Oleh: kristenberea | Februari 10, 2009

Mengkritisi PPA GKJ : Ajaran Keselamatan

AJARAN KESELAMATAN :

Menurut Calvinisme atau Armenianisme?

A. Doktrin Keselamatan menurut Calvinisme dan Armenianisme

Untuk mengetahui apakah PPA GKJ mengacu pada doktrin keselamatan menurut Calvinis atau menurut Armenian maka kita terlebih dahulu harus mengetahui inti dari ajaran keselamatan kedua aliran tersebut.

Dasar-dasar Ajaran Calvinisme

Ada lima dasar yang penting dalam ajaran Calvin pada umumnya dan teori predestinasi pada khususnya, yaitu:

1. Kerusakan total. Dosa manusia mengakibatkan kerusakan total. Manusia tak berdaya untuk berbuat kebajikan, tak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan tak berdaya untuk memilih jalan keselamatan.

2. Pilihan Tuhan yang tanpa syarat. Tuhan mengaruniakan keselamatan-Nya kepada orang-orang yang terpilih tanpa syarat.

3. Penebusan yang terbatas. Khasiat penebusan Kristus memang cukup untuk menyelamatkan seluruh isi dunia, tetapi hanya kaum pilihan Allah yang menerimanya dan hanya merekalah yang diselamatkan.

4. Anugrah yang tak dapat ditolak. Orang-orang yang pada mulanya ditetapkan Allah, mereka pasti akan menerima keselamatan Kristus. Tidak seorang pun yang menolaknya.

5. Pemeliharaan kekal. Kaum pilihan Allah tidak mungkin kehilangan keselamatan. Tuhan memberi jaminan dalam keselamatan: Satu kali diselamatkan, tetap diselamatkan.

Perbedaan Arminisme dan Calvinisme

Jacob Arminius (1560-1609) telah mengutarakan pandangan teologinya yang sangat bertentangan dengan pandangan John Calvin. Beliau berpendapat bahwa:

1. Walaupun manusia jatuh dalam dosa dan sudah rusak secara total, namun manusia masih mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk memilih Allah, dan karena beriman mereka pun dapat diselamatkan.

2. Tuhan mengetahui siapa yang akan menerima keselamatan-Nya dan siapa yang akan menolak. Berdasarkan pengetahuan ini Tuhan memilih orang-orang yang diselamatkan. Dengan demikian pilihan Tuhan itu bersyarat.

3. Penebusan Tuhan bersifat tidak terbatas. Barangsiapa yang menerimanya pasti diselamatkan.

4. Manusia mempunyai kebebasan untuk menerima atau menolak anugerah Tuhan.

5. Orang yang sudah diselamatkan masih ada kemungkinan jatuh ke dalam dosa dan binasa.

Dari hal-hal tersebut di atas, kita mengetahui bahwa Arminius mementingkan kemauan bebas manusia, sedangkan Calvin mengutamakan kedaulatan Allah yang tidak dapat diganggu gugat.

B. Pembahasan PPA GKJ Mengenai Keselamatan

Siapa yang Diselamatkan

Allah menghendaki semua orang diselamatkan. Tetapi untuk diselamatkan orang harus menentukan sikapnya terhadap penyelamatan Allah. Jadi, tidak dengan sendirinya semua orang diselamatkan [Yes.49:6; 42:6; band. Kis.13:47; Yes.60:1-3; Luk.2:30-32; Kis.10:36,44-48; 26:23; 1Tim.2:4-7; Mat.8:28-34].

PPA GKJ Edisi 2005 (uraian) hal 26:

Sikap yang dapat membuat Orang Diselamatkan

Sikap yang dapat membuat orang diselamatkan adalah menerima penyelamatan Allah dan merelakan dirinya diselamatkan oleh Allah. Sikap demikian inilah yang disebut percaya atau beriman [Ef.2:8; Luk.8:12; Yoh. 3:16-17; 20:31].

PPA GKJ Edisi 2005 (Uraian) Hal: 26

Sikap Percaya dan Kebebasan Manusia

Sikap percaya adalah keputusan manusia sendiri di dalam kebebasannya. Tetapi manusia dapat bersikap demikian karena pertolongan Allah [Mrk.1:15; 16:15,16; Kis.10:44-48; 11:15]. Ia menolong dan menerangi hati dan akal budi manusia agar dapat mengerti bahwa Yesus adalah Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia. Meskipun demikian Allah tetap menempatkan manusia di dalam kebebasannya, sehingga manusia dapat menerima tetapi juga dapat menolak [Kis.16:14; 1Kor.12:3b; Yoh.3:34-36; Kis.8:30].

Hal itu bermakna di dalam kebebasan manusia terletak tanggung jawab mengenai keselamatan yang ditawarkan kepadanya sebagai anugerah [Luk.13:22-30; Mat.22:1-14 dan paralelnya; Mrk.16:12, 16]. Dengan demikian keselamatan seseorang bukan nasib atau takdir.

PPA GKJ Edisi 2005 (Uraian) Hal: 27

Perjalanan Menuju Kesempurnaan Keselamatan

Keselamatan sebagai buah pekerjaan penyelamatan Allah sudah diterima dan dialami oleh orang yang percaya pada waktu hidupnya di dunia. Tetapi keselamatan itu masih akan mencapai kesempurnaannya kelak dalam persekutuan dengan Allah di sorga. Oleh karena itu, kehidupan orang percaya di dunia merupakan perjalanan keselamatan, yaitu perjalanan menuju kesempurnaan keselamatan [1Yoh.3:1,2; Tit.2:11-13; 1Ptr.1:3-5; 1:17; 2:11; 2Kor.5:1].

Dalam rangka perjalanan keselamatan tersebut, ada kemungkinan karena suatu penggodaan, orang percaya melepaskan percayanya, sehingga gagal di jalan dan tidak dapat mencapai kesempurnaan keselamatan [1Kor.10:1-13; 1Ptr.5:4; 5:8-10]. Namun hal itu bukan berarti tidak ada kepastian mengenai keselamatan yang dikerjakan oleh Allah. Kepastian keselamatan bagi orang percaya tetap ada, karena ada pengampunan dosa manusia melalui karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus [2Kor.5:21; 1Ptr.1:3-5]. Bahkan ada jaminan yang diberikan oleh Allah, yaitu barangsiapa percaya akan dimeteraikan dengan Roh Kudus [Kis.15:8; Yoh.16:13; Ibr.2:1-4; Ef.1:13,14; 2Kor.5:5; Kis.10:44-48].

PPA GKJ Edisi 2005 (Uraian) Hal: 28

Peran Roh Kudus dalam menolong Orang Percaya di sepanjang Perjalanan Keselamatannya

Kemungkinan gagalnya orang percaya mencapai kesempurnaan keselamatan berasal dari kelemahan manusia sendiri, antara lain karena kecenderungan sikapnya yang bertentangan dengan kehendak Roh Kudus [Mat.13:20,21; (baca ayat 18-23); 1Tim.4:1,2; Ibr.6:4-6; 2Ptr.2:1-19; Gal.4:8,9; 2Tim.2:11-13]. Roh Kudus memang senantiasa menolong orang percaya, tetapi pertolongan Roh Kudus tidak dengan sendirinya membuat iman orang percaya terpelihara. Roh Kudus tetap memperlakukan orang percaya sebagai manusia yang memiliki kebebasan untuk mengikuti atau tidak mengikuti pimpinan Roh Kudus. Dengan demikian, Roh Kudus tetap menempatkan orang percaya dalam keadaan harus bergumul, berusaha dan bertanggung jawab terhadap keselamatan yang telah diterimanya [Ef.4:30; Mat.12:31,32 (dan paralelnya)].

PPA GKJ Edisi 2005 (Uraian) Hal: 29

Intisari dari ajaran keselamatan menurut PPA GKJ adalah sebagai berikut: Karena Allah mengasihi semua manusia maka Allah menghendaki semua orang diselamatkan dari hukuman dosa. Untuk itu Allah aktif “menawarkan” anugerah keselamatan itu kepada semua orang dan hanya orang yang mau menerima “tawaran”anugerah keselamatan itulah yang nantinya akan diselamatkan. Setelah seseorang masuk dalam proses keselamatan, maka keselamatan finalnya tergantung pada orang tersebut, tetap percaya sampai mati atau melepaskan kepercayaan itu tengah jalan. Sekalipun Roh Kudus menolong orang itu, namun kuasa-Nya tidak mampu menghalangi kehendak bebas orang tersebut.
Suatu ajaran yang nampaknya masuk akal dan sangat manusiawi, tetapi kalau dilihat dari sudut Allah dan Firman-Nya merupakan racun yang mematikan. Ajaran keselamatan GKJ ini bukan berbau Arminianisme lagi, tetapi 100% menganut Arminianisme sehinga 100% juga bertentangan dengan Calvinisme.

Selanjutnya kita akan membandingkan dan membahas ajaran keselamatan menurut Calvinis dan menurut PPA GKJ / Armenian. Untuk membungkam ajaran Arminianisme tersebut saya hanya akan menggunakan ajaran Calvinisme yang pokok-pokok saja.

1.Orang diselamatan: Pilihan Tuhan atau Pilihan Orang Tersebut?
Gereja yang mengaku beraliran Calvinis tentunya akan mencantumkan doktrin predestinasi di dalam PPA-nya. Akan tetapi di dalam PPA GKJ doktrin ini tidak ada sama sekali, yang ada justru doktrin kehendak bebasnya Arminianisme. Suatu yang aneh bin ajaib!
Di dalam Alkitab terdapat banyak bagian yang menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena Tuhan memang sudah memilih dan menentukan/menetapkan orang itu akn selamat sejak sebelum dunia ini dijadikan. Jadi, keselamatan seseorang bukan tergantung pada kehendak dan pilihan orang itu tetapi pada kedaulatan, kehendak dan pilihan Tuhan. Inilah doktrin predestinasi. Inilah yang diajarkan oleh Agustinus, Martin Luter, Jhon Calvin, dan tentu saja gereja Calvinis.

Apa kata Alkitab?
Efesus 1:11 ..kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya—
Efesus 1:4 ,5 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Kisah 13:48 ……..; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.
Roma 8:29,30 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yohanes 15:19 Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.
2 Tesalonika 2:13 …., sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.
Markus 13:20 Dan sekiranya Tuhan tidak mempersingkat waktunya, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan yang telah dipilih-Nya, Tuhan mempersingkat waktunya.
1 Tesalonika 5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
Dari beberapa ayat di atas, walaupun tidak perlu ditafsirkan, sudah sangat jelas tersurat bahwa orang bisa percaya / diselamatkan semata-mata karena orang itu sejak semula memang sudah dipilih, ditentukan, dan ditetapkan oleh Allah yang berdaulat mutlak.
Dalam soal pemilihan ini ajaran Arminian mengatakan bahwa pilihan Allah terjadi karena Allah sudah tahu sebelumnya bahwa orang itu akan percaya dan menerima Kristus. Benarkah demikian?
Jika Allah memilih kita karena Dia tahu bahwa kita akan memilih Kristus maka berarti:

1)Allah tidak berdaulat mutlak, karena keputusan-Nya tergantung pada pilihan manusia. Ini tidak bisa diterima, karena Allah itu berdaulat mutlak termasuk di dalam keputusan-keputusan yang akan diambil manusia. Manusia tidak punya otoritas untuk menentukan apa yang akan dipilihnya.
Yeremia 10:23 Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.
Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

2)Keselamatan bukan lagi semata-mata anugerah karena ada syarat yaitu tindakan / usaha manusia untuk mendapatkannya.
Untuk hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya.

2.Hanya Anugerah (Sola Gratia) atau Usaha Manusia?
PPA GKJ menyatakan bahwa keselamatan adalah anugerah yang ditawarkan oleh Allah kepada manusia dan keselamatan itu terwujud jika manusia mau menerimanya. Jadi, agar manusia diselamatkan, maka harus ada syaratnya yaitu menerima keselamatan itu dan menjaganya. Memang secara sekilas nampaknya di dalam ajaran ini tidak ada unsur perbuatan baik / usaha manusia dalam keselamatannya, tetapi kalau diselidiki lebih lanjut, maka jelaslah bahwa ajaran ini tidak sesuai dengan salah satu moto reformasi: Sola Gratia.
Mari kita selidiki:
Kita asumsikan bahwa anugerah keselamatan yang Allah tawarkan berlaku untuk semua orang dengan sama rata (Allah tidak membeda-bedakan jumlah anugerahnya kepada semua orang ), maka pertanyaannya adalah mengapa sebagian orang dapat menerima dan sebagian yang lainnya menolak?
Saya akan memberikan ilustrasi tanya jawab antara PPA GKJ dan Calvinis tentang mengapa A dapat menerima tawaran keselamatan sedangkan B menolaknya.
Calvinis : Mengapa Si A mau menerima tawaran keselamatan sedangkan SI B tidak?
PPA GKJ : Karena Si A sadar akan dosanya dan tahu Yesus sebagai Juru Selamat sedangkan Si B Tidak!
Calvinis : Mengapa Si A bisa sadar akan dosanya sedangkan si B tidak?
PPA GKJ : Karena si A ditolong Allah sedangkan Si B tidak?
Calvinis : Mengapa si A ditolong sedang Si B tidak? kalau Allah tidak menolong Si B berarti Allah tidak adil dong?
PPA GKJ : Mungkin karena si A suka hal-hal yang rohani sedangkan si B tidak!
Calvinis : Mengapa Si A bisa suka hal-hal yang rohani sedangkan si B tidak?

Jikalau tanya jawab ini dikembanggkan terus, maka mau tidak mau pada akhirnya akan menyatakan bahwa si A bisa menerima anugerah itu dan si B tidak karena si A lebih baik atau lebih pandai atau lebih benar atau lebih suci dari si B. Jadi keselamatan menurut PPA GKJ bukanlah anugerah semata tetapi anugerah + perbuatan baik manusia. RC Sproul menyebut hal ini dengan kecongkakan terselubung. Hal ini juga bertentangan dengan Alkitab:

Efesus 2: 8,9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Sekarang mari kita lihat ajaran Calvinis tentang anugerah keselamatan ini. Jhon Calvin menyebut anugerah keselamatan ini sebagai Irresistable Grace atau anugerah yang tidak dapat ditolak. RC Sproul menyebutnya sebagai Effetual Grace atau anugerah yang efektif.

Alkitab mengajarkan bahwa setelah kejatuhan Adam, manusia dalam keadaan mati rohani, seluruh bagian manusia sudah tercemari dosa. Dosa bukan hanya menguasai bagian luar manusia saja, tetapi juga menguasai bagian dalam (nature) manusia. Dalam keadaan yang demikian manusia tidak mampu (dan tidak punya keinginan) untuk mencari Allah yang benar, berbuat baik (menurut standar Allah), memikirkan segala sesuatu tentang kebenaran Allah, dan seterusnya.
Roma 3: 10- 18:
seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.

So, orang berdosa seperti ini tidak akan mampu merespon tawaran Allah, dia tidak bisa memilih yang benar dan yang salah. Walaupun Allah sudah mengulurkan tangannya sampai sangat dekat sekali, orang tersebut tidak akan dapat meraih tangan Allah tersebut? Mengapa? Karena ia adalah mayat rohani. Orang seperti ini tidak butuh pertolongan dari luar, tetapi butuh kehidupan dari dalam dirinya.
Dan itulah yang Allah lakukan untuk orang yang memang sudah Ia pilih sebelumnya, yaitu melahirbarukan orang itu. Pada saat kelahiran kembali, orang itu tidak punya peran apa-apa, itu 100% pekerjaan Allah. Nah, sama seperti bayi yang baru lahir punya insting untuk mengenal orang tuanya dan mencari puting payudara ibunya untuk mendapatkan makanan baginya, demikian juga bayi rohani ini juga diberi oleh Allah “insting” untuk mengenal Allah dan haus akan hal-hal rohani, sehingga ia dapat percaya kepada Allah yang benar. Untuk kehidupan rohani selanjutnya diperlukan kerjasama antara Allah dan orang itu dan Allah berjanji bahwa anugerahNya cukup untuk menjaga kehidupan itu berlangsung sampai kekal.
Jadi, jelas bahwa manusia diselamatkan itu semata-mata anugerah, dimulai oleh Allah dan disempurnakan juga oleh Allah.
Roma 8:29,30 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Perbedaan utama antara Calvinisme dan Armeianisme dalam masalah ini adalah dalam menghubungkan iman dengan kelahiran kembali. Armenian percaya bahwa orang beriman dulu baru dilahirkan kembali. Jadi syarat untuk dilahirkan kembali adalah iman orang itu. Sedangkan Calvinis mempercayai bahwa kelahiran kembali mendahului iman, artinya orang harus dilahirkan kembali terlebih dahulu baru dia dapat beriman kepada Tuhan. Iman itupun sebernarnya juga berasal dari Allah (satu paket dengan kelahiran kembali). Jadi, menurut Armenianis iman adalah pemberian manusia kepada Allah, sedangkan menurut Calvinis iman adalah pemberian Allah kepada manusia.

Efesus 2: 8,9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

3. Kedaulatan Allah Vs Kehendak Bebas Manusia.

Sumber kesalahan dari Armenian (dan juga PPA GKJ) terletak pada pemahaman tentang kehendak bebas manusia yang keliru dan tidak Alkitabiah. Mereka mengira bahwa kehendak manusia itu benar-benar bebas secara mutlak dan Allah tidak punya otoritas atas kehendak tersebut. Manusia bebas berkehendak memilih yang baik atau jahat, memilih Kristus atau menolak Kristus. Benarkah Alkitab mengajarkan demikian?
Mari kita lihat pandangan Bapa Gereja, Reformator dan teolog besar berikut:

Augustinus:
Mengenai kehendak bebas ini, Augustinus tidak segan untuk menyebutnya sebagai “kehendak budak”, walaupun ia juga mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap orang yang menyangkal kehendak bebas untuk membebaskan diri mereka dari tanggung jawab perbuatan dosa mereka. Augustinus menegaskan bahwa kehendak manusia itu tidak bebas karena ia tunduk kepada nafsunya. Kehendak yang telah ditawan oleh dosa ini tidak dapat berbuat apa-apa bagi kebenaran. Kehendak ini tidak bebas kecuali oleh anugerah Allah. Dan jika kita adalah budak dosa, mengapa kita menyombongkan diri dengan berkata memiliki kehendak bebas? Orang bisa saja mengatakan bahwa kehendaknya bebas, tetapi bukan yang dimerdekakan: ia bebas dari kebenaran dan diperbudak oleh dosa.
Augustinus mengatakan bahwa kita tetap memiliki kehendak bebas, tetapi kita telah kehilangan kemerdekaan kita. Kemerdekaan agung yang dijelaskan di Alkitab merupakan kebebasan atau kuasa untuk memilih Kristus sebagai milik kita. Perihal kita dapat memilih Kristus itu terjadi kalau Allah sudah melahirkan kita kembali dan memberikan keinginan itu di dalam hati.

John Calvin:
Apakah kehendak kita dalam setiap bagiannya telah demikian dirusak sehingga tidak lagi menghasilkan sesuatu yang baik kecuali kejahatan, atau ia masih mempertahankan sedikit bagian yang tidak tercemar yang dapat menjadi sumber keinginan baik. Mendasarkan pada Rm. 7:18-19, sebagian orang mengatakan bahwa kita dapat memiliki kemampuan untuk menginginkan yang baik, hanya terlalu lemah sehingga tidak dilakukannya. Tetapi ini merupakan penafsiran yang keliru, karena apa yang dimaksudkan Paulus dalam ayat itu ialah penjelasan mengenai konflik keinginan daging dan keinginan roh yang terus terjadi dalam batin orang Kristen. Ini sesuai dengan penegasan Kej. 8:21. bahwa apa yang dihasilkan hati manusia hanyalah kejahatan semata. Augustinus mengatakan: Akuilah bahwa segala sesuatu yang kita miliki itu kita dapatkan dari Allah: bahwa segala kebaikan yang kita miliki adalah dari Dia, namun apa pun yang jahat berasal dari kita.” Dalam kata lain, ia mengatakan: “Tidak ada sesuatu yang berasal dari kita, kecuali dosa.”
Jonathan Edwards:
Bahwa sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, kita tetap memiliki kebebasan natural, yaitu kuasa untuk bertindak sesuai dengan keinginan-keinginan kita, tetapi kehilangan kebebasan moral. Kebebasan moral mencakup disposisi, kecenderungan, dan keinginan jiwa ke arah kebenaran. Kecenderungan inilah yang hilang pada waktu kejatuhan.

R.C Sproul
Kebebasan manusia tidak pernah dapat membatasi kedaulatan Allah. Allah bebas. Saya bebas. Namun Allah lebih bebas dari saya. Jika kebebasan saya berbenturan dengan kebebasan Allah, maka saya yang kalah. Kebebasan-Nya membatasi kebebasan saya, dan kebebasan saya tidak membatasi kebebasan Allah.

Kesimpulan:
Kehendak manusia tidak bebas mutlak. Kehendak manusia sudah dipengaruhi dan dikuasi (diperbudak) oleh dosa sehingga kehendaknya adalah kehendak untuk bebas berbuat dosa. Dengan demikian iapun hanya dapat memilih yang jahat.
Agar manusia dapat mengingini yang benar dan memilih yang benar maka Allah harus melahirkan kembali orang itu dan menaruh keinginan itu di dalam hatinya. Dan ini hanya berlaku untuk orang-orang yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Allah sejak semula. Jadi keselamatan terjadi karena Allah telah memilih kita terlebih dahulu bukan karena kita memilih Allah terlebih dahulu.
Sekali lagi, tanpa kelahiran baru, kita tidak dapat memilih Allah. Dan dalam proses kelahiran kembali, manusia tidak punya andil apa-apa. Semuanya itu terjadi hanya berdasarkan kedaulatan Allah yang penuh kasih.

Untuk memastikan apakah manusia dapat percaya kepada Yesus karena pilihannya sendiri berdasarkan pada kehendak bebasnya ataukah karena “paksaan” Allah berdasarkan kedaulatan-Nya, marilah kita lihat apa kata Alkitab:

Yoh 6: 44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku
Yoh 6: 65 Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

Kata “tidak ada seorangpun” adalah suatu universal negative, berarti mencakup semua orang tanpa terkecuali. Tidak ada pengecualian, kecuali pengecualian yang ditambahkan oleh Tuhan Yesus.
Kata “dapat” menunjukkan suatu kemampuan bukan pernyataan ijin (boleh atau tidak boleh).
Kata “Jikalau .. tidak” menunjukkan keharusan / syarat mutlak. Suatu keharusan menunjukkan bahwa itu harus terjadi sebelum hal berikutnya dapat terjadi.
Jadi, secara natural manusia tidak mempunyai kemampuan untuk dapat datang kepada (percaya) kepada Tuhan Yesus. Kemampuan itu adalah karunia dari Tuhan (ayat 65). Hal ini sesuai dengan pandangan Augustinus dan Jonathan Edwards.
Jadi jelas, bahwa manusia dengan kemampuannya sendiri tidak dapat datang kepada Tuhan Yesus. Manusia perlu pertolongan dari Allah. Sejauh ini PPA GKJ sudah benar. Tetapi, pertolongan semacam apakah yang dibutuhkan oleh manusia? Sejauh manakah Allah harus bertindak untuk mengatasi natur ketidakmampuan kita untuk datang kepada Kristus? Jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan apakah PPA GKJ Alkitabiah atau tidak!
PPA GKJ mengajarkan bahwa pertolongan Allah hanya sekedar menerangi hati dan akal budi manusia agar manusia mengerti karya keselamatan Allah tanpa menghalangi kebebasan manusia itu untuk memilih keselamatan itu atau menolaknya. (PPA GKJ No. 66)

Benarkah Allah hanya bertindak sebatas itu?
Kata kunci untuk menjawab apakah PPA GKJ No. 66 Alkitabiah atau tidak adalah kata “ditarik” pada ayat Yoh 6: 44 di atas. Kata Yunani yang dipakai disini adalah elko yang berarti : membuat/memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu dengan atoritas yang tidak dapat ditolak. Inti dari kata elko adalah memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi seseorang itu sebenarnya tidak berkehendak melakukan sesuatu, tetapi melakukannya karena dipaksa oleh orang lain yang lebih kuat / berotoritas dari dirinya sendiri.

Dalam Terjemahan Baru kata elko diterjemahkan dengan menghela, menghunus, dan menyeret:
Yohanes 18:10 Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.
Yohanes 21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
Kisah 16:19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.
Yakobus 2:6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?
Kata yang digarisbawahi berasal dari bahasa Yunani yang sama yaitu elko.
Coba gantilah kata elko dengan “menerangi hati”, “membujuk”, atau “menyadarkan” dan seterusnya. Semuanya tidak akan sesuai. Pedang tidak akan keluar dari tempatnya jika hanya “disinari” dan dipegang, demikian juga Paulus dan Silas tidak akan menghadap ke penguasa jika hanya diterangi pikirannya bahwa niat tuan-tuan perempuan itu benar, dst.

Jadi, untuk dapat datang kepada Yesus seseorang harus “dipaksa” Allah dengan kedaulatan-Nya. Kehendak manusia tidak punya andil apa-apa untuk keselamatannya. Sebenarnyalah manusia tidak punya kehendak untuk diselamatkan (ini adalah perkataan Calvin), untuk itulah Allah harus “menarik” atau “menyeret” kita untuk datang kepada Kristus. Dan Allah “memaksa” kita melalui kelahiran kembali.

Yoh 3: 3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Sama seperti bayi yang tidak dapat menolak untuk dilahirkan (kalau menolak ia akan mati) demikian juga seseorang tidak bisa menolak untuk dilahirkan kembali oleh Allah.
Jelaslah bahwa dalam hal ini kedaulatan Allah berada di atas kehendak bebas manusia. Keselamatan manusia tidak terletak pada kehendak bebas manusia tetapi pada kedaulatan Allah.

Dengan demikian, PPA GKJ perlu dikoreksi karena mengajarkan bahwa keselamatan seseorang tergantung pada kehendak bebas manusia.

Ada orang Armenian yang membantah dengan mengatakan : “Kalau begitu Allah adalah penjajah atas kehendak manusia!”
Ingat! Orang yang masuk dalam proses keselamatan adalah orang yang telah dipilih dan dilahirkan kembali. Sebelum dilahirkan kembali ia berada di bawah kuasa dosa. Keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Kondisi seperti ini TIDAK SESUAI dengan keinginan dan kehendak manusia yang sebenarnya. Orang yang memang dipilih oleh Allah pasti tidak suka keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Ia akan bergumul sama seperti Rasul Paulus:
Roma 7: 18-24
Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
Pertanyaannya adalah , apakah orang yang dilepaskan dari kondisi ini dan masuk ke dalam kondisi yang baru dimana keadaannya sesuai dengan kehendak dan keinginannya akan merasa sedih atau senang? Akan merasa dibelenggu atau dibebaskan? Inilah reaksi orang yang telah dilahirkan kembali: Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Jadi orang yang sudah dilahirkan kembali SAMA SEKALI TIDAK MERASA BAHWA KEHENDAKNYA DIJAJAH OLEH ALLAH, SEBALIKNYA, JUSTRU PENUH UCAPAN SYUKUR KARENA TELAH DIBEBASKAN DARI PENJAJAHAN DOSA, karena hatinya beserta dengan kehendak dan keinginanya yang tidak suka dan tidak taat pada perintah Tuhan DIUBAH dengan hati yang baru, hati yang suka dan taat pada perintah Tuhan.

4.Keselamatan dapat hilang?
Orang Armenian dan PPA GKJ menjawab pertanyaan di atas dengan dapat. Keselamatan seseorang dapat hilang. Tetapi orang Calvinis menjawab TIDAK! Sekali selamat orang itu tetap selamat!
Alasan PPA GKJ bahwa keselamat bisa hilang / gagal adalah karena orang percaya adalah manusia dengan segala kelemahannya masih dapat jatuh ke dalam berbagai-bagai godaan dan pencobaan . Roh Kudus hanya sekedar menolong dan keputusan untuk tetap percaya atau tidak tergantung pada kehendak bebas orang percaya itu (PPA GKJ no. 74,75). Benarkah demikian?
Sebelum kita menguji tafsiran para penyusun PPA GKJ, perlu ditekankan terlebih dahulu bahwa adanya kemungkinan orang percaya untuk gagal dalam perjalanan imannya atau orang percaya kehilangan keselamatannya adalah merupakan penghinaan (dan bahkan penghujatan) akan janji Allah dan apa yang Allah telah kerjakan untuk orang percaya / pilihannya, karena:

1)Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah orang yang telah Tuhan pilih dan tetapkan sebelumnya jauh sebelum orang itu lahir dan dapat memilih. Ketetapan Allah ini bersifat kekal dan mutlak, tidak dapat dibatalkan dan diubah oleh apapun termasuk oleh perbuatan orang percaya tersebut.

2)Ketika Allah melahirbarukan seseorang, Allah juga memberi hati dan roh yang baru untuk memungkinkan orang tersebut dapat taat kepada Allah, dan Allah memateraikan orang itu dengan Roh Kudus untuk menjamin keselamatannya mencapai kesempurnaan. Roh Kudus tidak sekedar diam di dalam orang itu, tetapi juga aktif menjaga keselamatan orang itu.
Yehezkiel 11:19,20 Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.
Efesus 1:13,14 Di dalam Dia kamu juga—karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu—di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

3)Allah berjanji untuk memproteksi kita sehingga tidak ada pencobaan, penganiayaan, masalah, maupun penyesatan dapat menjatuhkan dan menyesatkan kita!
Perhatikan baik-baik janji Allah di bawah ini!

1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Jelas, bahwa Allah tidak membiarkan/mengijinkan kita dicobai melebihi kemampuan kita sehingga kita pasti dapat menanggung semuanya.

Roma 8: 38, 39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita
Matius 24:24 Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.
Usaha apapun untuk memisahkan kita dari kasih Allah tidak akan berhasil. Hal ini dimungkinkan karena “Proteksi Allah” atas hidup kita.

4)Hidup yang diberikan kepada orang percaya adalah hidup kekal bukan hidup sementara / temporal, dan hidup kekal itu sudah dimilki oleh seseorang sejak ia mulai percaya. Kalau keselamatan dapat hilang maka hidup yang dimiliki bukan hidup kekal, tetapi itu hidup sementara, dan Tuhan tidak pernah memberikan hidup semacam itu pada orang percaya.

Yohanes 6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
Kepada setiap orang yang percaya dan selamat maka Tuhan memberikan hidup yang kekal. Inilah perjanjian Allah yang bersifat kekal kepada orang yang sudah selamat. Perjanjian bisa disebut kekal kalau:

1.Yang berjanji adalah Allah yang bersifat kekal.

2.Perjanjian itu tidak bersyarat dalam arti perjanjian itu tidak tergantung kepada kesetian manusia sebagai penerima janji. Kalau perjanjian itu tergantung pada manusia maka perjanjian itu tidak akan bersifat kekal karena besar kemungkinan manusia untuk mengingkari janji itu.
Dengan demikian, kalau kita sudah selamat maka kita pasti akan tetap selamat karena itulah janji Allah yang bersifat kekal dan pemenuhannya tidak tergantung kesetiaan kita.

5)Tuhan berjanji bahwa Ia akan turut bekerja dalam diri setiap orang percaya sehingga mereka tetap selamat dan TIDAK AKAN BINASA.
Roma 8: 28- 30: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Kata kebaikan berasal dari bahasa Yunani agathos. LAI menerjemahkan kata ini di dalam Ibrani 10: 1 dengan keselamatan.

Kalau melihat ayat berikutnya (29, 30) maka lebih tepat kalau pada ayat 28 kata ini juga diterjemahkan dengan keselamatan.

Yohanes 10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Nah, untuk Armianis dan penyusun PPA GKJ, apakah janji-janji Tuhan di atas hanya omong kosong, tidak ada artinya dan tidak dapat dipercaya, sehingga Anda justru percaya bahwa keselamatan orang percaya dapat hilang?
Sekali lagi, percaya bahwa keselamatan seseorang dapat hilang adalah penghianaan dan penghujatan pada Allah dan Firman-Nya!

Menguji Tafsiran PPA GKJ tentang orang yang bisa kehilangan keselamatannya.
Sekarang, mari kita UJI penafsiran mereka yang menyatakan bahwa keselamatan seseorang dapat hilang!
Sebelum menguji, perlu ada pemahaman bahwa di dalam Alkitab ada dua macam orang Kristen, yaitu orang Kristen sejati atau yang oleh Rasul Yohanes disebut sebagai orang yang “sungguh-sungguh termasuk pada kita” dan orang Kristen palsu atau orang yang tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita”.
I Yoh. 2:19
Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

Orang Kristen sejati tidak mungkin murtad dan kehilangan keselamatannya, tetapi orang Kristen Palsu (KTP) inilah yang mungkin sekali “murtad”. Saya beri tanda kutip karena sebenarnya orang Kristen palsu ini belum selamat. Orang Kristen sejati pasti telah lahir baru, orang Kristen palsu belum lahir baru, sehingga juga belum selamat”

Untuk membedakan Kristen sejati dengan Kristen palsu memang sangat sulit, sama seperti membedakan antara gandum dan lalang. Mereka sama-sama ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, berkhotbah, sekolah teologia (bahkan jadi doktor) mengusir setan, dan lain-lainnya.
Jadi kalau ada orang Kristen yang murtad, itu hanya membuktikan bahwa dia bukan orang Kristen sejati, dan pada dasarnya belum diselamatkan.

Marilah kita mulai melihat ayat yang dijadikan dasar bahwa orang selamat bisa terhilang!

1). Matius 13: 20,21

Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
Jelas, bahwa tanah yang berbatu-batu TIDAK menggambarkan orang Kristen sejati. Orang Kristen sejati adalah orang yang sudah lahir baru yang telah diberi hati yang taat (Yeh 11:19,20). Perumpaan tersebut mengajarkan bahwa orang Kristen sejati ( diumpamakan tanah yang baik) pasti menghasilkan buah (lihat juga Yak. 1: 22, 2: 17).
Dan orang yang mengaku-ngaku Kristen, walaupun ia rajin ke gereja, jadi pendeta, dsb tetapi kalau tidak berbuah, mereka itu pada dasarnya adalah orang Kristen palsu (Kristen KTP/ Kristen lalang) yang percaya kepada Kristus hanya di pikiran dan bibir saja. Jadi tanah berbatu, tanah di pinggir jalan, dan tanah di semak duri adalah orang-orang Kristen palsu yang rajin datang ke gereja, membaca Alkitab dan mendengar khotbah, tetapi semuanya itu tidak dapat mengubah hidupnya.
Jadi orang yang “murtad” tadi pada dasarnya bukan orang Kristen dan belum lahir baru, sehingga juga belum diselamatkan. Dengan demikian ia juga tidak pernah kehilangan keselamatannya karena memang belum pernah memilikinya.
So, bagian ini tidak bertentangan dengan janji-janji Tuhan di atas!

2).I Tim 4: 1,2
Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

Ada beberapa kata di dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai murtad di dalam Alkitab Bahasa Indonesia, diantaranya:
Scandalize ( Mat 13: 21), Apostasia ( 2 Tes 2: 3 ), Arneomai ( I Tim 5:8), dan Aphistemi ( I Tim 4: 1). Nah, aphistemi ini oleh LAI juga diterjemahkan sebagai mundur seperti di:
Lukas 4:13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.
Kisah 22:29 Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum.
2 Korintus 12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.

Kata-kata mundur pada ketiga ayat di atas berasal dari kata yang sama dengan di I Tim 4: 1 yaitu aphistemi. Jelaslah berdasar ketiga ayat di atas, kata mundur tidak dapat dikatakan sebagai meninggalkan selamanya. Kata mundur di atas berarti meninggalkan sementara, dan akan kembali lagi.
Dengan demikian kata “murtad” di I Tim 4: 1 juga harus diartikan bahwa pada akhir zaman ini ada orang Kristen sejati akan “mundur” dari imannya kepada Kristus, bahkan mungkin bisa ragu-ragu akan keselamatannya. Tetapi semuanya itu hanya sementara. Mereka pasti akan kembali ke imannya karena Tuhan tidak membiarkan orang benar jatuh dan tergeletak:
Amsal 24:16 Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.
Mazmur 37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.
Dan lagi, bukankah Tuhan Yesus sudah membatasi upaya Iblis untuk menyesatkan orang pilihan-Nya sedemikian rupa sehingga orang pilihan tidak akan tersesat?
Matius 24:24 Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.
Jelaslah bahwa pengajar-pengajar sesat tidak mungkin menyesatkan orang pilihannya. Kalau toh nampaknya ada orang Kristen sejati mengikuti ajaran sesat, ia PASTI kembali ke ajaran yang sehat. Tuhan sudah menjaminnya. Dan Ia mau memakai Anda juga untuk memperingatkan orang Kristen akan adanya ajaran sesat seperti Sabelianisme dan Armenianisme ini supaya mereka kembali ke ajaran yang sehat.
Oleh karena itulah, Timotius (dan kita) diberi tugas untuk menentang ajaran-ajaran sesat dan mengingatkan orang Kristen sejati akan adanya banyak ajaran-ajaran sesat yang membahayakan iman Kristen. Saya sendiri sudah 20 tahun jadi orang Kristen, tetapi baru akhir-akhir ini menemukan ajaran yang sehat!.
Jadi, adanya kata murtad pada I Tim 4: 1 tidak menunjukkan adanya orang percaya yang dapat kehilangan keselamatan. Ayat itu hanya menunjukkan bahwa orang percayapun masih bisa mundur dan mengikuti ajaran sesat, tetapi hanya untuk sementara dan mereka pasti kembali ke Tuhan dengan cara dan kuasa Tuhan. (contoh Petrus).

3). Ibrani 6: 4-6

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.
Untuk dapat memahami ayat-ayat ini kita harus memperhatikan konteks Surat Ibrani secara keseluruhan.
Kunci untuk menjelaskan ayat di atas adalah dua ayat berikut :
Ibrani 6:9, Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan.
Ibrani 10:39 :Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup
Dari kedua ayat di atas, yang dimaksud dengan mereka yang murtad jelas bukan orang yang menerima surat (orang Kristen) karena penulis surat justru menyatakan bahwa penerima suratnya adalah orang yang mempunyai keselamatan dan beroleh hidup, bukannya orang yang mengundurkan diri dan murtad!
Lalu siapa yang dimaksud dengan mereka yang murtad?
Mereka sebenarnya TIDAK ADA!
Penulis Ibrani hanya memperingatkan kepada penerima suratnya untuk hati-hati terhadap bidat Yudaisme yang terus mencoba mempengaruhi umat Kristen dengan mengatakan bahwa keselamatan yang sempurna akan tercapai jika orang Kristen menaati hukum Musa (ayat 1,2). Penulis Ibrani mengingatkan bahaya dari orang yang telah diselamatkan oleh anugerah di dalam Kristus dan kembali lagi ke hukum Musa (murtad).
Lalu apa gunanya peringatan “jangan murtad” kepada orang yang jelas-jelas tidak akan murtad?
Adanya peringatan “jangan murtad” belum tentu karena yang diperingatkan tersebut mempunyai kemungkinan untuk murtad. Harus dilihat terlebih dahulu siapa yang diperingatkan dan apa tujuannya peringatan itu!
Ilustrasi:
Kalau peringatan “jangan merokok karena merokok akan bla – bla- bla …” ditujukan pada seorang perokok, memang benar ada kemungkinan orang tadi akan merokok!. Tetapi kalau peringatan tersebut ditujukan pada saya, jelas saya tidak akan mungkin merokok karena saya bukan perokok dan tidak pernah merokok, serta tidak ada niat sedikitpun untuk merokok. Lalu apa gunanya peringatan jangan merokok untuk saya? Jelas ada gunanya, dan bahkan sangat berguna! Karena dengan tahu bahaya dari merokok maka hal itu akan meyakinkan saya bahwa tindakan saya yang tidak merokok adalah sudah benar dan tepat, serta akan menguatkan komitmen saya untuk tidak pernah merokok, bahkan akan mendorong saya untuk mengkampanyekan anti merokok kepada para perokok!
Demikian juga peringatan “Jangan murtad” kalau ditujukan pada orang Kristen palsu, maka ada kemungkinan orang kristen palsu tersebut akan “murtad”! Tetapi kalau ditujukan pada orang Kristen sejati, maka peringatan tersebut justru akan menyakinkan dia bahwa dia telah berada pada jalan yang benar dan akan menguatkan komitmenya untuk tetap berjalan pada jalan tersebut. Bahkan hal iti akan mendorongnya untuk menunjukkan jalan itu pada orang lain yang belum melewati jalan itu karena ia sudah tahu bahayanya kalau ada orang yang berjalan pada jalan yang tidak ia sedang jalani!
Jadi, sekali lagi di dalam Surat Ibrani ini tidak ada petunjuk yang menyatakan bahwa ada orang Kristen yang dapat murtad / kehilangan keselamatan, tetapi sebaliknya pada Ibrani 6: 9, dan Ibrani 10:39 jelas secara tersurat / eksplisit dinyatakan bahwa penerima surat ini adalah orang yang memiliki keselamatan dan tidak akan binasa, dan beroleh hidup. Kalau ada penafisran yang mengatakan bahwa ada orang kristen (sejati) dapat murtad maka hal itu akan bertentangan dengan apa yang tersurat dalam kedua ayat di atas, sehingga penafsiran itu harus DITOLAK!
4). 2 Petrus 2: 1-19
Konteks dalam bagian ini adalah tentang nabi-nabi palsu. Nabi-nabi palsu ini sama seperti yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus pada Matius 7: 15-23. Mereka ini adalah serigala yang berbulu domba. Mereka biasa berkhotbah, mengusir setan dan mengadakan mujizat-mujizat. Apakah mereka orang Kristen? JELAS BUKAN!
Ketika mereka menghadap Tuhan Yesus, Tuhan berkata :” Aku tidak pernah mengenal engkau”. Kalau mereka pernah menjadi orang Kristen pasti Tuhan juga pernah mengenal mereka. Bukankah Tuhan mengenal setiap umatNya (Yohanes 10:14). Karena mereka tidak pernah dikenal Tuhan, maka mereka juga tidak pernah menjadi umat-Nya.
Kembali ke surat Rasul Petrus. Walaupun banyak nabi palsu dengan pengajaran-nya yang sesat ternyata tidak akan mampu menyesatkan orang Kristen, Petrus berkata: “ bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya….” (ayat 9,10).
Jadi, kalau sampai ada orang kristen yang tersesat dan ikut-ikutan nabi palsu, jelas bahwa ia bukan orang Kristen sejati (saleh) tetapi orang kristen palsu (orang-orang jahat)
Sekali lagi, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa orang pilihan dapat kehilangan keselamatannya.
5). Galatia 4: 8,9
Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?
Konteks surat Galatia ini hampir sama dengan Surat Ibrani di atas yaitu adanya bidat Yudaisme yang mempengaruhi orang Kristen untuk kembali menaati Hukum Taurat. Kunci untuk memahami ayat di atas ada pada ayat 21 Katakanlah kepadaku, hai kamu yang mau hidup di bawah hukum Taurat, tidakkah kamu mendengarkan hukum Taurat?”
Ayat di atas jelas tidak menyatakan bahwa ada orang percaya yang murtad melainkan berisi teguran dan peringatan Rasul Paulus terhadap orang-orang Galatia yang mau kembali kepada kuk hukum Taurat, padahal mereka telah dimerdekakan oleh Kristus dari perhambaan hukum Taurat (Gal 5: 1).
Jadi, jelaslah bahwa di bagian inipun tidak ada yang tersurat maupun tersirat bahwa orang Kristen dapat kehilangan keselamatannya. Yang ada adalah keprihatinan Rasul Paulus karena ada orang Kristen yang mau menambahkan Hukum Taurat pada imannya untuk mendapatkan keselamatan, padahal mereka sebenarnya sudah merdeka dan diselamatkan.
Dengan sedih dan menyesal saya harus mengatakan bahwa PPA GKJ dan Armenian juga sama dengan bidat Yudaisme yang menambahkan “kuk” pada orang percaya. “Kuk” PPA GKJ dan Armenianisme adalah “kemungkinan lepasnya keselamatan” orang percaya oleh karena penggunaan kehendak bebasnya.
6). I Korintus 9: 27
Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
Ayat ini tidak ada di PPA GKJ. Tetapi karena ada seorang pendeta GKJ yang terkenal menggunakan ayat ini untuk membuktikan bahwa keselamatan orang kristen bisa hilang, maka saya akan membahasnya.
Konteks ayat ini tidak sedang membicarakan tentang keselamatan orang percaya, tetapi tentang bagaimana Paulus memberitakan Injil. Ayat ini paling cocok ditujukan kepada para pemberita Injil dan pendeta. Maksud Paulus adalah bahwa dalam memberitakan Injil Paulus menjaga sikap dan tindakannya sedemikian rupa supaya orang yang diinjili bukan hanya menerima Injilnya, tetapi juga menerima dia. Rasul Paulus tidak mau sikap dan tindakannya menjadi batu sandungan bagi orang yang mendengar berita baik yang ia sampaikan.
Yang menarik adalah bahwa di PB hanya ada 5 kata “ditolak” yang berasal dari dua kata bahasa Yunani yang berbeda. Keempat kata ditolak masing-masing di Markus 8:31, Lukas 9:22, Lukas 17:25, dan Ibrani 12:17 menggunakan bahasa Yunani “apodokimazo” sedangkan satunya lagi di I Kor 9: 27 ini menggunakan kata Yunani adokimos. Kata adokimos ini di dalam PB lebih banyak diterjemahkan sebagai “tidak tahan uji” dan itu adalah arti utamanya.
Jadi jelaslah bahwa seorang pekabar Injil / pendeta harus menyelaraskan berita yang dibawanya dengan sikap dan tindakkannya. Orang yang tidak percaya dan jemaat akan “menguji” seorang pekabar Injil dan pendeta dengan membandingkan antara berita/khotbah yang disampaikan denan sikap dan tindakannya.
Walaupun kata “ditolak” di atas diartikan sebagai “murtad” maka ayat di atas juga tidak menunjukkan bahwa Paulus akan murtad. Paulus berusaha untuk tidak murtad dan saya yakin usahanya akan berhasil karena Tuhan sudah berjanji untuk memelihara kita sedemikian rupa sehingga kita tidak akan binasa (Yoh 10:28).
Sekali lagi, bagian ini juga tidak menunjukkan adanya orang Kristen yang murtad.
7. Alasan lainnya:
Pada suatu sidang peremtoir (ujian calon pendeta) ada seorang peserta bertanya kepada calon pendeta apakah keselamatan yang diterima oleh orang percaya adalah keselamatan yang sudah pasti dan sempurna. Dan sesuai dengan PPA GKJ yang sudah dipelajarinya, si calon pendeta menjawab bahwa keselamatan itu belum pasti dan sempurna karena kalau sudah pasti dan sempurna maka orang Kristen bisa hidup seenaknya. Jawaban si calon pendeta ini dibenarkan oleh tim penguji maupun semua yang hadir dalam sidang klasis tersebut!
Benarkah jawaban dari si calon pendeta tadi?
Sama seperti si calon pendeta, PPA GKJ juga mempercayai bahwa natur orang yang sudah jadi Kristen (yang sudah dilahirkan kembali) masih sama dengan natur orang yang belum Kristen (belum lahir baru) yang hatinya masih dikuasi oleh dosa. Pendapat ini jelas tidak Alkitabiah!!
Orang yang sudah jadi Kristen sejati ia pasti sudah dilahirkan kembali, sudah diciptakan baru. Allah sudah mengganti hati yang keras menjadi hati yang taat (Yeh 11: 19,20). Sekarang ia mempunyai kesukaan yang baru yaitu merenungkan firman Tuhan dan menaatinya. Kecenderungannya berubah 1800 dengan sebelum ia lahir baru. Kalau dia hidup dengan semau gue maka Allah PASTI akan menegor dan menghajarnya sedemikian rupa sehingg ia dapat taat kepada Tuhan (Ibrani 12: 6, Wahyu 3: 19)
Mendengar jawaban dari si calon pendeta tadi dan juga yang dibenarkan oleh para pendeta dan jemaat yang hadir pada saat itu, timbul pertanyaan di hati saya, apakah mereka sudah dilahirkan kembali atau belum? Sebab kalau mereka sudah dilahirkan kembali pasti akan merasakan perubahan hidup, dan tahu bahwa orang yang sudah lahir baru pasti tidak punya keinginan untuk hidup seenaknya dan hidup menurut kehendaknya sendiri. Ia pasti rindu untuk menyenangkan hati Tuhan dengan menaati-Nya.
Satu hal lagi, Augustinus, John Calvin, Spurgeon, R.A Torrey dan tokoh-tokoh Kristen besar lainya adalah orang-orang mempercayai doktrin ini dan mengajarkannya. Apakah mereka hidup dengan seenaknya?

A.Menguji Tafsiran PPA GKJ
Sebagian dari ayat-ayat yang dijadikan pendukung bagi PPA GKJ telah dibahas di bagian sebelumnya, yaitu tentang keselamatan yang dapat hilang. Selanjutnya akan dibahas bagian-bagian lainnya:

1)

Apakah Allah “menghendaki” semua orang diselamatkan?
I Timotius 2: 3,4,5
Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia:
Kata menghendaki pada ayat di atas diterjemahkan dari bahasa Yunani thelo. Oleh LAI kata ini juga diterjemahkan sebagai kerinduan, kemauan, kehendak, keputusan, harapan, berkenan, berniat, suka dan sebagainya.
Dalam Alkitab kata kehendak dapat dijelaskan sebagai berikut:

a)“kedaulatan kehedak Allah” atau keputusan Allah yang pasti terjadi.
Dalam arti ini apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Ketika Allah menghendaki bumi tercipta, maka bumi pasti tercipta, kalau Allah menghendaki Sara punya anak, Sara pasti punya anak, dst.
Nah, kalau arti ini kita terapkan pada ayat di atas, maka semua orang pasti selamat, dan neraka akan kosong. Tafsiran seperti ini jelas DITOLAK karena akan mengajarkan universalisme.

b)Kehendak Allah sama dengan perintah Allah yang ada sangsi jika tidak menaatinya. Siapa yang tidak melakukan kehendak Tuhan ia akan mendapat hukuman.
Kalau pengertian ini kita gunakan pada ayat di atas, maka orang yang tidak melakukan kehendak Tuhan yaitu mereka yang tidak selamat akan dihukum Tuhan. Hukuman Tuhan akan semakin membinasakan orang yang memang sudah binasa. Pengertian seperti ini juga ditolak.

c)Kehendak Allah dalam arti Allah lebih suka atau berkenan.
Kalau pengertian ini diterapkan pada ayat di atas, maka ayat di atas dapat ditafsirkan bahwa Allah lebih suka atau berkenan jika semua orang selamat. Sebaliknya Ia tidak berkenan / tidak suka jika ada yang binasa. Dan inilah tafsiran yang tepat.
Namun demikian, walaupun Allah lebih suka semua orang menerima keselamatan, bukan berarti bahwa semua orang punya “hak” untuk diselamatkan. Hanya orang yang sudah Allah pilih dan tentukan sejak semula yang akan percaya kepada Tuhan Yesus dan diselamatkan
Kis.13:47, 48
47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.” 48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.
(ayat 48 saya tambahkan)
Kesimpulan :
Bahwa Allah mengendaki semua orang diselamatkan TIDAK berarti bahwa semua orang punya hak yang sama untuk diselamatkan. Tetapi harus diartikan bahwa Tuhan berkenan atau lebih suka jika semua orang diselamatkan. Karena pada kenyataannya hanya sebagian orang yang telah Tuhan pilih dan tentukan sejak semula yang dapat percaya dan diselamatkan.
Mungkin ada yang membantah: “Kalau begitu Allah tidak adil!”
Jawaban saya :
Ketika orang pertama kali mendengar Doktrin Predestinasi dimana Allah menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya, pada umumnya langsung menentangnya dengan ungkapan:

  • Kalau begitu mengapa manusia harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya padahal itu telah ditetapkan oleh Allah? Toh tidak ada manusia yang bisa melawan ketetapan Allah?

  • -Kalau begitu Allah tidak adil dong!

Tahukah Anda, bahwa reaksi seperti ini sama persis dengan reaksi orang-orang yang mendengar ajaran predentinasi dari Rasul Paulus? Untuk menanggapi kedua pernyataan di atas, maka sayapun akan menggunakan tanggapan dari Rasul Paulus:
Apakah Allah tidak adil? Mustahil!
Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan– justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan. (Roma 9: 14, 20-23)
Jadi, jangan menilai keadilan Allah dengan standar keadilan manusia. Kalau Keadilan Allah kita nilai berdasarkan keadilan manusia maka seolah-olah “Allah memang tidak adil” karena memang banyak “ketidakadilan” yang kita lihat dimuka bumi ini. Mengapa sebagian anak dilahirkan dari keluarga miskin, sedangkan yang lainnya dari keluarga kaya? Mengapa sebagian dilahirkan di daerah gersang, tandus dan sangat kesulitan air, sedangkan sebagian yang lainnya dilahirkan di daerah subur dengan air melimpah?
Ingatlah sekali lagi bahwa manusia itu tetap sebagai ciptaan. Sekalipun kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah, tetap saja status kita adalah ciptaan. Nilailah Allah sesuai dengan stadar Pecipta bukan dengan standar ciptaan.
Jadi, adanya tuduhan bahwa doktrin predestinasi membuat Allah tidak adil justru membuktikan bahwa doktrin ini adalah Alkitabiah karena Rasul Paulus juga mendapatkan reaksi yang sama!

2. Percaya dengan kemampuannya sendiri?

PPA GKJ mengajarkan bahwa orang bisa percaya atau beriman bersumber dari sikap orang itu terhadap tawaran keselamatan. Sikap yang membuat orang percaya adalah menyadari ….. dst. Yang intinya adalah tindakan manusia dengan pertolongan Allah sekedarnya.
Benarkah demikian?
Ayat – ayat yang dijadikan dasar seperti Luk 8: 12, Yoh 3: 16, 20: 31 TIDAK menunjukkan secara eksplisit bahwa orang bisa percaya / beriman karena sikap orang tersebut terhadap Injil. Di sana hanya dinyatakan bahwa orang yang percaya akan mendapat hidup kekal. Bagaimana orang dapat percaya tidak dijelaskan.
Efesus 2: 8,9 (ayat 9 saya tambahkan)
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa manusia tidak perlu berusaha dan bekerja apapun untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan itu 100% anugerah Allah. Karena syarat keselamatan adalah percaya / beriman kepada Kristus, maka Allah memberikan benih iman itu kepada kita. Jadi, kalau Allah tidak memberi benih itu, kita pasti tidak dapat percaya. Kalau Allah memberikan benih itu, maka kita pasti bisa percaya. Jadi orang selamat atau tidak, 100% tergantung pada penentuan Allah, bukan manusia.

3)

Apakah seseorang bisa percaya kepada Yesus dan menolak-Nya karena kehendak bebas orang itu sendiri?
PPA GKJ mengajarkan bahwa orang bisa menerima atau menolak tawaran keselamatan Allah sesuai / berdasarkan kehendak bebas yang ia miliki.
Benarkah demikian?
Ayat-ayat yang dijadikan dasar: .1:15; 16:15,16; Kis.10:44-48; 11:1, Kis.16:14; 1Kor.12:3b; Yoh.3:34-36; Kis.8:30 Luk.13:22-30; Mat.22:1-14 dan paralelnya; Mrk.16:12, 16.
Dari semua ayat di atas tidak ada satupun yang menyatakan bahwa seserang bisa percaya atau menolak Kritus karena kehendaknya sendiri.
Semua ayat di atas hanya menyatakan sebagai berikut:

a.Barang siapa yang percaya akan selamat, dan yang tidak percaya tidak akan selamat.

b.Ada beberapa orang (termasuk non Israel) percaya kepada Kristus.
Namun, tidak ada penjelasan sama sekali tentang bagaimana/ mengapa mereka bisa mengambil sikap / keputusan untuk percaya kepada Yesus dan diselamatkan. Jadi sebenarnyalah ayat-ayat di atas TIDAK DAPAT dijadikan dasar untuk mengajarkan bahwa keselamatan seseorang berdasarkan kehendak bebas orang itu sendiri.
Nah, untuk mengetahui bagaimana orang bisa percaya kepada Yesus dan diselamatkan, kita harus memakai ayat berikut:
Kis 13: 48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.
Mengapa orang bisa percaya? Karena Allah telah menentukannya (bukan berdasarkan kehendak orang itu!.)
Yoh 6: 44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku
Ingat! Kata ditarik berasal dari bahasa Yunani elko yang artinya : membuat/memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu dengan atoritas yang tidak dapat ditolak.
Jadi, yang sebenarnya adalah tidak ada seorangpun manusia yang berdosa yang dengan kehendak bebasnya mau datang kepada Yesus. Tetapi Allah dengan kedaulatanNya memilih sebagian orang untuk “dipaksa” dengan otoritas-Nya yang lebih besar dari kehendak bebas orang itu, sehingga orang itu dapat datang kepada Yesus dan diselamatkan.
Kesimpulan:
Keselamatan seseorang TIDAK berdasarkan kehendak bebas orang itu, TETAPI PADA KEHENDAK ALLAH YANG BERDAULAT.
Efesus 1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

B.John Calvin dan PPA GKJ
Jika kita membaca tulisan-tulisan John Calvin dapat diketahui bahwa pandangan-pandangan PPA GKJ dan juga Armenianisme tentang keselamatan yang dipercayainya sebenarnya sudah pernah muncul dalam benak/pemikiran John Calvin. Namun itu semua ditolaknya karena tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Untuk itulah dari tulisan-tulisan Calvin kita dapat menemukan argumentasi-argumentasi untuk “melawan” dan “menggugurkan” ajaran Armenianisme (dan juga PPA GKJ tentang keselamatan ) ini.
Sekali lagi, jika GKJ ingin tetap menganut “aliran” Calvinisme / Reformasi maka mau tidak mau harus mengoreksi ajarannya tentang keselamatan.

About these ads

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: