Oleh: kristenberea | Agustus 30, 2008

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 3

FITNAH II

(a) Kegagalan utama calvinisme ialah pada pemahaman mereka terhadap manusia yang Allah ciptakan. Mereka gagal memahami Adam sebagai manusia berakal budi dan berperasaan serta berkehendak bebas. (b) Itulah sebabnya John Calvin memaksakan kehendaknya kepada penduduk kota Genewa karena ia berpikir bahwa Allah memaksakan kehendak-Nya kepada semua ciptaan-Nya. ( Pedang Roh 55, hal 02 kolom 2 baris 10 – 18 – huruf (a) dan (b) saya tambahkan untuk memudahkan pembahasannya.

a. Benarkah John Calvin dan Calvinisme mengajarkan bahwa karena Allah sudah menentukan segala sesuatu yang sedang dan akan terjadi maka Adam tidak punya akal budi, tidak punya perasaan, dan tidak punya kehendak bebas sehingga ia bertindak seperti robot? Atau dengan kata lain Allah adalah tukang main paksa?

b. Betulkan John Calvin pernah memaksakan kehendaknya pada kota Genewa?

Bantahan:

a. Sekali lagi pernyataan pada point (a) di atas hanyalah menunjukkan kegagalan Dr. SL di dalam memahami doktrin-doktrin Calvinisme. Berikut ini adalah pandangan John Calvin tentang manusia, akal budi, perasaan, dan kehendak bebasnya. Silahkan menilai sendiri bagian mana yang tidak Alkitbiah dan andingkan dengan pandangan Dr. Suhento yang lebih condong ke pandangan para filsuf kafir ketimbang pada pandangan Alkitab!

Dosa telah masuk dan mendominasi seluruh umat manusia dan menguasai setiap jiwa. Selanjutnya kita akan meliliat apakah dosa telah merusak kebebasan kehendak kita. Bagaimana pandanganan para filsuf dan teolog mengenai hal ini? Para filsuf mengajarkan bahwa kehendak manusia itu bebas dan untuk taat kepada rasio atau kepada godaan nafsu. Jika ia memilih untuk taat kepada rasio ia akan mencapai kebebasan, sebaliknya jika ia tunduk kepada nafsu ia akan terperangkap. Namum pada dasarnya manusia diakui memiliki kebebasan dari dirinya untuk memilih melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Tidak seorang pun penulis Kristen awal yang tidak mengakui bahwa rasio dan kehendak manusia telah dicemari oleh dosa, tetapi banyak yang secara kompromistis mengikuti pandangan para filsuf. Mereka mengajarkan manusia seakan-akan masih memiliki kuasa atas dirinya, dan memiliki kehendak bebas untuk memilih dan melakukan apa yang benar, walaupun kemampuan itu telah demikian lemah, sehingga hanya dapat dilakukan melalui bantuan anugerah Allah.

Apa artinya ketika manusia dikatakan memiliki kehendak bebas? Pengertian yang benar ialah bukan bahwa ia memiliki kebebasan untuk memilih apa yang baik dan jahat, tetapi bahwa dia melalui kejahatan dengan sukarela dan tanpa paksaan. Jika demikian, kebebasan apakah yang ia miliki? Kebebasan kehendak dari seorang budak yang telah ditawan oleh kuasa dosa. Mengenai kehendak bebas ini, Augustinus tidak segan untuk menyebutnya sebagai “kehendak budak”, walaupun ia juga mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap orang yang menyangkal kehendak bebas untuk membebaskan diri mereka dari tanggung jawab perbuatan dosa mereka.

Augustinus menegaskan bahwa kehendak manusia itu tidak bebas karena ia tunduk kepada nafsunya. Kehendak yang telah ditawan oleh dosa ini tidak dapat berbuat apa-apa bagi kebenaran. Kehendak ini tidak bebas kecuali oleh anugerah Allah. Dan jika kita adalah budak dosa, mengapa kita menyombongkan diri dengan berkata memiliki kehendak bebas? Orang bisa saja mengatakan bahwa kehendaknya bebas, tetapi bukan yang dimerdekakan: ia bebas dari kebenaran dan diperbudak oleh dosa.

Selain Augustinus, para penulis lain umumnya menangani pokok masalah ini secara ambigu sehingga tidak ada sesuatu yang dapat dipelajari dari mereka. Kadang mereka mengajarkan kehendak telah demikian dirusak oleh dosa, sehingga manusia sepenuhnya bergantung kepada anugerah Allah, tetapi di lain kesempatan mereka menjelaskan manusia sepertinya memiliki segala kemampuan dari dirinya sendiri untuk melakukan apa yang benar. Dengan menyadari kengerian keadaan kita yang celaka, miskin dan telanjang ini, kita akan mendapatkan manfaat dari pengetahuan akan diri ini, karena mencegah kita untuk mengandalkan diri sendiri, sebaliknya hanya mengandalkan Tuhan semata-mata (Yer. 17:5 dan Mz. 147:10). Karena prinsip dasar agama ialah kerendahan hati, maka semakin sadar akan kelemahan kita, semakin kita mengandalkan anugerah Allah bagi kita. Doktrin ini mengingatkan kita untuk tidak bersandar kepada kebenaran kita sendiri, tetapi kepada kebenaran Allah, dan bahwa kita yang tidak apa-apanya ini hanya dapat bersandar kepada anugerah Allah untuk dapat melakukan apa yang benar dan berkenan kepada-Nya.

Karunia alamiah manusia, seperti rasio dan kehendak, walaupun mengalami kerusakan yang parah namun tidak hilang bersama kejatuhan. Karunia alamiah seperti rasio, itulah yang memampukan kita untuk membedakan yang benar dan salah, dan yang menjadikan kita makhluk rasional yang mengatasi binatang. Demikian juga kehendak kita tetap tidak terhapuskan oleh dosa. walaupun akibat kerusakannya yang parah ia kini

telah demikian terikat oleh keinginan-keinginan liar dan bukannya mencari apa yang benar.

Pengertian manusia dapat dibagi menjadi pengetahuan mengenai hal-hal bumi (berkenaan dengan kehidupan di bumi, seperti pemerintahan sipil, ekonomi domestik, semua keahlian teknis dan berbagai bidang ilmu dan hal-hal surgawi (pengetahuan akan Allah dan kehendak-Nya dan peraturan-Nya bagi kita supaya kita hidup sesuai dengan ini). Kemampuan untuk mendapatkan semua pengertian ini merupakan apa yang telah ditanamkan oleh Allah dalam diri kita. Walaupun kita tidak mampu mempelajari semua ilmu dan keahlian, tetapi kepada setiap orang Allah memberi keunggulan dalam bidang tertentu.

Semua kemampuan luar biasa yang ditunjukkan oleh para penulis dan filsuf kafir baik mengenai politik, hukum, matematika dan pengobatan, merupakan pencapaian yang sangat mengagumkan, namun semua itu harus kita akui berasal dari Allah, yang oleh Roh-Nya memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki, seperti ketika Ia memberikan kepada Bezaleel dan Aholiab kemampuan untuk membangun Kemah Suci (Kel. 31:2-11; 35:30-35). Karena itu, adalah hal yang berkenan Allah jika kita mempelajari fisika, logika, matematika dan berbagai bidang ilmu dan kaiya seni yang dikerjakan oleh orang-orang kafir dan menggunakan dalam cara memuliakan Allah. Semua karunia luar biasa yang menjadikan kita mengungguli binatang ini harus kita akui sebagai pernyataan kebaikan Allah dan mendorong kita untuk bersyukur kepada-Nya dan bukannya justru menyombongkan diri.

Karunia rohani untuk mengetahui yang benar dan salah telah hilang dan baru akan dipulhkani melalui kelahiran baru. Mengenai hikmat rohani yang terdiri dari pengetahuan akan Allah, kasih-Nya kepada kita dan hukum Allah, kita hanya memiliki pengertian yang sangat dangkal. Sebagian penjelasan para filsuf mengenai Allah sepertinya memberikan pengetahuan mengenai Allah, tetapi semua itu hanyalah imajinasi manusia yang membingungkan. Rasio manusia tidak bisa mencapai kebenaran ilahi untuk mengenai Allah sejati itu. Berkenaan dengan hal-hal ilahi, pengertian kita gelap, buta dan bodoh. Sehingga untuk mengenai Allah dengan benar kita membutuhkan anugrah khusus Allah yang dikerjakan oleh Roh Kudus, seperti dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, “tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya. kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga” (Yoh. 3:27), atau seperti kata Musa, “matamu telah melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang besar itu, tetapi sampai sekarang Tuhan tidak memberi kamu akal budi (hati) untuk mengerti” (Ul. 29:3-4). Tanpa iluminasi Roh Kudus, orang-orang ini tidak akan dapat mengerti kebenaran ilahi. Kristus juga mengkonfirmasikan hal ini ketika la menegaskan, bahwa tidak seorang pun yang dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia (Yoh. 6:44). Tidak ada jalan masuk ke dalam kerajaan kecuali ia diperbarui oleh Roh Kudus. Rasul Paulus mengungkapkan hal ini dengan jelas dalam l Korintus 2:14.

Dosa tidak sama dengan ketidaktahuan tetapi dapat disebabkan oleh delusi. Ketika Paulus menegaskan bahwa “dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka” (Rm. 2:14-15), ia mengatakan bahwa orang kafir telah mengetahui kebenaran hukum moral yang terukir dalam hati mereka, dan tidak sama sekali buta mengenai bagaimana mereka seharusnya hidup. Tetapi apa tujuan pengetahuan ini diberikan kepada manusia? “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan dihakimi oleh hukiun Taurat (Rm. 2:12). Karena tidak mungkin bagi orang kafir itu binasa tanpa pengetahuan akan benar dan salah, maka Paulus menunjukkan bahwa hati nurani mereka menyediakan tempat bagi hukum Taurat, karena itu cukup bagi penghakiman yang adil dan manusia tidak dapat berdalih. Dengan kata lain, hati nurani dapat menentukan apa yang benar dan yang salah sehingga manusia tidak dapat berdalih ketika kesalahannya dihakimi. Jadikita menolak pendapat Plato bahwa manusia berdosa karena ketidaktahuan. Betapa sering, orang sebenarnya sudah tahu apa yang lebih baik dan benar tetapi justru memilih melakukan yang salah dan buruk.

Kita tidak dapat menganggap setiap pertimbangan universal mengenai apa yang baik dan salah yang umumya diterirna orang banyak selalu benar dan sempurna. Jika kita memeriksa rasio kita dengan hukum Allah, yang merupakan hukum yang paling sempurna, maka kita akan menemukan banyak hal yang kita hargai adalah hal yang salah. Kita juga menolak pandangan mereka yang mengatakan bahwa semua dosa muncul dari kejahatan yang direncanakan. sebab ternyata kita sering melakukan kesalahan walaupun maksud kita itu baik. Rasio kita dipenuhi dengan penipuan dalam berbagai macam bentuk sehingga tidak mungkin dapat dijadikan sebagai penuntun yang pasti (2Kor. 3:5). Pikiran manusia telali jatuh dalam kesia-siaan (Mz 94:11; Kej. 6:5; 8:21). Dalam kebidupan betapa jelas pikiran kita selalu tertuju kepada hal-hal yang sia-sia. Bahkan setelah dilahirkan kembali kita masih perlu senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah, agar tidak tergelincir dari pengetahuan yang benar. Ini merupakan kesaksian dari Paulus (Kol. 1:9; Flp. 1:4) maupun Daud (Mz. 119:34).

Ketidakmampuan manusia dalam mengingini yang baik: Sekarang kita kembali memeriksa kehendak yang membuat pemilihan. Apakah kehendak kita dalam setiap bagiannya telah demikian dirusak sehingga tidak lagi menghasilkan sesuatu yang baik kecuali kejahatan, atau ia masih mempertahankan sedikit bagian yang tidak tercemar yang dapat menjadi sumber keinginan baik. Mendasarkan pada Rm. 7:18-19, sebagian orang mengatakan bahwa kita dapat memiliki kemampuan untuk menginginkan yang baik, hanya terlalu lemah sehingga tidak dilakukannya. Tetapi ini merupakan penafsiran yang keliru, karena apa yang dimaksudkan Paulus dalam ayat itu ialah penjelasan mengenai konflik keinginan daging dan keinginan roh yang terus terjadi dalam batin orang Kristen. Ini sesuai dengan penegasan Kej. 8:21. bahwa apa yang dihasilkan hati manusia hanyalah kejahatan semata. Augustinus mengatakan: Akuilah bahwa segala sesuatu yang kita miliki itu kita dapatkan dari Allah: bahwa segala kebaikan yang kita miliki adalah dari Dia. namun apa pun yang jahat berasal dari kita.” Dalam kata lain, ia mengatakan: “Tidak ada sesuatu yang berasal dari kita, kecuali dosa.”

Sumber :

Ready Bread Reformed Evangelical Daily Bible Reading, Artikel Mingguan Minggu ke 28,29, 30.

Dikutip dari : http://www.geocities.com/thisisreformed/artikrl/institute_kehendakmanusia.html

Kesimpulan :

Baik Calvin maupun Calvinisme mengajarkan bahwa meskipun Allah telah menentukan segala sesuatu, manusia tetap mempunyai kebebasan didalam menggunakan akal budi, perasaan, dan kehendaknya. Akan tetapi semuanya itu berada di bawah kedaulatan dan otoritas Allah. Setelah jatuh manusia jatuh dalam dosa, maka kehendak bebasnya tertawan oleh kuasa dosa sehingga tidak mampu berbuat baik menurut standar Allah.

Jikalau ada bagian dari diri manusia (yang adalah hanya ciptaan Allah) terdapat sesuatu yang berada di luar kedaulatan dan otoritas Allah atau dengan kata lain kehendak bebas manusia berada di luar kontrol Allah maka Allah bukan lagi sebagai Allah, karena Dia tidak berdaulat dan berotoritas mutlak! Dan manusia akan menjadi semi allah atau allah-allah kecil yang dapat menentukan apapun yang mereka kehendaki tanpa ada yang mengendalikannnya bahkan Allah yang menciptakannya! Ajaran yang demikian jelas bertentangan dengan Alkitab. Sebaliknya, pandangan Dr. Suhento tentang kehendak bebas manusia sangat mirip dengan pandangan para filsuf sebelum dan semasa hidup John Calvin di atas!

(b) Saya tidak tahu sumber sejarah mana yang dibaca oleh Dr. Suhento sehingga mengambil kesimpulan bahwa John Calvin pernah memaksakan kehendaknya pada penduduk di kota Genewa. Yang jelas fitnahan terhadap John Calvin ini semata-mata didasari pada persepsi yang salah dari Dr. Suhento terhadap ajaran Calvin, bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya.

Dan inilah fakta yang sebenarnya tentang John Calvin dan penduduk kota Genewa.

Bulan Juli 1536, Calvin tiba di Geneva.

“He intended to stop only a night, as he says, but Providence had decreed otherwise. It was the decisive hour of his life which turned the quiet scholar into an active reformer” (= Seperti katanya, ia bermaksud untuk berhenti hanya untuk satu malam, tetapi Providence telah menetapkan sebaliknya. Itu merupakan saat yang menentukan dari hidupnya yang mengubah pelajar pendiam itu menjadi tokoh reformasi yang aktif) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 347.

Di Geneva ini Calvin bertemu dengan William Farel. Sebelum melan-jutkan cerita tentang Calvin, ada baiknya kita mempelajari sedikit tentang Farel ini.

William Farel:

o Ia disebut sebagai ‘the pioneer of Protestantism in Western Switzerland’ (= perintis Protestan di Swiss Barat) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 237.

o Ia adalah seorang penginjil keliling, selalu bergerak / bekerja tanpa henti-hentinya, seorang yang penuh dengan api / semangat dan keberanian, tetapi bukan seorang jenius seperti Luther atau Calvin. Dulunya ia adalah seorang Katolik yang sangat rajin dan bergairah, dan lalu menjadi seorang Protestan yang rajin dan bergairah.

o “He was a born fighter; he came, not to bring peace, but the sword. … He never used violence himself, except in language” (= Ia adalah seorang yang lahir sebagai seorang pejuang; ia datang, bukan untuk membawa damai, tetapi pedang. … Ia sendiri tidak pernah menggunakan keke-rasan, kecuali dalam bahasa / kata-kata) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 237.

o Ia sampai di Geneva tahun 1532, dan dalam melakukan penginjilan terhadap orang Katolik, timbul keributan. Ia lalu dipanggil ke rumah Abbe de Beaumont, wakil pemimpin keuskupan. Seseorang lalu berkata / bertanya dengan nada menghina: “Come thou, filthy devil, are thou baptized? Who invited you hither? Who gave you authority to preach?” (= Datanglah, setan kotor, apakah engkau dibaptis? Siapa mengundang engkau ke sini? Siapa memberimu otoritas untuk berkhotbah?).

Farel menjawab:

“I have been baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Ghost, and am not a devil. I go about preaching Christ, who died for our sins and rose for our justification. Whoever believes in him will be saved; unbelievers will be lost. I am sent by God as a messenger of Christ, and am bound to preach him to all who will hear me. I am ready to dispute with you, and to give an account of my faith and ministry. Elijah said to King Ahab, ‘It is thou, and not I, who disturbest Israel’. So I say, it is you and yours, who trouble the world by your traditions, your human inventions, and your dissolute lives” (= Aku dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan aku bukan setan. Aku berkeliling untuk mengkhot-bahkan Kristus, yang mati untuk dosa-dosa kita dan bangkit untuk pembenaran kita. Barangsiapa percaya kepadaNya akan diselamatkan; orang tidak percaya akan terhilang. Aku diutus oleh Allah sebagai utusan Kristus, dan harus mengkhotbahkan Dia kepada semua yang mau men-dengarku. Aku siap untuk berdebat dengan engkau, dan mempertang-gungjawabkan iman dan pelayananku. Elia berkata kepada raja Ahab, ‘Adalah kamu, dan bukan aku, yang mengganggu Israel’. Jadi aku berkata, adalah kamu dan milikmu, yang menyusahkan dunia dengan tradisimu, penemuan-penemuan manusiamu, dan hidupmu yang tidak dikekang).

Para pastor tidak berkeinginan berdebat dengan Farel, karena tahu bahwa mereka akan kalah. Tetapi seorang berkata: “He has blasphemed; we need no further evidence; he deserves to die” (= Ia telah menghujat; kita tidak membutuhkan lebih banyak bukti; ia layak mati).

Farel menjawab: “Speak the words of God, and not of Caiaphas” (= Ucap-kanlah firman / kata-kata Allah, dan bukan kata-kata Kayafas).

Ini menyebabkan ia dipukuli dan bahkan ditembak – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 243-244..

o “Oecolampadius praised his zeal, but besought him to be also moderate and gentle. ‘Your mission,’ he wrote to him, ‘is to evangelize, not a tyrannical legislator. Men want to be led, not driven’” (= Oecolampadius memuji semangatnya, tetapi memintanya untuk juga menjadi lunak dan lembut. ‘Misimu,’ ia menulis kepadanya, ‘adalah untuk menginjili, bukan menjadi pemerintah yang bersifat tirani. Manusia ingin dipimpin, bukan dipaksa / didorong’) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 238.

o “Farel’s work was destructive rather than constructive. He could pull down, but not build up. He was a conqueror, but not an organizer of his conquests; a man of action, not a man of letters; an intrepid preacher, not a theologian. He felt his defects, and handed his work over to the mighty genius of his younger friend Calvin” (= Pekerjaan Farel lebih bersifat merusak dari pada membangun. Ia bisa merobohkan, tetapi tidak bisa membangun. Ia adalah seorang pemenang / penakluk, tetapi bukan seorang yang bisa mengorganisir orang yang ditaklukkannya; orang yang banyak bekerja, bukan yang banyak belajar / berpikir; seorang peng-khotbah yang berani, bukan seorang ahli theologia. Ia merasakan kekurangan-kekurangannya, dan menyerahkan pekerjaannya kepada temannya yang lebih muda, yang sangat jenius, yaitu Calvin) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 239.

Dalam pertemuan Calvin dengan Farel, secara naluri Farel merasakan bahwa Calvin memang disediakan Allah untuk meneruskan dan menyela-matkan reformasi di Geneva.

Mula-mula Calvin menolak permintaan Farel untuk menetap di Geneva, dengan alasan bahwa ia masih muda, ia masih perlu belajar, dan juga rasa takut dan malunya yang alamiah yang menyebabkan ia tidak cocok untuk melayani banyak orang. Tetapi semua alasan ini sia-sia. Philip Schaff mengatakan:

“Farel, ‘who burned of a marvelous zeal to advance the Gospel,’ threatened him with the curse of Almighty God if he preferred his studies to the work of the Lord, and of his own interest to the cause of Christ. Calvin was terrified and shaken by these words of the fearless evangelist, and felt ‘as if God from on high had stretched out his hand’. He submitted, and accepted the call to the ministry, as teacher and pastor of the evangelical Church of Geneva” (= Farel, ‘yang berapi-api dengan semangat yang mengagumkan terhadap kemajuan Injil,’ mengancamnya dengan kutuk dari Allah yang mahakuasa kalau ia mengutamakan pelajarannya lebih dari pekerjaan Tuhan dan kesenang-annya sendiri lebih dari aktivitas / gerakan Kristus. Calvin sangat ketakutan dan gemetar karena kata-kata dari penginjil yang tak kenal takut ini, dan merasa ‘seakan-akan Allah dari atas mengulurkan tanganNya’. Ia tunduk / menyerah, dan menerima panggilan pelayanan, sebagai guru dan pendeta dari gereja injili di Geneva) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 348.

Dr. W. F. Dankbaar menceritakan hal ini sebagai berikut:

“Calvin menampik dan berkata, bahwa bukan itu rencananya. Ia ingin belajar lebih banyak lagi dan ia mau menulis. Untuk pekerjaan praktis, ia merasa diri tidak sanggup. Lebih dulu ia harus memperdalam ilmunya. Yang perlu baginya ialah: ketenangan hidup dan pikiran. Lalu ia meminta: ‘Kasihanilah saya dan biarkanlah saya mengabdikan diri saya kepada Tuhan dengan cara lain’. Tiba-tiba meloncatlah Farel. Dibekuknya bahu Calvin lalu berteriak dengan suara yang gemuruh: ‘Hanya ketenanganmu yang saudara pentingkan? Kalau begitu, saya atas nama Allah yang Mahakuasa menyatakan di sini: kehendakmu untuk belajar adalah alasan yang dibuat-buat. Jika saudara menolak menyerahkan diri saudara untuk bekerja dengan kami – Allah akan mengutuk saudara, sebab saudara mencari diri sendiri, bukan mencari Kristus!’. Calvin gemetar. Ini bukan Farel lagi yang bicara, ini adalah suara Tuhan. ‘Saya merasa disergap, tidak hanya karena permintaan dan nasehat, melainkan karena dalam kata-kata Farel yang sangat mengancam itu seolah-olah Allah dari surga meletakkan tanganNya dengan paksa di atasku’. Terlalu besar kuasa itu rasanya, lalu iapun menyerah” – ‘Calvin, Jalan Hidup dan Karyanya’, hal 41-42.

Dalam pelayanan Calvin di Geneva itu, mula-mula pelayanan Calvin diterima dengan baik. Tetapi melihat kehidupan moral orang Geneva yang jelek, maka Calvin menulis ‘a popular Catechism’, dan Farel, dengan bantuan Calvin, menulis ‘a Confession of Faith and Discipline’. Buku yang kedua ini mencakup pentingnya pendisiplinan dan pengucilan / siasat gerejani. Kedua buku ini diterima oleh sidang gereja Geneva pada bulan November 1536.

Sekalipun mula-mula orang-orang Geneva menerima dan tunduk pada kedua buku itu, tetapi karena disiplin itu mereka anggap terlalu keras, akhirnya mereka menentangnya. Ini menyebabkan Calvin dan Farel diusir dari Geneva pada tahun 1538.

Sepeninggal Calvin dan Farel, Geneva justru menjadi kacau balau, se-hingga akhirnya Geneva memanggil Calvin, yang pada waktu itu menetap di Strassburg, untuk kembali. Pada mulanya, selain Strassburg tidak ingin kehilangan Calvin, Calvin sendiri sama sekali tidak ingin kembali.

“‘There is no place in the world,’ he wrote to Viret, ‘which I fear more; not because I hate it, but because I feel unequal to the difficulties which await me there’. He called it an abyss from which he shrank back much more now than he had done in 1536” (= ‘Tidak ada tempat di dunia,’ ia menulis kepada Viret, ‘yang lebih aku takuti; bukan karena aku membencinya, tetapi karena aku merasa tidak memadai terhadap kesukaran-kesukaran yang menung-guku di sana’. Ia menyebutnya sebagai jurang yang sekarang lebih ia takuti / jauhi dari pada yang ia lakukan pada tahun 1536) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.

Tetapi Philip Schaff juga menambahkan:

“At the same time, he was determined to obey the will of God as soon as it would be made clear to him by unmistakable indications of Providence. ‘When I remember,’ he wrote to Farel, ‘that in this matter I am not my own master, I present my heart as a sacrifice and offer it up to the Lord’” (= Pada saat yang sama, ia memutuskan untuk mentaati kehendak Allah begitu hal itu menjadi jelas baginya oleh petunjuk yang tak bisa salah dari Providence. ‘Pada saat aku ingat,’ ia menulis kepada Farel, ‘bahwa dalam persoalan ini aku bukanlah tuan dari diriku sendiri, aku memberikan hatiku sebagai suatu korban dan mempersembahkannya kepada Tuhan) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.

Farel juga mendesak Calvin untuk mau kembali ke Geneva.

“Farel’s aid was also solicited. With incomparable self-denial he pardoned the ingratitude of the Genevese in not recalling him, and made every exertion to secure the return of his younger friend, whom he had first compelled by moral force to stop at Geneva. He bombarded him with letters. He even travelled from Neuchatel to Strassburg, and spent two days there, pressing him in person and trying to persuade him, …” (= Bantuan Farel juga diminta. Dengan penyang-kalan diri yang tidak ada bandingannya ia mengampuni rasa tak tahu berte-rima kasih dari orang-orang Geneva yang tidak memanggilnya kembali, dan membuat setiap usaha untuk mengembalikan temannya yang lebih muda, yang mula-mula ia paksa untuk berhenti di Geneva. Ia membombardir Calvin dengan surat. Ia bahkan melakukan perjalanan dari Neuchatel ke Strassburg, dan melewatkan dua hari di sana, menekannya secara pribadi dan mencoba untuk membujuknya, …) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 431.

“Farel continued to thunder, and reproached the Strassburgers for keeping Calvin back. He was indignant at Calvin’s delay. ‘Will you wait,’ he wrote him, ‘till the stones call thee?’” (= Farel terus mengguntur, dan mencela orang-orang Strassburg karena menahan Calvin. Ia jengkel karena penundaan Calvin. ‘Apakah kamu kamu menunggu,’ tulisnya kepada Calvin, ‘sampai batu-batu memanggilmu?’) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.

Akhirnya, pada tanggal 13 September 1541, Calvin kembali ke Geneva, dan pada tanggal 16 September 1541, ia menulis surat kepada Farel:

“Thy wish is granted, I am held fast here. May God give his blessing” (= Keinginanmu dikabulkan, sekarang aku terikat di sini. Kiranya Allah memberikan berkatNya) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 437.

Philip Schaff berkata:

“Never was a man more loudly called by government and people, never did a man more reluctantly accept the call, never did a man more faithfully and effectively fulfil the duties of the call than John Calvin when, in obedience to the voive of God, he settled a second time at Geneva to live and to die at this post of duty” (= Tidak pernah ada orang yang dipanggil lebih keras oleh pemerintah dan masyarakat, tidak pernah ada orang yang menerima panggilan dengan begitu segan, tidak pernah ada orang yang memenuhi tugas panggilan dengan lebih setia dan effektif dari pada John Calvin, pada waktu, dalam ketaatan pada suara Allah, ia tinggal / menetap untuk kedua-kalinya di Geneva untuk hidup dan mati di tempat tugasnya ini) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 437.

“Calvin had labored in Geneva twenty-three years after his second arrival, – that is, from September, 1541, till May 27, 1564, – when he was called to his rest in the prime of manhood and usefulness, …” (= Calvin bekerja 23 tahun di Geneva setelah kedatangannya yang kedua, – yaitu mulai September 1541 sampai 27 Mei 1564, – pada waktu ia dipanggil kepada peristirahatannya pada puncak kemanusiaan dan kegunaannya) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 820.

“He continued his labors till the last year, writing, preaching, lecturing, attending the sessions of the Consistory and the Venerable Company of pastors, entertaining and counselling strangers from all parts of the Protestant world, and corresponding in every direction. He did all this notwithstanding his accumulating physical maladies, as headaches, asthma, dyspepsia, fever, gravel, and gout, which wore out his delicate body, but could not break his mighty spirit. When he was unable to walk he had himself transported to church in a chair” (= Ia meneruskan pekerjaannya sampai tahun terakhir, menulis, berkhotbah, mengajar, menghadiri sidang gereja dan kumpulan pendeta terhormat, menghibur dan menasehati orang-orang asing dari seluruh penjuru dunia Protestan, dan surat-menyurat dalam semua arah. Ia melakukan semua ini sekalipun penyakit-penyakit fisiknya bertumpuk-tumpuk, seperti sakit kepala, asma, pencernaan yang terganggu, demam, batu ginjal, dan sakit dan bengkak pada kaki dan tangan, yang melelahkan tubuhnya yang lemah, tetapi tidak bisa menghancurkan rohnya / semangat-nya yang kuat. Pada waktu ia tidak bisa berjalan, ia menyuruh orang mengangkatnya ke gereja di sebuah kursi) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 820.

Calvin mati karena asma pada tanggal 27 Mei 1564, di Geneva, pada usia hampir 56 tahun – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 274.

“Farel, then in his eightieth year, came all the way from Neuchatel to bid him farewell, although Calvin had written to him not to put himself to that trouble. He desired to die in his place. Ten days after Calvin’s death, he wrote to Fabri (June 6, 1564): ‘Oh, why was not I taken away in his place, while he might have been spared for many years of health to the service of the Church of our Lord Jesus Christ!’” [= Farel, yang saat itu berusia 80 tahun, datang dari Neuchatel untuk mengucapkan selamat jalan, sekalipun Calvin telah menulis kepadanya untuk tidak melakukan hal itu. Ia ingin mati menggantikan Calvin. 10 hari setelah kematian Calvin, ia menulis kepada Fabri (6 Juni 1564): ‘O, mengapa bukan aku yang diambil sebagai ganti dia, sementara ia bisa tetap hidup sehat untuk waktu yang lama untuk melayani Gereja Tuhan Yesus Kristus’] – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 822.

Sumber : Pdt. Budi Asali – Calvinisme yang Difitnah

Dari fakta sejarah ini jelaslah bahwa John Calvin tidak pernah memaksakan kehendaknya pada orang-orang Genewa. Memang mereka pernah menolak Calvin, tetapi penolakan ini terjadi bukan karena Calvin memaksakan kehendaknya pada mereka, tetapi karena mereka tidak mau kehidupan moral mereka yang jelek diperbaruhi oleh ajaran Calvin. Bukti bahwa orang-orang Genewa meminta Calvin kembali ke Genewa dan ia melayani di disana selama 23 tahun (sampai meninggalnya) menunjukkan bahwa orang-orang Genewa (yang oleh Dr. Suhento dianggap dipaksa oleh Calvin) sangat menghargai dan menghormati Calvin.

Dengan melihat fakta ini, maka pernyataan bahwa John Calvin memaksakan kehendaknya pada penduduk Genewa adalah suatu fitnah yang sangat keji dan tidak pada tempatnya.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: