus mati. Dia bisa mencegah hal itu agar tidak terjadi, tetapi apakah iman Maria dan Martha dapat dikuatkan dengan pencegahan itu? Bukankah lebih baik Yesus membiarkan Lazarus mati dan kemudian membangkitkannya? Allah memutuskan apa yang terbaik bagi manusia, meskipun manusia merasa sebaliknya.

Yohanes 11:5-6,14-15,36,40-44

Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. (6) Namun setelah didengarNya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, dimana Ia berada; …. (14) Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; (15) tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” (36) Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasihNya kepadanya!” (37) Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak sehingga orang ini tidak mati?” (40) Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (41) Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepadaMu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. (42) Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (43) Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah keluar!” (44) Orang yang telah meti itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (45) Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepadaNya.

Sama seperti peristiwa di atas, Yesus sebenarnya bisa mencegah terjadinya badai pada saat ia berada di perahu bersama murid-muridNya. Mengapa Ia membiarkan murid-muridNya ketakutan? Jelas agar iman mereka dapat lebih dikuatkan apabila mereka melihat Yesus menghentikan badai. Kita sebagai manusia, seperti juga murid-murid Yesus pada waktu itu, tidak bisa membayangkan apa tujuan Tuhan mengijinkan hal-hal tidak enak terjadi pada diri kita. Tetapi percayalah bahwa penderitaan apapun yang Tuhan ijinkan untuk menimpa kita pasti mempunyai tujuan akhir yang baik dan memuliakan Dia.

Seseorang memberikan komentar demikian: “Seorang penguasa mungkin melarang adanya pengkhianatan; tetapi perintah-perintahnya tidak mengharuskan dia untuk mencegah, dengan maksimal, seadanya pelanggaran yang dilakukan oleh rakyatnya. Adanya pengkhianatan dapat membawa kebaikan bagi kerajaannya, dan apabila ia menghukum pengkhianat negara itu sesuai dengan hukum yang ia tetapkan, maka keadilan hukumnya terlihat”. Hanya karena penguasa itu memilih untuk tidak mencegah kejahatan yang terjadi, dengan alasan demi kebaikan yang dihasilkan, sama sekali tidak berarti bahwa tindakan dan perintahnya bertentangan.

Harus diakui bahwa Allah sebenarnya bisa / berkuasa mencegah terjadinya dosa. Dia sebenarnya bisa menjaga agar dosa tidak terjadi di dunia ini. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah Dia bisa menghilangkan dosa dari suatu sistem moral yang paling sempurna? Tanpa adanya baik dan jahat, adakah yang disebut moral? Tanpa adanya dosa adakah yang disebut suci? Tidak mungkin. Kebebasan kehendak untuk memilih antara baik dan jahat adalah syarat mutlak suatu sistem moral.

Baik malaikat maupun manusia adalah mahluk yang bisa berdosa. Kejatuhan setan dan Adam membuktikan hal itu. Tetapi apa gunanya kemampuan untuk berdosa itu ada di dalam diri suatu mahluk? Jawabnya adalah bahwa tanpa adanya kemungkinan untuk berbuat jahat, mahluk itu tidak akan mempunyai kemungkinan untuk taat. Suatu mahluk yang mampu untuk berbuat baik berarti juga mampu untuk berbuat jahat. Sebuah mesin tidak bisa disebut taat atau tidak taat karena ia tidak mempunyai kehendak untuk memilih. Tanpa adanya kemampuan ganda ini, suatu mahluk tidak ada bedanya dengan sebuah mesin yang tidak mempunyai moral.

Adam diciptakan sebagai mahluk yang bermoral, dan karena itu ia bisa berkehendak untuk memilih dosa. Kita tahu bahwa Allah membiarkan Adam jatuh ke dalam dosa dan kemudian mengubah akibat dosa itu (maut) menjadi sesuatu yang baik (hidup oleh karena penebusan Kristus). Pemberian ijin dan perubahan akibat dosa itu tidak menjadikan dia sebagai Pencipta dosa. Kelihatannya, Allah ingin menunjukkan kepada kita apa yang dapat dihasilkan oleh kehendak bebas kita; kemudian dengan mengatasi dosa itu Ia menunjukkan kepada kita kasih dan keadilanNya. Jadi, dosa bukanlah sesuatu yang diciptakan Allah, melainkan hanya merupakan akibat dari kehendak bebas yang disalahgunakan oleh manusia. Dan karena itulah manusia yang bertanggung jawab atas dosa-dosa yang diperbuatnya.

Ada beberapa ilustrasi yang mungkin memudahkan kita untuk lebih mengerti tentang hal ini. Ilustrasi-ilustrasi ini memang bukanlah ilustrasi yang sempurna, tetapi rasanya cukup untuk membantu kita.

1. Seorang hakim yang adil dan benar, di dalam memberikan keputusan hukuman kepada seorang terdakwa, tahu bahwa keputusannya akan mengakibatkan dendam di dalam diri terdakwa dan kemarahan di hati teman-teman dan keluarga terdakwa. Meskipun demikian, hakim itu toh tetap melakukan hal yang benar.

Seorang ayah yang mengusir anaknya yang durhaka, tahu bahwa dengan pengusiran itu si anak bisa bertambah buruk tingkah lakunya, tetapi toh si ayah bisa dianggap melakukan hal yang benar dengan tujuan mendidik anak itu.

Dengan dibiarkanNya setan terus merajalela, Allah tahu bahwa dosa akan semakin banyak, dan penderitaan dan penganiayaan akan terjadi dimana-mana. Tetapi, karena Allah mempunyai tujuan yang baik, maka Allah melakukan tindakan yang benar. Kesucian Allah tidak ternodai sedikitpun.

2. Bayangkan diri saya mempunyai tetangga yang membuka toko minuman keras, kenyataan yang tidak mengenakkan. Setiap hari minggu, banyak pemabuk-pemabuk yang berkelahi di depan tokonya. Hal ini mengakibatkan penderitaan di dalam keluarga saya.

Sekarang bayangkan saya mempunyai kemampuan untuk dapat melihat ke masa depan dengan kepastian yang mutlak. Saya mempunyai rencana yang baik, yaitu mempertobatkan tetangga saya itu. Saya dapat melihat bahwa dengan menginjili orang itu, ia akan bertobat. Dengan tujuan yang mulia inilah saya memutuskan untuk bertindak.

Tetapi, pada waktu saya melihat lebih jauh ke depan, maka saya tahu bahwa langganan-langganan toko tersebut akan menjadi marah sehingga mereka melakukan banyak dosa. Misalnya, untuk melampiaskan dendam mereka kepada saya dan tetangga saya, mereka akan menghina kekristenan dan menghujat Allah, mereka bahkan membakar rumah tetangga saya itu dan mencoba membakar rumah saya.

Sejauh ini, kita melihat bahwa meskipun dosa dan kejahatan masuk ke dalam rencana saya, dosa-dosa tersebut tidak bisa ditanggungkan kepada saya. Memang saya adalah pembuat rencana itu, dan apabila rencana saya itu saya laksanakan maka dosa-dosa itu pasti akan terjadi. Tetapi, karena saya melihat bahwa jika tetangga saya itu akhirnya bertobat, ia akan menjadi berkat di lingkungan kami, maka saya memutuskan untuk tetap melaksanakan rencana itu.

Jadi, apakah saya ikut melakukan dosa-dosa itu? Jelas tidak. Apakah saya memaksa langganan-langganan itu untuk membakar rumah? Tidak. Lalu siapakah yang bertanggung jawab atas semua dosa-dosa itu? Jelas para pelakunya sendiri.

Dari ilustrasi-ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa meskipun Allah yang membuat rencana, dan di dalam pelaksanaan rencana itu dosa-dosa bermunculan, Ia bukanlah pencipta dosa, Ia juga tidak bertanggung jawab atas setiap tindakan dosa yang dilakukan.

Mungkin ada yang bertanya, bukankah sifat dosa itu juga dari Tuhan? Memang tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar Tuhan, tetapi Tuhan kita yang maha suci bukanlah pencipta dosa. Pada saat Adam diciptakan, Allah tidak menciptakannya dengan kemungkinan untuk jatuh, ataupun memberikan suatu kelemahan di dalam diri Adam yang dapat menyebabkan ia jatuh. Yang Allah berikan adalah kehendak yang bebas, kehendak yang bisa berubah, dan kehendak bebasnya itulah yang menjatuhkan Adam. Allah memang sudah tahu bahwa Adam pasti jatuh, Allah memang sudah menentukan Adam untuk jatuh, tetapi bukan Allah yang menjatuhkan Adam melainkan kehendak Adam sendiri. Di dalam hal kejatuhan ini Allah hanya mengijinkan Iblis untuk menggoda Adam (Iblispun punya kehendak bebas) karena hal itu memang sesuai dengan rencanaNya. Jadi, kita tidak bisa bilang bahwa Ia yang menjatuhkan Adam.

Sekali lagi, perlu diingat bahwa kesulitan atau keberatan yang kita hadapi ini adalah keberatan yang seharusnya dihadapi oleh semua aliran dan agama yang mempercayai akan adanya Allah, hanya saja, tidak semua aliran akan dapat mengharmoniskan kenyataan ini dengan doktrin-doktrin mereka.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: