Oleh: kristenberea | Agustus 30, 2008

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 4

Fitnah III

John Calvin, demikian juga dengan John Owen pengikut setianya, manekankan tujuan penciptaan adalah untuk kemuliaan Allah terasa agak mengusik karena seolah-olah Allah kurang mulia sebelum menciptakan manusia. ……….. Yang lebih tepat adalah Allah menciptakan makhluk pribadi, dan ingin mendapatkan sikap positif …….yang timbul dari hati tiap-tiap pribadi, bukan yang ditentukan oleh Allah. (NB: dari uraian sebelumya sikap positif yang dimaksud adalah mencintai Allah).

(Pedang Roh No. 55 hal 02 kolom 3 baris 1 – 16)

Tanggapan:

(a) Benarkah tujuan penciptaan Allah untuk kemuliaan Allah semata-mata ajaran Calvin atau Allah sendiri yang menyatakannya? Benarkah kita memuliakan Allah karena Allah kurang mulia?

(b) Apakah manusia dapat mencintai Allah dengan sendirinya?

(c) Apakah ada sesuatu dari manusia yang berada di luar rencana dan ketentuan Allah?

Dan ….. Inilah yang sebenarnya!

(a) Tujuan manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah ternyata bukan ajaran John Calvin semata, tetapi langsung dinyatakan oleh Allah sendiri:

Yesaya 43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

1 Korintus 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Untuk apakah kita melakukan segala sesuatu? Jelas hanya untuk Kemuliaan Allah

Rom 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa tujuan akhir dari penciptaan adalah kemuliaan bagi Allah.

Jadi, kalau Dr. Suhento ingin berbantah, berbantalah pada Allah, bukan pada John Calvin karena Calvin hanya menyatakan apa yang Allah nyatakan Sendiri.

kita memuliakan Allah karena memang Allah itu Mahamulia. Jika kita percaya bahwa Allah itu Mahamulia tetapi tujuan hidup kita tidak memuliakan-Nya, berarti kita manusia / ciptaan yang tidak tahu diri. Kalau presiden, raja, duta besar dari negara-negara lain saja, kita muliakan, masakkan Allah, Raja dari segala raja, Pencipta mereka, tidak kita muliakan?

Memuliakan sesuatu yang kurang mulia adalah tindakan yang bodoh, tetapi memuliakan Allah Yang Mahamulia adalah tindakan bijaksana dan mulia!

Jadi, kita memuliakan Allah bukan karena Allah kurang mulia tetapi justru karena Allah Mahamulia maka wajib dan harus kita muliakan!

Psa 72:19 Dan terpujilah kiranya nama-Nya yang mulia selama-lamanya, dan kiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Amin, ya amin.

(b) Sekarang mari kita bandingkan dengan ajaran Dr. Suhento.

Adakah ayat di Alkitab (baik yang eksplisit maupun emplisit) yang menyatakan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia agar manusia dapat mencintai Allah dengan kehendak bebasnya tanpa penentuan Allah atau campur tangan Allah? PASTI TIDAK ADA

Pernyataan bahwa kita dapat melakukan sesuatu di luar penentuan Allah membuat kita lebih tinggi dari sekedar ciptaan Allah dan menurunkan kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu (termasuk manusia walaupun manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah).

Apa kata Alkitab?

Mazmur 31:23 (31-24) Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!

Ulangan 30:6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.

Jadi jelas bahwa manusia tidak dapat mencitai Tuhan kalau Tuhan tidak terlebih dahulu bertindak (mengasihi ) manusia!

Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

Yeremia 10:23 Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.

Dari dua ayat di atas sudah jelas bahwa Tuhanlah yang menentukan jalan hidup manusia dan sebaliknya manusia dengan kehendak bebasnya tidak dapat menentukan jalan hidupnya senidiri. Tanpa anugerah Tuhan manusia itu bukan apa-apa, untuk itu janganlah kita sombong seolah-olah dengan kehendak bebas kita, kita benar-benar bebas dapat menentukan hidup kita sesuka hati kita.

Kehendak bebas kita tetap berada di bawah kedaulatan Allah yang mutlak, tetapi keberadaanya tetap sejajar sehingga tidak bisa satukan oleh pengertian manusia yang terbatas ini. Artinya, dengan kedaulatan-Nya yang mutlak atas hidup kita, bukan berarti Allah melanggar kehendak bebas yang sudah diberikan kepada kita. Akal kita yang sangat terbatas ini tidak akan mampu memahahi kebenaran Allah yang tidak terbatas tersebut. Tetapi Dr. Suhento mau mencoba memahaminya dan mengompromikan dua kebenaran tersebut dengan cara merendahkan kedaulatan Allah dan meninggikan kehendak bebas manusia.

2 Korintus 3:18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah supaya kita dapat mencermikan kemuliaan Allah (termasuk di dalamnya kasih, keadilan, kekudusan Allah, dsb). Setelah manusia jatuh dalam dosa, cermin itu rusak sehingga bayangan (image) Allah tidak bisa terbentuk dengan baik pada manusia. Dan untuk itulah Kristus datang untuk memperbaiki “cermin” tersebut sehingga manusia dapat memantulkan kembali kemuliaan Allah.

Apakah Allah yang sudah sempurna di dalam kasih (ketiga pribadi Allah Tritunggal saling mengasihi dengan kasih yang sempurna) masih perlu kasih dari manusia ciptaaan-Nya?

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah justru supaya manusia dapat menjadi objek kasih Allah, bukan sebagai subjek kasih!

1 Yohanes 4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Nah, mana yang Alkitabiah, manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah dan menjadi objek kasih Allah, atau manusia diciptakan karena Allah menghendaki kasih / cinta dari manusia berdasarkan kehendak bebas manusia?

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: