Oleh: kristenberea | Oktober 10, 2012

Apakah Arminianisme itu?

Arminianisme adalah sebuah ajaran soteriologis (keselamatan) di dalam pemikiran Kristen Protestan  berdasarkan ide-ide teologis dari   teolog Jacobus Arminius (1560-1609) dalam sejarah Reformasi Belanda. Ajaran Jacobus Arminius muncul sebagai akibat dari keyakinannya bahwa ajaran-ajaran Yohanes Calvin sehubungan dengan peran Allah dalam keselamatan, adalah tidak benar. Meskipun dia sebelumnya pernah menjadi pendukung Calvin dan menerima doktrin-doktrin Reformasi Belanda tentang kedaulatan mutlak Allah dalam keselamatan, predestinasi dan foreordination, ia berubah pikiran dan mengajar kepercayaan yang berbeda kepada para siswanya.  Pandangan yang mendasari keyakinannya  adalah gagasan bahwa Allah memilih seseorang berdasarkan kehendak bebas orang tersebut.  Dia percaya bahwa manusia dipengaruhi oleh dosa asal dan tidak dapat memilih Allah dalam kondisi itu, tetapi  Allah memberikan kepada manusia itu suatu anugerah khusus  yang menghilangkan pengaruh dari kejatuhan manusia  dan memungkinkan manusia untuk membuat pilihan mereka berdasarkan kehendak bebasnya.

Teologi Arminian merupakan kelanjutan atau penyempurnaan dari  Pelagianisme, ajaran dari biarawan Katolik  abad ke- 5. Jacobus Arminius  menyangkal bahwa ia adalah pendukung ajaran sesat Pelagian, karena dia tidak mengajar  konsep dosa asal seperti yang dilakukan Pelagius, tapi kenyataan tetap bahwa dua aliran kepercayaan yang sangat mirip dan akhirnya mengarah pada tindakan yang sama oleh orang percaya. Kesalahan doktrinal dalam Arminianisme adalah bahwa tindakan manusia mempunyai  kewenangan yang lebih besar dari kedaulatan Allah dan membuat Allah tunduk kepada tindakan manusia dan bukannya manusia tunduk pada tindakan Allah.  Banyak denominasi  telah mengadopsi teologi Arminian, termasuk John dan Charles Wesley yang mendirikan gereja Metodis, Pentakosta dan kebanyakan gereja karismatik , Sidang Jemaat Allah, Gereja Nazarene, Mennonite,  Advent Hari Ketujuh, Bala Keselamatan, Christian & Missionary Alliance dan banyak kelompok Baptis. Ini akan aman untuk mengatakan bahwa teologi Arminian merupakan unsur dominan dalam kebanyakan gereja Kristen saat ini , dan  pandangan Calvinis telah ditolak atau diabaikan. Ada pertentangan yang intensif  terjadi di dalam gereja atas isu ini, khususnya tentang pusat dari kesalamatan manusia yaitu pada kedaulatan mutlak Allah atau pada kehendak bebas manusia.

Sejarah

Jacobus Arminius adalah seorang pendeta Belanda dan teolog di  awal  abad 16 dan akhir abad 17. Dia pernah berada di bawah didikan   Theodore Beza  pengganti dan orang kepercayaan Jhon Calvin.  Tetapi ia menolak  beberapa  teologi Calvin, salah satunya  bahwa  Allah  tanpa syarat memilih beberapa orang untuk diselamatkan. Sebaliknya Arminius mengusulkan bahwa pemilihan Allah berdasarkan  iman seseorang, sehingga pilihan Allah  tergantung pada iman. Pandangan Arminius ditentang oleh Calvinis Belanda, khususnya Franciscus Gomarus, tetaapi Arminius meninggal sebelum sinode nasional untuk membahas pandangannya tersebut terlaksana.

Pengikut Arminius tidak ingin  mengadopsi nama pemimpin mereka dan  menyebut diri mereka Remonstrants.  Arminius meninggal sebelum ia bisa memenuhi permintaan dari Gereja Belanda  untuk  menguraikan pandangannya.  Sebagai gantinya Remonstrants menjawab dengan  Lima Point bantahan terhadap ajaran Calvin.

Untuk menanggapi Lima Point Armenian tersebut, gereja Reformasi Belanda mengadakan sidang  sinode nasional di Dordrecht pada Tahun 1618-1619. Sidang ini juga dihadiri utusan  gereja-gereja reformasi dari negara lain. Sidang Sinode tersebut memutuskan bahwa Kelima Point Armenian  dinyatakan sebagai ajaran sesat sekaligus mengutuknya. Sidang juga membantah kelima Point Armenianisme dengan Lima Point Calvinisme

Para Remonstrants tidak konsisten dengan pemikiran soteriologis dari Arminius. Beberapa, seperti Philip von Limborch, bergerak ke arah yang terbaik yaitu semi-Pelagianisme  atau ke arah yang terburuk yaitu Socinianism atau rasionalisme.

Di Belanda para Armenian  telah dicoret dari keanggotaan gereja Reformasi, dipenjarakan, dibuang, dan bersumpah untuk tidak melanjutkan ajaran Armenius. Dua belas tahun kemudian Belanda secara resmi memberikan perlindungan kepada  Arminianisme sebagai agama, meskipun permusuhan antara Arminians dan Calvinis terus berlanjut.

Ajaran

Armenianisme telah mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga bukan lagi murni ajaran dari Armenius. Berikut ajaran Armenianisme yang paling umum berkembang di gereja-gereja saat ini.

  • Kehendak Bebas atau kemampuan manusia. 

Meskipun sifat manusia dipengaruhi serius  oleh kejatuhan dalam dosa, rohani manusia tidak ditinggalkan dalam keadaan tak berdaya secara total. Tuhan memberi kemungkinan setiap orang berdosa untuk bertobat dan percaya tanpa mengganggu kebebasan manusia. Setiap orang berdosa memiliki suatu kehendak bebas, dan tujuan kekal bergantung pada bagaimana ia menggunakannya. Kebebasan Manusia mempunyai kemampuan untuk memilih kebaikan atau kejahatan dan dalam hal-hal rohani; kehendak manusia tidak diperbudak oleh sifat dosa. Orang berdosa memiliki kekuatan untuk  bekerja sama dengan Roh Allah untuk dilahirkan kembali atau menolak anugerah Allah dan binasa. Orang berdosa kehilangan pertolongan Roh Kudus, tetapi ia tidak harus dilahirkan kembali oleh Roh sebelum ia dapat percaya, iman adalah  tindakan manusia dan mendahului kelahiran baru. Iman adalah pemberian orang  berdosa kepada Allah, dan kontribusi bagi keselamatan manusia.

  • Pemilihan Bersyarat.

Pilihan Allah untuk menyelamatkan  individu-individu tertentu sebelum dunia dijadikan didasarkan pada pengetahuan sebelum-Nya bahwa mereka akan menanggapi panggilan-Nya. Dia memilih hanya orang-orang yang Dia tahu akan  percaya Injil berdasarkan kehendak bebas mereka. Oleh karena itu pemilihan ditentukan oleh atau disyaratkan pada apa yang manusia akan lakukan. Iman yang akan Allah anugerahkan berdasarkan pilihan-Nya, tidak diberikan kepada orang berdosa oleh Allah (bukan diciptakan oleh kekuatan regenerasi Roh Kudus), tetapi semata-mata dari kehendak bebas manusia. Iman itu akan  diserahkan sepenuhnya kepada manusia yang akan percaya.  Allah memilih orang-orang yang Dia tahu akan memilih Kristus berdasarkan kehendak bebas mereka sendiri. Jadi  penyebab utama keselamatan bukan karena Allah memilih orang berdosa tetapi karena orang berdosa yang  memilih Kristus.

  • Penebusan Universal atau pendamaian umum.

Karya penebusan Kristus  memungkinkan setiap orang untuk diselamatkan tetapi tidak benar-benar menjamin keselamatan siapa pun. Meskipun Kristus mati untuk semua orang dan untuk setiap orang, tetapi hanya mereka yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Kematian-Nya memungkinkan Allah mengampuni orang berdosa dengan syarat bahwa mereka percaya, tetapi tidak benar-benar menyingkirkan dosa-dosanya siapa pun. Penebusan Kristus menjadi efektif hanya jika manusia memilih untuk menerimanya.

  • Roh Kudus dapat secara efektif ditolak. 

Roh Kudus memanggil manusia untuk diselamatkan melalui undangan Injil. Dia melakukan semua  yang dapat membawa setiap orang berdosa untuk keselamatan. Tetapi karena manusia itu bebas, ia  dapat menolak panggilan Roh Kudus. Roh tidak dapat melahirbarukan orang berdosa sampai ia percaya; iman (yang merupakan kontribusi manusia) mendahului dan memungkinkan kelahiran baru. Dengan demikian, kehendak bebas manusia itu membatasi Roh dalam penerapan  karya Kristus yang menyelamatkan. Roh Kudus hanya dapat menarik  orang-orang kepada Kritus sebatas mereka yang mengijinkan Dia untuk bekerja di dalam kehidupannua. Sampai orang berdosa merespon, Roh Kudus tidak bisa memberikan kehidupan dan  anugerah Allah. Oleh karena itu, pekerjaan Roh Kudus dapat dikalahkan, bisa-dan sering ditolak dan digagalkan oleh manusia.

  • Jatuh dari kasih karunia.

Orang-orang yang beriman dan benar-benar diselamatkan dapat kehilangan keselamatan mereka jika gagal menjaga  iman mereka. Semua Arminian belum disepakati pada point ini, beberapa menganggap bahwa orang percaya selalu aman di dalam Kristus, bahwa orang berdosa yang sudah dilahirbarukan tidak pernah bisa hilang.

Menurut Arminianisme, keselamatan dicapai melalui usaha gabungan dari Allah (yang mengambil inisiatif) dan manusia (yang harus merespons); respons manusia menjadi faktor yang menentukan. Tuhan telah menyediakan keselamatan bagi semua orang, tapi ketentuan-Nya menjadi efektif hanya bagi mereka yang dengan kehendak bebas mereka sendiri memilih untuk bekerja sama dengan Dia dan menerima tawaran anugerah-Nya. Point pentingnya adalah kehendak manusia memegang peranan yang menentukan, sehingga manusia, bukan Tuhan, yang akan menentukan penerima anugerah keselamatan.

Oleh: kristenberea | Oktober 10, 2012

Kristus dari Arminianisme (Freewillism)

Kristus dari Arminianisme (Freewillism)

Rev Steven Houck – www.reformedspokane.org

 

Alkitab memperingatkan kita bahwa pada hari-hari terakhir di mana kita hidup akan ada banyak kristus-kristus palsu, mereka  mengaku Kristus tetapi mereka adalah para penipu. Yesus berkata, ” “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang..” (Matius 24:4-5). Kita yang mengaku menjadi orang Kristen harus mengambil pelajaran. Kita harus sangat berhati-hati agar kita tidak tertipu. Kepentingan  kami adalah iman, kasih, dan mengikuti Kristus yang benar dan hanya kepada Dia. Kami mungkin tidak ada hubungannya dengan kristus-kristus palsu yang begitu banyak di zaman kita.

Kita tahu tentang Kristus dari sekte dan agama-agama lain (Saksi Yehuwa). Dia adalah orang yang baik, seorang nabi, ciptaan pertama Allah, roh yang  besar, ide ilahi, atau bahkan Tuhan sendiri. Tapi dia bukan Allah yang benar dan kekal. Dia menerima keberadaannya dari orang lain yang lebih besar daripada dirinya. Dia bukan Kristus dari Alkitab. Kami tidak tertipu oleh Kristus seperti itu. Dia adalah Kristus palsu.

Kita tahu tentang Kristus dari Katolik Roma. Mereka mengakui bahwa Dia adalah Allah yang benar. Dia menderita dan mati untuk pengampunan dosa. Dia bangkit lagi, naik ke surga, dan akan datang lagi. Tapi dia bukan Juruselamat yang sempurna. Kristus dari Katolik Roma tidak dapat menyelamatkan orang berdosa tanpa perbuatan baik mereka sendiri dan melalui perantaraan imam. Dia bukan Kristus dari Alkitab. Kami tidak tertipu oleh Kristus seperti itu. Dia adalah Kristus palsu.

Namun ada, Kristus  palsu yang lain  yang jauh lebih berbahaya daripada Kristus dari Saksi Yehuwa dan Kristus dari Katolik Roma. Dia telah menipu orang selama bertahun-tahun dan dia terus menipu jutaan orang. Kristus ini sangat berbahaya, sekiranya mungkin, ia akan menipu orang-orang pilihan (Mat 24:24). Dia adalah Kristus dari Arminianisme.

Kristus palsu ini sangat berbahaya karena dalam banyak cara ia menampakan diri menjadi Kristus Sejati. Mereka mengatakan bahwa dia adalah Allah yang benar, sama dengan Bapa dan Roh Kudus. Mereka mengatakan bahwa Dia mati di kayu salib untuk menyelamatkan orang berdosa. Mereka bahkan mengatakan bahwa dia menyelamatkan hanya oleh anugerah-Nya saja, tanpa perbuatan manusia. Kristus ini tidak ada hubungannya dengan Kristus dari Saksi Yehuwa dan Kristus dari Katolik Roma.

Tapi awas! Berhati-hatilah! Kristus dari Arminianisme bukanlah Kristus dari Alkitab. Jangan tertipu!

1.Kristus dari Arminianisme – mengasihi setiap individu di dunia dan berkeinginan tulus untuk menyelamatkan mereka.

Kristus dari Alkitab – sungguh-sungguh mencintai dan berkeinginan untuk menyelamatan hanya orang-orang yang Allah telah pilih sebelum dunia diciptakan dan menyelamatan mereka tanpa syarat. (Maz. 5:5, Mzm 07:11, Mzm.. 11:05, Matt. 11:27, Yohanes 17:9-10, Kisah 2:47, Kisah Para Rasul 13:48, Rom. 9:10-13, Rom 9:21-24,. Ef. 1:3-4)

2.Kristus dari Arminianisme – menawarkan keselamatan kepada setiap orang berdosa dan melakukan semua dalam kekuasaan-Nya untuk membawa mereka menuju keselamatan,  menawarkan karya keselamatan-Nya dan sering kali frustrasi karena banyak orang menolak untuk datang.

Kristus dari Alkitab – secara efektif memanggil untuk diriNya hanya orang-orang yang dipilih dan dalam kedaulatan-Nya membawa mereka untuk keselamatan. Tidak ada satupun  yang akan hilang. (Yesaya 55:11, Yohanes 5:21, Yohanes 6:37-40, Yohanes 10:25-30, John. 17:02  Fil. 2:13)

3.Kristus dari Arminianisme – tidak dapat melahirbarukan dan menyelamatkan orang berdosa yang tidak  memilih Kristus dengan “kehendak bebas”-nya sendiri.” Semua orang memiliki “kehendak bebas” dimana mereka dapat menerima atau menolak Kristus. ” Kehendak bebas” itu  tidak dapat dilanggar oleh Kristus.

Kristus dari Alkitab – kedaulatan-Nya melahirkan kembali orang berdosa sesuai dengan  pilihan-Nya, karena tanpa kelahiran baru orang berdosa yang mati secara rohani tidak bisa memilih Kristus. Iman bukanlah kontribusi manusia untuk keselamatan tetapi karunia Kristus. Dia menyatakan kedaulatan-Nya di dalam proses kelahiran kembali. (Yohanes 3:3, John 6:44 & 65, Yohanes 15:16, Kis 11:18, Rom 9:16,. Ef. 2:1, Ef. 2:8-10, Fil. 1:29, Ibrani . 12:2)

4.Kristus dari Arminianisme – mati di kayu salib untuk setiap individu dan dengan demikian memungkinkan setiap orang untuk diselamatkan melalui kematian-Nya termasuk bukan orang yang terpilih,  dan tidak dapat benar-benar menyelamatkan banyak orang yang terhilang untuk siapa Ia mati.

Kristus dari Alkitab – hanya mati untuk umat pilihan Tuhan dan dengan demikian benar-benar menyelamatan semua orang untuk siapa Dia mati. Kematian-Nya adalah pengganti kepuasan yang sebenarnya dari Allah dan  mengambil kesalahan orang yang dipilih-Nya. (Lukas 19:10, Yohanes 10:14-15 & 26, Kis 20:28, Rom 5:10,. Ef. 05:25, Ibrani. 9:12, 1 Petrus 3:18)

5. Kristus dari Arminianisme – kehilangan banyak orang yang telah ia “selamatkan” karena mereka tidak tetap dalam iman. Bahkan  ia tidak memberi mereka “keselamatan kekal,” seperti sebagian orang, bahwa keselamatan tidak didasarkan pada Tuhan tetapi didasarkan pada  pilihan yang dibuat orang berdosa ketika ia menerima Kristus.

 Kristus dari Alkitab – mempertahankan orang-orang yang dipilih-Nya sehingga mereka tidak dapat kehilangan keselamatan mereka tetapi bertekun dalam iman sampai akhir. Dia mempertahankan mereka berdasarkan kehendak Allah yang berdaulat, kuasa kematian-Nya, dan karya besar dari Roh-Nya. (Yohanes 5:24, Yohanes 10:26-29, Rom 8:29-30,. Rm. 8:35-39, I Petrus 1:2-5, Yudas 24-25)

Seperti yang Anda lihat, meskipun Kristus dari Arminianisme dan Kristus dari Alkitab mungkin pada awalnya tampaknya sama, faktanya mereka sangat berbeda. Salah satunya adalah Kristus palsu. Yang lainnya adalah Kristus yang sejati. Salah satunya adalah lemah dan tak berdaya. Dia membungkuk pada ” kehendak  bebas” manusia yang berdaulat”. Yang lain adalah Tuhan yang mengatur segala sesuatu menurut  kehendak-Nya yang berdaulat dan  dalam kedaulatan-Nya menyelesaikan semua yang Dia kehendaki.

Jika Anda percaya dan melayani Kristus dari Arminianisme, Anda harus mengakui kenyataan bahwa Anda tidak melayani Kristus dari Alkitab. Anda telah tertipu! Pelajarilah  Alkitab dan belajarlah dari Kristus yang  Sejati. Berdoalah untuk anugerah yang memungkinkan Anda  untuk bertobat dan percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat Anda  yang berdaulat penuh.

 

Oleh: kristenberea | Oktober 10, 2012

Apakah Arminianisme sebuah Injil Lain?

Apakah Arminianisme sebuah Injil Lain?

oleh Rev Eric Kampen – www.mountainretreatorg.net

Tingkat keseriusan cara berpikir Arminian setiap kali dapat menjadi titik pertikaian. Di kalangan Gereja Reformasi komentar kritis tentang Arminianisme nyaris tidak  pernah terdengar  karena akan  bertemu dengan tatapan kosong,  ketidakpedulian, atau bahkan  permusuhan-permusuhan yang mungkin timbul karena merasa bahwa kritik tersebut tidak adil, ekstrim, tidak akurat, atau  bahkan jika sudah benar hal itu tidak perlu karena meskipun seseorang memegang teologi Arminian mereka  masih Kristen.

Dalam bacaan baru-baru ini saya menemukan beberapa komentar tentang Arminianisme yang menunjukkan dengan baik tingkat keseriusan cara berpikir Arminian dan bagaimana hal itu tidak kompatibel dengan iman Reformed  yang Alkitabiah. Pada intinya, dalam Arminianisme kita menemukan suatu injil yang berbeda ( lihat 2 Korintus;. 11:04 Gal 1:6-8) suatu injil yang menyangkal keselamatan adalah karunia Allah yang berdaulat dan  orang berdosa dibenarkan melalui iman saja.

Hanya untuk menyegarkan ingatan Anda, pemikiran Arminian seperti yang dinyatakan dalam Kanon  Dort, menyangkal keselamatan karena kedaulatan kekal Allah pada orang-orang  pilihan-Nya. Sementara menegaskan anugerah Allah, Arminianisme mengklaim bahwa Tuhan hanya menawarkan keselamatan dan terserah kepada orang itu untuk  memutuskan  menerima atau menolak Injil. Seorang penulis meringkas cara berpikir Armenian sebagai ,”…. Allah dibuat tergantung pada kehendak bebas manusia bagi siapa  Dia dengan sabar  harus menunggu dan  melihat apakah manusia yang  begitu baik akan percaya[1].

Meskipun para reformator abad ke-16 dari awal tidak perlu bersaing dengan Arminianisme karena baru muncul sejak akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, mereka memang harus bersaing dengan sepupu  teologisnya, Semi-Pelagianisme-. Semi Pelagianisme mengajarkan bahwa rohani manusia sakit. Karena itu ia tidak memerlukan pertolongan anugerah Allah untuk mendapatkan yang lebih baik,  dan terserah kepada manusia untuk mengambil obat rohani yang telah Tuhan tawarkan. Allah harus memerlukan kerjasama dengan  manusia. Dalam pengertian teologis ini disebut “sinergi”. Anda dapat melihat kesamaan dengan posisi Arminian. Para Reformator menanggapi ini dengan menekankan kedaulatan anugerah Allah, seperti yang terdengar dalam teriakan  “Sola gratia”. Allah memanggil orang-orang mati dalam dosa untuk kehidupan yang baru (lihat Ef. 2:1-10). Para Reformator menekankan ketidakberdayaan manusia dalam dosa dan dalam  kedaulatan  kasih karunia Allah. Ini adalah titik kesatuan antara reformator meskipun ada perbedaan tentang masalah lainnya . [2] Dalam Buku “Perbudakan dari Kehendak” ini adalah titik dimana Luther berpendapat sama  dengan Erasmus.

Kita harus mencatat kemudian bahwa Arminianisme adalah reinkarnasi dari Semi-Pelagianisme yang menekankan pada  kebebasan manusia. Hal ini menjelaskan mengapa gereja-gereja bertindak begitu tegas terhadap Arminianisme. Mereka melihatnya sebagai ancaman serius bagi Injil dan mengutuknya “sebagai kembali ke prinsip Roma (karena efek itu iman berubah menjadi perbuatan yang bermanfaat) dan pengkhianatan terhadap Reformasi (karena menolak kedaulatan Allah dalam menyelamatkan orang berdosa, yang merupakan  prinsip teologis yang terdalam ari perkataan para reformator). Memang, Arminianisme di mata Reformasi adalah  sebuah penolakan terhadap Kekristenan Perjanjian Baru yang mendukung Yudaisme Perjanjian Baru, karena mengandalkan iman diri sendiri yang tidak berbeda dengan prinsip mengandalkan diri sendiri untuk perbuatan baik agar bisa selamat.  Yang satu adalah sebagai tidak Kristen dan  yang lainnya sebagai anti-Kristen “.[3]

Iman Reformed  mengajarkan ketidakberdayaan manusia dalam keselamatan, Arminianisme dalam gaya khas Semi-Pelagian  mengajarkan agama yang membantu diri sendiri. Ini adalah Allah yang  berdaulat versus manusia.  Memang ini adalah  Injil yang berbeda seperti yang Paulus peringatkan. Hal ini  sangat menarik karena memuji martabat manusia. Ini adalah sebuah kebohongan karena manusia yang mati di dalam dosa, benar-benar tak berdaya.

Sementara poin tersebut menunjukkan keseriusan pengajaran Arminian dan bagaimana benar-benar berlawanan dengan teologi Reformasi, sampai sejauh mana hal itu ditemukan hari ini? Satu penulis menyatakan bahwa “… Arminianism telah memliki cengkeraman yang kuat di antara kaum injili  Amerika sejak zaman Charles Finney. “[4]  Charles Finney (1792-1875) adalah seorang pengkhotbah pembaharuan yang sangat berpengaruh dengan teknik kebangunan rohani-nya. Penulis lain menyatakan bahwa 86 persen dari Penginjil Amerika  berada pada posisi Arminian dan  keluar dari perjanjian mereka dengan ungkapan, “Tuhan membantu mereka yang membantu diri mereka sendiri”. [5] ini muncul sangat jelas dalam tulisan-tulisan Billy Graham yang dikenal  baik bahkan telah menulis sebuah petunjuk dari   agama membantu diri sendiri dengan buku yang  berjudul “Bagaimana  menjadi orang yang labir baru?” di mana menjelaskan berbagai langkah untuk keselamatan.[6]

Rasul Paulus berjuang dengan semangat besar untuk melawan “Injil yang berbeda “. Dalam Injil mereka juga berbicara tentang Kristus dan menggunakan kata-kata seperti anugerah, pilihan, iman, kelahiran baru, dll. Namun, itu adalah Injil tanpa  anugerah yang berdaulat yang diterima melalui iman tetapi rahmat diterima atas dasar  iman seseorang. Sejak awal ada hubungan antara Katolik Roma dan Arminianisme sehingga ada gambaran bahwa Armenianisme adalah cara yang dipakai untuk kembali ke Roma. Sebenarnya, cara-cara  umum dalam semua agama palsu adalah kemampuan dan kehendak bebas  manusia  yang dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri. Ini menampilkan arogansi manusia yang berdosa, bahkan  ketika dibalut  dengan kata-kata Injil. Wajah semua musuh  lebih sulit untuk dideteksi ketika mereka bekerja secara halus / tidak kentara. Kita semua bisa lebih memahami peringatan Paulus tentang Iblis yang menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor 11:14 ).

Secara pribadi saya tidak bisa menikmati indahnya musik  kecapi pada saat yang sama mengetahui seriusnya bahaya dari Arminian. Aku takut banyak  orang Kristen tidak menyadari betapa serius dan luasnya ancaman itu. Gereja yang benar seperti  di dalam Injil percaya bahwa Allah berdaulat menyelamatkan orang berdosa yang mati secara rohani dan memberikan mereka kebenaran Kristus melalui iman. Biarkan saya  menyimpulkan dengan  mengutip kata-kata Rasul Paulus di dalam Gal. 1:6-9, :

           Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,  yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.

 

Catatan kaki

1. K. Schilder, Extra-Bible Binding – Sebuah Bahaya Baru (Dalam teolog AmericanSecession pada Kovenan dan Baptisan & ekstra-Ikatan Alkitab) Neerlandia. (: Warisan Publikasi, 1996 131. hal.)
2. JI Packer dan OR Johnston, “Sejarah dan Pengantar Teologi,” dalam Martin Luther, The Bondage of  Will, trans. JI Packer dan OR Johnston (Cambridge: James Clarke / Westwood, NJ: Revell, 1957, hlm. 57-58)
3. Ibid. hal 59
4 RC Sproul, Grace Unknown:. (Grand Rapids Baker Books, 1997) p.180
5. M. Horton, Dalam Wajah Allah 1996. (Word Publishing,) Lampiran Cure (Kristen Serikat untuk Reformasi).

6. Untuk memberikan dua contoh, Graham menulis “Konteks Yohanes 3 mengajarkan bahwa kelahiran baru adalah sesuatu yang Tuhan lakukan untuk manusia ketika manusia bersedia untuk datang kepada Allah”, dan “Dia memberikan Roh Kudus untuk menarik Anda ke jalan anugerah, tapi setelah semua itu, itu adalah keputusan Anda apakah akan menerima pengampunan bebas dari  Tuhan atau untuk melanjutkan dalam kondisi kehilangan  Anda .1977. “(B. Graham, Cara Menjadi Lahir kembali. Awalnya diterbitkan. Dikutip dari  edisi tahun 1989 oleh Word Penerbit , halaman 150, 162)

 

Oleh: kristenberea | Oktober 10, 2012

HUMANISME DARI ARMINIANISME

HUMANISME DARI ARMINIANISME

Oscar B. Mink

www.pbministries.org

 

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani..” (1 Kor. 2:14)

Aku tahu bahwa mendefinisikan suatu istilah pada umumnya sangat membosankan. Tetapi demi kejelasan dan pemahaman, kita perlu mendifinisikan istilah Arminianisme dan Humanisme  pada awal wacana ini. Perbedaan antara dua istilah ini sangat tipis jika dipertimbangkan dalam cahaya agama yang benar. Istilah Humanisme didefinisikan oleh Webster sebagai: ” sebuah doktrin, sikap, atau cara hidup yang berpusat pada kepentingan manusia atau nilai-nilai kemanusiaan, terutama filsafat yang menjamin martabat dan nilai manusia serta kapasitasnya untuk menyatakan diri   yang sering  menolak supernaturalisme.” Definisi ini, seperti yang akan ditunjukkan dalam pertimbangan berikut merupakan suatu istilah  diametral atau kebalikan dari antropologi Alkitab.

Arminianisme didefinisikan sebagai sebuah sistem keagamaan yang berpusat pada manusia. Menurut Arminianisme, manusialah yang membuat keputusan sehingga kehendak Allah bisa terjadi.  Armenianisme terdiri dari lima (5) point, yaitu, 1. Pemilihan bersyarat 2. Penebusan Universal (Artinya, Kristus dalam kematian-Nya membuat pengorbanan pendamaian bagi seluruh umat manusia). 3. Regenerasi yang membawa perbuatan baik. 4. Kasih karunia Tuhan dapat ditolak. 5. Orang beriman pada akhirnya mungkin jatuh dari kasih karunia dan kehilangan keselamatan selamanya.

Definisi-definisi yang singkat ini tidak menembus sangat dalam ke dalam kegelapan yang kuat dari “isme” manusia dan yang memalukan dalam rangka untuk meninggikan Allah. Fitur atau pusat utama dari Arminianisme dan Humanisme adalah gagasan bahwa manusia lebih unggul daripada Allah, dan manusia itu dapat dengan kekuatan dari dirinya sendiri, menyelesaikan semua masalah tanpa bantuan supranatural. Seorang pelaku awal dari Arminianisme dan Humanisme adalah  Pelagianisme abad ketiga yang meninggikan kehendak manusia di atas Allah yang diberitakan di Alkitab.

Mengetahui firman Allah yang diilhami Roh Kudus (II Tim. 3:16) sudah cukup untuk menegur dan mengoreksi setiap sofisme / kebijaksanaan manusia, dan ia akan menjadi kriteria eksklusif  yang akan digunakan dalam rangka  menyangkal penipuan  yang ada di dalam pesan yang masuk akal ini  .

Pertama, mari kita mempertimbangkan humanisme dari Arminianisme dalam terang penyataan Alkitab tentang kedaulatan Allah  yang mutlak. Mengatakan  Allah berdaulat berarti memproklamirkan bahwa Dia adalah Maha Kuasa, Raja segala raja, Tuhan atas segala tuan, dan bahwa ” Dia  melakukan apa yang dikehendaki-Nya .” (Mzm. 115:3). Ini adalah kewajiban tak terhindarkan dari keturunan Adam untuk mengakui kedaulatan Allah, dan mengakui bahwa hanya Dia yang pantas di tinggikan di atas segala yang ada . (Mzm. 46:10;  I Pet 2:9). Allah di dalam Alkitab  dengan tegas menyatakan: ” Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. ” (Yes. 44:6). Humanisme dan Arminianisme adalah lahan yang subur untuk  memunculkan allah lain yang disulap oleh imajinasi sia-sia dan  isapan jempol manusia. Aspek fatal dari kedua “isme”  yang keji tadi bukanlah bahwa mereka tidak memiliki Allah, tetapi “Allah” mereka adalah hasil dari  penemuan mereka sendiri. (Mzm. 50:21).

Humanisme dan Arminianisme memiliki tujuan tunggal yaitu takhta Allah, dan mau menobatkan manusia di atasnya. Kedua sistem kedaulatan dan otoritas Allah atas manusia direndahkan; manusia menjadi berdaulat dan Allah menjadi peminta / pemohon bahkan pengemis. Manusia adalah penentu eksklusif dari  tujuan kekal-nya. Doktrin kedaulatan Allah begitu dibenci oleh Humanisme dan Arminianisme. Mereka telah mengerahkan semua sumber daya kebijaksanaan duniawi dalam upaya untuk menemukan kekurangan yang ada dalam Allah Alkitab. Para Rasul Tuhan telah memperingatkan gereja-Nya, dengan mengatakan: “… Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka… yang hidup tanpa Roh Kudus. ” (Yudas 18, 19). Pengertian dari para pengejek begitu tertutup dari kebenaran, dan terikat oleh intelek  mereka sendiri sehingga tidak dapat membayangkan Tuhan sebagai Yang Lebih Besar dari diri mereka sendiri, dan berkata di dalam hati mereka: “Kami tidak mau Orang ini menjadi raja atas kami” (Lukas 19 : 14). Istilah “Orang ini,” adalah menunjuk pada Kristus.

“Humanisme berpendapat bahwa manusia-lah yang menentukan nasib mereka sendiri” (Humanisme Sekuler, oleh Homer Duncan). Hanya Allah yang dapat menentukan nasib dan jalan hidup manusia ( Yesaya 45:7) . Jadi, Humanisme bukanlah agama tanpa allah, tetapi setiap orang menurut premis adalah allah di dalam dan dari diri mereka sendiri. Hal ini tak terelakkan merupakan konsep dari setan, dan bentuk terburuk dari penyembahan berhala, yang adalah autolatry atau penuh dengan pengagungan diri. Ideologi inilah yang membuat Lucifer tersandung (Yes. 14:13).

Arminianisme, seperti Humanisme adalah agama tanpa Allah Alkitab, tetapi tidak tanpa tuhan.

“Tuhan” Armenianisme adalah manusia itu sendiri karena sistem teologi ini mengagungkan manusia dengan berpendapat bahwa manusia adalah penentu eksklusif nasibnya sendiri. Oleh karena itu, seperti Humanisme, setiap orang dalam dan dirinya adalah allah. B. Oliver Green, yang baru-baru ini meninggal,  selama hidupnya adalah salah satu pendukung paling kuat dari Arminianisme. Berbicara tentang kedaulatan Allah, predestinasi, pemilihan, dan kasih karunia yang tak dapat ditolak, ia berkata: “Mereka adalah beberapa doktrin yang tergolong paling busuk yang pernah saya dengar.” (Predestinasi, Pascasarjana 1). Doktrin-doktrin itu menurut Mr Green menjengkelkan bagi supremasi intelek manusia. Tentu saja itu adalah intelek/pikiran yang duniawi yang adalah permusuhan terhadap Allah (Rm. 8:07).

Antara Arminianisme dan Humanisme bukan hanya ada hubungan, tetapi ketika kedua sistem tersebut diteliti, maka akan mudah dilihat bahwa mereka memiliki koreografer yang sama, dan menari untuk menyenangkan keinginan daging untuk menjadi makhluk tak terkalahkan. Arminianisme dan Humanisme berpendapat bahwa manusia adalah makhluk otonom, dan itulah ketetapan Tuhan yang dapat dibanggakan oleh manusia. Mereka memiliki suatu bentuk kesalehan, tetapi menyangkal kuasa daripadanya. (2 Tim 3:5)..

Ini yang harus diketahui, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar” (2 Tim. 3:1). Puncak dari dunia yang jahat ini sudah dekat, sudah datang masa yang sukar, fondasi gereja oikumenis telah diletakkan, dan superstruktur akan naik semakin cepat. Nabi palsu dan Anti-Kristus sedang menunggu untuk tampil di panggung utama dunia.  Gereja Kristen akan diserbu oleh Armenianisme sehingga akan diserap ke dalamnya. Pendidikan dan dunia politik akan dibanjiri oleh Humanisme sekuler. Humanisme dan Kristen (yang sudah dikuasai oleh Armenianisme) akan segera bergabung, karena tidak sulit bagi dua sistem untuk menggabungkan diri ketika mereka sangat mirip dan mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu  pemuliaan manusia.

Orang kudus tidak boleh berputus asa dalam berjuang melawan arus dari kedua isme tersebut. Anti Kristus tidak akan dapat merebut orang-orang pilihan yang berada di dalam tangan Tuhan yang berdaulat (Yohanes 10:27-29). Ajaran  dari Arminianisme dan Humanisme tidak lebih seperti gemerincing rantai yang mengikat diri mereka sendiri. Arminianisme mengatakan: “Orang yang berdosa masuk neraka karena Allah sendiri tidak bisa menyelamatkan mereka! Dia melakukannya semua yang bisa untuk menyelamatkan orang berdosa tetapi  Dia bisa saja gagal.” (Noel Smith, Defender Magazine). Tetapi Alkitab tidak setuju dengan Noel Smith, untuk itu Alkitab tidak salah kata, ketika berbicara tentang Allah:  “Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga ” (Ayub. 23:13). Humanisme mengatakan: “Allah tidak akan menyelamatkan kita, kita harus menyelamatkan diri kita sendiri” (Manifesto Humanis). Alkitab mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah menyatakan diri-Nya dalam wujud  daging (I Tim 3:16), dan bahwa ” Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Paulus  berbicara tentang Kristus: Dia telah menyelamatkan kita … karena rahmat-Nya ” (Titus 3:5). Jika nasib manusia dibiarkan menurut Arminianisme atau Humanisme, Allah akan dikalahkan dan surga sepi. Tapi itu adalah pikiran yang  binasa. Penguasa dan Arsitek sempurna alam semesta mengatakan: ” Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana …… kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah ” (Yesaya 14:24; Efesus 1:11)

Humanisme tidak mengakui Allah Alkitab sebagai yang berotoritas dalam hal apapun, dan Arminianisme mengingkari otoritas Allah dalam segala hal. Jika Allah tidak berdaulat dalam segala hal, maka Dia tidak berdaulat dalam hal apapun,  Untuk itu  Dia yang tidak berdaulat atas segala sesuatu, adalah bukan penguasa segala sesuatu, dan Dia bukan  Allah. Namun, Allah mencela mereka yang  menjadi pencela-Nya, dengan bertanya:” Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”  (Rm. 9:20).  Manusia  tidak  memiliki hak membantah Pencipta-Nya. Allah bekerja untuk kebaikan manusia sesuai dengan rencana-Nya yang mulia sehingga tidak ada manusia yang bisa bermegah atas apa yang ada dalam dirinya (Rm. 8:28; 1 Kor. 1:31).

Arminianisme tidak lebih dari Humanisme  yang dilapisi agama, dibalik dari kombinasi ini adalah setan. Kedua sistem merupakan pelanggaran yang kekal kepada Allah, dan itu akan jauh lebih baik jika tidak pernah dilahirkan,  karena mempercayai “Allah” yang tidak sanggup menyelamatkan manusia. Jadi, mari kita tidak membatasi Allah Israel Yang Mahakudus,. (Maz. 78:41), yang kemahakuasaan-Nya adalah mutlak, dan tidak ada tipu muslihat setan yang dapat menghambat atau mengganggu-Nya.

Kedua, marilah kita mempertimbangkan humanisme dari Arminianisme dalam terang doktrin Alkitab tentang kebejatan total manusia.. Pemazmur mengatakan: “..  setiap manusia hanyalah kesia-siaan! ” (Mazmur 39:5). Teks ini merujuk kepada manusia sebagai dia yang ada di alam Adam, dan dengan jelas mengatakan bahwa Adam dan seluruh keturunannya mempunyai sifat yang benar-benar bejat. Teks ini  tidak memungkinkan untuk pengecualian, dan memungkinkan untuk tidak adanya kebejatan parsial (sebagian). Setiap orang di dalam Adam benar-benar hancur secara rohani, karena  Adam telah memberontak terhadap Allah (Kej 3:6). Tindakannya tidak hanya berdampak terhadap dirinya, karena pada saat itu ia adalah  kepala keluarga manusia. Karena ia menentang Allah maka keturunannya menjadi sangat kotor, karena mereka bertindak sama di dalam  Adam (1 Kor. 15:21,22).

Arminianisme mengambil pengecualian dari doktrin kebobrokan total akibat nature manusia yang telah jatuh dalam dosa, dan berkata: “Manusia adalah bukan orang berdosa saat lahir, tetapi manusia yang lahir mempunyai potensi menjadi orang berdosa” (John R. Rice, seperti dikutip oleh John Zens, dari Sword).  Agama Humanisme menyebut laporan Alkitab tentang kejatuhan Adam hanya sebuah dongeng, dan Arminianisme telah memberikan sedikit gula pada posisi mereka, sehingga untuk memenuhi rasa ingin tahu agama manusia duniawi. Namun, jika seseorang mengambil racun yang dilapisi dengan gula, itu akan membunuh dia lebih mudah dari pada kalau tidak dilapisi karena ia pasti tidak akan mengambilnya. Namun, Doktrin terkutuk itu jelas bertentangan dengan berita Alkitab:  ” Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. ” (Rm. 5 : 12).

Humanisme mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk besar yang bermoral dan tak terbatas. Arminianisme mengajarkan hal yang sama, dengan mengatakan: “Tuhan menilai manusia begitu tinggi sehingga Dia mengutus AnakNya untuk menebus seluruh keluarga manusia.” Sebaliknya, Alkitab mengatakan: ” Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. “ (Roma 3:12). Kata, ” tidak berguna,” sebagaimana digunakan dalam Alkitab ini tidak hanya berarti, tidak ada gunanya, tetapi orang itu berada dalam pelanggaran di Taman Eden dan mengalami kejatuhan yang tidak dapat diperbaiki, dan kejatuhan ini telah meninggalkan manusia tanpa Allah atau harapan.

Kristus, secara eksplisit dan tegas mengatakan: ” daging sama sekali tidak berguna ” (Yohanes 6:63). Tapi tidak peduli seberapa baik kata-kata yang didefinisikan oleh Kristus, hal itu  tidak pernah membuat kesan yang baik pada Arminianisme, dan sistem itu pura-pura mengatakan: “Tuhan membutuhkan kita, karena kita adalah hanya kaki, tangan, dan mulut Allah.” “Tuhan” yang miskin dan cacat!. Tapi tuhan mereka bukan Allah Alkitab, karena Dia ”  tidak senang kepada kaki laki-laki… “seperti yang Dia rancang, demikianlah akan terlaksana… karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya “(Mzm. 147:10; Yesaya. 14:24; Fil. 2:13.)

Para pendukung Arminianisme dan Humanisme akan menegur semua orang yang memberitakan kedaulatan kekal Allah atas alam semesta-Nya, dan segala isinya. Mereka akan menyuarakan keberatan mereka, dengan berkata: “posisi Anda pada kebobrokan manusia yang tidak memanusiakan manusia, dan membuat manusia sebagai seburuk  binatang.”  Posisi kami tepat didasarkan pada Kitab Suci, sehingga kita tidak merendahkan manusia, namun menekankan fakta bahwa manusia tidak lagi mempunyai gambar Allah seperti waktu diciptakan dulu. Manusia yang telah jatuh dan belum ditebus adalah penentang Allah. Karena ia adalah fasik maka tanpa henti merupakan seteru dari Allah (Rm. 4:5; 5:10).

Tuduhan yang keliru bahwa kita menjadikan manusia seburuk binatang merupakan  sasaran yang tepat yang ditembakkan dari  jarak yang tak terbatas. Dengan mengatakan bahwa manusia yang telah jatuh adalah seperti binatang sama halnya menghina kerajaan hewan yang lebih rendah, dan memuji manusia secara berlebihan. Mari kita bertanya, apakah ada binatang  yang pernah memiliki pikiran jahat tentang Tuhan? Sebaliknya, di mana ada manusia yang berdosa yang pernah memiliki pemikiran yang baik tentang Tuhan? ” Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata “(Kejadian 6:5). Untuk manusia duniawi, demikianlah firman Tuhan. ” engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau ” (Mazmur 50:21). Orang yang menyangka bahwa manusia itu sederajat dengan Allah merupakan hasil dari pikiran manusia yang benar-benar sudah bobrok yang sudah tidak lagi menghormati kekudusan Allah. Hal ini justru membuktikan bahwa orang itu sudah seperti binatang yang tidak berakal.

” Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka.” (Yudas 10; Lihat juga Pengkhotbah 3:18).. Alkitab menyatakan bahwa orang yang seharusnya secara nature menjadi makhluk rasional telah merusak prinsip-prinsip moral kemanusiaan, dan telah membungkuk lebih rendah dari binatang irasional. Cukup, dosa telah merusak setiap serat dan bagian sifat manusia sehingga ia tidak dapat mengetahui atau mematuhi Allah.

Aku bertanya dengan serius, bukankah kita hidup dengan didikkan nilai-nilai manusia yang beradab dan bukan dengan pendidikan seperti di hutan rimba?  Namun, mengapa berita-berita di koran dan televisi penuh dengan hal-hal yang sebaliknya? Humanisme dan Arminianisme berpendapat bahwa satu-satunya hal yang salah dengan manusia adalah: ia membutuhkan lebih sedikit pendidikan. Hal-hal yang tidak menguntungkan adalah: di mana kita mendapatkan semua-pendidikan yang menyembuhkan ini? Jika kita mengirim anak-anak kita ke sekolah umum, mereka dibanjiri dengan humanisme. Jika keluarga menghadiri sebuah gereja Arminian, di sana dibanjiri dengan doktrin merusak keselamatan diri.  Pada abad pertama Kristus menegur ahli-ahli Taurat dan orang Farisi: ” kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. ” (Matius 23:15). Dan sekarang, hal yang sama telah dilakukan oleh humanisme dan Arminianisme. Namun masih ada harapan karena ada cahaya yang dapat menyinari kegelapan dari humanisme dan Armenianisme.

Oleh karena itu, kami pergi ke firman yang diilhami Roh Kudus Allah, dan ketika kita melakukan, kita menemukan pelbagai ragam  hikmat Allah yang dapat diketahui melalui gereja-Nya, dan ” bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-laman. Amin “(Efesus 3:10, 21). Jika seseorang mendapatkan gereja yang mengajarkan hal-hal duniawi dan setiap saat memuji dirinya sendiri bukannya  Allah yang menyelamatkan, ia berada dalam gereja palsu tidak peduli apa nama gerejanya . Alkitab berbicara tentang kelahiran baru: orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah ” (Yohanes 1:13). Kristus berkata kepada murid-murid-Nya: ” Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu… “ (Yohanes 15:16). Rasul Paulus juga menegaskan bahwa orang percaya dipilih sebelum dunia dijadikan berdasarkan kerelaan kehendak-Nya (Ef. 1:4-9). Jadi, Allah dalam kasih-Nya yang besar kepada orang-orang pilihan-Nya yang terjebak dalam jerat setan dari Arminianisme dan / atau Humanisme, memberikan nasehat kepada mereka, Firman-Nya: ”  Keluarlah kamu dari antara mereka,  dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,  dan janganlah menjamah apa yang najis,  maka Aku akan menerima kamu. “(2 Kor 6:17 ).

Ketiga, kami akan mempertimbangkan Humanisme dari Arminianisme tentang teori-nya  bahwa manusia yang sudah jatuh adalah faktor yang menentukan kesejahteraan di masa depan.

Humanisme dan Arminianisme mengajarkan bahwa salah satu kelemahan yang paling merusak manusia adalah ketidakpercayaan dirinya. Dalam melawan peninggian yang keliru terhadap hikmat manusia ini, Paulus berkata: “Kami bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.” (Filipi 3:3). Kristus, berbicara tentang kelahiran baru, menyatakan: ” yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yohanes 1:13). Keselamatan jiwa bukanlah hasil dari usaha kerjasama antara Allah dan manusia, tetapi Allah Yang Mahakuasa yang merencanakan dan melaksanakan karya penyelamatan umat-Nya (Ibr. 12:2). Esau, putra pertama Ishak, mempercai dirinya sendiri, dan sementara berjalan dengan kekuatan  jasmaninya, ia kehilangan berkat (Kejadian 27). Untuk menjelaskan bagaimana usaha manusia dengan kekuatan dirinya untuk mendapatkan keselamatan yang dijanjikan Tuhan, Paulus berkata: ” Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah “(Roma 9:16).

Kaum Humanis mengklaim bahwa pendidikan akademik adalah obat mujarab untuk semua penyakit dan kesulitan manusia. Pikiran semacam ini sudah muncul dalam benak  Paulus ketika ia mengatakan tentang  mereka sebagai:” yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran ” (2Tim 3: 7.) Semakin mereka belajar lebih banyak semakin menjadi akut dalam ketidaktahuan mereka tentang Allah dan firman-Nya. Para humanis berpendapat bahwa Alkitab adalah mitos, sebuah buatan orang bodoh dan tidak terpelajar. Karena itu, tidak ada tempat bagi Alkitab di dalam pikirannya yang dianggap lebih cerdas dari para penulis Alkitab. Hal ini akan membuat mereka menyangkal isi Alkitab dan lebih buruk lagi menyangkal Allah (Rm. 2:5). “Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya” (1 Korintus 3:19 ).

Pada puncak pencapaian akademis mereka, Humanis yang sombong telah menyimpulkan bahwa dalil-dalil dan kebijaksanaan mereka begitu absolut sehingga tidak  memungkinkan adanya kata “jika” atau “mungkin”. Dogmatisme mereka justru membuktikan bahwa mereka orang bodoh, karena mereka telah berkata di dalam hati mereka, “Tidak ada Allah” (Mazmur 14:1), dan mereka belum tahu apa-apa karena mereka harus tahu itu (1 Korintus 8:2). Orang yang telah lahir kembali tidak menyangkal pendapat dari Humanis bahwa pendidikan dalam seni dan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh lembaga-lembaga khusus dapat meningkatkan kesuksesan seseorang.  Gereja  Tuhan ini menjunjung tinggi dan menghormati keberhasilan, tetapi apa yang mereka ketahui dan nyatakan adalah: setiap kesuksesan  yang bukan hasil karya Allah sendiri adalah bersifat  daging dan daging sama sekali tidak berguna. Jadi, selain dari Allah tidak ada sukses yang sejati .

Arminianisme mengatakan: “Manusia memiliki kekuatan intelektual untuk memilih hidup kekal atau binasa, dan bahwa setiap orang diberi ruang yang cukup untuk mengambil keputusan dalam hal penting ini”. Tetapi Kristus berbicara tentang manusia duniawi: ” namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” (Yohanes 5:40). Berbicara tentang kemampuan nature manusia, Kristus mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku…”(Yohanes 6:44). Paulus, dalam mendukung tentang kebenaran ini, mengatakan: ” Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah ” (Rom 8:7,8).. Manusia duniawi adalah ” selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.” (2 Tim 3:7 ).

Deklarasi kemerdekaan absolut manusia dari Arminianisme itu akan sama saja dengan mengatakan bahwa buah dari pohon memiliki sifat sendiri yang sama sekali bebas dari akar pohon. Buah dari pohon  selalu ditentukan oleh karakter dari  akar dan genealoginya. Adam adalah akar dari manusia, dan ketika Adam bunuh diri rohani (Kej 3:6), keturunannya meninggal di dalam dia. ” Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12). ” Tidak mungkin  pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” (Matius 7:18). Semua buah moral  yang dihasilkan oleh manusia duniawi bisa saja  jadi pujian atau dipuji oleh standar manusia, tetapi ketika ditimbang dengan standar  kemahatahuan Allah akan terlihat penuh dengan belatung.  Hukum menabur dan menuai tidak hanya berlaku untuk ilmu agraria saja , tetapi juga  untuk semua organisme duniawi. Kata Kristus: “Pohon dikenal dari buahnya” (Matius 12:33 ).  Daging, entah itu pernah menjadi religius, tidak ada gunanya (Yohanes 6:63). Ayub, berbicara tentang reproduksi manusia, bertanya: ” Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? “Dan Ayub, dengan finalitas yang mengagumkan, menjawab pertanyaan sendiri: ” Seorang pun tidak! ” (Ayub 14:4).

Humanisme dan Arminianisme berpendapat bahwa kehendak manusia itu bebas dan independen dari Tuhan, dan itu adalah kekuasaan sedemikian rupa sehingga dapat melemahkan dan meniadakan kehendak Allah. Oleh karena itu, premis ini mengajarkan bahwa semua hal diserahkan kepada kekuatan penalaran dan kehendak manusia. Jadi, mau atau tidak mau mengakui, iman mereka adalah iman dalam manusia, dan bahwa analisis akhir manusia adalah ukuran dari segalanya.  Terhadap pertikaian  kejam dari Arminianisme dan Humanisme ini, Tuhan yang bijaksana dan penuh belas kasihan mengeluarkan peringatan berikut: ” Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri… Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal “(Amsal. 3:5, 28: 26).

Tidak ditemukan dalam Alkitab bahwa orang yang telah kehilangan mentalitas alami adalah orang bodoh. Namun, orang yang dianggap bijaksana secara duniawi justru menganggap kebiksanaan Kristen sebagai kebijksanaan orang gila (Kis 26:24).  Sebaliknya sering kali Alkitab mengacu bahwa  orang yang  bijaksana secara  yang duniawi  sebagai orang bodoh, dan menyamakan dialog mereka sebagai lebih rendah daripada obrolan (ocehan) anak-anak (Amsal. 10:8). Petani kaya (Lukas 12) cerdik dalam hal merancang skema dimana dia akan punya banyak  kesenangan selama bertahun-tahun yang akan datang, tetapi tidak sekalipun dalam semua perencanaan memikirkan apa yang menjadi kehendak Allah.  Kurangnya memperhatikan kehendak Sang Pencipta untuk kehidupan yang kekal membuktikan bahwa dia menjadi bodoh. Seorang “kaya” yang bodoh tidak lebih baik daripada orang miskin yang bodoh, ketika mereka sama-sama mengatakan dalam hati mereka, “Tidak ada Tuhan” (Mazmur 14:1).  “Kehidupan yang baik” yang dimaksud oleh Humanisme adalah temporal, dangkal, dan jalan yang terbaik menuju  pintu gerbang ke jalan  “yang menujui kepada kebinasaan” (Matius 7:13). Rasul Paulus tidak meninggalkan ruang untuk ambiguitas, ketika bertanya: ” Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? (1 Kor 1:20.)

Arminianisme adalah permata pilihan dari kebodohan agama, dan Humanisme adalah gagasan mengidolakan intelektualisme. Dua “isme” dalam kekuatan gabungan mereka, tidak lebih dari bunyi canang kuningan yang  terdengar gemerincing. Allah Alkitab adalah Sumber dari semua ilmu sejati, dan tidak pernah ada konflik antara Alkitab dan ilmu sejati. Tapi ketika “ilmu pengetahuan yang omong kosong itu ” (1 Tim. 6:20) ditimbang dengan standar Allah akan ditolak dan diberi label “kayu, jerami, dan rumput kering” (1 Kor. 03:12 ). Tapi lebih buruk dari ilmu pengetahuan palsu adalah pendewaan terhadap ilmu sejati oleh Humanis, untuk itu adalah dengan kecerdasan ini setan telah membuat sekutu sejumlah besar akademisi dengan  semua pembelajaran mereka. Pada akhirnya semua pikiran-pikiran mereka akan kedapatan tidak sehat / benar ketika dipertanggungjawabkan ke hadapan Allah Yang Maha Tahu.

Para Humanis tanpa penyesalan sedikitpun mengatakan: ” Hanya ilmu pengetahuan yang dapat menyelesaikan masalah abadi manusia  yang keberadaannya sangat mendesak serta menuntut adanya sebuah solusi” (Wilhelm Dilthey, The Nineteenth Century, halaman 16). Sumpah Hipokrates tidak membuat seorang dokter menjadi baik; janji perkawinan tidak membuat pernikahan menjadi baik, sebuah pengakuan iman tidak membuat seorang Kristen menjadi Kristen yang sejati; atau ilmu humanistik baik, yang begitu sempurna dapat menebus atau membantu untuk menebus satu jiwa pun. Penyelamat Israel yang Kudus berkata: ” Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku ” (Yesaya 43:11).

Keempat, Arminianisme dan Humanisme adalah penemuan manusia. ” Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih ” (Pkh. 7:29). Kata, “penemuan” dalam teks ini bukan merujuk pada penemuan-penemuan ilmiah manusia atau perangkat yang telah diciptakan untuk membantu meringankan penderitaan dalam perjalanannya kembali ke debu dari mana ia berasal, tetapi merupakan acuan untuk penemuan agama. Penemuan yang dimaksud dalam teks bertentangan dengan keadilan asli dari manusia. Setiap ajaran sesat agama adalah berasal dari iblis, karena ia adalah pendusta dan bapa dari pendusta (Yohanes 8:44), dan Arminianisme dan Humanisme adalah hasil dari penipuannya. Kata “dan” digunakan dalam kalimat di atas tidak digunakan hanya sebagai kata sambung, tetapi untuk menunjukkan kesamaan dari kejahatan yang  kembar.

Pendapat yang sakit bahwa kehendak manusia itu benar-benar bebas, dan independen dari Tuhan adalah doktrin dasar yang di atasnya berdiri Arminianisme dan Humanisme. Sistem yang mau menggeser Allah ini sudah  kuno yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh  Lucifer dengan kata-kata “Aku akan” (Yes. 14:13, 14), dan tidak akan berhenti eksis sampai Iblis, pencetus penipuan yang fatal ini dilemparkan ke dalam lautan api yang kekal (Wahyu 20:10). Fondasi dimana Arminianisme dan Humanisme berdiri bukan hanya cacat, tetapi benar-benar rusak, dan semua orang yang tertipu oleh mereka bukanlah orang yang bijaksana, tetapi bodoh (Rm. 1:21,22). Tapi calon pencela mengatakan: “Anda menempatkan manusia dalam sebuah selubung intelektual; merampok gambar Allah, dan meniadakan kehendaknya”. Itu bukan pendapat kami. Manusia pada dasarnya  tidak berdaya dan dibatasi oleh sifatnya. Adalah mustahil  apabila manusia mengkalim dapat mempunyai suatu kehendak  atau suatu keinginan yang bertentangan dengan sifatnya sendiri. Berdasarkan nature-nya manusia berada dalam perbudakan dosa, dan tidak pernah bervariasi dalam perbudakan (Rm. 6:20). Manusia dengan naturenya bebas memilih apa pun yang menyenangkan  dagingnya.

Keinginan badaniah adalah terbatas pada apa yang menyenangkan daging, dan mereka yang di dalam daging tidak dapat menyenangkan Allah (Rm. 8:08). Kebebasan alami manusia memang besar, tetapi pelaksanaan dari kebebasan itu hanya untuk memuaskan hawa nafsunya dan bertentangan dengan sifat kesucian Allah Tritunggal (Yes. 6:3). Jadi, secara alami, kehendak manusia itu  tidak hanya miskin dari semua nilai rohani, namun di setiap ucapan dan tindakannya  memperparah kutukan di mana semua manusia dilahirkan (Yohanes 3:18). Semua orang yang ada di dalam sifat Adam, mereka setiap saat secara alami adalah  pembenci Allah (Mzm. 81:15, Yohanes 15:18,25; Rm. 1:30, dll.) Allah tidak memaksa umat-Nya datang kepada-Nya dan bertentangan dengan kehendak alami mereka, tetapi Allah dalam kasih dan rahmat-Nya yang berdaulat memberikan orang itu sifat baru, dan semua  yang Bapa berikan kepada Anak dalam perjanjian pemilihan yang tak bersyarat dengan sukacita akan datang kepada Anak ( Tuhan Yesus)  dengan kekuatan Allah (Mzm. 110:3; Yer. 31:3, Yohanes 6:37, 44).

Manusia duniawi bebas untuk mengasihi Allah, tetapi ia tidak memiliki kekuatan, atau bahkan keinginan untuk berada dekat dengan Allah, apalagi mencintai-Nya, karena  nature-nya adalah  seorang pembenci Allah. Paulus, berbicara tentang manusia duniawi, mengatakan: ” penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki… , pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan..” (Rm. 1:29,30). Orang Ethiopia bebas untuk mengubah model  garis-garis macan, tetapi karena ketidakmampuan makhluk, perubahan ini mustahil. Demikian pula halnya dengan manusia duniawi. Dia bebas untuk menunda kebiasaannya melakukan kejahatan, tetapi ia tidak pernah memiliki sedikit keinginan untuk melakukannya (Yer. 13:23), karena  tanpa keraguan ia telah menyimpulkan bahwa Alkitab tidak lebih dari kumpulan mitos, dan bahwa Kekristenan adalah candu masyarakat. Kesimpulan yang  memberatkan jiwa ini terkait dengan sifat manusia yang telag jatuh, dan hanya dapat diputus oleh pedang Roh, yaitu firman Allah (Ef. 6:17).

Manusia yang sudah jatuh dalam dosa, baik kaya atau miskin, kuat atau lemah, terpelajar atau tidak terpelajar, adalah seorang egois. Webster telah mendefinisikan egoisme sebagai: ” doktrin etika di mana  semua tindakan dari individu akan sah jika untuk kebaikan individu itu sendiri.” Jadi, kosa kata manusia yang telah jatuh sebagian besar terdiri dari kata-kata, “Aku, milikku, saya, dan saya”. Tetapi Alkitab mengatakan: ” Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.” (Gal. 6:3). Rasul Paulus untuk sebagian besar hidupnya adalah egois dan keras kepala. Dia menganiaya para murid Kristus, baik laki-laki dan perempuan, dan dia mengatakan  “sangat marah terhadap mereka” (Kis 22:04; 26:11). Paulus, yang dibutakan oleh kebanggaan, tidak tahu bahwa Allah telah menyisihkan agama yang dicintainya, dan dengan semangat tinggi pergi menghancurkan setiap orang yang namanya bersangkut paut dengan nama Kristus. Sementara berada dalm  perjalanan untuk misi penganiayaannya, ia dihadapkan dengan suatu terang yang besar dari surga, dan  suara dari surga itu menggempaskan egonya. Suara dari surga itu membuat ia jatuh ke tanah di mana ia akan muncul sebagai salah satu  manusia yang paling tanpa pamrih dan terbesar  yang pernah hidup (Kisah 22:6-10). Namun, ia tahu bahwa di dalam dan dari dirinya sendiri, ia adalah orang yang celaka di hadapan Allah (Roma 7:24), dan ia juga mengakui sebagai” yang paling hina di antara segala orang kudus.” (Ef. 3:8).

KESIMPULAN

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Mari kita tidak bingung dengan kemanusiaan, Arminianisme dan Humanisme.  Setiap orang harus mempunyai kemanusiaan dalam arti membantu yang tertindas, dan dalam setiap kesempatan  harus berebut untuk menjadi orang Samaria yang baik. Kristus adalah yang terbesar dalam hal  kemanusiaan, tetapi Ia bukan humanis, Ia juga tidak mengajarkan bahwa keselamatan jiwa itu merupakan hak prerogatif dari kehendak manusia yang sudah jatuh. Mari kita ikuti Tuhan Yesus sebagai Teladan yang Agung, dan dalam hal berbuat baik, tetapi pada saat yang sama  menyoroti kepalsuan dan hal yang memalukan dari Humanisme, serta  kemunafikan dari Arminianisme. Kekristenan yang sejati sedang dihadapan dengan tipuan yang jahat dari pikiran yang dapat merusak jiwa. Kita dihadapkan dengan markas sosial-agama, yang merupakan penggabungan dari Arminianisme dan Humanisme, dan dalam hal  gereja Tuhan  dihadapkan dengan dosis ganda dari doktrin terkutuk. Keadaan nampaknya semakin suram, tidak ada ruang untuk berpuas diri di gereja-gereja Tuhan. Sebaliknya, mereka berkewajiban untuk meniup sangkakala kebenaran, dan melakukan segala yang mereka bisa untuk menghalangi laju gerakan dan perambahan anti-Kristus dalam  gereja-gereja yang sudah dibeli dengan darah Anak Domba. Pada zaman ini ambisi utama dari membanjirnya Humanisme dan Arminianisme adalah untuk menguasai dan menghancurkan gereja-gereja Tuhan. Tetapi seperti pada jaman pra-reformasi di mana para leluhur kita  berdiri  dan tidak gentar terhadap kebakaran,  pedang, kematian, dan siksaan lainnya dari sistem pelacur  Roma, gereja-gereja Tuhan pada masa ini juga akan melawan wabah  kanker spiritual ini sampai Tuhan Yang Maka Kuasa dan berbelas kasihan berbicara kepada mereka dari langit, mengatakan: “Naiklah ke mari.”

Ketika Kristus mengutus  jemaat-Nya ke segala bangsa, Ia telah menugaskan  untuk memberitakan Injil kasih karunia. Dia tahu bahwa para muri-Nya akan segera menghadapi tindakan yang brutal dari para Humanis Romawi dan  kemunafikan Yudaisme yang juga telah memakukan-Nya pada salib.  Begitu juga sekarang, Humanisme dan Arminianisme adalah musuh bebuyutan Injil Kristus, dan kita harus mempunyai sikap mental yang sama dengan para murid yang pertama. Jadi, untuk menghapus semua keraguan tentang kekekalan dan keabadian dari gereja yang telah dibeli dengan darah-Nya, Kristus menantang neraka ketika Dia berkata: “… Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. ( Matius 16:18). Setiap gereja yang tidak memiliki otoritas mutlak Allah atas manusia yang humanistik, tidak peduli apa nama denominasinya,  berada di bawah kutukan Allah (Why. 18:4-6). Jadi setiap orang yang sudah dimiliki oleh Kristus harus menemukan gereja yang memberitakan seluruh nasihat Allah, dimana  TIDAK ADA  ruang bagi Arminianisme atau Humanisme.

Ada banyak kesamaan antara Arminianisme dan Humanisme, untuk itu tidak masalah bagi kegelapan untuk berhubungan dengan kegelapan, tetapi tidak ada persekutuan antara terang dan kegelapan; tidak ada persekutuan antara kebenaran dan kelaliman, dan tidak ada kerukunan antara Kristus dan Iblis (2 Korintus 6:14-16).  Arminianisme menyangkal bahwa keselamatan adalah pekerjaan eksklusif dan berdaulat dari Allah, dan Humanisme telah menggantikan tempat Allah dengan cinta-diri dan kehendak diri. “KELUARLAH DARI ANTARA MEREKA,” demikianlah firman TUHAN.

Oleh: kristenberea | Oktober 10, 2012

“Calvinisme, Arminianisme, Apakah itu?”

“Calvinisme, Arminianisme, Apakah itu?”

Oleh Greg Gibson – JesusSaidFollowMe.org

 

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Anda seorang Kristen, tetapi teman Anda  tidak? Mengapa Anda menerima Kristus, tetapi teman Anda menolak Dia? Apakah Anda mendengar dari penginjil yang lebih baik? Atau, apakah Anda lebih pintar dari teman Anda? Atau, apakah Tuhan membuat Anda berbeda? (Dan, bagaimana Calvinisme dan Arminianisme membantu Anda memahami jawabannya?)

Di dalam  masing-masing   kolom di bawah ini, ada beberapa ayat.  Ayat yang benar ada  di sebelah kiri, atau yang di sebelah kanan?  Karena Alkitab adalah benar  (” tidak mungkin-salah,”) kita harus dapat  menafsirkan kedua kelompok ayat-ayat yang “tampaknya bertentangan”. Bagaimana kita menyelaraskan kedua kelompok ayat sehingga mereka berdua benar pada waktu yang sama?

Apakah orang berdosa dapat atau Tidak dapat Datang kepada Kristus?

Tanggung Jawab Manusia untuk Datang kepada Kristus

1.  “pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah “.

(Yosua 24:15)

2. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. “

(Matius 11:28)

3. Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.

(Yoh. 07:17)

4.  “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!”

(Yoh. 07:37)

5. Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis ” (Kis 2:38)

6. “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan

     (Kis 3:19)

7. Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan kamu akan diselamatkan “

(Kis 16:31)

8. “maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.”

(Kis 17:30)

9. “Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma”

(Wahyu 22:17)

Ketidakmampuan manusia untuk Datang kepada Kristus

  1. ” Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? (tidak!) Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?

1.(Yer. 13:23)

  1. ” Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati”(Matius 12:34)
  2. ” Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. “(Matius 7:18)
  1.  “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

4.” (Matius 19:25-26)

  1. ” jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”” (Yoh. 3:3)

6. ” Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Ak Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku”(Yoh. 06:44)

7. ” Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

(Yoh. 6:65)

8. ” Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku”. “(Yoh. 08:43)

9. ” Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga:  “Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.”

( Yoh. 12:39-40)

10. ” Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Rm. 5:6)

11. ” Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. (Roma 8:07)

12. ” Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Rm. 8:08)

13. “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani “

(1 Kor. 2:14)

Di sebelah kiri, adalah 9 ayat yang mengundang atau memerintahkan orang-orang berdosa untuk bertobat, percaya, dan datang kepada Kristus. Ayat-ayat ini membuat orang-orang berdosa bertanggung jawab untuk datang kepada Kristus. Perhatikan, jumlah ayat yang jelas –jelas menyatakan orang-orang berdosa  dapat datang kepada Kristus adalah 0 atau tidak ada sama sekali.

Di sebelah kanan, ada 13 ayat yang jelas-jelas menyatakan orang-orang berdosa tidak dapat datang kepada Kristus. (Selain itu, di  Alkitab ada  tiga  ayat yang jelas menunjukkan ketidakmampuan orang Kristen untuk melakukan sesuatu bagi Kristus tanpa kuasa-Nya: Yoh. 15:5, 1 Kor ; 12:3,  Ibr. 11:6. Jika orang Kristen tidak dapat melakukan apa pun tanpa kuasa Allah, maka berapa banyak orang berdosa yang belum lahir baru dapat melakukannya?)

Ayat-ayat mana yang benar? Ayat-ayat di sebelah kiri yang menyatakan orang berdosa harus datang kepada Kristus, atau ayat-ayat yang menyatakan tentang orang-orang berdosa yang tidak dapat datang kepada Kristus? Karena Firman Tuhan tidak mungkin-salah, mereka semua adalah benar. Lalu, bagaimana kita menyelaraskan kedua pasang ayat-ayat yang “tampaknya bertentangan” sehingga mereka sama-sama benar pada waktu yang sama?

Tiga Pandangan berbeda tentang Tanggung Jawab manusia Vs

 Ketidakmampuan untuk Percaya

Ada tiga pandangan  populer untuk mencoba  menafsirkan ayat-ayat di atas: Arminianisme, Hyper-Calvinisme, dan Calvinisme. Dari ketiganya, Arminianisme dan Hyper-Calvinisme adalah dua pandangan yang  ekstrem da Calvinisme adalah pandangan tengah.

1. Kemampuan Manusia vs Tanpa Interpretasi (Beberapa Arminians)

Banyak Arminians menafsirkan ayat-ayat di sebelah kiri berlabel “ Kemampuan Respon Manusia” dengan mengorbankan ayat-ayat di kanan berlabel “Ketidakmampuan Manusia.” Sebagian besar tidak memiliki interpretasi terhadap  13 ayat yang secara eksplisit menyatakan orang berdosa tidak bisa, atau tidak dapat datang kepada Kristus. Mereka menafsirkan bahwa ayat-ayat disebelah kiri berbicara tentang tanggung jawab manusia dimana manusia seolah-olah mempunyai kemampuan untuk dapat datang kepada Kristus.

Berikut ini kekeliruan logika / cara berpikir mereka:

Kesalahan Logika Beberapa ArminiansPremise pertama :

Allah memerintahkan orang-orang berdosa untuk bertobat, percaya & datang kepada Kristus.

Premise kedua   :

Allah tidak akan memerintah apa yang  tidak dapat kita lakukan.

Kesimpulan          :

Oleh karena itu, orang berdosa dapat bertobat, percaya dan datang kepada Kristus.

Tidak ada bukti Alkitabiah untuk  premis kedua.  Dengan asumsi apa   untuk membuktikannya? Dan lagi, jika kita bisa menemukan hanya satu contoh dalam Alkitab di mana Allah memerintahkan sesuatu yang kita tidak dapat / mampu melakukannya, maka sudah cukup untuk menyangkal asumsi tersebut!

6 Contoh Dimana Tuhan Memerintahkan yang Mustahil

Di bawah ini, adalah 6 contoh di mana Allah memerintahkan manusia untuk melakukan sesuatu dimana mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Dalam 4 ayat pertama, Allah memerintahkan mayat  ( secara fisik) untuk hidup. Jelas bahwa mereka tidak mempunyai keinginan atau kemampuan untuk merespon, sampai Allah  memberi mereka hidup baru, dengan keinginan baru dan kemampuan untuk dapat merespon. (Demikian juga, kita akan lihat nanti bahwa Dia memerintah orang-orang yang mari secara rohani  untuk hidup, kemudian memberikan mereka hidup baru (kelahiran kembali), keinginan, dan kemampuan.)

1. “Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN“!”(Yehezkiel 37:4 )

Perhatikan, tulang-tulang mati tidak memiliki kemampuan untuk mendengar firman Tuhan., sebelum mereka memiliki kemampuan untuk mendengar firman Tuhan, pertama-tama Allah harus memberi mereka kerangka kehidupan.

2. “Sambil menghampiri usungan (keranda) itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk. 7:14 )

Orang yang  mati tidak bisa mendengar, sampai Kristus  memberi kuasa ajaib-Nya kepadanya.

3. “Anakmu sudah mati … Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangunlah! ” (Luk. 8:49-55)

Gadis mati tidak memiliki kekuatan untuk bangun sampai Kristus memberikan kekuatan kepada-nya.

4. “Lazarus, marilah ke luar “! (Yoh. 11:43,)

Lazarus yang sudah mati itu tidak memiliki kemampuan untuk bangkit dan berjalan keluar.  Pertama-tama Allah harus membuat dia hidup sebelum dia memiliki kemampuan untuk berjalan keluar dari kuburan.

5. “Karena itu haruslah kamu sempurna (utuh, tak bercacat) sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.. ” (Matius 5:48)

6. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (Markus 12:30)

Sama seperti  mukjizat supernatural diperlukan untuk membangkitkan kematian  fisik sebelum mereka bisa menjawab panggilan Tuhan, demikian juga diperlukan keajaiban supernatural untuk membangkitkan(kelahiran kembali) kematian  rohani sebelum mereka bisa merespons.

Sama seperti  mukjizat supernatural diperlukan untuk membangkitkan kematian  fisik sebelum mereka bisa menjawab panggilan Tuhan, demikian jiga diperlukan keajaiban supernatural untuk membangkitkan (kelahiran kembali) kematian  rohani sebelum mereka bisa merespons.

 2. Tidak Interpretasi vs Ketidakmampuan Manusia (Beberapa Hyper-Calvinis)

Banyak Hyper-Calvinis menafsirkan ayat-ayat di sebelah kanan yang berlabel “Ketidakmampuan Manusia” dengan mengorbankan ayat-ayat di sebelah kiri yang berlabel “Kemampuan Manusia.” Mereka tidak memerintahkan atau mengundang semua orang untuk bertobat, percaya, dan datang kepada Kristus. Mereka tidak mewartakan Injil kepada semua orang berdosa. Mereka memberitakan Injil secara selektif hanya kepada mereka yang menurutnya adalah orang-orang terpilih.

Kesalahan Logika Hyper – Calvinis Premise pertama :

Orang yang berdosa tidak dapat bertobat, percaya dan datang kepada Kristus.

 Premise Kedua    :

Allah tidak akan memerintah apa yang  tidak dapat kita lakukan.

Kesimpulan         :

Oleh karena itu, jangan minta orang-orang berdosa untuk bertobat, percaya dan datang kepada Kristus.

Perhatikan, Hyper-Calvinisme dan Arminianisme berbagi asumsi premis  yang sama persis: ” Allah tidak akan memerintah apa yang  tidak dapat kita lakukan.” Arminianisme dan Hyper-Calvinisme  meninggikan alasan / pikiran manusia di atas wahyu Ilahi. Mereka sama-sama jatuh pada humanisme-rasionalisme.

3. Ketidakmampuan vs Tanggung Jawab Manusia Manusia (Calvinisme)

Orang berdosa bertanggung jawab untuk bertobat, percaya, dan datang kepada Kristus. Namun, pada saat yang sama, mereka tidak dapat bertobat, percaya, dan datang kepada Kristus. Ini adalah satu-satunya solusi yang dapat menyelaraskan kedua kelompok ayat-ayat yang  “tampaknya bertentangan”  sebagai benar secara bersamaan.

(Jika bagi Anda tampaknya tidak adil  bahwa Allah meminta pemberontak untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka tidak dapat lakukan, maka silakan ingat satu saja yaitu apakah  keselamatan  pantas untuk orang berdosa? Benar. Keadilan Allah akan memyebabkan semua manusia ada di neraka karena dosa, bukan? Jadi, jika Allah memutuskan untuk memberikan kepada beberapa manusia keinginan dan kemampuan untuk datang kepada Kristus, maka itulah kasih karunia yang tidak layak!)

Tapi, mengapa Allah kemudian melakukan perintah dan mengundang orang-orang berdosa untuk percaya, jika mereka tidak mampu? Mungkin, Dia menggunakan perintah / undangan untuk datang kepada Kristus, sebagai “cara terakhir.”

Dengan kata lain, mungkin Dia menggunakan perintah untuk bertobat, sebagai sarana untuk memberikan pertobatan. Dan, Dia menggunakan perintah untuk percaya, sebagai sarana untuk memberikan karunia iman. Dan, Dia menggunakan undangan untuk datang kepada Kristus, sebagai sarana untuk memberikan keinginan dan kemampuan untuk datang.

Gagasan bahwa Tuhan menggunakan perintah sebagai alat untuk mencapai tujuan juga ditunjukkan dalam bagaimana Dia menjaga kita dalam keselamatan. Karena, Dia benar-benar memperingatkan orang Kristen sejati dari hukuman kekal dalam Yoh. 15:02, 6; Rom. 11:20-22; 1 Kor. 9:25, 27; Rev 22:19, dll, dan pada saat yang sama, Dia menjanjikan kita keamanan yang kekal. Lalu bagaimana kita mendamaikan  dua kebenaran yang “tampaknya bertentangan” ini? Ini sederhana …

Dia menggunakan peringatan kehilangan keselamatan kita sebagai sarana untuk mempertahankan kita dalam keselamatan kekal yang dijanjikan-Nya. Peringatan-Nya tentang kehilangan keselamatan merupakan sarana yang digunakan agar kita tetap tekun sampai akhir.

Berikut adalah contoh yang jelas di mana Tuhan menggunakan peringatan sebagai sarana untuk mencapai tujuan memenuhi janji-Nya.

Keamanan janji-janji Ilahi:
”  tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa,  …” (Kis 27:22)
” semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau .. akan selamat “ (Kis 27:24)
” Tidak seorang pun .. akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.”(Kis 27:34)
Peringatan Tanggung Jawab Manusia:
“Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.”  (Kis 27:31)

Sekarang, bagaimanakah  mungkin  Allah memperingatkan para pelaut akan kehilangan nyawa mereka, dan pada saat yang sama Ia berjanji bahwa mereka tidak akan kehilangan nyawa mereka? Sederhana saja… Allah menggunakan peringatan akan  kematian dengan meminta mereka tetap di kapal dengan tujuan untuk menjaga mereka dari kematian.

Demikian pula, Dia menggunakan perintah untuk bertobat, sebagai sarana untuk memberikan pertobatan.  Dia menggunakan perintah untuk percaya, sebagai sarana untuk memberikan karunia iman. Dan, Dia menggunakan undangan untuk datang kepada Kristus, sebagai cara untuk menarik orang berdosa kepada Kristus. Untuk memahami bagaimana Allah menyelamatkan Anda, teruslah membaca …

 Ada dua pandangan populer tentang bagaimana Allah menyelamatkan orang berdosa:

1. Beberapa percaya bahwa semua orang berdosa dilahirkan dengan keinginan dan kemampuan untuk bekerja sama dengan Roh Kudus, dan menggunakan “kehendak bebas” mereka sendiri untuk memilih Kristus. (Arminianisme)

 2. Beberapa percaya bahwa karena kejatuhan, semua orang berdosa kehilangan keinginan dan kemampuan untuk datang kepada Kristus. Jadi, Allah dengan kasih memberikan  baik keinginan dan kemampuan kepada  beberapa orang berdosa untuk secara bebas (bukan paksaan) memilih Kristus.(Calvinisme)

Jadi, sebelum kita meneliti apa yang  telah Allah firmankan di  dalam Alkitab tentang siapa yang mendapatkan anugerah keselamatan, mari kita mempertimbangkan beberapa pemiikiran …

Pertanyaannya akan terselesaikan jika kita dapat menemukan satu saja ayat yang jelas menyatakan:

Orang berdosa dapat datang kepada Kristus. Atau

Orang-orang berdosa dapat datang kepada Kristus. Atau

adalah mungkin bagi orang berdosa untuk datang kepada Kristus.

Logika atau alasan manusia  tidak  pernah dapat  menjelaskan  pernyataan bahwa orang-orang berdosa mempunyai ‘ kemampuan untuk datang kepada Kristus.

Atau, pertanyaan tersebut terselesaikan jika kita dapat menemukan hanya satu ayat yang jelas menyatakan:

Orang yang berdosa tidak dapat datang kepada Kristus. Atau

Orang-orang berdosa tidak dapat datang kepada Kristus. Atau

Adalah mustahil bagi orang berdosa untuk datang kepada Kristus.

Sekali lagi, logika atau alasan manusia tidak pernah bisa menjelaskan pernyataan yang jelas bahwa orang-orang berdosa tidak mampu untuk datang kepada Kristus.

Kesalahan Doktrinal banyak disebabkan karena menekankan satu ayat dan mengabaikan banyak ayat yang lain

Kesalahan interpretasi ini umum dibuat oleh penganut sekte rahasia  Kristen. Saksi Yehuwa adalah contoh yang baik. Anda mengutip ayat tentang keilahian Kristus. Kemudian, mereka menjawab dengan mengatakan, “Tapi, bagaimana dengan ayat yang lain?” (Seolah-olah mereka membuat ayat ayat Anda palsu ). Bila Anda mendengar jawaban, “Tapi, bagaimana dengan ayat ini,” ini mungkin merupakan tanda menafsirkan Alkitab menurut dirinya sendiri.

Alih-alih mengharmonisasikan kedua ayat yang sama-sama benar, Saksi Yehuwa menafsirkan satu ayat dengan mengorbankan ayat yang lainnya. Akibatnya, satu ayat benar, sedangkan ayat lainnya adalah palsu, atau tidak diinterpretasikan sama sekali. Mereka menafsirkan Kitab Suci sebagai “baik / atau,”  atau sebagai “baik / dan.”

Jika Anda  memiliki interpretasi untuk ayat atau sekumpulan ayat-ayat yang tidak cocok dengan tafsiran ayat-ayat yang lain ( tidak bisa diharmoniskan), hal ini merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem teologi Anda. Ketika suatu ayat tidak dapat masuk ke sistem teologi  anda, saatnya untuk mempertimbangkan kembali sistem teologi yang Anda anut.

“Jika Anda tidak memiliki interpretasi untuk ayat atau sekumpulan ayat-ayat, maka ayat-ayat tersebut akan selalu salah ditafsirkan.

 Bagaimana dengan kehendak bebas?

Ungkapan “kehendak bebas” ditemukan di dalam Alkitab sebanyak 16 kali. Semuanya berarti “sukarela.” Lima belas diantaranya dipakai berkenaan dengan korban sukarela. Tidak satupun dari  keenambelas ayat tadi menyatakan “kehendak bebas” untuk mendapatkan keselamatan. Gagasan bahwa manusia memiliki “kehendak bebas” tidak tergantung dari pemerintahan Allah, mungkin  berasal darin filsafat kafir  Yunani.

“… Gagasan bahwa manusia memiliki ‘kehendak bebas’ tidak tergantung pada pemerintahan Allah, mungkin  berasal dari  filsafat kafir Yunani.”

Mereka yang menggunakan Frasa “Kehendak Bebas” Jarang mendefiniskannya.

“Kehendak bebas” adalah topik yang diterima oleh banyak orang, tapi hanya sedikit yang mendefinisikannya. Jika “kehendak bebas” didefinisikan sebagai kemampuan dan keinginan untuk  menerima Kristus , maka hal itu akan bertentangan dengan 13 ayat-ayat pada kolom kanan di atas. Tetapi, jika “kehendak bebas” didefinisikan sebagai kebebasan untuk membuat pilihan,” maka manusia memiliki “kehendak bebas.”

Kita memiliki kehendak bebas dalam arti kita bebas (secara sukarela) untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan dan kemampuan yang kita miliki. Tuhan akan mempengaruhi kita melalui keadaan, pikiran, dan kekuatan sehingga kita secara sukarela bersedia (mau) untuk melakukan kehendak-Nya. Mungkin kalimat yang lebih baik dari “kehendak bebas” adalah “kehendak sukarela.”

Anda mungkin akan terkejut menemukan fakta bahwa banyak orang Kristen Protestan mempercayai pandangan  tentang “kehendak bebas” milik Katolik khususnya dari Serikat Jesuit. Menurut Gereja Katolik orang-orang berdosa memiliki keinginan dan kemampuan untuk “mempersiapkan diri dan bekerja sama” dengan Roh Kudus untuk memperoleh keselamatan. Mereka tidak memahami bahwa sejak kejatuhan dalam dosa, manusia mati secara rohani, buta, dan tuli, tanpa keinginan atau kemampuan untuk memilih Kristus. Mereka tidak melihat perlunya Allah memberi kelahiran baru, iman, dan pertobatan, sebelum orang berdosa itu  bisa “berkehendak bebas” untuk memilih Kristus.

Banyak Orang Protestan Percaya Pandangan Katolik Roma –Jesuit tentang Kehendak Bebas.

(Konsili Trente Roma Katolik (1563), Sesi Keenam: Pembenaran)

Canon IV. Bila ada orang mengatakan bahwa kehendak bebas manusia, yang dipicu dan digerakkan oleh Allah, tidak menyetujui dan bekerja sama dengan kehendak Allah, selaku sang Pemicu dan Penggerak, agar dapat menyesuiakan dan mempersiapkan dirinya untuk pembenaran; bila selanjutnya ada orang yang menyatakan bahwa kehendak manusia itu tidak aktif, dan semata-mata pasif; maka terkutuklah orang demikian!

Canon V. Bila ada seseorang mengatakan  bahwa semenjak kejatuhan Adam, kehendak manusia itu menjadi terhilang dan padam; atau bahwa kehendak tersebut sekedar merupakan sebuah simbol, sebuah label, tanpa esensi, dan sebuah mitos yang diperkenalkan oleh Iblis kepada Gereja, maka terkutuklah orang demikian!

Sebenarnya, Anda mungkin sudah percaya bahwa  kehendak Tuhan mengatur / mengontrol kehendak manusia, tetapi Anda tidak tahu hal itu …

4 Contoh Bagaimana kehendak Tuhan mengatur kehendak manusia

1. Inspirasi Alkitab
2. Infalibilitas dari nubuatan Alkitab
3. Jaminan keselamatan kekal
4. Surga/  bumi baru

1. Inspirasi Alkitab: Apakah Anda percaya pada inspirasi dan ketidakmungkinsalahan Kitab Suci? Jika demikian, maka Anda percaya Tuhan mengatur pekerjaan para penulis Alkitab. Mereka tidak memiliki “kehendak bebas” untuk menulis kesalahan dalam Alkitab. Syukurlah, Tuhan terus menjaga kehendak mereka dari kesalahan.

” Segala tulisan  diilhamkan Allah ” (2 Tim. 3:16)

2. Kebenaran mutlak Nubuatan Alkitab: Apakah Anda percaya nubuat Alkitab tidak bisa salah? Jika demikian, maka Anda percaya Tuhan mengatur kehendak para nabi. Mereka tidak memiliki “kehendak bebas” untuk bernubuat yang salah. Allah mengilhami para nabi Perjanjian Lama untuk bernubuat secara akurat mengenai kedatangan Mesias. Selama proses inspirasi, Allah  mempengaruhi dan memerintah kehendak para nabi untuk menjaga mereka dari kesalahan:

” nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.  (2 Pet. 1: 20-21)

Itulah sebabnya ujian terhadap nabi yang benar vs nabi palsu adalah ketepatan nubuat mereka (Ul. 18:21-22.) Jika para  nabi  berkarya menurut kehendaknya sendiri, bebas dari kontrol Allah, maka mereka tidak  mungkin  mampu meramalkan kelahiran Kristus dari perawan, kota kelahiran-Nya, penderitaan dan kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kedatangan-Nya yang kedua kali, dll.

3. Keamanan Kekal: Apakah Anda percaya pada “keamanan kekal?” Jika demikian, maka Anda percaya bahwa Allah mengatur kehendak orang percaya. Kebanyakan orang Kristen setuju bahwa mereka tidak dapat meningglkan Kristus sampai akhirnya. Orang Kristen tidak memiliki “kehendak bebas” untuk menjadi atheis atau penyembah setan. Syukurlah, Tuhan mempengaruhi kehendak kita untuk menjaga agar kita dapat percaya dan tekun di  dalam Dia sampai akhir.

” Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. ” (Yehezkiel 36:26-27)

” karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya ” (Filipi 2:13)

4. Surga / Bumi Baru: Akhirnya, bahkan jika Anda tidak percaya tentang keamanan kekal di  dalam hidup ini, Anda kemungkinan besar percaya bahwa orang Kristen nantinya tidak dapat meninggalkan surga atau bumi baru. Jika demikian, maka Anda percaya Allah mengatur/ mengontrol kehendak umat-Nya.  Di surga tak seorang pun bebas untuk pergi dan memilih ke neraka. Allah akan membuat mereka rela di surga selamanya.

Jadi, jika Anda percaya pada ketidakmungkinsalahan Alkitab, infalibilitas kenabian, atau keamanan kekal, maka anda sudah percaya bahwa manusia tidak memiliki 100% “kehendak bebas.” Kehendak Allah  mengatur/mengontrol berdaulat atas kehendak kita. Dan, aku senang Dia melakukannya pada diriku, bagaimanakah dengan Anda?

“Jadi, jika Anda percaya pada ketidakmungkinsalahan Alkitab, infalibilitas kenabian, atau keamanan abadi, maka anda sudah percaya bahwa manusia tidak memiliki 100% “kehendak bebas.” Kehendak Allah  mengatur/mengontrol berdaulat atas kehendak kita”

 23 Pertanyaan Untuk Calvinisme vs Arminianisme

Di bawah ini, Anda akan melihat 23 pertanyaan sederhana yang dirancang untuk membantu Anda memahami apa yang telah Allah firmankan di  dalam Alkitab tentang bagaimana kita datang kepada Kristus. Beberapa ayat secara eksplisit menjawab pertanyaan-pertanyaan, sementara yang lain menawarkan prinsip implisit untuk Anda pertimbangkan.

Memang, beberapa  jawaban mungkin tidak lengkap.(Anda dapat melengkapinya dengan sebelumnya  menambahkan di setiap jawaban frase, “menurut ayat ini…. ) Namun, secara keseluruhan, ayat-ayat ini merupakan saksi yang kuat tentang kedaulatan Allah atas keselamatan kita.

Semua orang Kristen percaya bahwa manusia membuat pilihan. Masalahnya adalah bagaimana kita memilih Kristus – oleh faktor yang ada di dalam diri kita yaitu  kemampuan diri dan keinginan, atau faktor dari luar diri kita yaitu  kemampuan dan keinginan yang diberikan oleh Tuhan? Dan, jika Allah memberikan kemampuan dan keinginan-Nya kepada kita, bisakah kita menolak,  ataukah Allah yang menang ?

1. Apakah kehendak Anda bebas dari kontrol setan, ya atau tidak?

” Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, … (Luk. 13:16)

” terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya”

 (2Tim. 2:26)

2. Apakah kehendak Anda  bebas dari kontrol dosa, ya atau tidak?

” Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri “. (Amsal. 5:22)

“Barangsipa  yang berbuat dosa adalah hamba dosa ” (Yoh. 8:34)

” sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.” (Kis 8:23)

” memang kamu hamba dosa  (Roma 6:17)

” Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci (Tit. 3:3)

” Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, “. (2 Pet. 2:19)

3. Apakah Allah berdaulat & memegang kendali atas kehendak manusia termasuk kehendak Anda, tidak atau ya?

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kej. 50:20)

” Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi”  (Kel.  4:21)

“TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.”  (Kel. 12:36)

Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku “ (Keluaran 14:17)

” Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu. “(Ul. 2:30)

Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras” (Yosua 11:20)

” maka Allah membangkitkan semangat jahat di antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga warga kota Sikhem itu menjadi tidak setia kepada Abimelekh” (Hakim-Hakim. 9:23)

 Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.”.  (2 Sam. 24:1)

” Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini”  (1 Raja-raja 22:23)

Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh,” (Ezra 1:1-3)

“Tuhan Ia telah memalingkan hati raja negeri Asyur kepada mereka,“(Ezra 6:22)

” diubah-Nya hati mereka untuk membenci umat-Nya, untuk memperdayakan hamba-hamba-Nya. (Mazmur 105:25)

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya”. (Amsal 16:9)

” Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini”. (Amsal 21:1)

“Celakalah Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang menjadi tongkat amarah-Ku! Aku akan menyuruhnya …. Aku akan memerintahkannya… tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa “(Yesaya. 10:5-7)

” TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”  (Yes. 14:27)

” Akulah yang berkata tentang Koresh: Dia gembala-Ku; segala kehendak-Ku akan digenapinya .. (Yes. 44:28)

” Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian. (Yer. 32:39)

” Aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku”. (Yer. 32:40)

” Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.  Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” (Yehezkiel 36:26-27)

” karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat? (Dan 4:34-35)

” Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu (Kis 4: 27-28)

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah “ (Rm. 8:28)

” “Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?” (Roma 9:19)

” Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.“. (1 Kor. 12:11)

” karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. “ (Filipi 2:13)

” “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu..” (Yak. 4:15)

” Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi. “ (Wahyu 17:17)

Apakah Tuhan mengongtrol segala sesuatu, dan berdaulat atas segala sesuatu?

Wow! Dapatkah Allah membuat yang lebih jelas lagi bahwa Dia menguasai dan berdaulat atas kehendak kita? Apa yang kami katakan adalah: Allah yang memegang kendali dalam segala hal, termasuk keselamatan manusia. Dia berdaulat atas segala sesuatu, termasuk dalam hal keselamatan. Kebanyakan orang Kristen mengakui bahwsa  Allah mengontrol segala sesuatu hanya dalam pengertian umum dan samar-samar. Tapi, Dia memberitahu kita bahwa  Dia mengendalikan setiap detail yang ada di alam semesta, bahkan keputusan Anda, dan jumlah rambut di kepala Anda.

Akibat Kejatuhan, Apakah Adam & keturunannya yang terhilang
mempunyai Keinginan dan Kemampuan untuk datang kepada Kristus?

4. Setelah Adam dan Hawa berdosa, mereka mencari Tuhan, atau bersembunyi dari-Nya?

” Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah “(Kejadian 3:8)

5. Apakah Adam yang memulai kontak dengan Tuhan, atau apakah Tuhan yang memulai kontak dengan Adam?

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau? “?” (Kejadian 3:9)

 6. Sebagai orang  yang jatuh dalam dosa, Anda hanya sakit rohani, atau mati secara rohani?

” sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati(Kejadian 2:17)

” Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.. sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -”(Ef. 2:1, 5)

“Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranm …. telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia “(Kolose 2:13)

Orang yang mati secara rohani tidak bisa membangkitkan / menghidupkan dirinya sendiri. Mereka harus dibangkitkan oleh Allah.

7. Bisakah Anda melihat (secara rohani) Injil, atau Anda  buta secara rohani?

Tetapi sampai sekarang ini TUHAN tidak memberi kamu akal budi untuk mengerti atau mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar  (Ul. 29:4)

Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” (Mat 13:13-15)

” supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?”Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga:

 “Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka. “” (Yoh. 12:38-40)

” untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, “(Kis 26:18)

” Tidak ada seorang pun yang berakal budi, (Roma 3:11)

” Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul “. (2 Kor. 3:14)

” Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. (2 Kor. 4:3-4)

Orang buta tidak dapat melihat, sampai Allah memberi mereka penglihatan.

8. Bisakah Anda mendengar (secara rohani) Injil rohani, atau Anda tuli secara rohani?

” Tetapi sampai sekarang ini TUHAN tidak memberi kamu akal budi untuk mengerti atau mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar  (Ul. 29:4)

“Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka “ (Mat 13:13-15)

9. Ketika Anda masih mati secara rohani, buta, & tuli, apakah Anda menginginkan dan mencari Tuhan, ya atau tidak?

” Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata“.(Kejadian 6:5)

” manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. “ (Yoh. 3:19)

” barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu,  (Yoh. 3:20)

“Pembenci Allah” (Roma 1:30)

“, tidak ada seorang pun yang mencari Allah“. (Roma 3:11)

“”Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.” (Rm. 10:20)

10. Apakah mereka yang bukan domba karena  tidak percaya, atau mereka tidak percaya oleh karena mereka bukan domba?

“tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku”.(Yoh. 10:26)

11. Ketika Anda masih mati secara rohani, tuli & buta, apakah Anda dilahirkan kembali oleh kehendak Anda, atau kehendak Allah?

” orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan (kehendak) seorang laki-laki, melainkan dari Allah (Yoh. 1:13)

” Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” (Rm. 9:16)

” Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita  (melahirbarukan kita) oleh firman kebenaran “(Yak. 1:18)

Berapa banyak bagian dari kehendak Anda di dalam proses pembuahan Anda sendiri secara fisik?  Tidak ada! Orangtua Anda mengandung Anda dengan kehendak mereka sendiri. Seperti halnya dengan kelahiran fisik, demikian juga dalam kelahiran rohani. Anda tidak meminta untuk dilahirkan secara rohani. Bapa-lah yang melahirbarukan Anda.

Lalu, muncul pertanyaan, “Jika orang berdosa yang  mati, tuli, dan buta tidak dapat datang kepada Kristus, lalu bagaimana mereka datang kepada Kristus?” Apakah Tuhan memberikan kelahiran baru karena mereka percaya, atau supaya mereka dapat percaya? Dengan kata lain, apakah iman yang  menyebabkan kelahiran baru, atau kelahiran baru yang  menyebabkan adanya iman?

Untuk percaya bahwa orang yang sudah  jatuh dalam dosa, mati, tuli,  buta bertobat dan percaya untuk dilahirkan kembali adalah seperti mendapatkan kereta sebelum ada kuda. Logikanya,  mereka pasti dilahirkan kembali secara rohani, sebelum mereka bisa bertobat dan percaya di dalam Kristus.

Nah, pertanyaan manakah yang lebih dahulu, iman atau kelahiran baru,  adalah tidak relevan – karena Allah tidak hanya memberikan kelahiran baru, tetapi juga iman dan pertobatan, sehingga Dia mendapatkan semua pujian dan kemuliaan, seperti yang akan Anda lihat di bawah …

12. Apakah Allah menentukan pengangkatan Anda sebagai anak-Nya dan menjadi ahli waris kerjaan sorga  sesuai dengan kehendak Anda, atau kehendak-Nya?

 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan ….  Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya  (Ef. 1:4-5)

” kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya - (Ef. 1:11)

13. Apakah Tuhan memilih Anda karena Anda akan percaya, atau sehingga Anda dapat percaya?

” sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai  (2Tes. 2:13)

14. pilihan siapa yang membuat perbedaan yang pokok / utama, pilihan para rasul atau pilihan Allah?

” Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah“(Yoh. 15:16)

 

15. Yang akan menjadikan Paulus seorang rasul, apakah kehendaknya sendiri, atau kehendak Allah?

“Paulus, yang dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah “ (1 Kor. 1:1)

 16. Apakah Allah memanggil Anda sesuai dengan rencana (kehendak) Anda,  atau rencana-Nya?

” Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara “(Roma 8:28-29)

” Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman “(2 Tim. 1:9)

17. Siapa yang membuka hati Anda, Anda atau Tuhan?

” Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci “. (Luk. 24:45)

Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus“(Kis 16:14)

 18. Berapa banyak orang yang terhilang dipanggil / ditarik oleh Allah, semua atau hanya beberapa?

tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. (Matius 11:27)

” Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku  (Yoh. 6:44)

” Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. “(Roma 8:30)

19. Berapa banyak dari orang-orang yang  dipanggil / ditarik Allah akan menanggapi-Nya, beberapa atau semua?

”  semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. “ (Kis 13:48)

dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya“(Roma 8:30)

” mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.(Roma 11:28-29)

20. Siapa yang yang menyebabkan Anda bertobat, Anda sediri atau Tuhan?

” Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. (Kis 5: 31)

“”Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (Kis 11:18)

” sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran”(2 Tim. 2:25-26)

21. Siapa yang yang menyebabkan Anda mempunyai iman, Anda atau Tuhan?

“… , orang-orang yang percaya oleh anugerah Allah.. (Kis 18:27 TBR )

” karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”(Ef. 2:8)

” Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia… “ (Filipi 1:29)

Allah telah memilih kamu dari mulanya untuk diselamatkan… oleh Roh yang menyucikan kamu dan oleh imanmu di dalam kebenaran (2Tes. 2:13 TBR)

” Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang“(Yak. 1:17)

” Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan(Ibrani 12:2)

” mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. “(2 Pet. 1:1)

 22. Siapa yang membuat perbedaan dalam keputusan Anda untuk  Kristus, penginjil atau Allah?

” Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” (1 Kor. 3:6-7)

23. Siapa yang membuat perbedaan dalam keputusan Anda untuk Kristus, Anda atau Tuhan?

” supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, …. Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan’” (1 Kor. 1:29-31)

 Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya.? (1 Kor 4:7)

” Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang (1 Kor. 15:10)

“Sebab oleh  karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, dan itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri “. (Ef. 2:8-9)

 Jika Anda membuat perbedaan dalam keputusan Anda untuk Kristus, maka Anda akan memiliki alasan untuk bermegah, bukan? Banyak yang memberikan Tuhan  99%  untuk keselamatan, dan untuk diri mereka sendiri 1%  ( yaitu keputusan mereka.) Apakah Anda memberikan SEMUA kemuliaan kepada Allah?

Manusia memberikan dosa,
Tetapi Tuhan memberikan Keselamatan

Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, keturunan mereka mati secara rohani, tuli, dan buta. Dan mereka secara bebas dan sukarela memilih dosa daripada Allah. Jadi, Alkitab selalu membuat orang  bertanggung jawab atas dosanya. Tuhan tidak pernah bertanggung jawab untuk dosa manusia.

Namun, sejak  kejatuhan Adam dan Hawa, Allah (dengan anugerah-Nya) memulai berhubungan dengan beberapa orang berdosa. Dia membuat  mereka lahir baru, memberikan  keinginan dan kemampuan yang baru untuk secara bebas dan sukarela memilih Allah. Jadi,  Alkitab  menyatakan bahwa Allah selalu memberikan anugerah keselamatan. Manusia tidak pernah mendapat anugerah setelah berusaha mencapai keselamatannya.

Anugerah yang tidak layak kita terima

Pujilah Dia, yang telah memilih beberapa orang untuk diselamatkan berdasarkan karena kasih karunia-Nya tidak pantas kita terima. Berdasarkan keadilan-Nya, Allah  bisa saja memilih tidak menyelamatkan seorangpun. Itulah yang Dia lakukan untuk malaikat yang telah jatuh. Mereka tidak memiliki rencana keselamatan Allah, tidak ada kesempatan untuk mendengar Injil dan diselamatkan. Mereka tidak pantas menerimanya, dan sebenarnya kita juga tidak pantas menerimanya!

Dia bisa saja  meninggalkan Adam dan Hawa dan semua  kita akan binasa di neraka. Dia tidak perlu merancang rencana keselamatan. Dia tidak berutang keselamatan kepada siapa pun. Dia bebas memilih untuk menebus orang-orang untuk diri-Nya, untuk memuji rahmat-Nya yang mulia.

Jadi, yang membuat perbedaan dalam hal  Anda menjadi seorang percaya: Penginjil, Anda, atau Allah? Siapa yang bisa mendapatkan pujian dan kemuliaan untuk keputusan Anda untuk menerina Kristus: Penginjil, Anda, atau Allah? Allah-lah yang  membuat perbedaan! Ya, Allah mendapat semua pujian dan semua kemuliaan untuk keselamatan kita!

Saudaraku, jika Dia telah memberi Anda karunia-karunia hidup baru, pertobatan, dan iman, maka sekarang ini tidakkah Anda dengan rendah hati akan tunduk, mengucapkan terima kasih kepada-Nya, dan menyembah Dia!

Jadi sekarang, siapakah yang membuat perbedaan dalam keselamatan Anda?

1. Jika Penginjil yang  membuat perbedaan dalam keselamatan seseorang:

Jika Anda adalah penginjil yang tidak sempurna, ada sedikit harapan Tuhan dapat memakai  Anda. Sebab, jika respon orang berdosa tergantung pada kejelasan dan pendekatan Penginjil dalam menyampaikan berita Injil, maka kita harus berputus asa dari usaha membuat orang menjadi orang percaya. Karena Penginjil yang paling persuasif, logis, dan jelas dalam mengabarkan Injil-pun sering ditolak. Hal ini dapat membuat kita sangat frustasi karena selalu ditolak ketika mengabarkan Injil.

2. Jika si pendengar membuat perbedaan dalam keselamatannya:

Jika Anda menyaksikan orang berdosa yang sangat keras hati, ada sedikit harapan Allah dapat menyelamatkan mereka. Sebab, jika respon orang-orang berdosa tergantung pada kepentingan, kecerdasan, moralitas, keinginan atau kemampuan mereka, maka kita pasti akan  berputus asa menantikan mereka berubah menjadi orang percaya.

Hati orang berdosa begitu mengeras oleh dosa yang ditunjukkan dengan penolakan kebenaran di dalam Kristus. Sering kali, hati mereka mengeras oleh agama palsu, kebanggaan, keserakahan, percabulan, atau beberapa dosa rahasia lainnya. Beberapa bahkan secara terbuka mengkritik Injil dan menolak Allah.

Orang-orang kafir menolak Kristus bukan hanya karena mereka tidak yakin Injil adalah benar. Jika mereka mencoba untuk mengklaim sikap skeptis mereka, sering kali hanya sebagai alasan untuk membenarkan dosa mereka. Mereka menolak Kristus karena mereka mencintai dosa dan membenci Allah. (dan, jika orang-orang kafir membuat perbedaan dalam keselamatan mereka sendiri, lalu bagaimana jika iman mereka tidak sempurna?)

3. Jika Tuhan yang  membuat perbedaan dalam keselamatan seseorang:

Kemudian ya, masih ada harapan Allah  dapat menggunakan bahkan penginjil  yang tidak sempurna, seperti Anda. Dan ya, masih ada harapan bahkan  bagi orang-orang berdosa yang terburuk. Bahkan Allah dengan kuasa-Nya dapat mengubah penyembah berhala yang keras hati seperti Raja Manasye. Dia juga bisa mengubah   penganiaya jemaat seperti Saul. Jika Allah yang  membuat perbedaan, maka dengan percaya diri kita dapat menginjili dalam kuasa-Nya untuk mengubah orang berdosa.

Menjadi saksi dengan percaya pada kuasa Allah

untuk menyelamatkan orang berdosa

Jadi, kita dapat bersaksi dengan percaya diri dalam kuasa Tuhan untuk mengubah orang-orang berdosa karena Dia-lah yang membuat perbedaan – tidak peduli seberapa keras hati para pendengar, dan tidak peduli bagaimana terampilnya  Anda dalam bersaksi. Sekarang, apakah  Anda mengerti Calvinisme, Arminianisme, lalu apa?

Sekarang, pergilah dan membawa kabar baik tentang Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan, untuk semua bangsa. Jadikanlah mereka murid, baptislah mereka, dan ajarlah mereka. Sesungguhnya Dia akan selalu menyertai Anda sampai akhir zaman.

Bagaiama pandangan Anda tentang siapa yang membuat perbedaan dalam hal Anda diselamatkan, dan bagaima hal itu akan mempengaruhi sikap hidup Anda?

Apa yang Anda percaya tentang siapa yang membuat Anda diselamatkan akan mempengaruhi bagaimana Anda akan bersikap terhadap Injil, dan juga akan mempengaruhi hidup Anda …

  • Kerendahan hati?

Apakah Anda pernah bergumul dengan godaan akan  kebanggaan diri, memandang rendah orang-orang berdosa, tidak memiliki belas kasihan kepada mereka? Apakah Anda pernah merasa lebih baik dari mereka, karena Anda lebih bermoral atau lebih pintar dari mereka sehingga Anda dapat memilih Kristus dan mereka tidak?

  • Ucapan Syukur?

Apakah Anda kehilangan ucapan syukur yang segar kepada Tuhan atas keajaiban-Nya dalam menyelamatkan Anda?

  • Ibadah?
    Sejauh manakah hati Anda dipenuhi dengan hormat, heran, dan kasih kepada Tuhan atas “keselamatan yang begitu besar” yang ada di dalam diri Anda?
Oleh: kristenberea | September 19, 2009

Mengapa keselamatan tidak bisa hilang?

Keselamatan bisa hilang atau tidak telah menjadi perdebatan yang sengit diantara orang-orang Kristen terutama mereka yang menganut Armenianisme dan Calvinisme. Mereka yang percaya  keselamatan dapat hilang pada umumnya mendasarkan pada keyakinan bahwa keselamatan didapat manusia karena kerjasama antara manusia dengan Allah. Allah yang menawarkan keselamatan dan manusia menerima tawaran keselamatan itu dengan iman. Nah, karena dalam perjalanan hidupnya setelah percaya manusia masih mungkin jatuh di dalam dosa, maka keselamatan itu bisa hilang sekalipun Roh Kudus selalu menyertai orang percaya itu. Jadi jelaslah bahwa orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan bisa hilang  adalah mereka yang percaya bahwa keselamatan manusia itu tergantung pada manusia itu sendiri bukannya pada Allah.

Nah, sekarang marilah kita pelajari apakah keselamatan itu tergantung sepenuhnya pada manusia atau secara mutlak tergantung pada Allah.

1. Keselamatan seseorang sudah direncanakan oleh Allah sebelum dunia dijadikan dan Allah yang berdaulat mutlak akan melaksanakan rencana-Nya secara sempurna dan tidak mungkin gagal.

Dari Efesus 1: 3 – 23 kita dapat belajar bahwa:

1) Berdasarkan kerelaan kehendak-Nya semata Allah memilih dan menentukan kita untuk menjadi anak-anak-Nya sebelum dunia dijadikan. Jadi keselamatan kita tidak tergantung pada kehendak dan perbuatan kita tetapi sepenuhnya tergantung pada kasih karunia Allah.

Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia. (Roma 11:6  ), dan

Dan  kasih karunia yang Allah berikan kepada kita tidak akan berubah, kasih karunia itu akan tetap menjadi milik kita sampai selama-lamanya. Tidak ada sesuatu apapun yang memisahkan kita dari kasih karunia Allah ini. (Roma 8: 35-39)

Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. ( Roma 11:29)

2. Allah tidak hanya merencanakan keselamatan kita, tetapi juga yang mewujudkan rencana-Nya itu dan memeliharanya.

Menurut keputusan kehendak-Nya, kita mendapat penebusan dan pengampunan dosa, dapat mendengar Injil keselamatan, dan dimateraikan dengan Roh Kudus. Roh Kudus yang ada di dalam diri kita bukan hanya Penolong dan Penghibur, tetapi merupakan jaminan   bahwa kita akan memiliki seluruh proses keselamatan sehingga kita pada akhirnya benar-benar menjadi milik Allah.

Bagian ini paralel dengan pernyataan Rasul Paulus :

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan,mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Roma 8: 29-30)

Nah, kalau Allah yang bekerja di dalam diri kita untuk mewujudkan rencana-Nya, adakah yang dapat menghalangi-Nya? Adakah yang dapat menghentikan-Nya? Dan adakah yang dapat menggagalkan-Nya?

Kita dapat dengan yakin berkata seperti Rasul Paulus : “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8: 31,37).

Keberatan dan jawabannya

Paling tidak ada dua alasan mengapa Banyak orang yang tidak mau menerima pengajaran di atas tetapi percaya bahwa keselamatan dapat hilang.

1) Manusia mempunyai kehendak bebas, ia bebas untuk menerima atau menolak keselamatan, ia bebas untuk meneruskan keselamatan atau meninggalkan keselamatannya.

Benarkah demikian?

Manusia memang bebas untuk memilih, tetapi  pemilihan manusia pasti dipengaruhi oleh faktor-faktor baik dari dalam diri manusia (terutama hatinya) maupun dari luar diri manusia. Dengan kata lain manusia tidak benar-benar bebas untuk melakukan segala sesuatu. Kebebasannya dibatasi oleh hal-hal yang berada di luar kontrolnya. Contoh, adanya gaya gravitasi membuat  manusia tidak bisa melompat dan bergerak sekehendak hatinya. Lompatan dan gerakannya pasti terbatas.

Dalam hal rohani,  hati manusia yang telah dikuasi oleh dosa membuat manusia tidak mau mencari Allah, tidak mau berbuat baik (menurut standar Allah), dan tidak dapat mengerti kebenaran (tidak berakal budi).

Seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (Roma 3: 10 – 12)

Apakah orang seperti ini bisa merespon keselamatan dari Allah? Tidak mungkin bukan? Mencari Allah saja tidak, apalagi mau merespon Allah!

Tanpa Allah mengubah hati (melahirkan baru)  seseorang, maka orang tersebut tidak dapat merespon Allah dan kebenaran-Nya dan taat kepada kehendak Allah.

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. (Yehezkiel 36: 26-27)

Jadi, tanpa kasih karunia Allah, tidak ada orang yang dapat memilih Kristus. Kalau kita diselamatkan itu semata-mata karena Allah yang lebih dahulu memilih kita, bukan karena pilihan kita. Kita tidak punya andil apapun dalam hal keselamatan. Kalau kita berandil dalam keselamatan, maka keselamatan bukan lagi kasih karunia, tetapi karena perbuatan kita. Kalau kasih karunia harus tanpa perbuatan secuilpun dari kita, kalau karena perbuatan maka tidak ada kasih karunia ikut andil di dalamnya. Kasih karunia plus perbuatan itu tidak ada!

Sekali lagi, dalam soal keselamatan tidak ada kebebasan untuk memilih. Tanpa kasih karunia Allah, manusia   akan binasa sesuai dengan upah dosanya, dan karena kasih karunia manusia yang lainnya dipilih untuk hidup kekal!

Demikian juga ketika manusia sudah diselamatkan, dia tidak bebas memilih untuk murtad, karena  hatinya sudah diubahkan oleh Tuhan. Hatinya yang baru memungkinkan ia untuk taat pada Tuhan dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Kalau hatinya yang lama condong dan cenderung untuk melakukan kejahatan maka hatinya yang baru condong dan cenderung untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Sama seperti orang yang tidak berkehendak untuk  terbang karena ia tahu hal itu mustahil karena ada tarikan gaya gravitasi, demikian juga orang yang sudah selamat tidak berkehendak untuk murtad karena tarikan kasih karunia Allah jauh lebih kuat dari pada keinginan untuk murtad.

2) Kalau manusia tidak punyak kehendak bebas dalam hal keselamatan, maka manusia itu robot dan Allah jadi tukang main paksa.

Sekali lagi, karena hatinya yang dikuasai dosa tidak memungkinkan seseorang untuk berkehendak mencari Allah, apalagi mampu merespon keselamatan dari Allah. Ia sudah nyaman dengan keberdosaannya.  Jadi kalau ia tidak memilih keselamatan bukan karena Allah memaksa ia untuk tidak memilih melainkan karena ia memang nyaman dalam keadaan berdosanya sehingga ia tidak mau mencari Allah yang benar.

Demikian juga dengan orang yang sudah diselamatkan. Hatinya yang baru membuat ia nyaman untuk menjalani kehidupannya yang baru. Sekarang ia menjadi orang yang suka melakukan kehendak Allah dan sebaliknya membenci kehidupan di dalam dosa.

Orang yang beranggapan bahwa tidak adanya pilihan untuk murtad bagi orang yang diselamatkan berarti Allah suka main paksa hanyalah orang yang tidak mengerti dan bahkan mungkin sekali tidak mengalamai apa itu kuasa dari kelahiran baru. Orang seperti ini sama dengan orang yang percaya keselamatan bisa hilang dengan alasan kalau keselamatan tidak bisa hilang maka orang Kristen akan bisa hidup  seenaknya. Mereka ini adalah orang-orang Kristen yang tidak tahu perbedaan antara orang yang belum lahir baru dan orang yang sudah lahir baru, atau orang yang beranggapan bahwa keadaan orang yang belum dan sudah lahir baru itu sama saja, yaitu suka yang jahat dari pada yang baik!

3. Keselamatan merupakan janji Allah yang bersifat kekal

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ( Yohanes 3:16  )

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, (Yohanes 3:36  )

Dari kedua ayat di atas sangat jelas bahwa keselamatan yang dijanjikan Allah bersifat kekal, sehingga perjanjian-Nya-pun bersifat kekal.

Perjanjian disebut kekal apabila: 1) yang berjanji juga bersifat kekal dan mempunyai kuasa dan kedaulatan mutlak untuk mewujudkan janji itu. 2) Perwujudan janji sepenuhnya tergantung pada Pemberi janji dalam hal ini adalah Allah. Kalau dalam perwujudan janji itu (keselamatan) tergantung pada manusia yang fana dan tidak berdaya maka janji itu hanya omong kosong belaka. Ini sama saja seorang ayah yang menjanjikan sesuatu kepada anaknya yang berumur 5 tahun jika anak tersebut dapat mengangkat beban 50 kg.

Tetapi ada banyak orang yang membantahnya bahwa dalam janji di atas ada syarat yaitu jika percaya, jadi kalau seseorang percaya kemudian suatu saat tidak percaya, maka janji itu tidak berlaku lagi. Untuk keberatan ini  akan saya jawab.

1) Jika perwujudan janji itu tergantung pada manusia, maka seharusnya hidup yang diberikan pada orang percaya bukan bersifat kekal, tetapi bersifat  sementara  yaitu selama orang itu percaya. Tetapi ternyata tidak bukan? Hidup yang diberikan kepada orang percaya adalah hidup yang kekal. Begitu orang percaya kepada Kristus, maka dia sudah memiliki hidup yang kekal, bukan temporer.

2) Sekarang yang menjadi persoalan adalah jenis percaya atau iman yang tercakup dalam perjanjian keselamatan tersebut. Kata percaya yang dipakai di kedua ayat tersebut adalah dari bahasa Yunani pisteuo (kata kerja) yang berasal dari kata benda  pistis. Kata pistis juga dipakai oleh Rasul Paulus di dalam Efesus 2: 8,9  yang diterjemahkan sebagai iman: Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Sekarang jelaslah bahwa jenis iman yang menyelamatkan adalah iman pemberian Allah yang tumbuh di dalam hati orang yang sudah dilahirkan baru. Iman seperti ini akan membuat orang yang memilikinya untuk taat dan setia kepada yang memberi iman itu yaitu Allah. Dalam perumpamaan tentang penabur, iman seperti ini adalah buah dari firman Allah yang jatuh di tanah yang subur.

Iman / percaya yang  lahir dari hati orang yang belum lahir baru atau iman / percaya yang timbul dari pikiran semata jelas tidak termasuk dalam janji keselamatan Allah tersebut. Dengan kata lain iman seperti ini adalah iman yang tidak menyelamatkan. Dalam perumpaan tentang seorang penabur  iman seperti ini adalah seumpama benih yang ditaman di tanah yang berbatu. Benih itu belum sempat menghasilkan buah keselamatan, tetapi sudah terlanjur mati.

Sebenarnyalah mereka yang mempercayai keselamatan dapat hilang adalah mereka yang menganggap bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus ( tidak peduli jenis imannya bagaiamana) pasti diselamatkan. Sehingga kalau orang yang imannya tidak menyelamatkan ( karena hanya sekedar percaya di pikiran atau imannya sendiri dan bukannya pemberian Allah) tersebut gugur di dalam perjalanan percayanya pada Tuhan Yesus, orang tersebut dikatakan murtad. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah orang tersebut belum diselamatkan sehingga tidak bisa dikatakan sebagai murtad.

Keberatan umum tentang doktrin keselamatan tidak bisa hilang dan jawabannya.

Keberatan pertama.

Dari berbagai forum diskusi keberatan yang sering disampaikan oleh mereka yang tidak menerima doktrin ini adalah jika memang keselamatan tidak bisa hilang mengapa ada peringatan jangan murtad seperti dalam Ibrani 6: 4-6 : 4  Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Adanya peringatan jangan murtad ini menunjukkanadanya kemungkinan  keselamatan  seseorang bisa hilang. Benarkah demikian?
Jawabannya: belum tentu. Adanya suatu peringatan tidak boleh melakukan sesuatu kepada seseorang belum tentu orang tersebut punya potensi untuk melakukan hal yang diperingatkan. Ilustrasi: Di lingkungan tempat kerja saya dimana-mana ada peringatan “Jangan Merokok”. Peringatan ini punya dua tujuan, pertama bagi orang yang  sudah biasa merokok supaya tidak merokok lagi karena merokok itu berbahaya bagi kesehatannya. Kedua bagi orang yang tidak merokok peringatan ini bertujuan supaya ia semakin diteguhkan bahwa pilihannya selama ini benar karena merokok memang berbahaya. Bagi orang yang biasa merokok adanya peringatan ini  memang tidak bisa menjamin ia tidak akan merokok lagi, tetapi bagi orang yang memang tidak merokok, adanya peringatan ini justru semakin membulatkan tekadnya untuk tidak pernah merokok karena ia tahu bahayanya.

Demikian juga dengan peringatan jangan murtad dalam surat Ibrani di atas. Kalau peringatan itu disampaikan kepada orang Kristen KTP / orang Kristen ilalang / orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh Kristen  memang tidak ada jaminan bahwa mereka akan tetap setia kepada Kristus dan diselamatkan. Tetapi kalau disampaikan kepada orang yang benar-benar telah diselamatkan, peringatan tersebut justru semakin mendorong mereka untuk tetap setia kepada Kristus sehingga merteka tidak mungkin akan murtad. Ini dibuktikan dengan pernyataan penulis Ibrani di bagian selanjutnya;  Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. (Ibrani 6: 9). Bahkan untuk menyakinkan bahwa keselamatan mereka merupakan hal yang pasti penulis Ibrani mengingatkan akan perjanjian Allah dengan Abraham dan bahwa Allah pasti menempati janji-Nya. Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita.  Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, (Ibarani  6: 17-19)

Pengharapan akan keselamatan seperti ini hanya dimiliki oleh mereka yang percaya bahwa keselamatan tidak mungkin hilang. Bagi mereka yang percaya bahwa keselamatan mungkin hilang, mereka tidak bisa punya pengharapan yang demikian karena mereka tidak bisa menentukan apakah mereka tetap bisa percaya kepada Kristus di masa mendatang. Hal ini wajar karena mereka mengandalkan pengharapan keselamatanya pada iman mereka sendiri, bukan kepada Kristus yang ada surga.

Orang Kristen memang tidak mungkin murtad dalam arti kehilangan keselamatannya, tetapi mereka bisa murtad dalam arti mengalami kemunduran atau tidak setia kepada Tuhan. Untuk mereka yang murtad jenis kedua ini, Allah, berdasarkan kasih karunia-Nya senantiasa memanggil mereka untuk kembali kepada-Nya dan kalau  memang orang pilihan Allah, mereka pasti akan kembali kepada Allah sehingga tidak akan kehilangan keselamatannya.

Kembalilah, hai anak-anak yang murtad! Aku akan menyembuhkan engkau dari murtadmu.” “Inilah kami, kami datang kepada-Mu, sebab Engkaulah TUHAN, Allah kami. (Yeremia 3:22  )

Keberatan kedua

Alasan lain mengapa mereka tidak percaya keselamatan tidak bisa hilang adalah kalau hal itu benar maka akan meniadakan tanggung jawab manusia sehingga manusia yang telah diselamatkan akan hidup seenaknya.

Pernyataan seperti di atas hanya menunjukkan mereka tidak belajar Alkitab secara sungguh-sungguh. Memang benar bahwa keselamatan yang diperoleh manusia 100% adalah anugerah Allah, tetapi kehidupan orang setelah diselamatan merupakan kerjasama antara Allah dan orang itu. Bagian Allah adalah mengubah hati dan roh  (melahirkan baru) orang yang diselamatkan sehingga memungkinkan orang itu untuk bisa taat pada kehendak Allah, dan bagian orang yang diselamatkan adalah menaati kehendak Allah dengan bimbingan Roh Kudus. Iman yang ditaruh Allah di dalam hati orang yang diselamatan akan bekerja dan menghasil buah-buah pertobatan, ini adalah iman yang disertai dengan perbuatan. Dalam perjalanan keselamatannya orang itu masih mungkin jatuh, tetapi karena kasih karunia Allah ia akan bangkit lagi.

Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. (Mazmur 55:22b)

Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. (Amsal 24:16 )

Jadi, doktrin keselamatan tidak bisa hilang tidak meniadakan tanggung jawab manusia, tetapi justru meneguhkannya karena membuat orang semakin terdorong untuk menjalani keselamatannya dengan rendah hati dan bergantung mutlak pada Allah, serta menjalani kehidupan percayanya dengan penuh sukacita karena tidak ada  kekuatiran keselamatannya akan hilang.

Oleh: kristenberea | September 16, 2009

ORANG PILIHAN (KRISTEN SEJATI) TIDAK MUNGKIN “MURTAD”!

Salah satu hal yang harus dipegang di dalam memahami tulisan dalam Alkitab adalah Tulisan-tulisan di dalam Alkitab tidak mungkin saling bertentangan (kontradiksi) sehingga  bagian yang bersifat implisit tidak boleh bertentangan dengan bagian yang bersifat eksplisit.

Berdasarkan patokan di atas saya akan membahas bagian-bagian yang seolah-olah menyatakan orang pilihan Allah bisa murtad.

  1. Alkitab sudah memberi kepastian bahwa orang pilihan Allah tidak mungkin murtad atau orang pilihan pasti bertahan sampai kesudahan:

Yohanes 10:28

dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Dari satu ayat ini saja Tuhan Yesus memberi jaminan akan keselamatan orang pilihan sampai  tiga kali:

  • Ia memberi hidup kekal. Apa artinya kekal? ya selama-lamanya, bukan temporer. Kalau orang pilihan bisa murtad dan binasa, maka Tuhan Yesus pasti tidak bilang “hidup kekal” tetapi “hidup sementara”
  • Orang pilihan pasti tidak binasa selama-lamanya. Nah, kalau ternyata ada orang pilihan yang murtad dan binasa, itu berarti Tuhan Yesus bohong, hal ini tidak mungkin.
  • Tidak ada seorangpun (termasuk diri kita sendiri) yang dapat merebut orang pilihan dari tangan Tuhan Yesus.

Masakan kita tidak percaya dengan janji Tuhan Yesus yang tanpa syarat ini?

Janji Tuhan Yesus di atas juga diteguhkan oleh Rasul Paulus

Roma 8: 38,39

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Dari ayat di atas ternyata hidup kita setelah menjadi orang percaya juga tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Tuhan Yesus. Jelas, bahwa hidup yang kita jalani inipun tidak bisa membuat kita murtad.

Alkitab juga telah menyatakan bahwa orang yang “murtad” memang bukan orang pilihan dan tidak pernah jadi orang pilihan.

I Yoh. 2:19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

Jadi, pandangan yang menyatakan bahwa kalau ada orang pilihan murtad, itu hanya membuktikan bahwa ia memang bukan orang pilihan, itu bukan hanya pandangan tanpa dasar, tetapi pandangan yang SESUAI dengan ALKITAB, atau ALKITABIAH.

Tuhan Yesus sudah menyatakan bahwa di dalam gereja akan ada dua golongan yaitu Kristen Gandum (Kristen sejati) dan Kristen Ilalang (Kristen tidak sejati). Sebelum hari penghakiman kita tidak bisa membedakan mana orang kristen gandum dan mana yang kristen ilalang. Jadi kalau sebelum hari penghakiman saja sudah murtad, jelas dia adalah kristen ilalang.

Berikut adalah orang-orang Kristen ilalang tetapi dianggap Kristen gandum, dan orang yang tidak murtad dianggap murtad

1)       Saul

Banyak orang menganggap Saul adalah orang pilihan (telah diselamatkan) dengan bukti dia telah mendapat Roh Allah. Tetapi pendapat ini tidak bisa diterima karena tugas Roh Kudus di PL dan PB berbeda. Pada jaman Perjanjian Baru memang orang yang sudah memiliki Roh Kudus pasti adalah orang kristen yang sejati. Tetapi pada jaman Perjanjian Lama Roh Kudus diberikan hanya supaya orang yang bersangkutan bisa melakukan pelayanan / tanggung jawabnya. Bdk. Kel 28:3  Kel 35:30-36:2  Bil 11:17  Bil 11:25-27. Karena Saul diangkat menjadi raja, maka Tuhan memberikan Roh Kudus supaya ia bisa melakukan tanggung jawabnya. Tetapi setelah Saul jatuh ke dalam dosa dan lalu ditolak oleh Tuhan sebagai raja, maka Roh Kudus itupun ditarik kembali. Hal seperti ini (penarikan Roh Kudus) tidak mungkin terjadi dalam jaman Perjanjian Baru, karena adanya janji Tuhan seperti dalam Yoh 14:16  Ibr 13:5.

Bahwa Saul bukanlah raja yang dikehendaki Tuhan, dan diberikan untuk menghajar Israel yang memaksa meminta raja, terlihat dari Hos 13:11 – Aku memberikan engkau seorang raja dalam murkaKu dan mengambilnya dalam gemasKu”.

2)       Yudas Iskariot

Sama seperti Saul, Yudas juga banyak disangka orang sebagai orang pilihan (diselamatkan) dengan alasan ia adalah salah satu dari murid Yesus. Yang perlu diketahui ialah Alkitab secara eksplisit tidak pernah menyatakan bahwa Yudas pernah percaya kepada Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus memilih Yudas untuk diselamatkan.

Tetapi sebaliknya, Alkitab justru menggambarkan Yudas tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, dan bahwa Yudas dipilih sebagai salah satu murid adalah untuk menggenapi rencana Allah yang telah ditetapkan sebelumnya.

Berikut adalah bukti-bukti dari pandangan di atas:

  • Yudas memanggil Yesus hanya dengan sebutan “Rabi”, dan tidak pernah memanggil dengan sebutan Tuhan Jadi Yudas hanya mengganggap Yesus sebagai guru dan pemimpin yang baik, bukan sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
  • Berikut adalah bukti bahwa Yudas dipilih bukan karena beriman tetapi semata-mata untuk menggenapi rencana Allah.

Yoh 6:64 – “Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.’ Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia”.

Yoh 6:70 – “Jawab Yesus kepada mereka: ‘Bukankah Aku sendiri yang memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis’”.

Yoh 13:10b-11 – “‘Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua’. Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: ‘Tidak semua kamu bersih’”.

Yoh 13:18 – Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku”.

Yoh 12:6 yang menunjukkan bahwa pada waktu mengikut Yesus, Yudas adalah seorang pencuri yang sering mencuri uang kas yang ia pegang.

Orang yang bisa mengusir setan dan melakukan mujizat juga bukan jaminan bahwa dia adalah orang pilihan / kristen sejati. Bukankah Alkitab justru memperingatkan kita bahwa pada akhir zaman ini nabi-nabi palsu akan banyak melakukan mijizat yang dahsyat dan mengusir setan? Apakah dengan demikian nabi paslu itu adalah orang kristen? Tidak bukan?

Jadi, Saul dan Yudas adalah orang-orang bukan pilihan Allah yang “dipakai” Allah untuk menggenapi rencana-Nya.

3)       Ananias dan Safira

Informasi tentang Ananias dan Safira hanya dijumpai di Kis 5: 1 -11. Di bagian itupun Alkitab secara eksplisit tidak menyatakan apakah mereka orang pilihan atau bukan, dan apakah mereka murtad atau tidak, sehingga untuk menyimpulkan apakah mereka benar-benar orang pilihan atau apakah mereka benar-benar murtad perlu didukung oleh bagian Alkitab yang lainnya.

Menurut saya ada dua kemungkinan tentang Ananias dan Safira.

1) Mereka adalah orang Kristen KTP / Ilalang

Kesalahan banyak orang adalah ketika mereka mengganggap orang yang ke gereja atau menjadi anggota gereja atau berKTP Kristen PASTI orang Kristen sejati / kristen gandum / orang pilihan. Perbuatan Ananias menjual sebidang tanah bukan didasarkan karena ingin mempersembahkan kepada Tuhan, tetapi semata-mata karena ingin mendapat pujian dan penghargaan dari orang lain, dan juga ikut-ikutan “trend” pada saat itu. Ananias dan Safira setype dengan orang-orang yang bersorak “Hasana Anak Daud” ketika Yesus masuk ke Yerusalem dan akhirya juga ikut-ikutan orang banyak berteriak “Salibkan Dia”.

Mendustai Roh Kudus juga tidak bisa dijadikan indikasi bahwa mereka pernah kepenuhan Roh Kudus, karena “mendustai Roh Kudus” dimaksudkan bahwa mereka bisa saja menipu manusia, tetapi tidak mungkin dapat menipu Allah.

Nah, kalau mereka tidak pernah jadi orang pilihan Allah, maka mereka juga tidak bisa dikatakan murtad.

2). Mereka adalah orang pilihan

Mungkin saja, Ananias dan Safira adalah orang pilihan Allah / Kristen sejati, sekalipun mereka telah melakukan kesalahan dengan mencoba menipu para Rasul dan sekaligus menipu Allah ( saya tidak setuju kalau “mendustai Roh Kudus” disini disamakan dengan “menghujat Roh Kudus”, karena konteksnya jelas sangat jauh berbeda )

Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa yang sudah jadi orang pilihan Allah / orang Kristen sejati pasti tidak pernah lagi berbuat kesalahan atau dosa, dan tidak murkai oleh Allah. Israel adalah bangsa pilihan Allah, tetapi sering memberontak dan dimurkai oleh Allah. Dihajar dan dimurkai Allah bukanlah tanda bahwa orang itu pasti  telah murtad

4)       Himeneus & Aleksander

Benarkah Himeneus dan Aleksander murtad?

Untuk menyelidikinya dibutuhkan konteks dan keterangan dari bagian lain dalam Alkitab.

Menurut konteksnya Himeneus dan Aleksander adalah contoh orang beriman yang melayani Tuhan bukan dengan hati nurani yang murni. Mungkin mereka melayani Allah dengan motivasi yang salah dan untuk kepentingan diri sendiri. Sebagai akibatnya iman mereka kandas. Kandas iman bukan jangan diartikan sebagai tidak beriman lagi. Itu kesimpulan yang terlalu dini.

Kata “kandas” berasal dari kata Yunani “nauageo” yang berarti “karam (untuk kapal)”. Kata ini hanya dipakai 2X dalam Alkitab yaitu di 1 Tim 1: 29 ini dan di  2 Kor 11: 25. Kapal karam berarti kapal itu tidak lagi bisa berlayar sebagaimana mestinya. Kapal itu masih ada, tidak musnah.  Demikian juga dengan Himeneus dan Aleksander, mereka masih beriman tetapi imannya tidak bertumbuh lagi. Dan lagi, kata kerja yang digunakan oleh Paulus adalah kata kerja kala Aorist yang menunjukkan bahwa perbuatan itu tidak dilakukan terus menerus, jadi masih ada kemungkinan untuk berubah.

Nah, orang-orang seperti mereka perlu didisiplinkan, dan Paulus mendisiplinkan mereka dengan menyerahkan kepada Iblis. Tujuan menyerahkan kepada Iblis adalah agar roh mereka diselamatkan walaupun tubuh mereka akan menderita bahkan binasa  (bandingkan dengan 1 Kor 5 : 5)

Jadi, walaupun Himeneus dan Aleksander adalah contoh yang tidak baik bagi orang beriman, mereka tetap diselamatkan.

5)       Salomo

Banyak orang menuduh Salomo murtad hanya berdasarkan catatan dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Salomo telah mendukakan Allah dengan mengikuti dewa-dewa bangsa lain dan tidak setia kepada Tuhan. Tidak ada catatan dalam Alkitab bahwa Salomo pernah bertobat TIDAK BISA dijadikan dasar bahwa Salomo pasti tidak pernah bertobat. Karena dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa apa yang ditulis tentang Salomo di dalam Alkitab hanyalah sebagian  dari hikmat dan perbuatan Salomo. Jadi, ada kemungkinan di Kitab Riwayat Salomo ada kisah tentang pertobatan Salomo dan bagaimana Salomo sampai menulis Kitab Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung.

Dan lagi, hukuman Allah terhadap ketidaksetiaan Salomo adalah terkoyaknya Kerajaan Israel. Allah tidak pernah mengatakan akan menarik kasih karuniaNya pada Salomo.

Bahwa orang beriman itu jatuh dalam dosa bahkan sampai jatuh sedalam-dalamnya TIDAK BOLEH dijadikan dasar bahwa ia telah murtad. Sekali lagi, walaupun seseorang telah dilahirkan kembali dia masih ada kemungkinan untuk berbuat dosa, dan tidak ada satupun orang yang berani mengklaim bahwa ada orang pilihan / yang lahir baru tidak berbuat dosa lagi. Kalau ada orang Kristen yang berkata ia tidak berbuat dosa, pasti ia seorang pendusta.

Salomo pernah menulis “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali “ Amsal 24:16a

Saya percaya, Salomo termasuh orang yang demikian.

Kesimpulan, tidak ada catatan pertobatan Salomo di dalam Alkitab, tidak bisa dijadikan patokan bahwa Salomo pasti tidak bertobat.  Tulisan-tulisan Salomo di Kitab Amsal dan Pengkhotbah justru dapat dijadikan indikasi bagi pertobatan Salomo.

6)       Orang-orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu (Matius 14:14-17 dan yang paralel).

Kata “murtad” dalam bagian ini diambil dari kata Yunani “skandalizo”. Dalam Alkitab terdapat 30 X, dan hanya 3 X diterjemahkan dengan “murtad”, yang lainnya diterjemahkan dengan “menjadi kecewa dan menolak”, “tergoncang”, dan sebagainya. Dilihat dari konteksnya, maka dalam bagian ini saya lebih cenderung diterjemahkan sebagai “menjadi kecewa dan menolak”.

Dengan demikian orang-orang yang diumpakan sebagai tanah yang berbatu-batu adalah orang yang pada mulanya senang menerima firman Tuhan ( mungkin karena ada janji kalau sakit pasti sembuh, miskin jadi kaya, ada banyak mujizat dan sebagainya), tetapi karena dalam kehidupan sehari-hari tidak demikian (ada penderitaan, dianiaya, dsb) membuat mereka kecewa dan akhirnya menolak firman Tuhan tersebut. Mereka hanya sekedar tertarik  firman Tuhan dan belum mempercayainya dalam hati ( digambarkan sebagai tidak berakar).

Jadi, bagaimana mereka dapat dikatakan murtad (tidak beriman lagi) kalau mereka sesungguhnya belum pernah beriman?

Ingat dalam Yehezkel 36: 26, orang beriman digambarkan sebagai orang yang menghasilkan buah, dan dalam perumpamaan ini digambarkan sebagai “tanah yang baik”.

7)    I Tim 4: 1,2

Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan   oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

Ada beberapa kata di dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai murtad di dalam Alkitab Bahasa Indonesia, diantaranya:

Scandalize ( Mat 13: 21), Apostasia ( 2 Tes 2: 3 ), Arneomai ( I Tim 5:8), dan Aphistemi ( I Tim 4: 1). Nah, aphistemi ini oleh LAI juga diterjemahkan sebagai mundur seperti di:

Lukas 4:13  Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.

Kisah 22:29  Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum.

2 Korintus 12:8  Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.

Kata-kata mundur pada ketiga ayat di atas berasal dari kata yang sama dengan di I Tim 4: 1  yaitu aphistemi. Jelaslah berdasar ketiga ayat di atas, kata mundur tidak dapat dikatakan sebagai meninggalkan selamanya. Kata mundur di atas berarti meninggalkan sementara, dan akan kembali lagi.

Dengan demikian kata “murtad” di I Tim 4: 1 juga harus diartikan bahwa pada akhir zaman ini ada orang Kristen sejati akan “mundur” dari imannya kepada Kristus, bahkan mungkin bisa ragu-ragu akan keselamatannya. Tetapi semuanya itu hanya sementara. Mereka pasti akan kembali ke imannya karena Tuhan tidak membiarkan orang benar jatuh dan tergeletak:

Mazmur 37:24  apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Dan lagi, bukankah Tuhan Yesus sudah membatasi upaya Iblis untuk menyesatkan orang pilihan-Nya sedemikian rupa sehingga orang pilihan tidak akan tersesat?

Matius 24:24  Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

Jelaslah  bahwa pengajar-pengajar sesat tidak mungkin menyesatkan orang pilihannya. Kalau toh nampaknya ada orang Kristen sejati mengikuti ajaran sesat, ia PASTI kembali ke ajaran yang sehat. Tuhan sudah menjaminnya.

Oleh karena itulah, Timotius (dan kita) diberi tugas untuk menentang ajaran-ajaran sesat dan mengingatkan orang Kristen sejati akan adanya banyak ajaran-ajaran sesat yang membahayakan iman Kristen. Saya sendiri sudah 20 tahun jadi orang Kristen, tetapi baru akhir-akhir ini menemukan ajaran yang sehat!.

Jadi, adanya kata murtad pada I Tim 4: 1 tidak menunjukkan adanya orang percaya yang dapat kehilangan keselamatan. Ayat itu hanya  menunjukkan bahwa orang percayapun masih bisa mundur dan mengikuti ajaran sesat, tetapi  hanya untuk sementara dan mereka pasti kembali ke Tuhan dengan cara dan kuasa Tuhan. (contoh  Petrus).

Adanya Peringatan Jangan Murtad

Memberi peringatan kepada seseorang belum tentu karena orang itu punya potensi untuk melakukan pelanggaran seperti yang diperingatkan, tergantung keadaan orang yang diberi peringatan dan tujuan dari peringatan tersebut.

Contoh nyata sebagai ilustrasi.

Saya punya siswa sebanyak tiga kelas. Kelas A adalah kelas unggulan bersisi siswa-siswa yang rajin belajar sehingga nilai mereka baik-baik, kelas B adalah kelas dengan siswa-siswa yang agak rajin belajar, dan kelas C adalah kelas yang siswa-siswanya malas belajar. Begitu mereka menginjak di kelas 3, saya dan teman-teman guru tidak henti-hentinya memperingatkan mereka supaya tidak malas belajar karena  ujian yang akan mereka hadapi lebih berat dari sebelumnya. Apa yang terjadi? Siswa-siswa di kelas C, tetap saja malas belajar, ya ada satu dua yang “bertobat” dan mau belajar. Tetapi di kelas A, adanya peringatan tersebut justru membuat mereka semakin giat belajar karena mereka tahu dan sadar kalau mereka tidak tambah giat belajar mereka bisa tidak lulus.

Amsal 9:9  berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.

Amsal 17:10  Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal.

Jadi, adanya peringatan jangan murtad kepada orang benar / beriman, bukan karena orang beriman itu bisa murtad, tetapi justru agar orang beriman tersebut semakin setia dan bertanggung jawab. Karena dengan adanya peringatan tersebut mereka semakin diteguhkan imannya bahwa jalan yang ditempuh selama ini adalah benar dan tentu saja mereka juga rindu agar orang lain juga  mengikuti jalan yang ditempuhnya. INI BUKAN HAL YANG LUCU, tetapi nyata dan ALKITABIAH.

Saya akan menunjukkan bahwa sekalipun Allah memperingatkan umatnya untuk tidak tersesat dan tidak murtad, Allah selalu mengkofirmasikan bahwa umatnya tersebut tidak akan tersesat dan murtad!

a)     Dalam 2 Tes 2: 3 Rasul Paulus memperingatkan kepada jemaat di Tesalonika supaya jangan disesatkan, karena akan banyak pemurtadan (penolakan terhadap agama) ..

Tetapi, dalam ayat 13,14  Rasul   Paulus mengucap syukur kepada Allah karena sebagai umat pilihan Allah mereka akan tetap selamat dan memperoleh kemuliaan Kristus,  sehingga pada ayat 15, Rasul Paulus meminta mereka untuk tetap berdiri teguh dan berpegang pada ajaran yang benar.

Jadi, jelas bahwa adanya peringatan “jangan disesatkan” dan “banyak pemurtadan” tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa jemaat di Tesalonika akan dapat tersesat dan murtad, tetapi sebaliknya mereka tetap aman dalam proses keselamatannya.

b)    Dalam Ibrani 3:12  Penulis kitab ini memperingatkan supaya orang Ibrani jangan ada yang murtad. Pada ayat-ayat berikutnya dinyatakan bahaya-bahaya dari murtad yang sampai puncaknya pada Ibrani 6: 4-7.

Penulis kitab Ibrani memperingatkan “jangan murtad” kepada orang Ibrani bukan karena mereka bisa murtad, tetapi UNTUK MENEGUHKAN PENGHARAPAN MEREKA AKAN KESELAMATAN  YANG SUDAH  PASTI, DAN SUPAYA IMAN MEREKA TERUS BERTUMBUH.

Ibrani 4: 9-12

Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.

c)     Ibrani 10: 26,35,38

Banyak orang begitu yakin dengan adanya ayat-ayat di atas, orang Kristen benar-benar dapat murtad, melepaskan kepercayaanya.

Benarkah demikian?

Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibrani 10: 39)

Lihat baik-baik ayat yang saya tebalkan dan besarkan di atas! Firman Tuhan ini menegaskan bahwa adanya peringatan jangan murtad, mengundurkan diri, tidak percaya dan sebagainya, bukan dimaksudkan  karena  kita ada potensi melakukan seperti itu, tetapi untuk meneguhkan kita bahwa kita sudah ada pada posisi yang benar. Dengan mengingatkan bahwa orang-orang yang  tidak berada pada posisi seperti kita  akan binasa, maka penulis Ibrani bermaksud supaya kita lebih banyak mengucapsyukur pada Tuhan,  semakin mengasihi Tuhan, dan semakin memperkuat iman kita.

  1. Alasan lainnya:

Pada suatu sidang peremtoir (ujian calon pendeta) ada seorang peserta bertanya kepada calon pendeta apakah keselamatan yang diterima oleh orang percaya adalah keselamatan yang sudah pasti dan sempurna. Si calon pendeta tersebut menjawab bahwa keselamatan itu belum pasti dan sempurna karena kalau sudah pasti dan sempurna maka orang Kristen bisa hidup seenaknya. Jawaban si calon pendeta ini dibenarkan oleh tim penguji maupun semua yang hadir dalam sidang klasis tersebut!

Benarkah jawaban dari si calon pendeta tadi?

Sama seperti si calon pendeta, banyak orang Kristen juga mempercayai bahwa natur orang yang sudah jadi Kristen (yang sudah dilahirkan kembali) masih sama dengan natur orang yang belum Kristen (belum lahir baru) yang hatinya masih dikuasi / diperbudak oleh dosa. Pendapat ini jelas tidak Alkitabiah!!

Orang yang sudah jadi Kristen sejati ia pasti sudah dilahirkan kembali, sudah diciptakan baru. Allah sudah mengganti hati yang keras menjadi hati yang taat (Yeh 11: 19,20). Sekarang ia mempunyai kesukaan yang baru yaitu merenungkan firman Tuhan dan menaatinya. Kecenderungannya berubah 1800 dengan sebelum ia lahir baru. Kalau dia hidup dengan semau gue maka Allah PASTI akan menegor dan menghajarnya sedemikian rupa sehingg ia dapat taat kepada Tuhan (Ibrani 12: 6, Wahyu 3: 19)

Mendengar jawaban dari si calon pendeta tadi dan juga yang dibenarkan oleh para pendeta dan jemaat yang hadir pada saat itu, timbul pertanyaan di hati saya, apakah mereka sudah dilahirkan kembali atau belum? Sebab kalau mereka sudah dilahirkan kembali pasti akan merasakan perubahan hidup, dan tahu bahwa orang yang sudah lahir baru pasti tidak punya keinginan untuk hidup seenaknya dan hidup menurut kehendaknya sendiri. Ia pasti rindu untuk menyenangkan hati Tuhan dengan menaati-Nya.

Satu hal lagi, Augustinus, John Calvin, Spurgeon, R.A Torrey dan tokoh-tokoh Kristen besar lainya adalah orang-orang mempercayai doktrin ini dan mengajarkannya. Apakah mereka hidup dengan seenaknya?

Kesimpulan:

  1. Kalau kita percaya bahwa orang Kristen sejati bisa murtad atau kehilangan keselamatan atau tidak lagi mempunyai hidup kekal, maka kita telah membuat Tuhan Yesus sebagai pembohong besar dan janji-janji-Nya tidak bisa dipercaya. Ada banyak bagian Alkitab yang menjamin bahwa orang kristen sejati / orang pilihan Allah akan dijaga dan dipelihara sampai  selama-lamanya di dalam kasih Tuhan.
  2. Kalau orang Kristen (sejati) bisa kehilangan kesalamatan maka kesalamatan / hidup kekal bukan lagi sebagai anugerah, tetapi sebagai usaha orang percaya yaitu usaha untuk hidup sedemikian rupa sampai mereka tidak murtad. INI bertentangan dengan Alkitab yang menyatakan bahwa hidup kekal dan keselamatan seseorang adalah semata-mata anugerah, tidak ada andil dari orang percaya sedikitpun. Kalau ada orang percaya bisa bertahan itu juga karena anugerah Allah.  Sekali lagi kalau bukan karena anugerah Allah, tidak ada seorangpun yang selamat, apalagi mempertahankan keselamatan tersebut.
  3. Pelajarilah semua kata “murtad” dalam Alkitab dan lihat arti dari  bahasa aslinya dan pelajarilah konteks di mana kata itu berada, maka TIDAK ADA SATUPUN YANG MENGINDIKASIKAN BAHWA ORANG PILIHAN ALLAH BISA KEHILANGAN KESELAMATANNYA.
  4. Sekali selamat tetap selamat? Yes!

Oleh: kristenberea | September 13, 2009

Benarkah Allah Punya Rencana Cadangan?

Pendahuluan

Sebetulnya saya malas untuk mengutarakan kesalahan orang lain, namun kali ini saya merasa perlu untuk melakukannya. Ada dua alasan, yang pertama orang yang akan saya tunjukkan kesalahan ini telah mengklaim ajarannya yang paling Alkitabiah dan dengan semena-mena beliau menyatakan ajaran dari gereja dan para hamba Tuhan lainya sebagai tidak Alkitabiah dan sesat. Yang kedua, apa yang telah beliau lakukan itu telah disebarkan luaskan secara luar biasa baik melalui buletin, buku-buku, dan terutama internet  yaitu melalui  salah satu anak buahnya yang setia, sehingga kalau dibiarkan terus-menerus  dan tidak diingatkan, beliau akan semakin merasa dirinya paling benar!

Menurut  Dr. Suhento  Liauw, Allah mempunyai dua rencana

Berikut cuplikan bukunya  “Apakah Baptisan & Pengurapan Roh Kudus itu?” hal 21 paragraf kedua:

Orang pasti bertanya, “mungkinkah ada dua rencana bagi Allah yang maha tahu? Kalau bangsa Israel menyambut, maka segera didirikan Kerajaan Daud, dan kalau Israel menolak maka kesempatan bangsa lain dibuka?” Jawabannya, ya! Silakan pelajari Roma  pasal 11.

Sebelum membahas Roma 11 yang menurut beliau  ada dua rencana  keselamatan Allah, saya akan membahas ketidakmungkinan Allah  yang  sejati punya rencana cadangan.

Kalau manusia membuat rencana cadangan itu wajar, karena manusia tidak bisa memastikan apapun terjadi sesuai dengan rencananya sehingga kalau rencana utamanya gagal dia perlu rencana kedua yaitu untuk mengantisipasi  kegagalan tersebut. Manusia tidak bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya karena kehendak manusia itu sekalipun bebas tetapi sangat terbatas.  Untuk mewujudkan rencananya, manusia sangat tergatung pada keadaan sekitar, manusia yang lainnya, dan tentu saja  sangat tergantung pada ketentuan Tuhan.

Ams 16:9  Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

Yer 10:23  Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.

Nah, apakah Allah sama dengan manusia sehingga  Ia perlu rencana cadangan?

Apakah untuk mewujudkan rencana-Nya, Allah tergantung pada  manusia?

Apakah manusia bisa megagalkan  rencana Allah?

Siapakah manusia itu yang adalah debu tanah mampu menggagalkan rencana Allah, Penciptanya?

Adakah tanah liat bisa  menggagalkan sang penjunan?

Kalau ada satupun rencana Allah yang gagal, maka “Allah” yang demikian sesungguhnya bukan Allah, karena tidak ada jaminan rencananya yang lain bisa terlaksana, kalau demikian masihkah kita percaya pada “Allah” yang demikian?

Tetapi untunglah, Allah yang aku kenal bukan Allah yang seperti itu. Tidak ada satupun rencana-Nya yang gagal, dan tidak ada sesuatu apapun yang mampu menghalangi kehendak dan rencana-Nya.  Setiap rencana-Nya pasti berhasil  karena segala sesuatu ada di dalam kuasa dan kontrol-Nya.

Ayb 42:2  “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Mzm 33:11  tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.

Yes 14:27  TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?

Menurut Roma 11, Rencana Allah tidak ada yang gagal sehingga tidak perlu rencana cadangan.

Allah tidak gagal menyelamatkan orang Israel sesuai dengan rencana-Nya semula, dan kalau keselamatan tersebut sampai ke bangsa-bangsa lain itu juga sesuai dengan rencana semula Allah.

Menurut Dr. Suhento, Allah punya dua rencana, rencana pertama  keselamatan Allah hanya untuk orang Israel, Rencana kedua (rencana cadangan) kalau Israel menolak (Umat Israel menggagalkan rencana pertama) maka keselamatan itu diberikan kepada bangsa lain.

Tetapi ternyata tidak demikian.

Sejak semula Allah hanya punya  rencana yaitu menyelamatan orang-orang pilihan-Nya, baik dari bangsa Israel maupun dari bangsa-bangsa lain.

Yoh 10:16  Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan.

Efesus 1: 3- 5 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

Sekarang mari kita lihat, apakah rencana-Nya itu gagal?

Menurut Dr. Suhento, umat Israel yang masuk dalam rencana keselamatan Allah adalah semua orang Israel, sehingga beliaunya menyimpulkan  bahwa karena sebagian besar orang Israel menolak Tuhan Yesus, maka rencana Allah menyelamatkan umat Israel gagal. Benarkah demikian?

Ternyata pandangan beliau sama persis dengan sebagian orang Roma yang merasa diri mereka lebih baik dan lebih pandai dari orang Israel, karena ternyata orang Israel menolak Allah dan ditolak oleh Allah. Dan untuk meluruskan anggapan yang keliru tersebut Rasul Paulus perlu mengingatkan orang Roma  akan Nabi Elia yang merasa bahwa hanya dirinya  adalah satu-satunya nabi yang masih hidup  sehingga tidak ada umat Allah yang lainnya selain dirinya. Tetapi ternyata tanpa sepengatuhan Elia, Allah masih menjaga tujuh ribu orang yang setia kepada-Nya. Demikian juga dengan orang Israel , walaupun banyak orang menyangka mereka menolak Tuhan, namun Allah tetap menjaga orang-orang Israel  yang sejak semula dipilih untuk selamat, tetap setia memenuhi panggilan keselamatan dari Tuhan.

Sebelumnya Rasul Paulus menegaskan:

Rm 9:6  Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.

Roma 9: 27, 28  Dan Yesaya berseru tentang Israel: “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan.  Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.”

Jadi jelaslah bahwa orang Israel  yang menolak Tuhan Yesus adalah mereka yang memang tidak masuk dalam rencana keselamatan Allah sehingga rencana Allah untuk menyelamatkan umat Israel pada waktu itu tidak gagal, karena yang masuk dalam rencana keselamatan Allah adalah sisa Israel menurut pilihan kasih karunia Allah ( Roma 11: 5,6)

Nah, penolakan orang Israel yang tidak masuk dalam rencana keselamatan Allah ini dipakai sebagai lantaran untuk keselamatan bagi bangsa-bangsa lain. Setelah jumlah orang-orang pilihan Allah dari bangsa-bangsa lain sudah genap dalam rencana keselamatan Allah, baru seluruh Israel di selamatkan ( Roma 11: 25)

Jadi rencana keselamatan Allah untuk Israel tidak pernah gagal, tetapi hanya bertahap. Tahap awal untuk orang Israel  berdasarkan pilihan kasih karunia (sisa Israel)  dan tahap akhir untuk seluruh Israel (yang juga termasuk orang pilihan) setelah semua orang pilihan dari bangsa-bangsa lain telah genap diselamatkan.

Bukti bahwa kehendak dan rencana Allah tidak gagal adalah pernyataan Paulus “sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya” (Roma 11: 29)

Akhirnya, mengetahui bahwa begitu dalam dan sempurnanya rencana Allah, Paulus menaikkan pujian:

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!

Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?

Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

(Roma 11: 33 – 36)

Oleh: kristenberea | Februari 13, 2009

Kesalahan dalam menilai mujizat

1. Setiap hamba Tuhan yang dalam pelayanannya banyak terjadi mujizat, pastilah hamba Tuhan yang sejati dan diutus oleh Tuhan.
Dalam berbagai debat yang menyangkut seorang hamba Tuhan, walaupun ajarannya telah benar-benar menyimpang dari Alkitab, tetap saja jemaatnya menyakini bahwa pendeta/pemimpinnya benar-benar utusan Tuhan yang dibuktikan dengan mujizat-mujizat yang terjadi di dalam pelayanannya. Benarkah demikian?
Berita Alkitab:
Memang benar bahwa salah satu cara Tuhan untuk membuktikan bahwa seseorang adalah Rasul-Nya melalui tanda-tanda ajaib / mujizat yang menyertainya.
2 Korintus 12:12
Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.
Ibrani 2:4
Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya. Tetapi harus diingat juga, bahwa pada akhir zaman ini, justru nabi-nabi palsu dan mesias-mesias palsu-lah yang paling banyak membuat mujizat dan tanda-tanda yang dahsyat!
Matius 7:22
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Matius 24:24
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.
2 Tesalonika 2:9 ,10
Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.
Wahyu 16:14
Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.

Salah satu tanda dari akhir zaman adalah:
1) Banyak nabi palsu dan mesias (yang mengaku diurapi oleh Allah) palsu akan bermunculan dan mengadakan tanda-tanda ajaib dan mujizat-mujizat.
Kalau kita baca perikop Matius 7: 15 – 23 dan Matius 13: 24 – 30, 36 – 43 sudah jelas bahwa nabi-nabi palsu dan orang-orang yang menganggap dirinya diurapi oleh Tuhan ini ada di dalam gereja dan secara kasat mata tidak bisa dibedakan dengan orang Kristen sejati. Sama seperti sulitnya membedakan gandum dan lalang, demikian juga sulit untuk membedakan nabi-nabi palsu dan mesias-mesias palsu dengan nabi dan utusan Tuhan yang sejati. Yang jelas diantara hamba-hamba Tuhan dan orang-orang yang mengaku diurapi khusus oleh Tuhan dan yang saat ini ada di gereja-gereja pasti banyak yang palsu. Yang pasti, kepalsuan mereka akan sangat jelas pada saat penghakiman nanti:
Matius 7: 23
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
So: meskipun mereka melakukan mujizat dan tanda ajaib demi Nama Tuhan Yesus, Tuhan tidak pernah mengenal mereka, apalagi mengutus mereka. Lalu dari mana mujizat dan tanda ajaib yang mereka buat?
Matius 13: 41-43
Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Siapakah yang dijadikan sasaran empuk oleh nabi dan mesias palsu tersebut!

a. Mereka yang suka akan hal-hal yang “supranatural’ dan mudah percaya akan setiap muizat.

b. Mereka yang lebih suka cerita-cerita yang spektakuler dan menggebohkan dari pada pemberitaan yang Alkitabiah ( 2 Tes 2: 10)
Untuk itu, hati-hatilah terhadap “hamba-hamba” Tuhan yang lebih banyak mengobral Mujizat dari pada pemberitaan Firman Tuhan yang Alkitabiah. Hati-hatilah terhadap “hamba-hamba” Tuhan yang lebih banyak menyampaikan kesaksian-kesaksian yang hebat-hebat tetapi sedikit (bahkan tidak pernah) memberitakan kebenaran yang dihasilkan dari penyelidikan Alkitab yang sungguh-sungguh dan mendalam. Waspadalah – waspadalah.


2) Dengan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dahsyat, nabi-nabi dan orang-orang yang mengaku diurapi ini akan berhasil menggaet para pemimpin dan tokoh-tokoh yang penting di banyak negara. (Wahyu 16: 14)
Jadi; jangan heran dan bahkan terkagum-kagum dengan “hamba-hamba” Tuhan yang berhasil medapatkan jemaat dari kalangan orang penting dan berpengaruh di negara ini, karena kemungkinan besar mereka adalah nabi-nabi palsu
Nah, agar Anda terhindar dari tipu daya nabi-nabi palsu dan orang-orang yang mengaku mendapat urapan khusus dari Tuhan caranya mudah:
a. Jangan percaya setiap “hamba Tuhan” yang mengandalkan muzijat dan mengaku dirinya diurapi khusus oleh Tuhan. Ujilah mereka dengan melihat apakah berita yang disampaikan Alkitabiah atau ngacau, cuma comot ayat sana-sini, nah untuk itu;
b. Banyaklah belajar kebenaran Firman Tuhan.


2. Untuk mengalami mujizat harus hidup suci dan punya iman yang hebat!
Ada seseorang yang sedang sakit dan dan dilayani oleh seorang “hamba Tuhan”. Walaupun “hamba Tuhan” itu telah berdoa mati-matian eh, penyakit orang itu tidak juga sembuh-sembuh. Untuk amannya sang “hamba Tuhan” tadi langsung memvonis: Anda pasti masih nyimpen dosa atau kalau tidak, iman Anda belum beres! Enak sekali….. sang “hamba Tuhan” tersebut ngomong ya!
Dalam beberapa kasus yang terjadi di Alkitab memang Tuhan Yesus pernah berkata: “Imanmulah yang meyembuhkan engkau”, tetapi ada beberap kasus lainnya mujizat kesembuhan terjadi justru ketika seseorang masih berdosa dan belum mengenal (apalagi beriman pada) Tuhan Yesus.
Contoh :
a.Kasus penyembuhan orang yang sudah 38 tahun sakit di kolam Betesda (Yoh 5: 1-18)
Pada ayat 13,14 jelas bahwa ketika orang itu sudah sembuh ia belum mengenal Yesus dan dosanya baru diampuni setelah sembuh.
b. Kasus orang buta yang dicelikkan oleh Tuhan Yesus ( Yoh. 9)
Dari ayat 35 – 39 jelas bahwa orang yang disembuhkan tersebut baru percaya kepada Tuhan Yesus setelah sembuh / mengalami mujizat. Dan orang tersebut buta bukan karena dosanya tetapi karena rencana Allah dimana melaluinya Allah akan dimuliakan.
Di sisi lain, ada orang yang beriman dan hidup baik, toh ketika mereka berdoa mohon mujizat kesembuhan, Tuhan juga tidak mau sembuhkan( contoh Paulus dan Timotius). Jadi, mujizat (misalnya kesembuhan) tidak tergantung pada manusia (baik hamba Tuhan maupun yang sakit), tetapi semata-mata tergantung pada otoritas / kedaulatan dan kehendak Tuhan! Inilah mujizat / kesembuhan yang sejati.
Kalau seorang hamba Tuhan memang berada di bawah otoritas dan kedaulatan Tuhan, cukup hanya sekali ucap; “sembuhlah engkau!”, maka orang itu pasti sembuh. Jadi tidak usah berteriak-teriak dan berulang-ulang mengucap ; ‘sembuh!”….. “sembuh!” …. Dan kalau ternyata tidak sembuh-sembuh juga, langsung memvonis : pasti masih ada dosa atau iman Anda nggak beres! Kasihan deh lu yang mengikuti “hamba Tuhan” seperti ini! Waspadalah ….


3. Adanya muzijat dan tanda-tanda yang dahsyat membuat orang mudah percaya pada Tuhan Yesus.
Ada banyak “hamba Tuhan” yang menjadikan mujizat sebagai “program unggulan” untuk mencari jemaat. Program-program siaran rohani di Radio dan Televisi banyak yang menjanjikan “mujizat akan terjadi bagi setiap Anda yang mendengarkan siaran ini atu melihat tayangan ini”. Benarkah dengan menawarkan mujizat lantas banyak orang yang percaya pada Tuhan Yesus? Memang, ada beberapa kasus yang demikian. Mujizat yang dialami oleh orang sakit selama 38 tahun dan orang buta di atas ( point 2a dan 2b) membuat mereka percaya pada Tuhan Yesus, tetapi pada kasus lain tidak demikian.
Matius 11:20 Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: Yohanes 12:37
Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya,
Dari dua ayat di atas saja sudah cukup membuktikan bahwa banyaknya mujizat yang terjadi (padahal ini mujizat yang sejati) tidak menjamin banyak orang mau percaya kepada Tuhan Yesus. Saat ini yang terjadi justru sebaliknya, mujizat-mujizat yang ditawarkan oleh para “hamba Tuhan” membuat banyak orang:
1) Kecewa kepada Tuhan Yesus!
Begitu banyaknya tawaran dan nubuatan : Tuhan pasti sembuhkan, Tuhan pasti buat mujizat, membuat banyak orang punya kepercayaan ikut Tuhan itu enak lho, sakit tinggal perintah Tuhan Yesus sembuhkan saya, saya pasti sembuh. Kesulitan ekonomi? Tinggal doa dalam nama Tuhan Yesus uang datang…. Eh ada orang kasih uang dsb.
Tapi apa yang terjadi? Justru penderitaan demi penderitaan lah yang dialami, sakit bertahun-tahun tidak sembuh, utang numpuk dimana-mana. Lalu mereka berteriak : Tuhan dimana Engkau? Dimana KuasMu? Mengapa Kau biarkan anak-ku diperkosa, mengapa Kau biarkan anakku terlantar di jalanan, katanya Engkau pasti buat mujizat dan kuasaMu tidak terbatas!

Ingat! Tuhan sudah peringatkan:
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24 )
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:17 ) Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, (Filipi 1:29) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. (2 Timotius 2:3 )

Jadi, hati-hatilah terhadap “hamba Tuhan” dan gereja yang hanya memberitakan tentang mujizat tanpa sedikitpun memperingatkan kepada jemaatnya untuk tetap setia dan tekun di dalam penderitaan, karena kemungkinan besar hamba Tuhan tersebut nabi palsu seperti pada zaman Yehezkiel: Oleh karena, ya sungguh karena mereka menyesatkan umat-Ku dengan mengatakan: Damai sejahtera!, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera—mereka itu mendirikan tembok dan lihat, mereka mengapurnya—( Yehezkiel 13:10 )
Oh iya … ya… berita tentang mujizat dan penderitaan bukankah bertentangan! Kalau kita tawarkan penderitaan pada jemaat, bukankah gereja kita tidak laku?
2) Lebih membutuhkan mujizat dan mengagungkan hamba Tuhan-nya dari pada membutuhkan Tuhan Yesus dan memuliakan-Nya!
Waktu Jogja Festival mau dilaksanakan, panitia telah membuat baliho-baliha di perempatan jalan raya, dan memuat iklannya di koran dengan ukuran yang besar. Coba tebak apa yang dituliskan pada baliho dan iklan di koran tersebut? Iya betul…. Tidak ada nama Tuhan Yesus sama sekali. Yang ada nama “hamba Tuhan” dan serangkaian mujizat yang bisa dibuatnya. So, kalau ada orang yang datang ke acara tersebut, mereka butuh Tuhan Yesus atau butuh mujizat? (Tetapi syukurlah acara tersebut dibatalkan karena “kuasa Tuhan” tidak mampu mengatasi kekuatan beberapa orang yang keberatan terhadap acara tersebut! ) Demikian juga sewaktu seorang istri dari salah satu konglomerat Indonesia memberi kesaksian lewat layar kaca TVRI atas mujizat yang terjadi di keluarganya…. Coba tebak lagi nama siapa yang paling banyak disebut dan disanjung …. Yang jelas bukan nama Tuhan Yesus!
3) Menertawakan Kekristenan!
Adanya berita-berita mujizat di kalangan kekristenan akhir-akhir ini justru menjadi bahan tertawaan bagi orang-orang dari agama lain dan aliran kepercayaan lainnya. Metode yang dilakukan oleh “hamba-hamba” Tuhan ini sudah pernah dipakai oleh para Wali Songo pada jaman dulu dan juga oleh suatu aliran kepercayaan ( Tri Tunggal) sampai saat ini. Bahkan kalau mau jujur. Mujizat-mujizat yang dilakukan oleh para Wali Songo dan aliran kepercayaan ‘Tri Tunggal’ jauh lebih dahsyat dari mujizat para ‘hamba Tuhan”. Contoh: Saat ini masih ada siaran langsung “kesembuhan” lewat layar televisi di salah satu TV lokal. Kalau ada orang yang sakit tinggal telepon lalu mengikuti perintah pengisi acara, maka sakitnya akan sembuh. Bahkan iklannya di salah satu media cetak, dalam satu halaman penuh dicantumkan kesaksian dari orang-orang yang disembuhkan lengkap dengan foto dan alamat rumahnya. Bahkan ada penyakit yang ditransfer ke binatang.
Akhirnya Dari semuanya ini bukan berarti saya tidak percaya mujizat. Saya percaya mujizat masih terjadi bahkan saya pernah mendoakan dua orang teman saya yang sakit dan mereka langsung sembuh seketika. Tetapi bagi saya mujizat bukan yang utama dan harus ditonjolkan. Kita harus tetap memprioritaskan kebenaran firman Tuhan di atas segala-galanya. Peringatan Tuhan Yesus tentang banyaknya nabi-nabi palsu dan orang-orang yang mengaku diurapi secara khusus oleh Tuhan dan mereka ini akan melakukan banyak mujizat-mujizat dan tanda-tanda sedemikian rupa dengan tujuan untuk menyesatkan orang-orang pilihan Tuhan, membuat kita harus berhati-hati terhadap berbagai gejala mujizat yang muncul di gereja. Kalau kita belum mampu membedakan mana mujizat dari Tuhan dan mana mujizat dari nabi-nabi palsu dan mesias-mesias palsu, bukankah akan lebih bijaksana bila kita menghindari pertemuan-pertemuan yang mengesploitasi mujizat? Ingat lho! Iblis paling mudah memalsu mujizat dan Tuhan tidak pernah menjamin bahwa Iblis tidak bisa menabur benihnya di dalam gereja-Nya. (Matius 13: 30, 39, 41) Jangan mau ditipu kalau mujizat dilakukan dalam nama Tuhan Yesus pasti berasal dari Tuhan! (Matius 7: 15 – 23).

Oleh: kristenberea | Februari 13, 2009

Bahasa Roh : di Alkitab dan Saat ini

1. Sebagai salah satu tanda dari gereja yang am

Mar 16:17, 18 :

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: 1) mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, 2) mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 3) mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; 4) mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sekalipun banyak ahli teologia meragukan keaslian dari ayat ini (karena ayat ini tidak ada pada manuskrip Injil Markus yang paling awal) baiklah kita lihat apa maksud dari ayat ini.

a. Jelas bahwa keempat tanda di atas diperuntukkan untuk orang-orang percaya (gereja secara keseluruhan) bukan untuk setiap orang percaya. Kalau tanda-tanda itu ditujukan untuk setiap orang percaya maka konsekuensinya setiap orang percaya harus memiliki semua tanda-tanda di atas.

b. Tanda-tanda di atas ( kecuali minum racun maut) sudah digenapi oleh gereja mula-mula :

- Mengusir setan ( Kis 5: 16, Kis 8:7 dll)

- Berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru  ( Kis 2: 4 – 11)

- Di gigit ular tidak mati ( Kis 28: 3,4,5 )

- Penyembuhan orang sakit ( Kis 5: 16 dll )

c. “bahasa-bahasa yang baru” ( Yunani : glossa, Inggris : tongues ) adalah bahasa-bahasa dari suku / bangsa lain yang mempunyai struktur kalimat dan pengertian yang jelas dan dapat dimengerti oleh manusia.

Contoh di Kis 2: 4 -11. Ketika para murid ber”bahasa roh” maka orang Yahudi mendengar mereka berbicara dalam bahasa Yahudi, orang Kreta mendengar mereka berbahasa Kreta, orang Arab mendengar mereka berbahasa Arab”, dan sebagainya.

Fakta sekarang:

1). Ada beberapa “hamba Tuhan” yang menggunakan ayat ini untuk mengklaim bahwa setiap orang percaya harus ber”bahasa roh” sebagai tanda orang Kristen sejati, sehingga membuat orang Kristen yang tidak ber”bahasa roh” ragu-ragu apakah mereka orang Kristen sejati atau tidak! Ada pertanyaan yang harus dijawab oleh para “hamba Tuhan” tersebut: Mengapa hanya tanda ber”bahasa roh” yang ditekankan, bagaimana dengan ketiga tanda yang lainnya?

2). “Bahasa roh” saat ini berbeda dengan “bahasa roh” pada Kisah Para Rasul. Jelas bahwa di Kisah Para Rasul, “bahasa roh” adalah bahasa yang mempunyai struktur kalimat dan kata yang jelas dan dapat dimengerti oleh suku/bangsa lain. Tetapi “bahasa roh” saat ini adalah “bahasa” yang struktur kalimat dan kata-katanya tidak jelas. Biasanya hanya terdiri dari 2 sampai 5 suku kata yang tidak jelas dan diulang-ulang.

Contoh : tra – la – l a, tra – la – la dst , shikara-kara- kara – mande …. dst

Apakah ada bahasa dari suatu suku/bangsa yang mempunyai hanya 3 sampai 5 suku kata?

2. Sebagai manifestasi Roh Kudus ketika Injil memasuki daerah/wilayah baru.

Bahasa Roh di Kisah Para Rasul:

1. Di Yerusalem (Kis 2: 5-11)

2. Di Kaisarea untuk orang non Yahudi (Kis 10: 46)

3. Di Efesus (kota internasional pada saat itu) (Kis 19: 6)

Bandingkan dengan amanat agung Tuhan Yesus : Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Jadi, bahasa roh yang terjadi di tiga tempat di atas menunjukkan bahwa Injil telah memasuki wilayah yang telah diamanatkan oleh Tuhan Yesus kepada para rasul, dan hanya terjadi satu kali di setiap tempat dan tidak terulang lagi.

Perlu diingat juga, bahwa peristiwa terjadinya bahasa roh di atas bersifat dipkrispsi (menggambarkan) yang tidak bisa dijadikan sebagai suatu ajaran yang harus diikuti oleh setiap orang Kristen.

Contoh:

- Peristiwa pertobatan Saulus yang mengalami kebutaan dan tidak makan selama tiga hari tidak bisa dijadikan sebagai dasar ajaran bahwa setiap orang Kristen yang bertobat akan mengalami kebutaan dan harus puasa selama tiga hari.

- Peristiwa Tuhan Yesus dibabptis di sungai Yordan tidak dapat dijadikan sebagai dasar ajaran bahwa setiap orang Kristen harus dibaptis di sungai Yordan.

Demikian juga, peristiwa terjadi bahasa roh di tiga tempat di Kisah Para Rasul tidak bisa dijadikan sebagai dasar ajaran bahwa setiap gereja harus ada yang berbahasa roh. Tidak ada bukti di Alkitab bahwa setiap gereja dan orang percaya harus berbahasa roh.

Fakta Sekarang:

Terdapat indikasi adanya pemaksaan bahasa roh di gereja-gereja yang sudah lama berdiri.

3. Sebagai salah satu karunia dari banyak karunia

Dari sekian banyak surat penggembalaan para rasul kepada jemaat, hanya satu surat yang membahas tentang bahasa roh, itupun bukan berupa pujian tetapi teguran yang keras.

Fakta Alkitab:

I Kor 12:6 – 11, 27-30

6. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. 7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. 9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. 10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. 11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 28 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. 29 Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, 30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

So:

Bahasa roh merupakan salah satu karunia Roh Kudus yang diberikan kepada beberapa orang percaya secara khusus dan sesuai dengan kehendak Roh Kudus.

Jadi, kalau kita memang tidak dikehendaki oleh Roh Kudus untuk menerima karunia bahasa roh, ya jangan memaksakan diri untuk bisa berbahasa roh, sampai kursus bahasa roh segala! Ya ampun…..

Demikian juga dengan para “hamba Tuhan” jangalah Anda memaksakan setiap orang Kristen untuk berbahasa roh, apalagi menghakimi orang yang tidak berbahasa roh sebagai tidak ada Roh Kudusnya, padahal sangat jelas bahwa tidak semua orang percaya mendapat karunia bahasa roh!

1Kor 14:1,5, 18,19

Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.

Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

Bagi Anda pemburu bahasa roh :

1). Kejarlah kasih terlebih dahulu. Tanpa adanya kasih semua karunia tidak ada gunanya / sia-sia.

2). Mengapa Anda tidak memburu karunia bernubuat? Bukankah karunia nubuat lebih berharga dan lebih bermanfaat bagi jemaat?

3). Lima kata dengan bahasa biasa (mis bhs Indonesia) lebih baik dan bermanfaat bagi jemaat bila dibanding dengan ribuan kata dalam bahasa roh ( padahal dalam prakteknya banyak orang Kristen cuma bisa lima kata bahasa roh)

4. Aturan ber”bahasa roh”

I Kor 14: 27,28,37,38

27 Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. 28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. 37 Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. 38 Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia.

Aturan berbahasa roh di dalam persekutuan:

1). Paling banyak tiga orang secara bergiliran dan harus ada yang menafsirkan/menterjemahkan bahasa roh tersebut;

2). Jika tidak ada yang menafsirkan/menerjemahkannya, mereka harus berdiam diri / tidak mengucapkan bahasa roh.

Aturan ini adalah perintah Tuhan dan kalau ada “hamba Tuhan”/ jemaat yang tidak mengindahkannya, maka kita juga tidak perlu mengindahkan “hamba Tuhan” / jemaat tersebut!

Fakta / praktek berbahasa roh jemaat saat ini:

- Hampir semua anggota persekutuan / gereja yang berbahasa roh, baik song leader maupun jemaat yang hadir berlomba-lomba untuk “berbahasa roh” dan tidak ada satupun yang menafsirkannya.

- Jadi, persekutuan / gereja seperti ini sudah tidak mengindahkan aturan di atas, sehingga kitapun tidak perlu mengindahkan persekutuan / gereja tersebut!

So: Jangan hadiri persekutuan / gereja yang dalam pertemuan ibadatnya banyak yang berlomba berbahasa roh tanpa satupun orang yang menafsirkannya! Ini perintah Tuhan lho! (ayat 37-38)

5. Buah “berbahasa roh”

Fakta di Alkitab

Apakah karunia bahasa roh di jemaat Korintus dapat membuat jemaat tersebut dewasa? Ternyata jawabannya TIDAK! Jemaat Korintus yang merupakan satu-satunya jemaat pada PB yang mempraktekkan bahasa roh dalam kebaktiannya, ternyata merupakan manusia duniawi, jemaat yang belum dewasa di dalam Kristus, yang dibuktikan dengan adanya perselisihan, yang seorang merasa lebih hebat dari yang lainnya.( I Korintus 3: 1 – 5)

Fakta sekarang:

Saat ini, persekutuan / gereja yang mempraktekkan bahasa roh ternyata sama seperti jemaat di Korintus, suka berselisih yang berujung pada perpecahan gereja. Bukankah gereja yang paling banyak perpecahannya adalah gereja yang berbahasa roh? Belum genap 20 tahun usia gereja, sudah banyak pendetanya yang memisahkan diri membuat denominasi / gereja baru yang terpisah secara organisasi!

Bandingkan dengan gereja-geraja yang usianya lebih dari 75 tahun seperti GMIT, GKJ, HKBP dan sebagainya yang oleh gereja berbahasa roh dianggap sebagai gereja tanpa Roh Kudus; Walaupun di dalam gereja tersebut kadang kala ada “keributan” antar pendeta dan jemaat tetapi dapat diselesaikan dengan baik dan sampai sekarang gereja tetap utuh tidak terpecah. Dan walaupun gereja tersebut mempunyai warga jemaat lebih dari 250.000 orang dan sampai sekarang terus berkembang, tidak pernah menyombongkan diri sebagai gereja yang besar. Coba bandingkan dengan gereja berbahasa roh, walaupun anggotanya baru 20.000 orang sudah berkoar-koar sebagai gereja terbesar dan tercepat pertumbuhannya, apalagi sudah terbukti bahwa sebagian jemaatnya nyrobot dari gereja yang dikatakan tidak punya Roh Kudus tadi. ( di Solo dan Jogja ada gereja yang menawarkan antar-jemput secara gratis bagi orang yang mau beribadah di gerejanya).

6. Bahasa roh sudah berhenti?

1 Kor 13:8-10

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Ketika Rasul Paulus menulis ayat-ayat tersebut, kanon Alkitab belum ditutup sehingga Allah masih menggunakan karunia-karunia Roh Kudus untuk membimbing dan membangun kehidupan gereja-Nya. Tetapi setelah kanon Alkitab sudah selesai dan sempurna maka wahyu khusus sudah berhenti dan ditutup (Wahyu 22: 18,19).

Alkitab sudah cukup dan mampu memberi petunjuk dan bimbingan bagi setiap warga gereja. (II Tim 3: 16,17).

Bagi Anda pemburu bahasa roh, apakah Alkitab belum cukup untuk membangun iman Anda?

7. Bahasa roh dan perdukukan & agama primitif

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa para dukun juga menggunakan “bahasa roh” ketika mereka membaca mantra, demikian juga suku-suku primitif juga berbahasa roh ketika mereka memanggil-manggil dewa mereka.

Tidak ada jaminan bahwa Iblis tidak bekerja di dalam persekutuan / ibadah. Di dalam perumpaan gandum dan lalang ( Mat 13: 24 – 30; 36 – 43) dinyatakan bahwa Iblis juga menaburkan benih di tengah-tengah gereja dan hal ini sengaja dibiarkan oleh Allah. Bahasa roh dan mujizat adalah dua hal yang paling gampang dipalsu oleh Iblis.

Nah, bagi Anda pemburu bahasa roh, hati-hatilah terhadap setiap bahasa roh. Bedakan apakah itu benar dari Roh Kudus (harus ada penafsirannya) ataukah dari Iblis. Kalau Anda tidak dapat membedakan (memang sulit, sama sulitnya membedakan gandum dan lalang) lebih baik urungkan niat Anda, dari pada Anda menyesal di kemudian hari karena tertipu oleh Iblis.

Kalau Anda berbahasa roh hanya untuk membangun iman Anda, lebih baik Anda banyak membaca Alkitab sambil memohon hikmat pada Tuhan, dan Tuhan pasti akan memberikannya dengan tidak menangguhkannya.

8. Bagi Anda yang tidak berbahasa roh:

1). Tetap berbahagialah, jangan ragu-ragu terhadap iman Anda, karena Tuhan pasti memberi Anda karunia lain yang lebih  berguna baik bagi Anda pribadi maupun bagi gereja.

2). Jangan merasa minder terhadap saudara-saudara yang berbahasa roh, karena orang-orang besar yang telah Tuhan pakai untuk membangun gereja-Nya juga tidak berbahasa roh, seperti Augustinus, Martin Luther, Jhon Calvin, Billy Graham, dan lain-lainya juga tidak berbahasa roh!

Artikel berikut adalah tanggapan saya terhadap topik Bahasa Roh di Sabdaspace

1. Bahasa roh di Kisah Para Rasul berbeda dengan bahasa roh di I Korintus.

Bahasa roh di Kisah Para Rasul merupakan mujizat bahasa yang terjadi satu kali di satu tempat. Sebagai mujizat bahasa roh ini berfungsi meneguhkan Injil yang diberitakan oleh para rasul.

Sedangkan bahasa roh di Korintus merupakan fenomena yang biasa terjadi pada hampir di semua agama, dan Tuhan berkenan menggunakan fenomena ini untuk melengkapi pelayanan di gereja-Nya. Dengan lengkapnya kanon kitab suci, peranan bahasa roh sudah semakin berkurang dan bahkan mungkin tidak perlu digunakan lagi.

2. Setiap bahasa roh belum tentu berasal dari Roh Kudus.

Jangan gegabah meyakini bahwa kalau kita minta bahasa roh, dan bila kita benar-benar berbahasa roh, maka bahasa roh itu berasal dari Tuhan. Sekali lagi, fenomena bahasa roh ini bukan hanya ada di kekristenan saja, tetapi juga ada di hampir semua agama. Walaupun kita sudah minta dalam nama Tuhan Yesus, nggak ada jaminan bahwa Iblis terhalangi untuk memberikan bahasa roh yang palsu. Kalau Iblis bisa berada di Firdaus dan di hadapan Allah, masak ia nggak bisa bebas di gereja?

Jangan juga mengira bahwa perasaan damai, tenang, seperti di surga dan sejenisnya itu pasti buah Roh Kudus akibat berbahasa roh. Para ahli psikologi sudah mengadakan penelitian bahwa orang yang berbahasa roh (entah itu orang Kristen atau bukan) akan mengalami perasaan yang sama, yaitu seperti “trance” atau sama dengan orang yang pesta shabu-shabu, melayang-melayang ……. Juga ditemukan bahwa orang yang paling mudah berbahasa roh adalah orang yang dalam keadaan stress dan mencari sesuatu untuk melepaskan beban beratnya. Ya, persis,  bahasa roh perananannya persis seperti candu, sarana pelampiasan stress dan menikmati “kebebasan” semu.

Itulah sebabnya, biasanya sebelum “upacara” pengucapan bahasa roh dimulai, jemaat diajak untuk menyanyi jingkrak-jingkrak sampai lelah, dan ketika sudah capai, song leader / pengkhotbah minta agar jemaat mengosongkan pikirannya dan siap untuk menerima “roh”, dan pada saat pikirannya kosong itulah bahasa roh mulai bermunculan…..tanpa dapat dikendalikan, saling berlomba…. Padahal Rasul Paulus sudah melarang pengucapan bahasa roh yang tidak disertai penafsirannya di di depan umum. Kalau bahasa roh itu memang dari Roh Kudus, masak sih Roh Kudus berani berlawanan dengan firman yang diilhamkan Sendiri?

3. Orang yang berbahasa roh punya kecendurungan untuk bersikap anti sosial dan anti logika.

Maaf, saya dapat menyimpulkan demikian karena semua teman saya yang berbahasa roh memang demikian, nggak beda dengan orang-orang di Korintus pada waktu itu.

Saya ada dua kasus:

a. Di suatu daerah ada persekutuan dari gereja A, sering mengadakan acara doa pada jam 12 malam. Ya kalau doa biasa sih nggak apa-apa dan bagus, tapi ini…. ya ampun.. sudah jam 12 malam mereka berteriak-teriak dan berbahasa yang aneh – aneh… ya terang saja mereka dilempari dan diusir oleh warga di sekitarnya.

Melihat hal ini saya jadi ragu kalau penghancuran gereja dan penganiayaan yang terjadi di gereja karena semata-mata Nama Tuhan Yesus. Mengapa? Karena banyak gereja yang ditutup dan dilempari oleh warga non-Kristen karena memang sikap jemaatnya yang anti sosial, dan tidak punya kepeduliaan terhadap lingkungan sekitar.

Buktinya, sudah 8 tahun ini saya mengadakan kebaktian di rumah salah satu warga dimana kepala keluarganya muslim. Kamipun telah mendapatkan jaminan keamanan dari semua RT, Kadus, LPMD yang ada di wilayah kami. Kalau mereka kami undang untuk natalan, pasti datang dan memberi bantuan, padahal di satu kecamatan kami yang beragama Kristen hanya 30 orang.

b. Pada saat gempa bumi Mei 2006 ada seorang yang terkenal dengan pelayanan dunia roh (dan tentu saja fasih berbahasa roh) begitu yakin akan nubuat dari sohibnya bahwa akan ada stunami yang dahsyat sampai daerahnya (padahal jarak dari pantai masih 20 Km dan dengan ketinggian permukaan tanah puluhan meter dari permukaan laut). Maka setelah gempa berhenti, bukanya menolong orangtuanya yang tertimpa tembok, dan tetangga-tetangganya yang membongkar batu-bata untuk mencari sanak saudaranya yang tertimbun, eh ia dan keluargannya malah ngungsi ditempat yang aman dengan membawa jemaatnya yang juga sama-sama meninggalkan anggota keluarganya yang tergeletak tak berdaya … edan! … inikah orang yang dipenuhi Roh Kudus?

Kalau orang-orang seperti ini ndak percaya nubuatan palsu dari nabi palsu …. pasti banyak jiwa akan tertolong … dan udah pasti nama Tuhan akan dimuliakan …

Makanya, Rasul Paulus menyindir orang-orang yang keranjingan “dunia roh” ini untuk menggunakan otak / akal budinya, karena itu juga pemberian Tuhan! (I Kor 14:15)

4. Berdoa dalam bahasa roh bukan berarti Roh Kudus yang berdoa!

Ini salah kaprah dan sayangnya banyak yang percaya ini.

1 Korintus 14:14

Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.

Ketika Paulus berdoa dengan bahasa roh, siapa yang berdoa? Roh Kudus? Jelas tidak! Tetapi roh Rasul Paulus-lah yang berdoa. Nah, karena Rasul Paulus tahu bahwa “dunia roh” itu nyrimpet-nyrimpet bahaya dan Iblis suka main disana (ini tafsiran saya aja lho) maka Rasul Paulus JUGA MENGGUNAKAN AKAL BUDInya.

1 Korintus 14:15

Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

Kalau memang doa dengan bahasa roh itu berarti Roh Kudus yang berdoa untuk Rasul Paulus, mengapa ia juga berdoa dengan akal budinya? Apakah doa Roh Kudus nggak manjur gitu?

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.